Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Penyesalan


__ADS_3

Setelah mendaratkan pukulan ber-damage gila pada Jewel hingga membuatnya terpental begitu jauh, Zeeta terjatuh begitu saja dengan napas yang terengah bersama dengan Catastrophe Seal yang kembali menjadi cincin di jarinya. "Sisanya ... kuserahkan padamu ... Paman Hugo...."


Volten Sisters kaget mendengar ucapannya. Tetua Hugo mereka ... terlibat...? Kenapa mereka tidak tahu tentang ini?


Sementara itu, orang yang disebut Zeeta, yang masih di Grandtopia, tanpa sepengetahuan para penduduknya termasuk Reina, dia pergi masuk ke salah satu pohon di sana seolah dia tembus begitu saja. Ia lalu keluar ke Hutan Sihir Agung dari pohon Chronos, setelah itu masuk lagi ke pohon lainnya.


.


.


.


.


"Zeeta...," batin Klutzie sambil memandangi sang pemilik nama, "kau benar-benar gadis yang sulit dipahami, namun disaat yang sama kau sederhana...."


"Anak itu...," batin Azure, "sebenarnya dia ingin memamerkan kekuatannya yang semakin gila padaku, bukan, agar aku teryakinkan dia bisa menang melawan Lucy...?


"Penggunaan mana-nya jauh semakin baik dari enam setengah tahun lalu. Dia tidak hanya menggunakan mana alam, dia juga menggunakan mana-nya sendiri. Dia terus melakukan itu silih berganti untuk menyeimbangkan kekuatan yang digunakannya saat memakai Rune.


"Jelas dia di titik tipis mana seperti ini jika memakai 90 persen mana-nya untuk satu pukulan itu. Dia ingin makhluk tadi mati atau bagaimana?


"Tapi ... setelah selama ini aku bersama Lucy, Zee.... Aku takut jika Rune saja belum cukup. Dia memang tidak mampu melawan Rune, tetapi dia punya langkah untuk mengatasinya. Aku sendiri tidak tahu apa itu, tapi dia sama sekali tidak pernah takut, gentar, atau ragu begitu dia tahu kaubisa memakai Rune....


"Dia justru... santai dan senang."


......................


Jewel yang terpental, melayang tinggi di langit dengan keadaan tak sadarkan diri. Tubuhnya yang berbercak darah nampak memperburuk penampilannya. Tak lama setelah itu, tumbuh akar tinggi yang berdiri seorang pria di atasnya. Seorang pria berambut hitam seleher lurus dan bermata ungu. Dia adalah Hugo.


Hugo memperlambat laju pental Jewel dengan sihir. Setelah itu, dia menangkapnya dengan menggendongnya. "Anak itu sungguh membuat jiwanya saja yang bertahan, padahal tubuhnya sudah mustahil diselamatkan.... Aku menduga dia mampu, tapi tak kusangka bisa sesempurna ini." Hugo menggumam sendiri. Ia lalu turun dengan akarnya ke tanah, membuat sebuah ruang setengah lingkaran tanpa pintu darinya. Di dalamnya, bukanlah gelap yang menyelimuti, tetapi ruang berwarna biru toska yang seakan tiada ujung. Hugo kemudian memfokuskan pandangannya ke tangan kanan sambil berusaha menarik sesuatu dari tubuh Jewel dengan kelima jarinya.


Sesuatu yang putih-transparan benar-benar tertarik ke genggaman Hugo, lalu ia letakkan apa yang ia tarik itu ke tanah. Perlahan tapi pasti, Jewel terwujud dengan bentuk yang sama. Ia melihat tubuhnya sendiri, dan sekali lagi merasa terkejut. Apa yang sebenarnya terjadi? Dia benar-benar linglung tentang beberapa belas menit ini.


"Akhirnya kujumpa lagi denganmu, Kak Jewel." Hugo tersenyum.


Mendengar suara yang tidak dikenalnya, namun namanya disebut, membuat Jewel melihat ke sumber suara. Dia segera terbelalak yang tak lama kemudian disusul oleh air mata.


"I... itukah kamu... adikku Hugo...?"


"Ya, ini aku, Hugo, Kak Jewel." Tak kuasa membendung perasaannya, Hugo ikut menitikkan air matanya.


Jewel segera menghampiri Hugo untuk mendekapnya, namun....


"Eh...?"


Tangannya tembus, melewati tubuh Hugo.


"Maafkan aku jika pertemuan kembali kita berakhir seperti ini, tapi... kami tak punya pilihan lain....


"Kak Jewel... sekarang kau hanyalah jiwa tanpa tubuh. Kita berada di dimensi yang menghalangi para Flakka mengambilmu untuk beberapa menit.


"Oleh karena itu... aku ingin Kakak dengarkan aku sebelum kita...."

__ADS_1


Hugo tak mampu mengakhiri kalimatnya dengan baik.


Jewel sempat tercengang, namun ia tampak pasrah ditemani senyum yang terlukis di bibirnya. "Begitu.... Aku kurang mengerti apa maksudmu, tapi aku tahu kalau aku sudah mati, dan kita tak memiliki waktu.


"Tapi, Hugo... kumohon, setidaknya beritahu aku.


"Kenapa aku bisa kembali ke dunia ini?"


Hugo tampak mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Itu karena....


"Kau telah dipaksa bereinkarnasi oleh seseorang."


"Dipaksa...?"


"Kau ingat Maisie sang Dryad?" tanya Hugo.


"Ya. Aku ingat."


"Sejak saat itu, berkatnya, aku memiliki kemampuannya sebagai Dryad.


"Seorang Dryad bertugas mengawasi hutan. Hutan adalah sumber kehidupan. Bagaimana Dryad mampu melakukan tugasnya, adalah dengan melihat apa yang terjadi melalui pohon Chronos, lalu mereka bisa mengambil tindakan yang diperlukan pada hutan-hutan yang bermasalah.


"Yang membuat Dryad berbeda denganku, aku hanya bisa melihat sebagian kecil dari penglihatan pohon Chronos. Aku tidak bisa benar-benar bertindak jika tidak mengetahui apa yang terjadi secara utuh.


"Dengan kemampuan itu, delapan belas tahun yang lalu, aku diberi penglihatan oleh pohon Chronos bahwa seorang manusia sedang melakukan sesuatu yang kurasa seperti sebuah ritual. Ritual itu kuduga dilakukan untuk memanggil, memaksa, atau mengubah jiwa menjadi makhluk yang diinginkan.


"Misalnya, jiwa seorang makhluk sihir yang telah tewas, diubah menjadi Hollow, atau makhluk lain.


"Dengan Rune-nya, dia bilang dia melihat orang yang memaksa dua makhluk sihir menjadi Hollow dan orang itu mengendalikan mereka."


"Jadi...," balas Jewel, "apa selama ini aku dikendalikannya...?"


"Aku tidak yakin. Sepertinya tidak. Karena, seperti kata Zeeta, dengan kebencianmu pada manusia, terlebih jika kau dikendalikan orang itu, maka ia pasti akan memanfaatkan kebencianmu untuk bertindak lebih kejam daripada yang telah kaulakukan."


"Begitu, ya...." Jewel memandangi tangannya. "Aku telah melumuri tangan ini dengan banyak darah orang yang tak bersalah...."


Hugo diam membisu. Ia lalu terkejut dengan air mata yang tiba-tiba jatuh lagi dari Jewel.


"Maaf, ya, Hugo... aku telah menjadi Kakak yang tidak berguna. Apalagi sekarang aku telah melakukan hal yang tak bisa diperbaiki lagi.... Kamu pasti kecewa memiliki Kakak sepertiku, bukan...?


"Maaf, ya, Hugo...."


"Jangan bilang begitu!" bentak Hugo, membuat Jewel mendongak. Ia kaget melihat adiknya. Ia menangis bak sungai yang mengalir.


"Aku pun telah melakukan hal kejam!


"Aku pun membunuh!


"Aku pun bersalah!


"Karena itulah sekarang aku adalah Dark Elf yang dibenci, ditakuti, dan dijauhi banyak ras di dunia ini!


"Semua itu kulakukan untuk membalas perbuatan mereka!

__ADS_1


"Tapi setelah kutak menyisakan satu pun diantara mereka yang terlibat saat itu, aku baru sadar.... Kematian mereka takkan membawamu atau Kak Lucy kembali!


"Seharusnya aku ikut melakukan sesuatu untuk melindungi Kak Lucy, tapi ... tapi ... tapi....


"Hiks...!"


.


.


.


.


"Justru akulah yang tidak berguna, Kak! Bahkan ibu pun melakukan apa yang kita lakukan!


"Andai....


"Andai saat itu dia tahu aku masih hidup....


"Andai saat itu aku bisa melakukan sesuatu dan tidak hanya meringkuk ketakutan...."


Hugo jatuh terduduk. Tanah terbasahi oleh air matanya yang tak kunjung berhenti. "Aku...!"


'BRUK!'


Hugo memukul tanah dengan kedua tangannya.


"Aku tidak ingin kita semua berakhir seperti ini!


"Baik aku, kau, dan ibu, kita semua ditelan kebencian! Aku ingin ....


"Aku ingin melihat kalian tersenyum, tanpa memikirkan satu pun hal di masa lalu kita, tapi... tapi aku tak mampu mewujudkannya dan aku sudah terlambat!


"Akulah yang tidak berguna di sini!"


.


.


.


.


"Hidup adalah hal yang sakral. Itu tidak bisa dipandang sebagai hitam dan putih, Hugo."


Hugo terbelalak. Dia sangat kenal suara ini.


"A... A...." Jewel pun juga tak mampu mengeluarkan kata-katanya.


"Hidupmu setelah waktu yang kelam itu... tawa, tangis, dan marahmu setelah kala itu... juga berarti kau hidup demiku, Lucy, dan Jewel.


"Bersyukurlah bahwa kau masih hidup, karena aku, sebagai ibumu, sangat bersyukur kau masih hidup!"

__ADS_1


__ADS_2