Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Teman dan Cinta


__ADS_3

Matahari akan segera tenggelam ketika Zeeta masih dalam istirahatnya dalam tangisnya di kediaman Levant. Sementara itu, Gerda, Danny, dan Azure yang mendengar kabar itu dari Mellynda, segera naik darah.


"Aku benar-benar muak," kata Azure. Ia menundukkan kepala dengan tubuh yang sedikit bergemetar. "Anak itu sudah kuanggap sebagai adik sendiri, tetapi aku tak bisa ada di sisinya kapanpun dia butuh seseorang.... Aku muak karena aku hanya bisa menyemangatinya dari jauh!


"Sejak dia menyelamatkanku dari penjara Rowing, aku belum bisa membalas perbuatannya! Jika begini, dia akan berhenti menjadi Zeeta yang kita kenal, dan kita pun tidak bisa melindunginya.... Apapun caranya, kita harus bisa meyakinkan dia agar kita bisa selalu ada di sisinya!"


"Aku setuju. Kita sudah berlatih sejauh ini, tetapi kalau begini kita sama dengan membiarkannya tersakiti!" Gerda menimpal.


"Aku memang tidak mengerti apa yang Zeeta rasakan karena kita layaknya bumi dan langit, tetapi meski begitu, perasaanku yang ingin melindunginya tidak pernah berubah sedikit pun!" tambah Danny.


"Semuanya, dengarkan aku...." Mellynda terlihat ketakutan tentang sesuatu.


"Ada apa tiba-tiba?" tanya Azure.


"Apa aku pernah bercerita kalau aku pernah disihir oleh Peri bernama Morgan pada kalian?"


"A-apa?! Peri, katamu?!" ketiganya terkejut.


"Uhm...."


Kemudian, Mellynda menceritakan apa yang terjadi ketika dia disihir oleh Morgan dan kehilangan kendali atas dirinya sendiri lalu menyakiti Zeeta. Ia juga bercerita alasan kenapa ia berbohong dan tidak bercerita ke keluarganya atau pun Zeeta.


"Jadi ... mengapa kau tampak takut?" tanya Danny.


"Zeeta bilang, Roh Yggdrasil bernama Siren itu memiliki mana yang serupa dengan Morgan... jadi aku takut jika masalah kali ini lebih menakutkan daripada apa yang sudah dihadapi Zeeta....


"Hollow, Peri, Raksasa... adalah makhluk sihir yang dihidupi oleh Roh Yggdrasil, bukan?


"Misalnya, kalau apa yang kucemaskan terjadi... tidak hanya kerajaan Aurora, tapi dunia mungkin juga...."


Ketiganya terdiam. Mereka mengerti apa yang dimaksud Mellynda. Kalau Morgan bisa mengendalikan Siren, maka ancamannya tentu saja tidak di tingkat yang sama dengan semua yang sudah dilewati Aurora.


"Lalu, apa yang dikatakan Zeeta?" tanya Azure.


Mellynda tetap dalam murungnya. "Dia seperti menyembunyikan sesuatu... sesuatu yang tidak boleh diketahui orang lain selain dia sendiri dan Luna...."


"Aku mengerti."


"Eh...?"


"Ada beberapa hal yang harus kuingatkan pada kalian kenapa kita semua melakukan latihan keras ini untuknya.


"Kita semua tahu Zeeta tidak setingkat dengan kita, begitu juga dengan tantangannya. Dia selalu menghadapi ledakan gunung berapi, sementara kita hanya berusaha melangkahi api unggun.


"Zeeta sudah pernah bercerita tentang syarat Hutan Peri untuk tidak mengganggu Aurora, 'kan? Jika Peri bernama Morgan itu berani mengotorkan tangannya, maka seluruh kerajaan Aurora dan sekutu kita akan melenyapkan mereka.


"Luna memang pengecualian, tapi kalau dia menyetujui kehancuran Hutan Peri dari Zeeta, maka itu tidak bisa dihindari.


"Lantas, di situlah letak alasan kenapa Luna melatih kita."


Danny, Gerda, dan Mellynda mengerutkan alis.


"Kalau Zeeta berniat menghancurkannya, pikirkan sebab-akibat yang akan timbul. Ramalan Ratu Peri hanya akan menunggunya, dan dia tidak akan lagi mendengarkan apa kata orang.

__ADS_1


"Dia adalah anak yang rapuh. Sudah berapa kali aku mengingatkannya bahwa dia tidaklah sendiri, tetapi dia selalu melupakannya. Dia juga orang yang keras kepala. Dia bisa sejauh ini karena orang di sekitarnya. Jika orang-orang itu tidak hadir di saat krisis seperti itu...." Azure memandangi ibu kota.


"Aku akan mengatakan ini." Azure menatap ketiganya dengan mata serius. "Aku sudah tidak memiliki keluarga lagi, sementara Zeeta sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Oleh karena itu, aku rela melakukan apapun demi melindunginya. Tekadku berbeda dengan tekad kalian.


"Mellynda, kauingin melindunginya karena dia adalah teman sekaligus rival-mu.


"Danny, kauingin melindunginya karena kau menyayanginya. Sama denganmu, Gerda." Danny dan Gerda merona.


"A-aku menyayanginya karena dia keluarga Lazuli dan juga temanku!" pekik Gerda.


"Ya, itu. Kalian semua masih memiliki keluarga. Apa yang akan kalian lakukan? Meninggalkan keluarga atau memilih Zeeta?"


Danny tersenyum. "Apa kau bodoh, Kak Azure?"


"Hah?"


"Dunia ini luas. Kalau sepesimis itu, kau tidak akan menyadari kalau Zeeta masih bisa jadi lebih baik.


"Kau memang benar. Zeeta tidak bisa sejauh ini tanpa orang di sekitarnya. Tapi, itu jugalah yang menjadi kekuatannya untuk terus berjuang.


"Kalau dia mendengar apa yang kaukatakan barusan, dia pasti akan marah.


"Kita akan melindungi Zeeta dan juga keluarga kita! Kaupikir aku sejauh ini tanpa memikirkan keluargaku?


"Sejak kami masih tinggal di desa Lazuli, aku sadar jika Zeeta orang yang hebat. Dia masih akan terus menjadi orang yang lebih hebat dari dirinya yang kemarin. Kehadiran kita adalah untuk mendukungnya!" Danny mengatakannya dengan penuh percaya diri.


"Hooo...." Azure tersenyum. "Boleh juga ucapanmu, Danny. Kalau begitu, inilah jawabanku." Azure menutup matanya sesaat. "JANGAN NAIF di dunia sihir ini!


Azure melotot. Namun, Danny seakan tidak terpengaruh dengan gertakan itu.


"Sudah kubilang, Kak Azure, dunia ini luas! Aku belajar banyak hal dari Luna tentang dunia ini. Aku tahu Kakak benar, dunia sihir ini banyak sekali ancamannya. Kalau Zeeta tidak terlahir di dunia ini, kerajaan Aurora juga sudah lenyap, tapi...."


"Aku tidak ingin membiarkan Zeeta sendirian seperti ramalan Ratu Peri. Bahkan jika itu bukanlah suatu ramalan, aku tetap tidak akan membiarkan Zeeta sendiri.


"Meskipun halangannya adalah kematian, meskipun Zeeta tidak ingin aku ada di sisinya, aku tetap akan melindunginya!


"Jangan anggap tekad kami lebih lemah dari tekadmu! Aku dan Gerda sudah kenal Zeeta lebih dari yang kautahu. Kami juga sadar kami pernah bersalah padanya meski dia tidak tahu, tetapi itulah yang membuat kami berdua semakin ingin untuk selalu ada di sisinya! Ketakutan adalah hal yang wajar untuk kami rasakan, tapi itu tidak berarti kami tidak bisa melewatinya!


"Kami semua sudah bertekad untuk melindunginya!"


Mellynda, Azure, Gerda, menatap Danny dengan tatapan tak percaya. Sejak kapan Danny bisa seperti ini? Apa yang membuatnya berubah? Itu adalah pertanyaan yang terbesit dalam benak mereka.


'BWAMMM!'


Gerda memukul bahu kiri kakaknya. "Kau mengatakan hal yang bagus, Kak! Kesanku padamu jadi lebih baik satu persen!" serunya.


"O... ouh..., bagus, deh...," balas Danny, yang mulai terbiasa dengan sikap "baru" adiknya.


......................


Setelah perdebatan anak-anak itu selesai, mereka segera kembali menjalankan rencana "penculikan" Zeeta. Sejak mana Zeeta dirasakan oleh keempatnya sedang di desa Lazuli, mereka bisa menebak apa yang ia lakukan di sana. Tanpa pikir panjang, dari kediaman Ophenlis, mereka memakai sihir teleportasi masing-masing ke depan kedai A n' Z.


Sementara Zeeta akan "dihabisi" oleh keempat temannya, tanpa diketahui mereka, Arthur memiliki tamu lain, yaitu Hellenia von Cloxzar IX, yang sudah dirias secantik dan semenawan mungkin oleh adiknya, Selenburg.

__ADS_1


Hellenia mengikat satu rambut kelabu sepunggungnya dengan ikat rambut hitam, dan diposisikan ke depan bahu kirinya. Kali ini dia sengaja tampil "bukan bangsawan" dengan kemeja panjang tebal yang cukup menghangatkan berwarna putih dipadu warna ungu. Celana jean's panjang ketat hitam keunguan juga dipakainya. Kakinya dilengkapi sepatu berhak tebal dan tinggi tiga sentimeter, sementara tangannya memakai sarung tangan anyaman sewarna dengan celananya yang terdapat emblem keluarga Cloxzar, yaitu perisai, pedang secara horizontal, dan trisula secara vertikal—yang disusun bertumpuk.


Musim ini sudah saatnya salju akan menunjukkan kehadirannya, namun mereka masih memutuskan untuk meniup hawa mereka saja.


Terlihat rona merah di pipi dan telinga Hellenia karena suhu di luar. Merespon ini, Arthur segera mempersilakan tamunya untuk masuk dan semakin menghangatkan suasana ruang.


"Selamat malam, Arthur," sapa Hellenia, yang berusaha untuk tetap berani menatap wajah pria yang ia cintai ini.


"Selamat malam, Nona Hellenia!" balas Arthur dengan senyumnya.


"Ah, gawat... dia sangat tampan...," batin Hellenia. "E-ehem, apa aku mengganggu?"


"Tidak, tapi aku tidak menyangka Anda akan datang jauh-jauh ke sini. Ada apa?" Arthur bertanya seraya membereskan piring kukis dan cangkir Zeeta.


"Aku ingin mengubah suasana hatiku saja. Selama seminggu lebih, kami bangsawan utama selalu bekerja keras. Jujur saja, aku perlu sedikit liburan."


"Oh, kebetulan sekali. Apa yang Anda ingin minum untuk menghangatkan tubuh? Aku masih memiliki beberapa botol anggur, jika Anda berkenan."


"Oh, iya... kau jadi buka kedai, ya...." Hellenia melihat sekitar. "Uhm, tolong anggurnya."


"Segera." Arthur menjawabnya dengan senyuman.


Selama Arthur menyiapkan minuman untuk tamunya, Hellenia tidak berkutik dan hanya melihat gerak-gerik serta wajah Arthur. Menyadari ke-awkward-an ini, Arthur segera bicara. "A-anu...."


"Iya?" tanya Hellenia.


"Jadi, apa Anda ke sini hanya untuk mengubah suasana hati?"


"Y-ya. Apa tidak boleh?"


"Tidak! Tentu saja boleh, tapi... aku hanya rakyat jelata, tentu Anda memiliki teman yang lebih pan—"


"Arthur, kau sudah tahu aku tidak suka jika kau beralasan seperti itu, 'kan?" tukas Hellenia.


"Soalnya... aku merasa tidak pantas." Arthur menggaruk pipinya yang tidak gatal dan sedikit mengalihkan pandangan.


"Eh? Apa ini? Arthur malu-malu?!" batin Hellen yang kegirangan.


Arthur kemudian membawakan segelas anggur untuknya dan tamunya. Ia kini duduk berhadapan dengan Hellenia, tapi tak ada yang berani menatap wajah satu sama lain. Bagaikan cinta yang terlambat bersarang, melihat pria dan wanita di kepala tiganya seperti ini.


"Pa-pakaian itu...," kata Arthur, yang tetap tak bisa melihat wajah Hellen.


"I-iya?!" wajah Hellenia memerah semerah tomat.


"Te-terlihat sangat menawan untukmu." Kini terlihat merah di telinga Arthur, yang membuat jantung Hellenia berdegup semakin kencang.


"Te-terima kasih.... Bu-bukankah sekarang sudah agak hangat? Bisakah kau turunkan suhu apinya?"


"Ten-tentu saja!"


[Sementara itu, di kediaman Cloxzar....]


"Kyaaaaa kakakku berhasil!" Selen yang memata-mata dengan alat sihir yang dipasang diam-diam olehnya di sarung tangan anyaman, berjingkrak kegirangan. "Dengan begini aku sudah memastikan bagaimana perasaan Arthur pada kakak, sekarang hanya tinggal mengatur bagaimana cara agar mereka bisa menyatu, fufufufufu...."

__ADS_1


__ADS_2