
Tepat setelah Aurora mengusaikan libur satu minggu penuh dari dimensi buatan Alicia, sang ratu segera memerintahkan bawahannya yang telah bersumpah setia padanya—seperti para pengawal istana, serta pelayan dapur dan tukang kebun untuk kembali menyebarkan pesan bahwa kini, Azure dari desa Lazuli telah menjadi anak angkatnya, dan akan menjadi keluarga kerajaan ketika waktu penobatannya tiba.
Tentu saja, Azure mustahil menggunakan kekuatan bulan, atau bahkan hanya untuk memakai anting bulannya saja. Meski begitu, itu tidak berarti dia tidak cukup kuat untuk berdiri di sisi Zeeta. Alicia dan keluarga kecilnya pun sudah memperkenalkan Azure pada pihak Levant. Si kembar Edward dan Ella, yang masih putih dari hal-hal politis, hanya menerima Azure dengan senyum yang lebar dan tulus.
Namun, ini bukan waktunya untuk bersenang-senang. Aurora akan menghadapi ancaman yang lebih besar dari sebelum-sebelumnya. Oleh karena itu, saat ini Ashley sedang bertekuk lutut di hadapan Alicia yang bersama keluarganya di ruang takhta.
"Kau tak perlu membuat anak-anak bersiap serapi ini, Ashley," kata Alicia, "katakan padaku, apa yang hendak kausarankan?"
"Saya sadar jika saya kurang sopan, tetapi ini demi menghemat waktu, dan saya pikir Anda akan segera menerima saran ini," jawab Ashley.
"Hebat... aku tak pernah melihat percakapan bangsawan seperti ini.... Meskipun begitu, aku tetap tidak ingin harus selalu formal seperti ini...," batin Zeeta. Ia memakai gaun hijau toska berenda selutut dengan pernak-pernik kilauan di gaunnya. Kedua tangannya dibalut sarung tangan putih, yang di pergelangannya terdapat seuntai kain sewarna dengan gaunnya. Ia mengikat kuda rambut violetnya.
"Anak itu... pasti dia memikirkan betapa repotnya berbicara formal seperti itu," batin Azure, tersenyum kecut. Azure memakai gaun biru kehitaman yang juga dihiasi pernak-pernik kilauan, rendanya sedikit lebih panjang daripada Zeeta. Gaun keduanya ditata seperti saudara, serupa tapi tak sama. Di pergelangannya, hanya terdapat gelang hitam, dan rambut birunya dibando.
"Biar aku tebak. Memperlihatkan kekuatan dua anakku ini di depan publik, lalu merekrut siapapun yang berpotensi, 'kan?" sahut Alicia.
Ashley menunjukkan senyumnya. "Anda benar, Yang Mulia."
"Kalau begitu tidak perlu ditunda lagi. Sayang, kauuruslah masalah ini."
"Tentu, sudah kusiapkan." Hazell menunjukkan kertas berisi nama-nama kandidat. Ia tersenyum dengan penuh percaya diri.
Alicia mengernyitkan mata kala membaca isi kertasnya. "Hapus Albert dari daftar itu! Apa kau bodoh? Dia pantas untuk ditaruh di eliminasi, bukan kandidat!"
"Tapi, kita kekurangan orang untuk menjaga anak-anak!"
"Haaahh...." Alicia menghela napas, lalu ia memijat-mijat keningnya. "Sikap overprotektif-mu itulah yang mengganggu keseimbangan kekuatan kita!
"Kita punya Luna dan Eclipse, apa kau lupa dua sosok itu?!"
"Ma... maaf...." Bahkan sebagai raja, Hazell tak mampu di hadapan istrinya.
"Yang Mulia!" seru Ashley, meminta perhatian ratunya.
"Ada apa, Grand Duchess?" tanya Alicia.
"Saya punya nama tambahan untuk dihadirkan di sesi semi-final."
"Oh...?"
Sementara itu, Azure dan Zeeta sama sekali tak mengerti apa yang tiga orang dewasa ini bicarakan.
Setelah Ashley membisiki siapa nama yang dimaksudnya pada Alicia, ia kembali berlutut, lalu Alicia memberi perintah pada dua anaknya. "Anak-Anakku, Zeeta dan Azure!" serunya dengan tegas, "kalian kuperintahkan untuk latih tanding saat ini juga. Tempatnya akan segera dipersiapkan Grand Duchess. Aku ingin kalian menunjukkan kemampuan kalian pada rakyat, seberapa besar berharganya harta karun hidup di negeri ini!"
Zeeta dan Azure mengedipkan matanya dua kali, lalu saling menatap.....
"EEEEEHHH??!" pekik mereka bersamaan.
......................
Mentari beranjak ke tengah-tengah poros bumi, sedangkan rakyat berkumpul pada pulau layang yang baru saja selesai dibuat dengan kekuatan Ashley. Pulau tersebut mirip seperti colloseum, dimana kursi penonton tertata naik, sementara arenanya ada di bawah. Arena tersebut dikelilingi oleh pelindung yang dibuat dengan sihir Luna—mengantisipasi salah satu kekuatan dari mereka terlalu kuat dan menghindari adanya korban luka dari pihak penonton. Dari banyaknya rakyat, bahkan Axel yang kebanyakan waktunya selalu di bengkelnya, hadir di sana bersama dengan asistennya, Myra.
Tak luput dari kehadirannya, Aria dan Ozy juga hadir dengan penuh semangat yang membumbung. Mereka menyoraki masing-masing bintang utamanya—Azure dan Zeeta—sambil melambaikan tangan. Tentu saja, Arthur juga ikut menonton bersama warga desa Lazuli lainnya. Para keluarga kerajaan, termasuk Levant, serta bangsawan utama, duduk bersama Luna bermode rubah di tempat khusus, a.k.a VIP, dimana mereka memiliki tempat sejuk dari sengatan matahari.
Seluruh kerajaan awalnya dibuat kaget dengan pengumuman mendadak dari ratu mereka yang kesekian kalinya. Kali ini, ia memberi tahu mereka jika ia akan menunjukkan kekuatan anak-anaknya. Ia sangat paham, tidak hanya Zeeta saja yang kuat, bahkan Azure juga sama.
Tujuannya "memamerkan" ini adalah untuk membuat jelas warganya, seberapa kuat negara mereka, sekaligus, ia ingin merekrut pasukan baru yang terpisah dari pasukan kerajaan atau pengawal istana. Pasukan ini nantinya ditujukan khusus untuk mengatasi masalah yang mencuat sebab Zeeta yang menjadi target oleh makhluk-makhluk sihir, atau bahkan mungkin dari kerajaan lain.
Pesertanya dibolehkan dari lapisan manapun. Rakyat jelata, prajurit, atau bangsawan sekalipun, semuanya boleh mengikuti turnamen dadakan ini. Syarat mendaftarnya, mereka tidak takut ketika melihat kekuatan yang akan dikeluarkan Zeeta dan Azure, dan terus berkeinginan kuat melindungi Aurora, apapun yang terjadi. Raja Hazell sudah memiliki daftar nama kandidat yang pantas menjadi anggota pasukan baru ini, tetapi jika mereka tidak mampu mengemban syarat utama ini, maka pasukan ini gagal dibentuk.
Jika ada dari rakyat yang mampu mengemban rasa takutnya, mereka akan mengikuti turnamen, dan mereka akan melewati tiga event. Satu; eliminasi, yang akan ditentukan oleh Komandan Pasukan Kerajaan, Albert Alexandrita seorang diri. Mereka akan melawan Albert secara beregu. Dari regu-regu tersebut, akan berlanjut ke event kedua, yaitu langsung semi-final, yang akan ditentukan oleh "tamu spesial". Kemudian yang terakhir, tentu saja finalnya akan ditentukan oleh Zeeta, pusat dari tujuan turnamen ini digelar.
Hanya satu yang tidak diperbolehkan dalam ajang sihir ini, yaitu membunuh. Tentu saja.
Semua itu terdengar sederhana, tapi mereka tidak tahu apa yang akan mereka lihat di "acara pembuka" oleh dua tuan putri ini, bahkan ratunya sekalipun.
Sementara kursi penonton dipenuhi rasa penasaran yang kuat, Zeeta dan Azure yang berada di dalam ruang peserta, sedang berjanji kelingking.
"Berjanjilah padaku, Zeeta," kata Azure, menyodorkan kelingking kanannya.
"A-apa?" tanya Zeeta. Ia gugup.
"Kalau kau merasa harus menggunakan segel apalah itu, jangan ragu." Azure menatap Zeeta serius. Zeeta juga dapat merasakan kemantapan dari mata kakaknya itu, tetapi ia masih takut. Ia tidak ingin melukai siapapun.
"Para Peri yang telah kau ancam sudah nyaris punah. Kita tidak memiliki waktu untuk memikirkan rasa takut!" sambung Azure.
Zeeta mencengkeram tangannya. "Kalau begitu Kakak juga! Jangan menahan diri padaku!" Zeeta menyodorkan kelingking kirinya.
__ADS_1
Azure tersenyum lalu mengaitkan kelingking mereka.
"Tunjukkan padaku hasil latihanmu dengan Grand Duchess!" seru Azure.
"Kakak juga! Kau latihan dengan Luna, bukan?" Zeeta membalasnya dengan senyuman yang sama.
Kemudian, setelah beberapa menit menunggu, acara pembuka turnamen pun dimulai.
......................
Masing-masing dari Azure dan Zeeta, saling mengambil napas sebelum bertindak.
Azure memulai serangannya dengan meregangkan tangan kanan ke depan dan menyemburkan sihir api dari bawah kaki Zeeta. Zeeta yang nyaris tak mampu menghindarinya, melakukan teleportasi lalu muncul di atas Azure, kemudian langsung menembakkan sihir es berbentuk prisma yang tajam.
"Cih!" Azure membuat tameng tanah di lengan kanannya, lalu membuat tombak dari tangan kirinya dan segera menujah Zeeta.
"Wah!" Zeeta yang terkejut segera menghindar ke belakang, membuat sebilah pedang lalu mematahkan tombaknya, mengambil pose roll, menendang kepala Azure dengan tumitnya, kemudian mengambil jarak darinya.
Azure meringis kesakitan, lalu memakai sihir kegelapannya untuk menyembuhkan rasa sakit kepalanya.
Rakyat yang menonton terkejut dengan kemampuan Azure.
Dengan segera, Azure membuat langkah pertama lagi. Ia meregangkan tangan kanannya ke bawah, lalu menyemburkan sihir api biru yang menjalar ke Zeeta. Ukuran api itu sangat besar sampai membuat Zeeta terbelalak. Ia melakukan hal yang sama dengan Azure, tetapi ia mengeluarkan air. Uap panas sebagai akibatnya, memaksa mereka terbang, dan mengadu sihirnya lagi.
Azure menerjang Zeeta sambil memutar telunjuk kirinya. Disaat yang sama, uap mengikuti arah telunjuknya. Zeeta yang merasakan bahaya, menyiapkan butiran sihir warna-warni di kedua telapak tangannya. Azure yang segera mendekat ke hadapan Zeeta, mengecoh Zeeta dengan melompatinya, lalu menujamkan telunjuk kirinya. Zeeta berhasil terhindar dari luka karena tangan kirinya bergerak ke atas dan butiran sihirnya menghalangi benda tajam tak terwujud dari telunjuk Azure. Zeeta mengambil jarak lagi darinya.
"Kakak hebat.... Selain sangat cepat, dia juga pintar memakai sihirnya.... Siapa yang akan menyangka dia akan memakai uap air tadi sebagai bilah pedang?!" Zeeta terengah.
"Sudah kuduga dari Zeeta.... Dia tak mudah dikalahkan. Aku harus segera serius." Azure mengatur napasnya lagi, lalu turun ke tanah. Ia disusul Zeeta.
Azure memejamkan matanya, lalu tak lama, aura gelap keunguan menyelimutinya. Ia mengeluarkan Buku Sihirnya, lalu berkuda-kuda. Sesuatu yang jarang dipakai untuk bersihir. Zeeta meladeninya. Ia meregangkan tubuhnya yang tegang, lalu mengatur napasnya. Ia juga mengeluarkan aura putih kebiruannya.
Ketika Zeeta mengedipkan mata dan siap untuk menyerang, tiba-tiba saja Azure ada di hadapannya dan hendak meninjunya.
"A-apa?!" Zeeta menangkis pukulan itu dengan tangan kanannya, lalu segera membalas serangan itu dengan pukulan lengan kirinya. Sesaat sebelum lengan itu mengenai Azure, ia merasa mana-nya terhisap. Ia mengambil jarak dengannya lalu melihat tangan kanannya. Sebagian dari aura di tangannya lenyap. "Jadi begitu...?!" batinnya. Ia menggertak gigi.
......................
"A-apa yang terjadi? Kenapa Putri Zeeta terlihat panik?" tanya rakyat A.
"Azure menghisap kekuatan Zeeta dengan sihir kegelapannya," jawab Aria, yang ada di dekat mereka. Ia menyaksikannya dengan mata yang serius. Dahinya juga terlihat berpeluh. "Aku tak menyangka anak-anak ini bisa sangat kuat!" batinnya.
"Menyerap kekuatan Putri Zeeta?!" rakyat A terkejut.
"Jadi, Putri Azure bisa mengimbanginya?" tanya rakyat B.
"Aku tidak tahu. Mereka berdua belum serius!"
......................
"Kalau begitu caranya, aku hanya tinggal melakukan hal kebalikannya!" Zeeta yang masih terbang menghilangkan sebagian auranya dari tangan dan kakinya. Ia kemudian menerjang Azure.
Azure hanya pasang badan di tanah, dan bersiap menerima serangan Zeeta.
Zeeta mendaratkan kedua telapak tangannya di perut Azure, tetapi ia segera meringis kesakitan. Tangannya terkena racun dan terus menyebar.
Azure menyeringai, tetapi ia segera dibuat terbelalak karena Zeeta ikut menyeringai.
"Boom!"
Azure terpental hingga ke pelindung lalu terbaring di tanah.
Zeeta menyembuhkan lengannya yang teracun itu dengan santai.
"Si-sialan.... Kau sengaja melakukannya?!" gerutu Azure. Ia melihat gaun hitamnya sudah usang di bagian perut dan meleceti kulitnya.
Zeeta hanya tersenyum lima jari lalu berpose peace.
"Baiklah, kalau begitu!" Buku Sihir Azure bersinar ungu lalu itu membumbungkan asap ungu.
"Racun lagi, kah?!" Zeeta segera membuat masker dan melapisinya dengan sihir penyembuh.
Saking banyaknya asap yang keluar, sampai membutakan pemandangan penonton, termasuk Zeeta sendiri.
"A-apa yang terjadi?" rakyat dibuat penasaran.
Tiba-tiba, mereka mendengar jeritan Zeeta. "Aaaaagghhh!"
__ADS_1
Jeritan itu sangat lengking, membuat siapapun paham sakit yang dirasakan Zeeta bukan main. Jeritan itu terdengar beberapa kali hingga membuat mereka semakin takut dan khawatir dengan Zeeta.
"Ratu! Hentikan segera!" pekik rakyat satu suara, namun ditolak dengan diam sang ratu.
Kemudian, asap itu segera lenyap saat bunyi ledakan muncul dan membuat pelindung dari Luna itu memunculkan retak.
"Putri Zeeta!" teriak rakyatnya.
Zeeta dibuat berdarah dan jatuh berlutut. Kepala, lengan, paha hingga kaki, terluka dari benda tajam dan tubuhnya terkena racun.
"Tidak apa!" teriak Zeeta lantang. Dengan darah yang masih menetes, ia berdiri. "Aku tidak apa!"
Zeeta melapisi tubuhnya dengan auranya lagi, lalu mengumpulkan mana alam dari bawah pulau. Mana-mana itu dengan cepat menyembuhkan luka dan racunnya, dan ia siap kembali. Namun, ia masih terengah-engah. "Kenapa ... Kakak bisa ... sekuat ini...?" tanyanya.
Rambut biru Azure mulai terlihat keunguan, dan itu melawan arah gravitasi. Seluruh tubuhnya terdapat garis merah menyala, terdapat api ungu mengelilinginya, matanya pun juga bersinar merah, membuatnya tampak berbeda dan menyeramkan.
Azure menyeringai. "Tentu saja karena—"
"BALAS DENDAM!"
Suara wanita terdengar dari ujung penghalang.
"G-Grand Duchess?!" Zeeta terkejut dengan siapa yang ia lihat.
"Zeeta, awas!!" pekik Luna sangat lantang.
Zeeta yang menoleh ke arah Luna karena reflek, tak sempat menghindar. Ia terpental sampai menembus penghalangnya.
"A-Ashley?!" Alicia terbangun dari kursi VIP-nya.
Mendadak, awan berubah hitam pekat.
"Si-siapa kau?!" Azure terlihat ketakutan. Ia mundur beberapa langkah, merasakan betapa mengancamnya wanita di hadapannya ini.
"Azure, larilah!" pekik Luna, yang berlari menyusul, sambil membuat penghalang pada wanita berwujud Ashley itu.
Semua bangsawan utama memunculkan Buku Sihirnya, lalu segera menerjang wanita itu bersamaan.
Kakinya bergemetar hebat. Ia terpaku pada Zeeta yang tak sadarkan diri seketika di tengah kepulan asap. Azure bingung, haruskah ia lari atau menolong adiknya lebih dulu?
"Mana?
"Mana yang tepat?
"Lari?
"Menyelamatkannya?
"Lari...? Ya—TIDAK!
"Lawan! Lawanlah dia!"
"HAAAAAA!!!" Azure mengumpulkan api ungunya dan menyerang Ashley dengannya. Ia segera lari menuju Zeeta, menghilangkan auranya lalu hendak menggendong Zeeta.
Tetapi....
'FWASSHH!!'
Hempasan angin mementalkan semua orang, bahkan memecahkan penghalang Luna dengan mudahnya.
Sosok dibalik wanita itu menunjukkan dirinya. Semua orang yang melihatnya terkejut pada satu benda pada dirinya, yaitu anting bulan.
Alicia yang menyadari bahaya yang timbul segera melejit ke tingkat tertinggi, segera memindahkan semua rakyatnya ke dimensi buatannya, termasuk Zeeta dan Azure.
"Hoo? Tindakan yang bagus, Ratu," puji wanita itu menyeringai, yang tidak lain tidak bukan, adalah Lucy.
"Si-siapa kau?! Di mana Grand Duchess Ashley?!" teriak Hellenia. Ia mencoba melawan ketakutannya
"Fufufu.... Fuhahahaha!" tawanya begitu menggelegar. "Jangan bercanda! Tentu saja kalian tahu dari anting ini, 'kan?" Lucy menjentik antingnya.
"Berhati-hatilah semuanya! Dia adalah pelaku yang hampir memusnahkan Peri!" Alicia tampak bergemetar.
"A-apa...?" Semua orang di sana berkeringat dingin.
"Apa Anda ingin membalaskan dendam pada kami, Putri dari Aurora Kesebelas...?"
Lucy menyeringai....
__ADS_1