
Kedai A n’ Z.... Sudah sekian lama sejak Zeeta terakhir ke sini. Sejauh yang ia ingat, adalah ketika ia baru pulang dari latihan di Grandtopia, saat usianya masih empat belas tahun.
‘Kringgg kringg....’
Bunyi lonceng ketika pintu dibuka, segera menostalgiakan gadis berambut perak yang di atas kepalanya terdapat rubah mini. “Selamat datang!” seru suara laki-laki di sana, yang sangat familiar untuknya. Begitu laki-laki tersebut melihat siapa pelanggan yang baru saja masuk, dirinya yang sedang memasak, segera terhenti. Dia tersenyum lembut.
“Pu-Putri Zeeta...?!” para pelanggan yang sedang menikmati makan di sana segera terkejut melihat kedatangannya. Kondisi di sana cukup ramai—seperti biasanya. Zeeta menyapa mereka dengan senyuman manis dan lambaian tangan. Dia lalu berjalan mendekat dapur.
Tidak ada begitu banyak perubahan dari interior kedai ini, namun karena sudah termakan usia, beberapa bagian sudah ada yang “butuh perawatan”. Jika dirinya bisa bersihir, Zeeta sudah menyelesaikan masalah ini secepat kilat. Tapi khusus hari ini, tujuannya berbeda dari biasanya.
“Ayah Arthur, apa masih sibuk setelah ini?” tanpa berbasa-basi, Sang Putri segera membantu Arthur untuk memasak.
“Masih ada beberapa orang lagi. Ada apa?”
“Ada sesuatu yang ingin kuceritakan, aku juga hanya ingin bicara padamu.”
“Baiklah. Tapi, setelah tiga tahun terakhir kau ke sini, aku tak ingin membuatmu merasa sungkan hanya karena melihatku. Duduklah dan minum cokelat panas kesukaanmu.”
Zeeta tersenyum. “Baiklah.”
......................
Usai menunggu beberapa belas menit bersama dengan secangkir cokelat panas, Zeeta merasakan nostalgia lagi. Dia masih sangat ingat ketika usianya masih lima tahun, bagaimana dirinya begitu mendambakan Arthur dan benar-benar ingin menjadi sepertinya. Hanya karena itu saja, membuatnya jadi emosional hingga berujung pada jatuhnya tangis. Dia tak kuasa untuk menahan tangisnya, sebab mimpinya yang ingin menjadi koki hebat laksana ayah angkatnya itu benar-benar tak bisa digapai lagi.... untuk selamanya.
“Zeeta...,” batin Luna, yang mengelus-elus kepalanya dengan kaki rubah kecilnya.
“Zee-Zeeta?!” Arthur sangat kaget kala dia melihat putrinya itu menangis tiba-tiba. “Ada apa...?” tanyanya lembut. Ketika ia ingin menghampirinya, pintu didobrak.
“Arthur, aku datang seperti biasa!” teriak suara wanita. Dia adalah tunangan Arthur, Hellenia. Dia datang disaat yang tak tepat. Para pelanggan memerhatikan Zeeta yang duduk membelakangi mereka, dengan suara isak tangis. Di depannya juga ada Arthur. Wajah wanita bangsawan yang sumringah itu, segera berubah masam. Iapun kemudian menghampiri Zeeta.
“Tuan Putri... apa Anda baik-baik saja?” tanyanya sambil memegang bahu kiri Zeeta.
“Maaf. Aku baik-baik saja,” jawab Zeeta.
“Apa Anda yakin...?”
“Uhm. Aku teringat masa laluku saja. Aku ... merindukannya.”
Hellenia terkesiap. Dirinya seakan tersengat oleh perasaan yang sama dengan gadis tujuh belas tahun di depannya. Dia pun tahu, apa yang telah dilalui Tuan Putrinya beberapa hari yang lalu.
“Tenang saja. Ini bukan masalah yang—“ Zeeta terbelalak. Dirinya mendadak dipeluk erat oleh Hellenia.
“Maafkan aku bila lancang, Putri, tapi biarkanlah aku memeluk Anda untuk saat ini.”
Hellenia dicengkeram erat oleh Zeeta. Dia langsjng menumpahkan semua kesedihannya, namun tanpa menimbulkan suara. Menanggapi balasan Zeeta yang seperti itu, Hellenia mengelus rambut Sang Putri dengan lembut. “Tak apa, Putri. Tumpahkan saja semuanya....”
Canggung. Hanya itulah yang dirasakan para pelanggan di sana. Mereka semua berhenti makan—memandangi hal yang tak biasa dilihat oleh mereka.
.
.
.
.
__ADS_1
Hellenia dan Zeeta beranjak ke lantai dua—bekas kamar sang gadis dahulu. Arthur memercayakan tunangannya itu untuk menenangkan Zeeta.
“Apa Anda sudah merasa lebih baik?” tanya Hellenia.
“Uhm. Terima kasih.” Dengan pipi yang sembab, Zeeta menjawab. Dia tersenyum memandangi sekitarnya. Dia juga meraba lembut kasur yang didudukinya sekarang.
“Kuharap aku bisa membantu Anda, tentang apapun yang sedang dipikirkan....”
Zeeta bertelentang. “Beri tahu aku tentang sesuatu, Nona Hellen.”
“Apa itu...?”
“Kudengar dari Mellynda dan kak Azure, sepertinya kau dan ayah Arthur menunda pernikahan kalian sampai masalah dunia ini selesai?”
“Itu benar,” jawaban cepat diberikan Sang Penguasa Wilayah Barat tersebut.
“Kenapa?”
“Tentu saja, karena pernikahan kami adalah sesuatu yang takkan indah bila Anda yang sedang mengemban beban dunia, tak hadir di dalamnya.”
Zeeta menanggapinya dengan senyum kecut. “Begitu....”
“Kami berdua ingin Anda terlepas dahulu dari beban yang dipikul. Oleh karena itu kami juga membantu Anda apapun yang kami bisa.
“Anda adalah putri dari Arthur. Setidaknya untuk delapan tahun. Anda bisa menjadi diri Anda sekarang, tak salah lagi berkatnya. Oleh karenanya, tak mungkin kami melaksanakan pernikahan tanpa Anda didalamnya.”
“Tapi ... itu adalah kebahagiaan kalian. Tanpa menunggu, kalian bisa-bisa saja untuk menikah. Aku tidak mengerti.”
“Mungkin Anda benar, Putri... namun....”
Zeeta melirik pada Hellenia yang menjeda ucapannya.
“’Aku minta maaf dahulu padamu jika apa yang hendak kukatakan ini akan menyinggungmu.
“Aku mencintaimu, bahkan aku ingin segera menjadikanmu sebagai istriku secepatnya. Namun... sebelum hadirnya perasaan itu, aku sibuk untuk membesarkan Zeeta. Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat.
“Aku tahu meski jarak kami terpisah, bahkan aku pun tahu kami tidaklah ada hubungan darah, tapi....
“Bila kita menikah disaat putriku itu sedang berjuang demi dunia, aku merasa aku hanya mementingkan diriku sendiri. Bebanku saat ini, ataupun bebanmu, tidak bisa dibandingkan dengan beban yang dipikulnya.
“Aku tahu ada banyak hal yang tidak mungkin dibicarakannya padaku, pada orang tua kandung, ataupun rekan-rekannya yang selalu ada bersamanya. Itu berarti, dia sangat menghargai dan menjaga kebahagiaan kita agar kesedihan yang ditanggungnya, tidak ikut ditanggung oleh mereka.
“Aku tahu. Zeeta seperti itulah orangnya. Makanya, sampai Zeeta benar-benar terlepas dari bebannya, aku baru bisa dengan senang hati menikahimu.’”
Zeeta mencengkeram keras seprainya. Dia menyembunyikan tangis yang menetes di mata kanannya. “Curang. Kalian benar-benar curang.”
Hellenia tersenyum kecil. “Selain itu, aku juga akan melepas gelarku sebagai penguasa Wilayah Barat dan memberikannya pada adikku, Selenburg.”
“Hmm? Kenapa?” Zeeta berhasil menyeka tangisnya, lalu duduk lagi.
“Karena aku akan meneruskan A n’ Z bersama Arthur saat sudah menikah!” senyum sumringah diberikan Hellenia.
Mendadak, mata Zeeta yang masih memiliki efek Rune Kaunaz, melihat waskita. Tapi, berbeda seperti biasanya yang hanya melihat masa depan jangka pendek, waskita ini datang secara tiba-tiba.
Gadis perak itu melihat sosok Hellenia yang sedang memakai gaun pernikahan cantik berwarna putih dengan tudung kain tipis di atas kepalanya. Dirinya tampak menawan dengan segala aksesoris dan tata rias wajahnya.
__ADS_1
“Cantiknya...,” gumam Zeeta dengan mata yang berbinar.
“Pu-Putri?! Kenapa tiba-tiba...?” Hellenia merona.
“A-ah, tidak....” Zeeta tersenyum manis. “Aku pasti akan menyelesaikan beban ini hingga tuntas dan membuat kalian menikah dengan bahagia!” Zeeta pun ikut tersenyum manis.
Mereka berdua menutup pembicaraan dengan gelak tawa bersama
......................
[Sementara itu, di istana emas kerajaan bawah laut, Orsfangr....]
“Aku benar-benar tidak mengerti Zeeta!” seru seorang Dark Elf, di hadapan seorang lelaki dan dua orang wanita. “Kenapa dia menyuruh kita menyerahkan Batu Jiwa-nya pada L’arc?!”
“Entahlah,” jawab Danny, “setelah melihat perubahan pada bulan, aku merasa harus benar-benar serius, tapi dia mendapatkan bantuan yang tidak kuduga.” Danny mengingat ada seorang pria tua datang dengan portal ke belakang L’arc.
“Aku khawatir bila Zeeta ini mengkhianati kalian,” ujar Sugar.
“Mengkhianati?!” bentak Jourgan, “Zeeta bukanlah orang yang semacam itu!”
“Lantas kenapa?!” balas Sugar ikut membentak. “Tanpa adanya Batu Jiwa, kami benar-benar tanpa pertahanan! Kukira adikku benar-benar mendapatkan bantuan yang pantas, tapi....”
“Aku tidak mengerti alasannya, tapi ini pasti bukanlah sesuatu yang gegabah.” Jourgan Si Dark Elf, tidak ingin menyia-nyiakan kepercayaannya pada Zeeta.
“Biarkan aku yang bicara langsung dengannya,” timpal Cynthia.
“Hah?” ketiganya kebingungan.
“Penguasa Lautan memiliki cara untuk berkomunikasi dengan daratan.”
“Apa? Semacam telepati?” tanya Jourgan.
“Kurang lebih. Koreksikan aku bila salah, Zeeta ini bisa memakai mana alam, bukan?”
“Ya. Itu benar.”
“Kalau begitu semuanya baik-baik saja. Aku akan menemui para Penguasa Lautan, setelah itu bicara dengan Zeeta. Akan butuh waktu, jadi kalian tunggu saja di sini. Ayunda, tolong antarkan tamu-tamu ini ke Gua Penyembuhan. Meskipun Batu Jiwanya telah diambil musuh, tidak mengubah fakta bila mereka membantuku menyelamatkanmu.”
“Ya, baiklah.” Sugar mengangguk.
.
.
.
.
Menjelang sore, Zeeta pamitan dengan Arthur dan Hellenia. Mereka bertiga saling melambaikan tangan. Zeeta berjalan berdampingan dengan Luna dalam mode rubahnya langsung ke luar desa Lazuli. Namun, baru berjalan beberapa meter dari kedai, kabut menyelimuti sekitarnya. Zeeta dan Luna jadi waspada dan segera melihat sekitar.
“Disaat aku tak bisa bersihir begini ... apa ini musuh, Luna?!” tanya Zeeta.
“Aku ... tidak tahu.” Luna mencoba merasakan dengan mana-nya, dengan matanya yang berkeliling melihat sana-sini.
Beberapa saat kemudian, suara gadis terdengar. “Tenang saja, aku bukanlah musuh, tetapi bukan juga rekanmu.” Cynthia menunjukkan wujudnya dari balik kabut.
__ADS_1
Zeeta tertegun ketika melihat sosok duyung yang "berenang" di darat di hadapannya itu.
“Aku ingin mendengar jawaban jelas darimu, Putri Aurora Kedua Puluh Satu, Zeeta.” Cynthia memandang serius Zeeta.