
Dibawah rembulan biru yang terhalang oleh Rune Perthro, Aurora sedang berusaha melawan pasukan Hollow yang dibawa oleh seorang manusia bernama Keenai. Marcus dan Novalius yang sudah turun ke medan perang—menyusul dan menggantikan Raja dan Ratu mereka yang terhempas oleh musuh misterius bertopeng. Tanpa ragu lagi, keduanya mengerahkan seluruh tenaga untuk melawan, diikuti oleh Mintia dan Lloyd. Sementara Mintia tetap di atas tembok dan menggunakan keahlian memanahnya, Lloyd ikut membantu Marcus dan Novalius secara langsung.
“Lihatlah ini!” Keenai mengangkat kedua tangannya, sebagai bentuk bahagianya. “Matahari dan Bulan yang selalu saja menghalangi kami sejak saat itu…..
“Sedang terpojok oleh kekuatanku!
“Fuhahahahaha!!”
.
.
.
.
“Jadi orang itu dalang yang disebut putri Zeeta, kah?” Colette berbicara sendiri, di atas balkon istana dan sedang memakai sihir pada matanya untuk melihat jarak jauh. “Baiklah ... sebaiknya aku juga ikut!” gelang kuning keemasan—senjata sucinya—berubah menjadi sarung tangan yang menutupi hingga sikunya. Saat ia beraba-aba ingin melompat untuk menyusul kekasihnya, Marcus, ia terhenti oleh kumpulan mana yang tiba-tiba muncul tepat di sampingnya.
Itu adalah lingkaran sihir—yang memindahkan Aria dari Grandtopia. Ia baru saja memakai sihir teleportasi.
“Si-siapa kau?!” tanya Colette, yang masih tidak mengenali sosok asli dari Aria. “Ca-cantik sekali Elf ini...!” batinnya.
“Aku Aria. Tidak ada waktu untuk menjelaskan, tetapi aku sudah tahu situasi kalian. Namamu ... Colette, bukan?”
“Y-ya... itu benar.”
“Maka tetaplah di sini bersamaku. Dengan senjata itu, kaubisa menyerang dari jarak jauh, ‘kan?”
“Uhm.” Colette mengangguk.
“Kita akan menyerang manusia yang membawa para Hollow itu dan memindahkannya ke dimensi suatu tempat. Orang itu, biar aku yang mengurusnya setelah itu.”
“Tapi ... bagaimana caranya…?”
“Kita akan memanfaatkan itu!” Aria menunjuk Rune Perthro yang menutupi bulan.
“Ru-Rune...?!”
Aria membalas kagetnya Colette dengan senyum lebar.
......................
Satu per satu dari Hollow kecil kalah dan kembali menjadi butiran mana setelah menerima bermacam serangan dari Marcus, Novalius, dan Lloyd.
“Rasanya mereka ini tidak ada habisnya, atau hanya perasaanku saja?!” keluh Novalius. Ia tetap melancarkan serangan dari rapier-nya.
“Tidak, aku juga merasakan itu,” balas Marcus. “Kalau begitu, aku akan memakai senjataku. Beri aku waktu!”
“Oh? Akhirnya Kaptenku serius mengeluarkan kekuatannya?” Novalius menyeringai. “Aku siap untuk menahan mereka selama tiga menit!”
“Apa yang ingin kalian lakukan?” tanya Lloyd. “Senjata apa yang kaumaksud?”
Marcus tersenyum, lalu menunjukkan senjata yang dimaksud—sebuah buku yang berbeda dari Buku Sihir. Lloyd segera terbelalak setelahnya. “Bisa-bisanya kau memiliki senjata berbahaya begitu....”
“Tidak, ini tidaklah seberapa dengan sword mastery-nya Nova dan tongkat sihirnya Gerda.”
“Kalau begitu aku akan ikut membantumu. Kerahkan seluruh tenaganya! Kami akan melindungimu!”
“Baiklah!”
.
.
.
.
“Jadi begitu.” Colette mengangguk. “Ada Elf yang memiliki kekuatan seperti itu.... Berarti, sama seperti Marcus, aku juga harus mengumpulkan kekuatan penuhku?”
“Ya,” balas Aria singkat.
“Tidak usah menyuruhku dua kali.” Colette menyeringai, mencengkeram kepalan tangan kanannya dengan tangan kiri.
“Aku akan membantu.” Aria mengulurkan tangan kiri dan merapatkan jemarinya. Rambut putih panjangnya juga terangkat melawan gravitasi. Ia sedang mengalirkan mana-nya kepada Colette.
Disaat yang sama, Marcus memejamkan mata sambil bertekuk lutut dan menempelkan telapak kanan pada tanah. Tangan kirinya tetap memegang buku yang sebelumnya ia tunjukkan pada Lloyd.
Pergerakan mana yang aneh, pasti dirasakan oleh Keenai. Demikian pula oleh Penguasa Kekelaman yang berada di tempat lain bersama Arata. Saat ia berbicara dengan Arata di tempat yang tersembunyi dari banyaknya Hollow, dia mengernyit. “Waktunya bagimu beraksi, Arata. Targetmu untuk saat ini hanya satu, yaitu seorang Elf bernama Lloyd.”
Sementara itu, Keenai segera memerintahkan para Hollow-nya untuk fokus menyerang Lloyd dan Novalius dengan jumlah yang lebih banyak. Dia juga memutuskan untuk mengerahkan Hollow berukuran sedangnya. Tetapi....
‘ZHAT ZHAT ZHAT’
Tiga panah menembus tubuh Keenai. Tidak ada darah yang keluar dari tubuh itu, tetapi tetap mengejutkannya. Dia mencari dari arah mana panah itu berasal dan....
Mintia menyeringai, lalu ia menjentikkan jemarinya.
‘DDDUAARRRR!’
Tubuh Keenai meledak. Terlihat serpihan-serpihan tubuhnya memencar ke segala arah. Namun, Mintia segera berwajah serius dan beraba-aba untuk menembakkan sekali lagi panahnya. Tidak lama setelah itu, sesuai dugaannya, serpihan-serpihan tubuh Keenai yang sebelumnya tercerai-berai, menyatu kembali dan semua itu ditutupi oleh aksi seringai lebarnya. “AKU TAKKAN BISA DIBUNUH! AKU INI ABADI!” jeritnya sombong.
Saat Mintia hendak menembakkan lagi panahnya, dia segera mengurungkan niat sebab jeritan kencang Marcus. “Serangan sudah siap, berlindunglah!!”
Lingkaran sihir berwarna-warni muncul di atas tanah dan mengalihkan perhatian para Hollow. Mereka semua terhenti dan memandanginya. Lingkaran sihir tersebut terus menerus membesar dengan cepat, hingga membuat Keenai sendiri sempat panik. “Apa-apaan lingkaran sihir ini?! Siapa yang mampu membuatnya sebanyak dan sebesar ini?!”
“Keenai, segeralah menghi—“ suara Penguasa Kekelaman tak sampai, karena tiba-tiba saja lingkaran sihir itu meledakkan apapun yang ada di sana.
‘DBM... BWUUUUMMMMM!’
Ledakan tersebut menyerupai laser raksasa yang ditembakkan ke atas. Itu menghancurkan apapun yang ada di batas lingkaran sihirnya. Cahaya dari laser tersebut juga mengubah malam menjadi terang untuk sesaat.
Masyarakat Aurora yang menjadi sukarelawan dan masih berada di dalam kerajaan, tidak menduga datangnya serangan tersebut. Dampak yang dibawa oleh serangan itu tidaklah hanya angin kencang yang mampu menghempaskan orang dewasa, tetapi juga banyaknya potongan-potongan tubuh Hollow yang perlahan-lahan kembali menjadi butiran mana.
“Inikah kekuatan Crescent Void...?” gumam mereka, memandangi potongan tubuh Hollow yang segera “tersucikan”.
.
.
.
.
“Aku sudah siap, Aria!” seru Colette.
“Tahanlah. Tahan dulu sebentar lagi!” balas Aria, yang justru membuat Colette berkeringat dingin dan menelan liurnya.
“Serangan ini tidak boleh gagal ataupun meleset. Ini adalah serangan yang memadukan mana alam, manusia, dan Elf... dan jika waskita yang dilihat oleh rekan Elf-nya itu benar, maka Rune di bulan itu adalah kunci dari semuanya...! Fokuskan dirimu, Colette! Buktikan kalau dirimu bisa berguna untuk putri Zeeta!”
Saat ledakan dari serangan Marcus mereda dan cahayanya mulai meredup, Aria segera menjerit dengan sangat kencang. “SEKARANG, COLETTE!”
“YA!!”
Colette yang sedaritadi sudah berkuda-kuda untuk memukul dengan tangan kanannya, langsung mengerahkan seluruh tenaganya pada tangan kanan itu.
__ADS_1
‘BWOAAMM!’
Serangan yang berupa kepulan asap bercahaya berbentuk kepalan upper-cut raksasa, melayang tangan Colette, dan segera melesat cepat menuju Keenai.
Disaat tiada yang melihat, tubuh Keenai sedang dalam prosesnya untuk menyatu lagi. Tetapi, upper-cut dari Colette segera menggagalkannya, dan malah mengangkatnya ke arah Rune Perthro.
‘BZAATTT!’
Tubuh Keenai yang tidak utuh—hanya setengah bagian bawahnya saja yang ada—seakan tersengat hingga menimbulkan asap dan membuatnya melemas. Mendapati hal tersebut, Penguasa Kekelaman cukup terkejut. Tetapi tidak hanya sampai di situ saja, Aria berteleportasi ke hadapan Keenai, lalu memunculkan bola hitam bercahaya ungu dari belakang tubuhnya. Bola hitam tersebut menyerap keduanya ke dalam lalu itu menghilang begitu saja.
Perlahan-lahan, Rune Perthro yang melukai Keenai, juga ikut menghilang. Tiada yang tahu alasan itu, kecuali mereka yang memiliki wawasan tentang Rune....
“Si Elf bangsat itu....” Penguasa Kekelaman mencengkeram tangannya kuat-kuat.
“Jadi? Masihkah aku diperlukan di sini?” tanya Arata.
“Tentu saja!”
“Tidak kusangka. Bukankah kau memiliki sesuatu yang bisa melihat sedikit ke masa depan? Kenapa kau tidak bisa mengantisipasi hal seperti ini? Kau terlalu percaya diri pada kekuatanmu?”
“Berisik! Aku tahu apa yang kulakukan!”
“Begitu. Terserah kau saja. Tapi, bila setelah ini kau tidak memenuhi janjimu, akulah yang akan membunuhmu.” Arata segera melompat lambung—menuju dimana Lloyd berada.
“Sialan...,” geram Penguasa Kekelaman, “ada apa dengan mereka di dunia ini? Kenapa semuanya begitu kuat? Mengesampingkan Kaunaz yang tidak bisa kugunakan setelah memakai Perthro—“ tiba-tiba ia mengingat kata-kata Luna beberapa waktu lalu.
“Anak itu tidak memikirkan sama sekali dirinya sendiri! Dia segera menulis Rune demi Rune! Padahal dia tahu itu sangat berisiko untuk hidupnya!”
Sang Penghakim menyeringai. “Kalau begitu....” Ia menulis Rune Hagalaz pada beberapa Raksasa dan Naga yang masih terdiam dan tak bergerak gara-gara lenyapnya Keenai dari tempat. “Atas nama Aurora kuperintahkan kalian! Hancurkan kerajaan manusia yang ada di hadapan kalian itu!”
Mata-mata para Raksasa dan Naga yang sebelumnya bertatap kosong, segera memerah dan semuanya mulai mengamuk. Mereka mengabaikan apa yang mereka injak—baik itu Hollow berukuran sedang maupun kecil.
Serangan Marcus sebelumnya, telah berhasil melenyapkan sebagian besar Hollow kecil, tetapi pasukannya tidak begitu berkurang dalam hal kekuatan. Sementara itu, Marcus sudah terengah-engah ditemani Novalius dan Lloyd. Tubuhnya pucat, bibirnya membiru. Mereka bertiga mundur ke atas tembok.
“Aku akan membantu memulihkan mana-mu.” Novalius membantu Marcus. “Lloyd? Apa yang kaulakukan di situ? Tidakkah kau mau memban—“
‘BWAMM!!’
Tinju dan tinju saling beradu. Masing-masing dari kepalan yang saling beradu itu—memasang wajah yang tidak terkejut sama sekali. Keduanya seakan-akan sudah menduga serangannya bisa ditahan dengan mudah.
“Kau?!” Novalius terkejut. “Jadi Seiryuu juga ikut mengoperandikan serangan ini?!”
“Masalahku hanya ada padanya,” jawab Arata, lurus pada mata Lloyd.
Lloyd menyeringai. “Aku suka mata itu. Mata yang ingin melindungi dengan kondisi terpaksa, kah?”
Arata mengerutkan dahinya.
“Baiklah. Aku akan meladenimu! Nova, Marcus, jangan ganggu kami. Ini adalah pertarunganku dan manusia bajingan ini.” Setelah itu, Lloyd memukul keras Arata dengan kepalan kirinya—membuatnya terpental jauh ke belakang. Dia segera menyusul ke mana arah lawannya terpental.
Disaat yang sama, Novalius mendapati Raksasa dan Naga mulai bergerak. “Cih... harus apa kami sekarang...? Senjata suci kami saja takkan bisa mengalahkan mereka!” Novalius berbicara sendiri.
......................
Myra, Elbrecht, dan Ozy yang masih memantau perkembangan pertempurannya, mulai berspekulasi. “Rune itu hancur karena manusia tadi menyentuhnya...?” gumam Ozy. Ia juga memegangi dagunya. “Tapi, siapa Elf yang menyerangnya itu tadi? Entah kenapa ... aku merasa mengenali mana-nya....”
“Kau mengetahui sesuatu, Ozy?” tanya Elbrecht.
“Ya, ini hanya dugaanku saja, tetapi....”
“Tidak apa meski hanya dugaan. Katakan saja.”
“Rune itu adalah Rune yang di—“ saat Ozy ingin menjelaskan, ia melihat banyaknya Raksasa dan Naga yang di-Rune Hagalaz. “Cih! Teoriku langsung terbukti salah! Elbrecht, Myra, ini waktunya kalian beraksi!”
“Biar aku saja!” Myra berteriak, lalu mengulurkan kedua tangannya ke arah Rune-Rune itu berada.
Seakan pecah, Rune Uruz dari para Raksasa digagalkan. Seketika itu saja, mereka memfokuskan Myra sebagai target.
“Ozy! Kalau begini, Manusia-Manusia itu tak bisa bertahan! Bawa mereka pergi jauh dari sini!”
“Tapi kemana? Alicia sudah....”
“Hutan Elf!” jerit seorang Elf yang akhirnya tiba dengan sihir teleportasi.
“Serina?!” Ozy terkejut. “Bukankah kau bersama....”
“Tidak ada waktu untuk menjelaskan, bawa saja mereka ke sana. Kau juga pasti akan lebih leluasa di sana. Kami akan melindungi kerajaan ini!”
“Apa kau serius?! Di sini ada Naga dan Raksasa, bagaimana bisa aku meninggalkan kalian di sini?!”
“Percayalah padaku. Ada seseorang yang harus kau temui di desa itu. Dia bernama Titania.”
“Ti-Titania...?” Ozy terbelalak.
Serina menganggap reaksi Ozy cukup aneh.
“Di mana kau menemukannya?!”
“Desa yang diriku dan Gerda selamatkan. Gerda masih di sana.”
“Baiklah.
“Myra, Elbrecht, kuserahkan yang di sini pada kalian!”
“Ya, pergilah saja!” balas Myra tersenyum.
Kemudian, Ozy menuliskan Rune Raidho di bawah kaki seluruh masyarakat Aurora. Merasakan ada yang ingin kabur, para Raksasa tidak membiarkannya begitu saja. Mereka membalas Rune itu dengan Rune Thurisaz dan Othala. Mereka melakukan Bind Rune secara bersamaan.
“Cih!” Myra tidak membiarkan semuanya begitu saja. Ia sekali lagi mengganggu Rune mereka dengan kekuatannya. Tapi....
“Bodoh! Yang itu jangan dihancurkan, kau malah—“ Elbrecht telat memberitahunya.
Saat salah satu dari tiga Bind Rune dihancurkan oleh Myra, salah satunya malah memantik Rune Othala-nya aktif. “Sial!” Elbrecht, dengan kecepatan kilatnya, berubah bentuk menjadi Naga dan melindungi semua Manusia yang ada di bawahnya.
‘DHAAAMM!’
“Tu-Tuan Elbrecht...!” para Manusia tak menduga Sang Naga melindungi mereka.
“Cepatlah ikut bersama Ozy! Kalian hanya akan jadi beban untuk kami! Semua rencana Alicia telah melenceng!”
“Ba-baik, maafkan kami, Tuan Elbrecht!”
Tak lama setelah itu, Rune Raidho memindahkan para Manusia di sana dengan sekejap mata. Elbrecht juga kemudian kembali ke bentuk manusianya. “Sial....” Punggungnya terluka bakar cukup parah.
“Izinkan aku menyembuhkanmu, Tuan Naga!” seru Serina.
__ADS_1
“Ya, tolong.”
“Ma-maafkan aku, Ka—“
“Tidak ada waktu untuk meminta maaf! Fokuslah saja pada apa yang ada di depanmu!”
“Ba-baik!” Myra memfokuskan diri kepada para Hollow Raksasa dan Naga.
.
.
.
.
“Jadi begitu ... Arthur dan yang lain dipindahkan.... Fiuh....” Di sisi lain tembok, Hellenia juga ikut menyerang para Hollow. Ia yang satu-dua kali berpengalaman melawan Hollow, tetap di atas tembok—tidak membiarkannya menyentuh “racun” yang dibawa mereka.
“Apa maksudmu?” suara Arthur tiba-tiba saja terdengar dari belakangnya.
“A-Arthur... apa yang...?”
“Aku tidak bisa membiarkan tunanganku sendirian menghadapi bahaya. Apa kau serius berpikir aku akan meninggalkanmu?”
Rona merah berusaha disembunyikan Hellenia. “Bo-bodoh....”
“Selain itu... aku juga merasa ada yang aneh dari semua ini. Firasatku juga buruk.” Arthur memandangi para Hollow.
“Tentang apa?”
“Dalang dari semua serangan ini.”
“E-eh...?”
“Cobalah pikirkan lagi. Ingatlah apa yang telah nyonya Scarlet ajarkan pada kita di kelas dahulu.”
Hellenia terdiam sesaat.
“Ja-jangan-jangan...?!
“Tapi ... itu tidak mungkin...!”
“Tidak. Itu mungkin saja.” Ashley datang menghampiri mereka.
“Nyo-Nyonya Ashley!” keduanya tak menduga kedatangannya.
“Sayangnya aku hanya bisa mengusir mereka yang berada dekat di tembok, tapi itulah batasku sekarang. Tapi, semua usahaku akan berhenti sesaat karena Crescent Void dan para Naga yang membantu kita.
“Aku tahu ini bukan waktunya kita berbincang seperti ini, tapi sepertinya aku memikirkan apa yang kalian pikirkan.
“Ini tentang Zeeta, bukan?”
Arthur dan Hellenia mengangguk.
“Dari semua yang terjadi disaat yang bersamaan... ada kemungkinan bahwa ramalan Feline itu sedang berjalan saat ini juga. Ada sesuatu yang terjadi padanya di Tanah Kematian, dan membuatnya jadi melakukan ini semua.”
“Ta-tapi....” Arthur merasa itu terlalu cepat diputuskan.
“Hei!” sebuah suara terdengar dari belakang Ashley. Arthur dan Hellenia yang posisinya bisa melihat dengan jelas identitas suara tersebut, segera terbelalak. Mereka segera bersiaga bertarung.
“Dasar Peri bajingan. Disaat seperti ini, kau masih ingin memecah kami?”
Ashley yang berada tepat di depan Arthur dan Hellenia tersenyum kecut. Ia mengubah bentuknya kembali menjadi wujudnya yang sebenarnya—Morgan. “Yah, naluriku tidak bisa kutahan.”
“Apa maumu, Peri?!” tanya Arthur. “Eh...? Peri...?” dia heran kenapa dia bisa melihat Peri.
“Itu benar. Perjanjian kami dengan para Manusia sudah usai. Feline sudah bukan Ratu Peri lagi.”
“Apa maksudmu?” tanya Hellenia.
“Sebentar lagi kau akan melihatnya.
Saat pertempuran masih berlangsung, tiba-tiba langit terbelah. Semuanya menghentikan aktivitas. Belahan di langit itu, menunjukkan hutan mati dan tanah kering yang pecah-pecah. Seseorang berambut perak dan berkalung bulan keluar dari sana.
“ZEETA!
“Aku tahu kau menyaksikan ini!
“Kau pasti telah melupakanku, tapi aku tak pernah melupakan apa yang kauperbuat pada ayah dan ibuku!
“Terimalah ini sebagai pembalasanku!”
‘TEK!’
Wanita berambut perak itu—Belle—menjentik jemari kirinya.
‘BLRSHHT...!’
Semua Hollow yang ada di sana, dengan satu jentikannya saja, hancur lebur.
“Kauingin menciptakan Ragnarok bagi kami? Silakan saja. Kami tidak akan takut.” Usai mengatakannya, Belle kembali masuk ke dalam dan belahan di langit itu lenyap begitu saja.
“A-a....” Semua yang berada di sana tidak mampu menangkap apa yang baru saja terjadi.
“Apa yang baru saja terjadi...?”
.
.
.
.
Penguasa Kekelaman—yang namanya disebut—meledakkan mana hitam keunguannya yang tinggi—membuatnya jadi bisa diketahui dimana dia bersembunyi.
“Hei lihat!” seru Novalius. “Orang itu tadi menyebut nama putri Zeeta, ‘kan...? Jadi itu berarti...?”
“Dia juga menyebut tentang Ragnarok...,” balas Marcus.
“Apa yang terjadi sebenarnya...? Bisakah seseorang menjelaskannya padaku...?”
......................
[Sementara itu, di Grandtopia....]
“HAH...?! Apa maksudmu membiarkan Seiryuu mendapatkan Batu Jiwa-nya?!” jerit Reina, yang sedang bertelepati dengan seseorang. “Apa kau sudah gila, Zeeta?! Lagi pula, bagaimana caramu menghubungiku dari Tanah Kematian?!
“A-apa maksudmu itu tidak penting?!
“....
“Tapi ... ini tentang keselamatan dunia! Jangan seenaknya saja memutuskan secara sepihak begini!”
Reina melepas semua yang dibutuhkannya untuk bertelepati dengan semua target yang diperintahkan Hugo padanya. Sambil murung, dia mengingat kata-kata Zeeta sebelum dia memutus telepatinya. “Dunia ini memang kejam, tetapi aku pasti akan melindungi kalian yang kucintai.... Entah apapun yang kukorbankan, aku pasti akan melindungi kalian!
__ADS_1
“Semua untuk menepati janjiku pada kalian....”
“Apa maksudmu... Zee...? Kenapa nada bicaramu seperti itu...?”