
Hujan anak panah yang ditembakkan pada Gerda dan Serina yang berada di langit tidak menjadi halangan untuk keduanya, namun raut wajah penduduk yang menembaklah yang menjadi perhatian tersendiri bagi Serina. Oleh karenanya, Gerda mengangguki permintaan Serina untuk menyerahkan masalah ini padanya.
“Tenanglah, penduduk sekalian!” teriak Serina, sambil mendarat ke tanah. “Kami tidak berniat buruk pada desa ini!”
Serina melihat seorang penduduk lelaki yang berdiri di balik tembok kayu yang diikat seperti anyaman dan juga ditancapkan di tanah, sedang berbisik pada lelaki lain di sebelahnya. Mereka tidak menghentikan serangannya pada Gerda dan Serina, melainkan justru memanggil lebih banyak orang dan segera menghujani keduanya dengan lebih banyak anak panah.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Gerda. Mau tak mau, saat dia dan Serina menapaki tanah, ia harus menciptakan dinding dari akar dengan sihirnya untuk melindungi dirinya dan Serina.
“Dilihat dari cara mereka bertindak, sepertinya mereka sudah pernah menerima tamu seperti kita dan tidak berakhir baik,” balas Serina.
“Bagaimana kaubisa tahu?”
“Pengalaman.
“Tidak ada pilihan lain. Kita akan mundur untuk saat ini. Bisakah kau ciptakan ruang di dalam tanah?” ia melihat ke bawah.
“Ya. Tentu saja.”
Tak lama kemudian, dalam hitungan menit, dinding dari akar tersebut kembali ke dalam tanah dan sosok Gerda dan Serina tak lagi terlihat lagi.
Lelaki yang sebelumnya berbisik itu melihat keadaan dengan teropong. Ia kemudian mengangkat tangan kiri sebagai simbol untuk menghentikan serangan. Setelah itu ia berbalik badan sambil berkata, “Tetap waspada! Berjagalah di pos-pos kalian dan tetap jaga rahasia yang diminta bibi Jeanne pada kita apapun yang terjadi!”
“YA!!!” teriak para penduduk lelaki.
Lelaki itu tampak mengepalkan tangannya kuat-kuat sebelum akhirnya angkat kaki, dengan membatin “Kenapa ada seorang Elf yang datang ke sini?”
[Sementara itu, di kedalaman tanah dimana Gerda dan Serina bersembunyi....]
Terdapat lorong yang menuntun ke sebuah ruang yang cukup besar meski berada di kedalaman tanah, yang diciptakan Gerda dengan sihirnya. Kedua gadis itu duduk berhadapan ditemani pencahayaan buatan dari Gerda dengan memanipulasi tumbuhan di dekatnya, baik itu jamur di sekitar atau daun dan rerumputan yang terbawa di tubuh keduanya untuk bercahaya. Mereka sedang berdiskusi apa yang akan mereka lakukan setelah ini.
“Jika kita tidak tahu apa situasi desa ini sekarang, kita tidak akan mendapat informasi apapun mengenai negeri Timur, si pelaku, ataupun penjaga Batu Jiwa yang tewas itu,” cakap Serina, memulai percakapan.
“Ditambah, bagaimana cara mereka bisa menembakkan panah biasa itu dengan jarak antara kita dan mereka saat kita terbang?” tambah Gerda, “jika dengan busur biasa, anak panahnya tak akan mencapai ketinggian itu.”
“Ya, kau benar,” balas Serina, “seberapapun keinginan kita agar cepat menuntaskan misi ini, kita harus mencari tahu terlebih dahulu tentang desa ini.”
“Uhm. Aku setuju.”
“Apa kau ada saran?”
Gerda menilik kanan dan kiri. Memerhatikan sejenak tumbuhan bercahayanya, kemudian menatap Serina sambil tersenyum. “Tentu saja ada dan ini akan berhasil!”
......................
Bulan sabit menatap langit malam dengan selimut awan yang tebal. Angin berhembus kencang, pertanda sesuatu buruk akan terjadi. Itulah yang diyakini penduduk desa. Anak-anak dan wanita berlindung di dalam rumah-rumah yang terletak di bagian paling belakang tembok.
Sementara itu, para lelaki berjaga dengan ketat tanpa meninggalkan satu tempat pun kosong. Di punggung mereka terdapat banyak anak panah, di pinggangnya juga ada senjata tajam seperti pedang, pisau saku, celurit dan semacamnya.
Lelaki yang tadi siang memberi komando, berbicara lagi untuk bagian penjagaan terakhir yang belum dikunjunginya. “Waspadalah. Ingat malam dimana kita diserang orang-orang barbar itu. Semua situasinya cocok seperti malam ini. Bahkan jika kita kalah kuat dari mereka ... maka itulah akhir kita.
“Hutang yang tak bisa kita bayarkan pada bibi Jeanne, akan kita bawa sampai mati.”
Para lelaki menelan ludah mereka, bersiap diri dan mental.
Gelombang-gelombang suara yang dikeluarkan dari siapapun makhluknya, pasti akan menyebar ke seluruh tempat, bahkan jika itu adalah tumbuh-tumbuhan. Dan dari tumbuh-tumbuhan itu, melalui akar-akarnya, suara-suara tersebut tersampaikan pada Gerda dan Serina, sebab Gerda yang telah mengaktifkan sihirnya sambil duduk silang diatas lingkaran sihir hijaunya.
“Jeanne...?” Serina bertanya-tanya. “Siapa dia?”
“Mungkin dia penjaga Batu Jiwa yang telah tewas itu.” Gerda memberi respon.
__ADS_1
“Uhm. Mungkin saja.
“Tapi ... yang membuatku tidak mengerti ... jika Batu Jiwa-nya sudah diambil dari mereka, untuk apa negeri Timur masih mengincar mereka?”
“Sudah pasti alasan yang buruk. Mereka takkan melawan sejauh ini jika—“ Gerda terhenti karena merasa ada yang memerhatikan salah satu tumbuhan yang terhubung dengannya.
“Ada apa?” tanya Serina.
“Sstt...!” Gerda memberi simbol diam dengan telunjuknya.
Suasana mencekam tiba-tiba terjadi disaat ekspresi Gerda seolah menahan napas, berkeringat, dan melihat sesuatu yang teramat buruk. Serina dipaksa untuk diam selama beberapa saat dengan penuh tanda tanya.
Lalu, tidak lama kemudian....
‘BLARRR!’
Bunyi ledakan sangat besar membuat tanah yang menjadi tempat persembunyian keduanya seakan bisa runtuh kapan saja.
“A-apa yang terjadi, Gerda?!” tanya Serina, yang berteriak karena refleks.
“Sama sekali tidak kumengerti!
“Ada dua Peri yang menaruh curiga pada tumbuh-tumbuhan yang tersambung denganku, selain itu....
“Serangannya sudah dimulai!”
“Negeri Timur?!”
“Ya!
“Ledakan barusan sudah merusak tembok depan dan melukai semua penjaganya. Jika kita tidak ikut bertindak, mereka semua akan....”
......................
Sebelum terjadinya ledakan, Si Pria Pengomando sedang memerhatikan langit dengan teropongnya. Ia berusaha tidak melewatkan sedikit pun titik agar bisa mengantisipasi serangan musuh. Disaat yang sama, tidak ada yang sadar—bahkan melihat—babwa ada dua Peri yang sedang memerhatikan tumbuh-tumbuhan di dekat mereka. Dan ketika serangannya berlangsung, kedua Peri yang nyaris terlambat sadar akan kedatangan tamu tak diundang itu langsung mengayunkan tangan—menciptakan perisai tak terlihat—hingga akhirnya berhasil melindungi penjaga-penjaga dari luka fatal akibat ledakan dahsyat.
“Hei hei hei....” Sebuah suara lelaki terdengar dari balik asap ledakan. “Kalian ini sudah waktunya untuk tewas. Kenapa masih saja berusaha untuk hidup?”
“Hentikanlah, Akira. Serangga-serangga yang akan mati tidak perlu diajak bicara.” Kini suara wanita yang terdengar.
“Hahahah! Benar juga!
“Baiklah, ayo selesaikan ini dengan cepat dan segera bersantai lagi!”
“Tidak secepat itu!” Pria Pengomando datang dengan gagah berani meski hanya mengandalkan busur, anak panah, pistol di pinggang, dan pisau saku yang diikat pada paha.
Wajah lelaki dan wanita begitu melihat Si Pria langsung muak.
“Kuh!” ujar Si Lelaki, Akira. “Kau lagi, Reid? Lagi pula, kenapa kau masih bisa hidup setelah berkali-kali terluka parah?!”
Lelaki Pengomando bernama Reid itu menyeringai. “Jiwa bibi Jeanne ada bersamaku. Itu saja.”
“Hei, Kak, misi kita adalah membunuh semuanya, ‘kan?” Akira tertunduk.
“Ya, Adikku. Aku mengerti perasaanmu. Tidak perlu menahan diri.”
“Kalau begitu....” Akira berkuda-kuda. Ketika itu, tubuhnya dibalut aura biru-perak dan sedikit demi sedikit, kulitnya berubah menjadi sisik.
Melihatnya, Reid tidak tinggal diam dan menembakinya dengan pistol.
__ADS_1
‘DOR! DOR! DOR!’
Tiga peluru ditembakkan, namun tidak ada hasil. Pelurunya malah pipih saat menyentuh auranya.
“Cih,” gerutu Reid, yang mengganti metode serangannya dengan busur. “Jika kau memang berada bersamaku, bibi Jeanne, kumohon, berikanlah aku kekuatanmu untuk melindungi mereka!”
Reid menargetkan kepala Akira dari negeri Timur. Mendadak, dengan Reid yang juga menjadi saksinya, mata anak panahnya terbalut oleh cahaya hijau, sementara kayunya cahaya putih. Senyum sumringah terpampang jelas pada Reid. Tanpa adanya lagi keraguan, iapun menembak.
‘PEW!’
‘KRAK!’
‘BWUM!!’
Semua terjadi begitu cepat. Ada bunyi retak, juga dentuman yang menyusul. Asap tanah lagi-lagi menutupi pandangan. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi, sampai....
.
.
.
.
“Percaya diri itu ada batasnya, manusia!”
.
.
.
.
Serina menindih Reid di tanah.
“Ka-kau...?! Yang tadi siang...?!” Reid tidak percaya apa yang dilihatnya.
“Kalian juga, Peri-Peri bodoh! Apa yang kalian harapkan dari Manusia biasa sepertinya?!
“Kalau kalian sadar keberadaan kami, setidaknya bilanglah! Apa kalian juga sama dengan Peri-Peri busuk dari Hutan Peri yang hanya ingin memanfaatkan Manusia?!”
Reid melihat Serina bercakap sendiri pada sesuatu yang tidak ada.
“Kkkh....” Serina mengerang kesakitan.
Reid pun tersadar bahwa bagian depan tubuhnya—dari dada hingga perut—berlumurkan darah bukan miliknya.
“Ka-kau ... kenapa?!”
Wujud Akira berubah signifikan. Tubuhnya membesar, kulitnya jadi bersisik biru-perak. Mata manusianya berubah seperti mata seekor Naga. Ia bahkan menumbuhkan ekor.
Luka yang diderita Serina adalah serangan dari Akira yang hendak didaratkannya pada Reid—yaitu sebuah cakaran.
“Yang coba kaulawan adalah orang-orang dengan kekuatan Naga. Manusia biasa sepertimu tidak mungkin punya kesempatan menang!”
Reid yang mendengarnya tidak senang sama sekali. Meski terluka, ia mendorong Serina, lalu lekas berdiri.
“OMONG KOSONG! Kami bisa sejauh ini karena bibi Jeanne selalu bersama kami!” Tatapan mata yang diberikan Reid pada Serina amatlah serius. Bahkan urat-urat matanya sampai terlihat.
__ADS_1