
Sesaat setelah Ashley sudah disembuhkan oleh Zeeta, mereka segera berdiskusi untuk menyusun rencana "Penyelamatan Ratu Alicia". Mereka tampak serius membicarakannya di ruang tempat Ashley dirawat di Rumah Sakit Guinerva.
Esok paginya, keadaan sunyi, lesu, dingin dan sedih menyambut kerajaan Aurora. Layaknya satu suara dengan mereka, awan pun menutupi mentari pagi yang seharusnya membawa kehangatan dan semangat bagi mereka. Para rakyat beraktivitas seperti biasa, namun tampak tak memiliki energi. Semua itu dapat terasa dengan kental, sampai sihir Albert yang menyerupai hologram muncul di berbagai titik vital kerajaan—seperti ketika eksekusi Rowing dan pengumuman kembalinya Tuan Putri mereka.
Zeeta muncul di sihir visual tersebut. Tentu, rakyat terkejut melihatnya. Banyak tanggapan dari mereka, seperti memastikan kondisi Zeeta, kapan ia kembali, serta pertanyaan siapa rubah mini yang hinggap di kepalanya.
"Selamat pagi, rakyatku semua." Zeeta memberi hormat ala bangsawan. "Kuingin kalian menghentikan segala aktivitas kalian dan dengarkan aku." Zeeta memberi jeda selama tujuh detik.
"Sebagai Aurora Kedua Puluh Satu, izinkan aku meminta maaf dari lubuk hati. Aku membiarkan banyak orang tewas di Wilayah Timur kemarin. Aku juga ingin berbela sungkawa." Zeeta menundukkan setengah badannya.
Rakyat hanya bisa terdiam. Perasaan mereka campur aduk. Jika ingin marah, itu sama seperti tidak menghargai jasa Tuan Putri mereka yang telah menyelamatkan mereka.
"Sebelum aku menyampaikan keinginan utamaku, aku akan memberitahu kalian satu hal penting. Kerajaan ini akan kembali menghadapi bahaya dalam waktu dekat. Aku belum bisa memastikan bahaya apa yang menghantui kita, tapi tenang saja. Kami bangsawan utama sudah memiliki rencana untuk persiapan itu.
"Perlu kalian garis bawahi, bahwa kita tidak akan berperang dalam jumlah besar, karena akulah target mereka."
Rakyat terbelalak. "Hei hei hei... apa-apaan?!" mereka resah.
"Ya, aku tahu aku akan membahayakan kalian. Aku tahu sekali bahwa aku ditakuti oleh rakyatku sendiri. Tapi, aku ingin mencontoh nenekku, Scarlet Aurora, yang kudengar dari banyak orang bahwa dirinya sangatlah tegas.
"Manaku besar, aku pun dicintai alam. Apa kalian pikir kalian bisa selamat tanpaku di kerajaan ini?"
Para rakyat terdiam kembali.
"Memang terdengar sombong, tapi itulah kenyataannya. Tapi ... kuingin kalian tidak takut padaku. Aku adalah Manusia. Aku bukanlah Peri yang bermana tinggi dari semua Manusia. Aku bukanlah Raksasa yang dapat menghancurkan kalian. Aku juga bukan Elf yang cakap dengan sihir penyamarannya.
"Pada akhirnya, aku ingin seperti ibuku yang melindungi dan membuat semua rakyatnya tersenyum. Aku juga ingin seperti nenekku Scarlet yang melindungi kerajaan dengan seluruh tenaganya.
"Ramalan Ratu Peri pada akhirnya hanyalah ramalan. Yang menentukan itu terjadi atau tidak adalah kita, Manusia, 'kan?"
Rakyat mulai teryakinkan dengan kata-kata Zeeta.
"Aku masih bisa berkembang. Aku masih bisa untuk menjadi lebih kuat dan melindungi apa yang berharga bagiku. Kerajaan ini adalah rumahku, rumah kalian, rumah kita semua.
"Untuk itu, aku bertanya."
Rakyat penasaran setelah Zeeta menutup matanya sesaat dan mengambil napas panjang.
"Demi kerajaan Aurora, maukah kalian membantuku?"
Zeeta yang berada di kediaman Albert merasa ragu dengan pidatonya barusan. Apa benar ucapannya bisa meyakinkan jumlah rakyatnya yang tidak sedikit? Toh, dia juga masih delapan tahun. Hening yang terjadi membuat Zeeta semakin gugup dan ragu. Namun....
"YAAA!!"
Teriakan dari seluruh penjuru kerajaan menggema sampai kediaman Albert.
"DEMI AURORA! DEMI AURORA!"
Gema dari teriakan rakyat begitu besar hingga menggetarkan seluruh kerajaan. Menanggapi respon rakyatnya, Zeeta mengalirkan air mata bahagianya. Ia membungkuk dan berterima kasih.
Setelah ia tenang dan mengusap air matanya, ia kembali berbicara. "Hal pertama yang ingin kita lakukan bersama adalah membangun kembali Wilayah Timur. Aku butuh beberapa arsitek dan ahli alat sihir, serta beberapa koki handal, termasuk kau, ayah!"
Arthur yang menyaksikannya di Neko's Inn, menjatuhkan dagunya. Ia sangat tidak menduga anaknya bisa tumbuh secepat ini. Tangis bangga pun tampak di matanya. Ia segera menangguk cepat dan berteriak, "Demi anakku dan Tuan Putri!"
Orang-orang yang ada di penginapan tersebut menggosip setelah melihat respon Arthur. "Hei, kudengar dia memang benar-benar ayah angkatnya Tuan Putri, lho! Sebelumnya dia dipenjara karena diduga mengaku-ngaku sebagai ayah angkatnya!" kata wanita A.
__ADS_1
"Eh? Pria tampan seperti dia jadi ayah angkatnya Putri Zeeta?!" sahut wanita B.
"Tapi, dia segera dibebaskan setelah Count Dormant memastikan identitasnya!"
"Huh? Kenapa Count Dormant dibawa-bawa? Jangan-jangan...."
"Ya! Dia mantan muridnya!"
"Kyaaaa! Pantas saja! Dia seperti membawa aura kuat bangsawan! Tidak hanya Count Dormant, tetapi Tuan Putri juga.... Siapa nama pria tampan ini?!"
"Arthur, dia dari desa Lazuli!"
"Anakku sendiri belum tahu kenapa aku dipenjara, kenapa mereka bisa tahu...? Ah, jangan-jangan...." Arthur mengingat kala itu, ada Marcus bersama Willmurd. "Bocah tengil itu...." Urat kepala Arthur membesar.
"Kalau begitu, aku akan menunggu kedatangan kalian di kediaman Grand Duchess sore ini. Terima kasih atas perhatian kalian dan selamat beraktivitas kembali!" sihir visual itu kemudian lenyap.
......................
"Huaaaahh~" Zeeta menjatuhkan dirinya di rerumputan. "Kukira aku takkan berhasil...."
"Tuan Putri! Setidaknya berebahanlah di kasur!" bentak Albert, yang ada di sebelah Zeeta.
"Ehehehe, biarkan aku egois sebentar, Tuan Albert...." Zeeta menikmati istirahat sesaatnya sambil menutup mata dan merasakan hembusan lembut angin.
"Sudah kuduga kau akan ada di sini, Zeeta." Ashley datang dari arah rumah Albert. "Kuberi kau waktu sepuluh menit untuk istirahat, setelah itu ikutlah denganku."
"Ibu, selamat pagi," sapa Albert. Ia menyambut kedatangan ibunya yang mendadak ini.
"Ya, pagi," balas Ashley.
"Pesta bangsawan," jawab Ashley.
"Pesta? Di saat seperti ini?"
"Ya, itulah tradisinya. Aku sengaja menyuruhmu untuk mengajak koki handal semata-mata untuk mereka."
"Tapi ... kenapa?"
"Meskipun rencana kita sudah siap, tapi kita kekurangan orang. Seharusnya, semua bangsawan utama kerajaan ini, mampu melalukan rencana itu, tetapi Rowing sudah tereksekusi. Untuk itulah pesta Vivid ini diadakan."
Zeeta duduk kemudian memalingkan pandangannya. "Aku tidak tahu kalau Rowing benar-benar sudah dieksekusi...," kata Zeeta lirih, "tetapi kenapa harus pesta? Bukankah waktu dan keadaannya tidak tepat?"
"Tidak, inilah waktu yang tepat, Putri Zeeta," sahut Albert, "di waktu kerajaan yang sudah menyaksikan kemampuan Anda sebagai Tuan Putri, tidak ada waktu yang lebih tepat dari sekarang."
"Ya. Jika kita terlalu mengulur waktu, bangsawan-bangsawan itu akan menimbulkan masalah baru untuk kita," timpal Ashley.
"Hummmm. Lalu, apa kita akan memilah satu persatu semua bangsawan di kerajaan ini?"
"Tenang, untuk masalah itu, aku sudah memiliki tiga nama kandidat kuat untuk menggantikan Rowing. Selain dari tiga nama itu, mereka hanya sebagai formalitas ketika salah satu dari mereka terpilih olehmu," jawab Ashley, yang menyilangkan tangannya.
"Hoo.... Eh?! Aku? Bukan Guru?!"
"Tentu saja, kau kan Tuan Putri!"
"Ta-ta... tapi.... Yang menguasai kerajaan ini kan Guru.... A-aku tidak berhak sebelum aku jadi Ratu, bukan?"
__ADS_1
"Kau benar, tapi itu untuk masalah kepemerintahan dan keamanan rakyat. Masalah seperti ini, kau sendiri yang harus turun tangan.'
"Ueeeh...." Zeeta menjulurkan lidahnya.
"Huh?! Apa-apaan wajah itu?!"
"Ti-tidak! Aku hanya tidak suka terlibat masalah runyam begini...."
"Terbiasalah. Seumur hidupmu kau akan seperti ini."
"Haaah...." Zeeta menghela napas panjang. "Jadi, seperti apa kandidat ini?"
Ashley pun menguraikan siapa-siapa saja kandidat untuk mengganti kedudukan Rowing sebagai bangsawan utama sekaligus memerintah Wilayah Selatan.
Pertama, Levant. Ashley tidak perlu menjelaskan banyak alasan mengapa nama itu muncul. Namun, ia tetap menjelaskan bahwa Karim, Agatha, dan Lowèn tahu tentang Yggdrasil tetapi mereka memilih untuk tetap bungkam.
Kedua, adalah Emeria. Mereka adalah bangsawan yang serupa dengan Ophenlis. Jika Ophenlis ahlinya dalam kristal, Emeria ahli dalam permata. Tidak hanya karena sihir mereka memunculkan permata, tetapi permata-permata itu, bila disisipkan pada benda mati, akan membuat mereka berbicara, bergerak, dan bisa diperintah. Baik itu untuk menggali informasi atau hal berguna lainnya. Dan lagi, Zeeta tak perlu mengkhawatirkan Emeria mengambil pajak tinggi sebab bangsawan ini sudah terlalu gemuk dengan permata mereka.
Terakhir, adalah Allysum. Sihir keahlian mereka adalah bunga. Keanggunan dan kebersihan adalah hal yang selalu mereka perhatikan. Bila mereka dijadikan sebagai bangsawan utama, yang membuat Ashley memilih mereka sebagai kandidat adalah, sihir bunga mereka mampu melumpuhkan siapapun lawan mereka, bahkan jika itu makhluk sihir dari ras bermana tinggi, yaitu Peri.
Zeeta tercengang dengan kemampuan Emeria dan Allysum. Ternyata ada banyak bangsawan yang berkemampuan tinggi. Lantas, Zeeta pun bertanya, "Lalu, apa yang harus kulakukan saat memilih mereka? Apa ada aturannya?"
"Tidak ada. Kau adalah Tuan Putri, siapapun pilihanmu itulah yang akan menjadi bangsawan utama, memerintah Wilayah Selatan, dan membantu kita dalam melaksanakan rencana tersebut," jawab Ashley.
"Baiklah. Kalau begitu, apa boleh kulakukan itu dengan caraku sendiri?"
"Ya, tentu."
......................
Sore harinya, kediaman Ashley telah meriah dengan kehadiran para bangsawan, serta para undangan dari Zeeta, yaitu para arsitek, ahli alat sihir, dan koki-koki handal. Mereka telah diatur sedemikian rupa untuk mengisi meja-meja yang telah dipersiapkan dengan konsep garden party. Khusus untuk tamu Tuan Putri, kecuali para koki yang sudah diminta Zeeta segera memasak, mereka dipersilakan duduk di meja terdepan dan terdekat dengan meja Tuan Putri dan Grand Duchess Ashley. Hal ini juga berlaku untuk Levant, Emeria, dan Allysum.
Yang datang mewakili Levant adalah Lowèn. Agak sulit diterima karena kemarin nyawa mereka baru saja terancam, namun Lowèn juga tidak dapat mengeluh banyak karena situasi mereka masuk akal. Lowèn bermantel putih yang bagian lehernya tinggi, dan berlengan panjang dengan lambang kecil bergambar matahari di saku kanannya.
Sementara itu, seorang yang mewakili Emeria adalah pria berkulit gelap, berambut hitam panjang yang diikat satu, serta bermata cokelat. Ia berpostur tubuh yang tinggi, tetapi tidak terlalu kekar, juga tidak terlalu kurus. Dilihat dari perawakannya, ia berumur sekitar dua sampai tiga puluhan.
Dilain sisi, Allysum diwakili oleh seorang pria yang tampak seusia dengan pria dari Emeria. Ia tampil fancy dengan pakaian model suspender berwarna hitam yang sepaket dengan kemeja putih panjang yang digulung sampai siku. Di saku kirinya, terdapat bunga tulip ungu yang sekilas seperti bros, tetapi itu benar-benar bunga. Di telinga kirinya, tersisipkan bunga bugenvil. Ia berambut panjang terurai berwarna ungu gelap, dan matanya kuning kehijauan. Ia selalu tersenyum.
Tidak hanya calon bangsawan utama dan tamu Tuan Putri saja di sana, ada juga Ophenlis yang diwakili oleh Illia dan Mellynda, serta Dormant oleh Willmurd. Tamu Zeeta yang duduk di sana ada tiga orang. Diantaranya ada pria berpostur pendek namun bertubuh besar yang membawa palu besar di saku belakangnya. Pria tersebut memiliki kumis dan janggut yang tebal serta hidung yang besar. Ia ditemani oleh wanita berambut putih lurus panjang yang menjuntai ke pinggang. Matanya berwarna ungu dan memakai kacamata berlensa bulat yang berukuran besar.
Kemudian, ada seseorang yang menjadi pusat mata semua orang di Vivid Party tersebut. Ia seorang pria berambut merah pendek, berponi dua yang masing-masing memiliki panjang melebihi dagunya. Poni tersebut berwarna perak. Ia bermata kuning cerah dengan kornea mata runcing, serta berwajah garang. Ia memakai jas ala bangsawan kuno. Sudah tampak kerutan di kening dan pipinya. Ia duduk menyilangkan kaki dan merapatkan tangan di atas meja sambil terus menatapi Zeeta yang ada di depannya.
"Apa ini...? Kenapa aku merasakan tekanan yang amat kuat? Bukankah ini hanya pesta?" batin Zeeta. Ia hanya bisa berpura-pura tersenyum atas kehadiran orang-orang ini. "Tapi... kenapa orang-orang yang hadir sebagai tamuku hanya segini? Kalau koki-koki itu terhitung termasuk ayah... tamuku hanya enam orang saja!"
Luna yang setia di kepalanya bertelepati. "Mereka sudah dipilih oleh Ashley. Artinya, mereka adalah ahlinya ahli!"
"Wogh... hebat!"
"Zeeta, waspadalah dengan pria garang itu. Aku punya firasat buruk tentangnya!"
"Luna juga berpikir demikian? Aah... jadi merindiing...."
Ashley datang dari dalam kediamannya sambil diikuti oleh tiga koki yang ditemani pelayan Ashley. Pelayan-pelayan itu mendorong gueridon atau troli khusus makanan. Ada desert, makanan berat, serta minuman.
"Sebelum jadwal utama Pesta Vivid kali ini digelar, kupersilakan kalian untuk memulai pestanya dengan makanan yang sudah kupersiapkan!" seru Ashley. Kemudian, setelah makanan-minuman tersebut dihidangkan, mereka pun memulai Pesta Vivid ini....
__ADS_1