
Tatkala Hilma dan Leon memandangi senyum Tellaura berbeda dari biasanya, Clarissa memanggil. “Ayo semuanya! Makan siang sudah siap!”
“Nah, ayo!” ajak Tellaura, “perut yang kosong takkan bisa membuat kita berpikir jernih! Kuingatkan pada kalian, kalau masakannya Risa adalah yang terlezat sedunia!”
Leon tersenyum kecil, lalu menanggapinya dengan, “Jika kau begitu membanggakannya, maka itu layak untuk dinikmati. Ayo, Hilma.”
Hilma juga ikut tersenyum. Setelah sekali anggukan dia menjawab, “Baik, Yang Mulia.”
Usai pindah ke ruang sebelah, Clarissa sudah menghidangkan empat beef stew dan sebuah minuman berwarna kuning kejinggaan.
“A-apa ini...?” Hilma bertanya-tanya dengan liur yang menetes keluar dari mulutnya. “Ini terlihat sangat lezat sekali!”
Dengan senyum smug-nya, Clarissa menjawab, “Namanya adalah beef stew! Tempo hari para ibu-ibu mengajariku resepnya!”
“Woah... benarkah itu, Risa?” Tellaura ikut senang mendengarnya. “Apa ini renjie?” dia menunjuk minumannya.
“Uhm. Seperti biasa.”
“Renjie?!” Leon kaget. “Minuman ini?”
“Apa, Leon? Kau sudah tahu renjie dari orang tuamu?”
“Y-ya... saat Hilma mengantarkanmu ke penginapan, ibunda memberitahuku. Rasanya ... sangatlah manis dan segar...! Tidak kukira buah seperti itu adalah hasil dari sihirmu, Laura.”
“Aku hanya menciptakan pohon yang bisa kami petik sendiri. Tidak kusangka banyak orang yang cocok dengan rasanya. Tapi ... hehe, syukurlah kalau kau menyukainya. Iya, ‘kan, Risa?”
“Uhm!” Clarissa mengangguk bersama dengan senyumnya.
.
.
.
.
[Dua puluh menit kemudian....]
“Pwaahhh~” Tellaura menunjukkan wajah puasnya. “Sangat nikmat sekali! Terima kasih makanannya, Risa! Perutku kenyang hari ini!” dia juga menepuk-nepuk perutnya yang membuncit.
“Kakak! Kau bersikap tidak sopan di hadapan Pangeran!
“Tapi kalau Kakak senang begitu, aku pun turut senang. Hehehe.”
“Sial!” Hilma membanting mejanya. Dia terbelalak, seakan-akan ngeri akan sesuatu.
“A-ada apa, Hilma?!” tanya Leon yang kebingungan.
“Ini jauh lebih lezat dari semua masakan yang pernah kumasak untukmu! Dagingnya yang lembut, sausnya yang nikmat, juga sayuran yang seimbang.... Aku harus mengasah kemampuanku lagi!”
“Aku bisa mengajarkanmu kapanpun, lho," ujar Clarissa.
__ADS_1
“Eh?” Hilma menatap kosong Clarissa. “Be-benarkah?!”
“Tentu!”
“Ka-kalau begitu tolong ajari aku!”
“Baii~k...!”
Senyum lebar nan bahagia terpampang jelas pada mereka yang duduk berdekatan. Beberapa saat kemudian, seorang diantaranya, Tellaura, berwajah serius. “Sekarang, setelah semuanya kenyang, aku perlu memberi tahu Leon sebuah pelajaran penting terakhir untuk hari ini.”
“Apa itu...?” tanya Leon.
Tellaura menatap Hilma. Hilma yang seakan mengerti jika dia memberi kode, akhirnya mengangguk.
“Ini tentang kami,” sambung Tellaura, “tentang aku, Risa, dan Hilma.”
“Hilma...? Apa hubungannya dengan kalian? Bukankah kalian baru saja berkenalan?”
“Yah, itu kau dengar saja nanti. Kau juga, Adikku. Orang ini harus tahu semua yang terjadi dan kau akan tahu apa yang terjadi padamu sepuluh tahun yang lalu.”
“Ba-baiklah...,” jawab Clarissa yang gugup. "Cerita yang selama ini ditutup rapat oleh Kakak ... akhirnya dibuka di depan Pangeran...?"
......................
Setelah kereta kuda yang dikendarai ayah Tellaura dan Clarissa meledak sekaligus menewaskan keduanya, kakak-adik itu terhempas bersama pelukan ibunya. Sang ibu yang mendekap erat anak-anaknya terlempar ke arah yang berbeda dari sang ayah.
“Pangeran Olav! Seorang diantara mereka masih hidup!” seru seorang prajurit berzirah lengkap, melaporkannya pada seorang pria paruh baya pendek, gendut, dan sudah nyaris kehilangan rambut pirang gelapnya.
“Apa yang kau tunggu lagi?!” bentak Sang Pangeran, “segera bawa dia ke tahanan pribadiku!”
“Ha?!” Pangeran paruh baya ini tidak senang mendengarnya. “Kau berani menentangku? Apa kau lupa keluargamu sedang mempertaruhkan nyawa demi kau?!”
“Ba... baik, Yang Mulia.... Akan segera kulaksanakan.” Meskipun berat hati, Si Prajurit tidak bisa berbuat banyak. Melawanpun tidak bisa.
Sementara itu dari kejauhan, terdapat seseorang yang berpakaian lusuh dan banyak bekas compang-camping yang telah dijahit dengan kain yang berbeda, bercelemek, mengaitkan bandana dari atas rambut cokelatnya hingga bawah dagunya untuk melindunginya dari sengatan mentari, wajah yang kusam dan berbintik hitam di sekitar hidung. Dia adalah seorang wanita yang berusia di akhir dua puluhnya.
Wanita itu membawa keranjang kecil di punggungnya. Dia sedang mengumpulkan jamur dan tumbuh-tumbuhan lain, yang sudah mengisi seperempat dari keranjangnya. Saat itulah, dia mendengar ledakan dari kereta kudanya.
Dia mengintip dari salah satu pohon yang mengelilingi jalanan. Namun, seakan tidak terkejut, dia hanya menatap dalam diam keluarga malang di depannya itu. Dia juga tidak ingin terlibat dengan lelaki yang sudah lebih tua darinya tersebut. Tidak, bahkan untuk terlibat saja tidak mungkin. Orang itu pasti akan segera membunuhnya karena melihat penampilannya yang begini dan sama sekali jauh dari kata cantik.
Sampai rombongan kerajaan itu benar-benar pergi dengan kuda, akhirnya ia menghampiri apa yang dicurigainya sebagai anak kecil. Dan benar saja, meskipun ia sangat suram melihat kondisi orang tua yang mendekapnya erat, mau tidak mau, karena dia melihat sang anak berambut merah itu bernapas dengan sangat pelan hingga menipu mata sang prajurit, dia memutuskan untuk membawanya—memasukkannya dalam keranjang yang berisi tumbuh-tumbuhan tersebut.
.
.
.
.
Wanita yang masih cukup muda itu membawanya ke kediamannya yang kecil dan bobrok, yang berada di pinggiran ibu kota kerajaan. Meskipun disebut ibu kota, pinggiran dan pusat seperti dua wilayah yang berada di demensi yang berbeda. Sangat berbeda jauh kondisinya.
__ADS_1
Kendati dikelilingi oleh hutan dan seharusnya menimbulkan timbal balik yang baik, sayangnya Flare tidak seperti itu. Polusi mengudara dimana-mana, pepohonan di sekitarnya mati, airnya pun tercemar. Langit biru yang sudah sewajarnya dilihat, tidak bagi rakyatnya. Kuning kejinggaan adalah warna yang wajar.
Seperti itulah kondisi kerajaan Flare, namun yang paling mencolok dari kerajaan itu, adalah istananya
yang menyerupai tower berbentuk tongkat sihir. Itu tampak megah dan paling kokoh dari semua bagian kerajaannya.
“Hilma, Ibu sudah pulang. Dimana kamu?!” jerit Si Wanita, yang kemudian mengunci pintu dan menutup jendela rapat-rapat.
Saat Si Wanita tidak mendengar jawaban dari sang anak, dia berpikir, “Mungkin masih bekerja. Anak itu ... padahal sudah kukatakan agar biar aku saja yang mengurus semuanya....
“Sekarang....”
Wanita itu melepas kain pada kepalanya, kemudian mengambil beberapa kain lagi dan meletakkannya di atas lantai—termasuk bandana dari kepalanya tersebut. Ia lalu menidurkan anak perempuan berambut merah—Tellaura—di atas tumpukan kainnya lalu memeriksa nadinya terlebih dahulu.
“Bagus. Dia masih hidup,” gumamnya. Ia lalu bergegas mengambil toples dari laci di dekatnya. Semuanya adalah bubuk. Ada yang berwarna merah, biru, dan hijau.
Yang paling pertama Wanita itu lakukan adalah membersihkan luka Tellaura dengan air hangat yang sudah dicampurkannya dengan serbuk biru—sebab banyak tanah yang mengotorinya, juga noda hitam sebab dekapan ibunya. Setelah anak itu bersih, dia lalu mengambil lapisan kain lain, merobeknya menjadi bagian-bagian kecil, menaburkan serbuk hijau pada luka-luka yang diterimanya, lalu mengikatnya dengan kain yang sudah ia robek sebelumnya. Kemudian yang terakhir, dia menuangkan satu sendok teh serbuk merah pada mangkuk yang berisi air dan mengompresnya.
Beberapa saat kemudian, seorang anak yang berambut sama dengan Si Wanita pulang. Ia mengetuk pintu yang terkunci. “Ibu? Ini aku!”
“Tunggulah,” balas Si Wanita.
Setelah si anak masuk, dia mendapati seorang anak perempuan berambut merah yang terlilit banyak sekali kain dengan bercak-bercak warna hijau. Tubuh anak itu juga tampak memerah karena kain yang menempel di keningnya.
“Si-siapa dia ... Ibu...?
“Hahh...?!” Si Anak terkesiap. “Ja-jangan-jangan... aku sudah tidak berguna lagi untuk Ibu... jadi aku akan digan—?!”
“Bicara apa kamu ini?!” tukas Si Wanita, mencubit pipi anaknya. “Mana mungkin Ibu melakukannya!
“Dia kecekalakaan. Kebetulan Ibu mellihatnya.”
“Hmmm....” Hilma melihat dari ujung kepala hingga kaki Tellaura. “Hebat juga dia masih hidup setelah semua lukanya ini. Siapapun pasti akan mati.
“Tapi, kalau sudah ada obat-obatan dari Ibu, pasti dia akan selamat!”
Hilma menunjukan senyum lima jarinya.
“Hehe.” Si Wanita terkikih. “Terima kasih. Tapi, selamat atau tidaknya anak itu, tergantung dirinya sendiri. Metabolisme setiap orang terpengaruh oleh pikirannya sendiri. Bila anak itu sudah menyerah pada hidupnya, maka semua obat-obatan Ibu akan percuma.”
Hilma memandangi sesaat Tellaura. “Dia akan baik-baik saja.”
“Kenapa kaubisa yakin?”
“Hehe, pengalaman dan insting?”
Si Wanita itu tersenyum, kemudian berpesan, “Ingatlah selalu kata-kataku ini, Nak. Kita hidup di dunia yang kejam. Bila kita tidak menjadi kejam, kita tidak akan selamat. Tapi, hal itu pun berlaku pada orang lain. Mereka pun akan melakukan hal kejam pada kita, bahkan jika alasannya adalah untuk bersenang-senang. Seperti itulah kerajaan kita—kerajaan Flare.
“Jadi, meskipun tangan itu sudah berlumuran oleh banyak darah seperti yang pernah Ibu lakukan dulu, selalu ingatlah ini, Hilma.
“Melindungi.
__ADS_1
“Selalu jadikan ‘melindungi’ itu sebagai alasanmu melakukan ini semua. Karena jika tidak ... suatu saat nanti ... kaubisa kehilangan dirimu sendiri.”
“U-uhm ... aku mengerti....”