
Cynthia seakan menjadi orang yang berbeda. Matanya yang bersinar putih, lautan yang menjadi kuasanya, memaksa apapun yang ada di dekatnya menatap takut padanya. Tidak terkecuali Qyu yang sudah lama mengenal Tuan Putrinya tersebut.
“Apa yang terjadi padamu, Tuan Putri...!?” batin Si Penyu Raksasa.
Pusaran air bagaikan tornado, ditambah langit malam, serta raungan ganas dari petir, terlihat perkasa dari kejauhan—bahkan dari mata Zeeta sekalipun yang berada bermil-mil jauhnya.
Luna yang sama-sama melihatnya bersama Zeeta, menduga seperti ini. “Jadi, Undine pun sudah memutuskan untuk bergerak juga? Inikah yang dimaksud dengan Xennaville dengan rekan yang akan didapatkannya?”
“Undine?”
Kala Luna hendak menjawabnya, bukan suara Roh Yggdrasil itu yang didengarnya, namun Ifrit. “Fufuhahahaha!" tawa Ifrit begitu menggelegar. "Nak, kau sungguh membuatku terkesan!”
“Ifrit...? Kau tampak bahagia. Ada apa?”
“Heh.” Ifrit menyeringai. “Tiga Roh Kuno akhirnya berkumpul setelah sekian lama. Berkumpulnya kami bertiga hanya menandakan satu hal.”
“Apa itu?”
“Kehancuran dunia.”
Suara Ifrit yang dalam dan entah kenapa menggetarkan Zeeta, diusahakannya untuk tidak meruntuhkan tekadnya sendiri. Lantas, gadis itu bertanya, “Apa maksudnya tujuanku akan berhasil?”
“Soal itu aku tidak tahu, tapi pahamilah kondisinya seperti ini. Jötunnheim dan Drékaheim akan terbuka, bukan? Maka, kesimpulan apa lagi yang kaudapatkan selain kehancuran dunia?”
Zeeta menggertakkan giginya. “AKU TAKKAN MEMBIARKANNYA TERJADI!”
Wadah-nya yang tiba-tiba menjerit, mengejutkan Luna. “Ke-kenapa denganmu, Zee? Ada yang salah?!” namun pertanyaannya tidak digubris. Ia justru seperti berbicara sendiri.
“Aku memang tahu dan sadar bahwa terbukanya dua dunia itu PASTI akan membawa kehancuran dunia, tetapi aku takkan membiarkan kehancuran itu terjadi karena dua dunia itu!”
‘BRUK!’
Zeeta memukul dada kirinya sendiri dengan telapak kanannya. “AKULAH! Aku yang akan menghancurkan dunia ini, membawa perubahan baik, dan memutus rantai kebenciannya!”
“Fufu. Kalau begitu berjuanglah. Ingat saja ini, Manusia.
“Kehancuran dunia pasti terjadi. Tidak peduli itu karenamu atau bukan, tetapi tiga Roh Kuno ini tetap akan memiliki kekuatannya bahkan saat dunia ini sudah hancur.”
“Haaah... haaah... haaaah....” Terengahnya Zeeta dan berkeringat dirinya semakin membuat Luna heran, tetapi ia memiliki petunjuk apa yang baru saja terjadi.
“Apa Ifrit baru saja mengatakan sesuatu padamu?” tanya Luna.
“U-uhm. Dia—“
‘FWISHH!’
Kala Zeeta hendak memberitahu rubah mini di kepalanya itu apa yang telah terjadi, sebuah panah api menerjangnya dengan kecepatan tinggi.
‘BWAAMM!’
Sebuah panah yang meleset dan akhirnya mendarat di daratan itu dengan mudahnya membakar apa yang mengenainya, bahkan jika itu tanah. Tanahnya menjadi api, meskipun tanpa pemicu.
“Mana ini...?!” Zeeta kaget dengan mana yang dirasakan melalui panahnya.
“Ternyata kau di sini, ya, Zeeta...!”
'SWOOSH SWOOSH SWOOSH!’
Orang yang muncul di hadapan Zeeta langsung menembakkan tiga panah lanjutan seketika. Kecepatan tembakan panahnya membuat Zeeta terbelalak dan nyaris tak sempat menghindar, bila tanpa bantuan Catastrophe Seal yang sedang didudukinya. Ia langsung mengubahnya menjadi tameng dan berhasil menyerapnya ke dalam.
“Cih!”
“Kak Serina! Apa yang terjadi denganmu?!” jerit Zeeta.
......................
Seorang Dark Elf yang ahli dalam memanah dan salah satu dari Volten Sisters, Serina tiba-tiba saja menyerang Zeeta secara membabi-buta. Empat panah yang sebelumnya gagal mengenai targetnya tidak membuatnya berhenti. Tidak hanya dengan panah api, tetapi ia juga menyerang Zeeta dengan elemen sihir lain, seperti es, ataupun panah yang terselimuti racun.
“Luna, apa kau merasakan ada yang aneh dengan kak Serina? Kenapa dia tiba-tiba menyerangku?” tanya Zeeta kala terus berusaha menghindari panah Serina yang kala meleset, segera menghancurkan apa yang menjadi landasannya.
“Tidak. Dia tidak seperti Hitomi. Dia benar-benar menyerangmu dengan kebencian yang tinggi!”
__ADS_1
“Kenapa?!”
“Tidak tahu! Hentikan saja dia secara paksa! Lagi pula, kita pun tak memiliki waktu untuk mengurusi hal seperti ini!”
“Tsk....” Zeeta agak tidak senang dengan cara ini, namun dia tidak memiliki pilihan. Dia memutuskan untuk memakai Catastrophe Seal-nya. Karena bagaimanapun juga, kekacauan sihir di daratan sudah mengkhawatirkannya.
Zeeta mengubah bentuk tameng senjata sucinya menjadi tongkat sihir. “Berkumpullah, wahai kebencian!” usai mengucapkannya, sihir-sihir yang mengacau di daratan terserap ke dalam tongkat. Daratan yang “menjerit” karena menggilanya sihir Serina, sudah bisa ditenangkan.
“A-apa...?” Serina tak menduga Zeeta bisa melakukannya.
“Tenanglah, Kak Serina!” jerit Zeeta, “aku harus segera menyelamatkan Gerda!”
Kata-kata yang dilontarkan Manusia di depannya itu justru membuat emosinya memuncak. “Menyelamatkan?! Kau sudah membuatnya mati, jadi untuk apa kau harus melakukannya, Zeeta!?”
“Aku tak memiliki waktu untuk menjelaskannya padamu! Aku harus cepat!”
Tatapan tajam Serina cukup menjawab Zeeta. “Meskipun aku bukan tandinganmu,” tambah Serina, “meskipun aku tahu aku hanyalah Elf yang membantumu menguasai mana alam, bukan berarti aku tidak mampu bersaing denganmu!”
‘Wooooshhh!’
Angin berhembus meniup keduanya. Zeeta kemudian menunduk. “Luna, kupercayakan Gerda padamu. Aku harus membungkam kak Serina dulu,” kata Zeeta pelan, “gunakanlah kesempatan yang akan kubuat ini untuk menyusulnya.”
“Uhm. Baiklah.” Tanpa ada perdebatan, Luna mengiyakan Wadah-nya.
Zeeta menyimpan Catastrophe Seal-nya—mengembalikannya menjadi bentuk cincin. Ia kemudian mengatur napasnya. “Aku tidak akan menahan diriku, lho, Kak Serina.” Tatapan serius Zeeta telah menjawab Serina.
“Coba saja kalahkan aku!”
Zeeta mengangkat tangan kanannya tinggi. Disaat yang sama, muncul ratusan lingkaran sihir dengan berbagai macam warna yang mewakili elemen sihirnya. Cokelat, hitam, putih, hijau, merah, dan biru.
Mengerti apa yang akan dilakukan Zeeta, Serina sempat menggertak giginya. Dia melakukan hal yang serupa dengan Zeeta, namun dirinya meregangkan tangan kirinya untuk memunculkan lingkaran sihir. Tidak seperti Zeeta yang bisa memunculkan semua elemen, Serina hanya bisa mewujudkan elemen api, air, dan kegelapan.
‘KA-BOOOMM!’
Ledakan begitu dahsyat langsung saling sahut menyahut. Di dalam ledakan itu, Zeeta dan Serina tidak tinggal diam. Mereka saling adu pukulan—seperti apa yang telah diajarkan para Volten Sisters pada Zeeta.
......................
[Sembilan tahun silam di Grandtopi**a**....]
“Ada berbagai hal yang kami pelajari dari setiap medan pertempuran, tetapi ada satu hal yang harus benar-benar kau tanam dalam tulangmu.”
“Tu-tulang...?” Zeeta yang kala itu masih delapan tahun tidak mengerti apa maksudnya.
“Ya!
“Ingatlah tujuanmu ke sini. Kau tidak hanya akan belajar tentang menggunakan mana alam, tetapi juga dengan Catastrophe Seal, bukan?
“Yang akan kami ajarkan adalah ketika kau bertempur TANPA senjata sucinya.
“Memang, senjata suci itu bisa memakai sihir besarmu sendiri, tanpa harus memakai mana alam. Namun, dalam medan pertempuran, semakin banyak kartu truf yang kaumiliki, semakin beruntung dirimu. Tetapi, semua itu tergantung dari bagaimana kau menguasai medannya.”
“Menguasai medan....”
“Benar.
“Di masa depan, sudah pasti kau akan melawan musuh-musuh yang lebih kuat. Kau mengerti maksudku, ‘kan?”
Zeeta mengangguk-angguk.
“Dalam menghadapi musuh kuat, tidak hanya sihir besar saja yang bisa membuatmu menang, tetapi strategi. Dan strategi ini—yang akan kami ajarkan padamu—adalah kelemahan yang paling banyak dimiliki oleh makhluk-makhluk yang sombong dengan kekuatan sihirnya, yaitu….
“Pertarungan jarak dekat!”
“Ke-kenapa begitu? Bukankah ada yang bisa membaca pergerakan mana? Bukannya itu akan jadi sia-sia bila pergerakannya terbaca?”
“Zeeta!” panggil Serina.
“Iya?” begitu Zeeta menengok ke sumber suara, tidak ada Serina. “E-ehh...?!”
“Begitulah!” Serina menepuk kepala Zeeta tiba-tiba dari belakang. “Merasakan pergerakan mana dalam pertempuran melawan orang yang memiliki kekuatan sihir yang besar, sama saja hanya mengandalkan pendengaran.
__ADS_1
“Kau harus bisa menggerakkan semua inderamu dalam bertempur melawan mereka—karena itulah Kak Jourgan bilang pelajaran ini harus ditanam dalam tulangmu, supaya kapanpun waktunya tiba melawan musuh yang seperti itu, kau tidak akan lupa tentang ini.”
“Uhm! Aku akan berjuang!”
......................
‘THWACK!’
Serina berhasil mengunci leher Zeeta dengan kedua kakinya yang berotot. Zeeta sampai harus berusaha untuk melepaskannya, terlebih medan pertarungan mereka yang berada di udara membuatnya semakin kesulitan untuk melepasnya.
‘BWHAMM!’
Serina membanting keras Zeeta ke daratan dengan kepala yang pertama kali mencapai tanah. Dark Elf itu melompat lambung terbalik tiga ratus enam puluh derajat dan segera berkuda-kuda lagi—bersiaga jika serangan itu tidak cukup menumbangkan Zeeta.
Cukup lama Serina dibuat was-was, sampai akhirnya Zeeta mendaratkan serangan balasan.
Dari dalam tanah, meskipun posisi tubuhnya terbalik, hidungnya berdarah yang mengucur ke keningnya, dia tidak mengeluh. Dengan kedua tangannya yang telah dilapisi elemen tanah sehingga membuatnya terlihat bersinar cokelat, Zeeta memasukkan tangannya ke dalam tanah dengan mudah, lalu meregangkannya.
Hal tersebut tidak hanya berhasil membuat Zeeta terbalik lagi ke posisi semula, tetapi juga membuat Serina terjatuh ke dalam jurang yang tercipta. Zeeta mengganti elemen di tangannya dengan air—membuatnya bersinar biru, lalu ia mengangkat kedua tangannya untuk memunculkan air dari jurang di bawah Serina.
‘BYURRR!’
Serina terdorong oleh gerusan air yang menaik laksana geiser. Hanya saja, bukan air panas, namun itu perlahan berubah menjadi es yang menjebaknya. Zeeta menambah dingin padanya dengan tiupan dari mulutnya—dimana di depan mulutnya terdapat lingkaran sihir berwarna biru.
“Kaukira aku akan terhenti hanya karena ini?!” teriak Serina.
“Tentu saja tidak!” Zeeta berkuda-kuda. Kali ini dia hanya menggunakan tangan kanannya, dengan masing-masing kaki sebagai booster-nya.
Tangan kanannya yang dikepal kuat-kuat dan diposisikan untuk meng-upper-cut, dilapisinya elemen api. Itu membuat tangannya seakan dilapisi oleh magma. Di bawah telapak kakinya muncul lingkaran sihir sesaat untuk menambahkan kecepatan dan dorongan besar.
Zeeta semakin menguatkan kuda-kudanya untuk menambah lagi dorongan agar ketika momentum yang akan didapatkannya bisa tepat dan segera menyelesaikan ini dengan cepat.
“Haaa~aaahh!!!!” dengan kedua kakinya melakukan gerakan pegas, Zeeta melambung cepat ke arah Serina. Bila dilihat dengan mata telanjang, hanya akan terlihat setitik cahaya merah bergerak maju begitu cepat.
Namun, bukan berarti Serina yang terjebak di dalam sihir es itu tidak bisa melakukan apa-apa. Serina sadar bahwa jari telunjuk kanannya masih bisa digerakkan. Oleh karenanya, hanya dengan satu jarinya itu saja, Serina menciptakan lingkaran sihir berwarna merah kekuningan.
Dua serangan fatal yang saling diniatkan untuk mengakhiri semuanya dengan cepat akan saling beradu, tetapi....
‘SRAATTTT!’
Zeeta terpelanting ke tanah lagi, sementara pandangan Serina langsung gelap. Sesuatu yang menjalar semacam akar menghentikan mereka.
“A-apa yang terjadi?!” tanya Dark Elf itu.
“DASAR BODOOOOHHH!”
Dua perempuan yang saling adu sihir sebelumnya terkejut. “Ge-Gerda?!”
Zeeta langsung mendongakkan wajahnya yang sudah kacau tidak hanya karena darahnya saja, tetapi juga karena noda. Matanya langsung berkaca-kaca. “Syukurlaaah... syukurlaaaaah!” dirinya bisa melihat di dekat temannya yang berambut pirang itu ada Luna dalam mode rubah besarnya.
“A-apa yang terjadi di sini...? Hei, katakanlah sesuatu!” Serina terus merengek karena sekarang seluruh panca inderanya terhambat.
“Aku bisa memaklumi kalau kelakuan ini dilakukan oleh Zeeta, tapi kau pun begini, Serina?!” omel Gerda.
“Ha-hah...? Tu-tunggu, bukankah kau sudah mati? Titania yang mengatakannya padaku!”
“Mati? Kenapa?”
“Itu benar!” timpal Zeeta, “aku bahkan datang buru-buru ke sini untuk menyelamatkanmu!”
“Eh...?” Gerda tidak mengerti apa yang dimaksud keduanya.
“Baiklah-baiklah, tenangkan dulu diri kalian, aku yang akan menjelaskannya, oke?” saran Luna segera disetujui ketiga perempuan itu.
......................
Usai Zeeta dan Serina mengembalikan bekas pertempuran mereka menjadi seperti sedia kala, keempatnya pergi menuju desa dimana Titania tinggal.
Zeeta terkesiap. Waskita yang ia lihat, ternyata adalah saat ini. Pemandangan bangunan dan bagaimana alamnya, telah sempat dilihatnya melalui Rune Kaunaz.
Kala keempatnya turun ke daratan, mereka tidak memasuki bangunannya, tetapi menuju tempat dimana Luna mendapati Gerda. Di sana, terdapat bekas hitam pekat—seperti bekas hangus terbakar.
__ADS_1
“Gerda, di sinilah aku menemukan dirimu yang telah menjadi serpihan abu.”
Kata-kata Luna itu menghentikan jantung Gerda sesaat. “A-apa...?”