Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Rahasia Fyrriheim, Sebuah Dunia Lampau


__ADS_3

Fyrriheim, dunia lampau.... Di sini, Zeeta sedang dituntun oleh neneknya, Scarlet, menuju Land of Death. Ketika sampai di sana dengan teknik teleportasi yang tidak diketahuinya sama sekali, yang dilihat Zeeta hanyalah kabut tebal, suasana sepi, dingin, dan pepohonan yang sudah mati. Beberapa lokasi digenangi air, tetapi ia tidak dapat melihat lebih banyak lagi berkat kabut yang benar-benar mengganggu penglihatan itu.


"Ne... Nenek...? Ke... kenapa kita ke tempat yang seperti ini...?" tanya Zeeta. Ia memeluk lengan kanan Scarlet.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau begitu takut hanya karena tempat seperti ini?" tanya Scarlet.


"Ta-takut...?! Tidak! Sama sekali tidak! Aku tidak takut!" ia semakin mengencangkan pelukannya. Tidak lama kemudian, ia mendapati di balik kabut tebal itu, cahaya layaknya dari sebuah pandangan mata muncul di tiap tempat, di segala sudut matanya. Hal itu lantas membuatnya semakin merinding. Tak pernah dalam hidupnya ia merasakan atau melihat hal seperti ini.


"He... hei... jawablah aku... kenapa kita ke—" Zeeta terbelalak begitu lebar. Pelukan kencang pada lengan neneknya, kini tak lagi memeluk apapun. "Nek?! Nenek Scarlet...?!" panik dan degup jantung yang mengencang membuatnya berkeringat. "Ih... kenapa dia justru hilang, sih...? Di mana ini? Kenapa aku ditinggal sendirian...?" titik air mata tampak dari mata kirinya. "Aku tidak suka ini...." Ia berjongkok lalu meringkuk.


"Tiba-tiba mati, tiba-tiba melihat empat makhluk misterius, tiba-tiba melihat Ifrit, tiba-tiba ke dunia lampau, bertemu nenek, dan sekarang...?


"Aku ada di Tanah Kematian...?


"Moh ... apa yang sebenarnya terjadi padaku?!


"Nenek Scarlet juga tiba-tiba hilang seperti kabut saja! Padahal aku sudah memeluknya kencang supaya tidak kabur!"


.


.


.


.


"Hm?! Jangan-jangan nenekku itu... hanyalah hantu?! Dia hilang begitu dia sampai di sini, 'kan...?"


.


.


.


.


"...."


"Aaaaagghh...!" Zeeta mengacak-acak rambutnya. "Padahal aku harus segera keluar dari dunia ini...! Mereka... mereka kan sedang...."


Usai mengeluh ini dan itu, dari sudut kiri mata Zeeta, dirinya melihat kupu-kupu biru yang menjatuhkan butiran-butiran berwarna sama dari kepakannya. Kupu-kupu tersebut terbang ke lurus ke kepalanya.


"A-APA...?!


"Apa yang kauinginkan?!" Zeeta menyilangkan tangan di depan wajahnya. Namun kemudian, kupu-kupu itu bersinar biru, kemudian memutar-mutari tubuh Zeeta, dan diselesaikan dengan mengepakkan kembali sayapnya ke depan Zeeta.


"Oh....


"Kau... ingin aku mengikutimu? Ba-baiklah... lebih baik begitu daripada di sini berlama-lama...." Zeeta lantas bangun, lalu mengekori kemana si kupu-kupu itu menuntunnya. Tetapi di saat itu juga, ia merasa pandangan-pandangan bercahaya itu benar-benar melototi kemana arah mereka pergi.


......................


Perjalanan Zeeta dengan si kupu-kupu biru dirasanya telah berlangsung cukup lama. Kendati dia tidak tahu sudah seberapa lama tepatnya, dengan kondisi berkabut dan sama sekali tidak berhenti berjalan, membuatnya merasa demikian. Mata-mata bercahaya itu tidak lagi ditakuti Zeeta. Karena kemana pun ia pergi, mata-mata itu selalu melototinya. Namun tetap saja, ia masih tidak tahu apa sebenarnya yang ada wujud utuh mata-mata sana.


Beberapa lama kemudian, Zeeta merasa kupu-kupu itu memang menuntunnya ke sebuah jalan tanpa adanya kabut. Jauh di depannya, ia melihat tanah luas namun kering hingga mengakibatkan keretakan.


"Andai kaubisa bicara, aku ingin tahu tempat apa ini sebenarnya.... Jika ini disebut Tanah Kematian, apakah nenekku sebenarnya sudah mati...? Aku benar-benar bingung...," gumam Zeeta. Ia berjalan sambil memandang ke bawah. Kala itu juga, ia menyadari kabut yang seharusnya menipis, justru semakin tebal lagi. "Eh?!" Zeeta secara refleks menghentikan langkahnya lalu melihat ke depan. "EEEHH...?! A-apa itu?!" batinnya. Ia bahkan mematung di tempat.


Sebuah siluet sedang memegang lentera hijau yang terselimuti kabut disaksikan Zeeta. Tak lama kemudian, siluet lainnya muncul menyusulnya. Dihujani perasaan panik dan takut, Zeeta sedikit menjerit, "A-apa itu...?! Jangan bilang kalau itu....


"HANTU?!"


Zeeta mencoba menutup mata dengan jemarinya.


.


.


.


.

__ADS_1


"Suara itu?!"


"Eh?! Nenek?!" Zeeta terkejut, segera menjauhkan jemari dari mata.


Siluet yang berada di belakang orang yang memegang lentera segera merebut lenteranya dan menghampiri Zeeta. "Astaga! Kenapa kau melepas tanganmu dariku, dasar Cucu bodoh?!" tanya Scarlet, identitas dari siluetnya.


"HAAAAH?! Bukankah Nenek yang tiba-tiba hilang?! Mana mungkin aku melepas pelukan lengan itu disaat aku taku—ehem....


"Salah Nenek yang tidak mengawasi Cucunya!"


Zeeta bertolak pinggang.


"Dasar bodoh! Ini adalah Tanah Kematian! Suatu keajaiban kau tidak ditarik ke Lembah Jiwa oleh para Flakka!" Scarlet segera mendekap cucunya.


"Eh? Lembah Kematian...? A-a... apa lagi itu...?"


Siluet yang berada di belakang mereka menampakkan dirinya, ia adalah siluet yang memegang lentera. "Lembah Jiwa adalah lembah dimana para makhluk sihir, Manusia, dan ras lainnya yang telah mati berada. Mereka akan melintasi Tanah Kematian sebelum akhirnya kembali menjadi mana melalui lembah itu."


Sosok pria berhidung mancung ke bawah berukuran besar, yang berbisul di sudut hidungnya, berjubah serba hitam, memegang tongkat kayu, serta telah berusia senja, tiba menjawab pertanyaan Zeeta.


"Agghh...!" Zeeta mengacak-acak lagi rambutnya. "Aku benar-benar tidak paham apa yang terjadi!"


"Beritahu aku, Gadis Muda, bagaimana caramu bisa sampai ke sini sendirian?" tanya Si Pria, "ah, maafkan aku. Namaku adalah Galkrie. Aku adalah penjaga Tanah Kematian. Tugasku adalah mengamati segala jiwa yang telah mati di dunia dan mengantarkan mereka pada Lembah Jiwa dengan bantuan para Flakka.


"Tanah Kematian bukanlah tempat seorang Manusia hidup—memliki jiwa sepertimu—bisa seenaknya berjalan. SEHARUSNYA kau mengalami satu atau dua hal mengerikan, seperti kehilangan anggota tubuh yang berujung pada kematian...."


"Hah?!" Zeeta segera dibuat merinding. Sebuah kata-kata kontradiktif dari Galkrie tentang kondisinya sendiri tidak disadari, saking takutnya dia.


"Flakka adalah penduduk tempat ini. Mereka takkan membiarkan siapapun yang masih hidup melintasi— biar kukoreksi—menginjakkan kakinya di sini.


"Singkatnya, hidup adalah hal tabu di sini. Karena itulah kau terpisah secara tiba-tiba dengan Scarlet."


"Ah... pantas saja ada baaanyak sekali mata-mata yang melototiku! Kalian tak tahu seberapa ta... kut...?


"Ehh...?


"Kalau ini memang tempat seberbahaya itu... kenapa Nenek dan aku bisa...?"


"Memangnya, apa beda tempat ini dengan yang kupijak sebelumnya? Yang kulihat hanyalah kabut dan pohon mati saja...."


"Ah, ini adalah wilayahku. Flakka tahu aku adalah Penjaga di sini, jadi mereka takkan mengganggu atau bahkan mendekatiku.


"Lebih baik kau masuk dan istirahatkan tubuh tanpa mana itu. Aku kagum kaubisa tetap berdiri dan ceria begini dikondisi seperti itu." Galkrie memutar tubuh, memandu jalan untuk Scarlet dan Zeeta.


Zeeta termenung ketika mendengar ucapan Galkrie itu. Dia paham apa yang terjadi, tetapi dia belum ingin mengatakannya. Ia juga jadi sadar tentang kontradiksi ucapan Galkrie tentangnya.


......................


Galkrie memandu dua bangsawan kerajaan itu ke dekat kolam. Kolam itu uniknya, tidak seperti kondisi di sekitarnya. Air di situ jernih, tanpa menanggalkan kotoran sedikitpun. Berbeda dengan kolam lain yang airnya pekat dan digunakan untuk "keperluan" lain.


"Air ini aman untuk dirimu minum. Setelah itu, aku akan mengatakan padamu alasan Scarlet masih utuh—bila orangnya tidak keberatan." Galkrie melirik Scarlet.


"Katakan saja yang sebenarnya," balas Scarlet. Ia menyilangkan tangan.


"Uhm. Aku terima tawaran murah hatimu, Kakek Galkrie." Zeeta menundukkan setengah badannya, lalu mengambil air dengan kedua tangan seperti mangkuk. Menanggapi perilaku Zeeta, Galkrie tersenyum. Usai Zeeta minum, Galkrie mulai menceritakan apa yang terjadi pada Scarlet.


"Empat belas tahun yang lalu, aku menemukan sebuah lingkaran sihir yang muncul begitu saja di tanah dimana kau bertemu dengan Scarlet. Aku melihat kedatangannya dari Kolam Waskita yang memantau jiwa-jiwa hidup. Agar kau mudah mengerti, ikut aku."


Galkrie diikuti Zeeta menuju ke salah satu kolam berair biru. Zeeta melihat jentik-jentik putih kekuningan. Ketika Galkrie menyentuh salah satu jentik dengan tongkatnya, terlihat siapa yang menjadi identitas jentik itu.


"Ah, dia, 'kan...." Zeeta merasa familiar dengan siapa yang dilihatnya.


"Ya, itu benar. Dia adalah Sigurd, Raksasa yang kaulihat sebelumnya. Beginilah caraku menemukan Scarlet. Sebuah jentik muncul begitu saja. Kukira itu adalah jiwa baru dari sebuah janin dari sebuah makhluk, namun aku salah."


"Uhm. Aku mengerti. Lalu...?"


"Scarlet, beritahulah apa tujuanmu membuat lingkaran sihir itu."


Scarletpun menggantikan peran Galkrie bicara. "Aku ingin kembali ke masa lalu setelah mengetahui ada sebuah buku di ruang bawah tanah istana yang berisi tentang banyak hal yang tidak diketahui di zamanku.


"Zeeta, kau pasti tahu hanya ada satu Raksasa di dunia bernama Ozy, bukan?"

__ADS_1


"Uhm. Apa hubungannya itu denganmu?"


"Dengar, Nak, ketika Yggdrasil memecah tubuhnya menjadi serpihan Roh, ada juga hal lain yang terjadi ketika itu.


"Jika Yggdrasil hilang tanpa memberi keseimbangan pada dunia, bila dipikir secara garis besarnya, maka Manusia yang hidup setelah kejadian itu hanya akan menjadi korban yang salah sasaran dari para makhluk sihir dan ras lainnya.


"Dari buku yang kubaca itu, ternyata disaat Yggdrasil menjadi Roh, Yggdrasil menciptakan empat dimensi dunia untuk makhluk yang seharusnya bisa menyeimbangi dunia di satu tempat."


"JA-JADI DUNIA INI TIDAK HANYA SATU?!" Zeeta begitu terkejut.


"Ya. Kita memiliki Drekaheim, dunia para Naga; Jötunnheim, dunia para Raksasa; Fyrriheim, dunia lampau, dan dunia yang kita tinggali, Galdurheim.


"Dalam buku itu, Fyrriheim adalah dunia dimana semua kejadian penting di masa lalu yang mengakibatkan dunia sekarang bisa lahir terjadi.


"Bentuk dunia lampau ini akan berubah bila dunia sekarang—dunia dimana kau berasal saat ini—mengalami perubahan yang sangat besar. Contohnya adalah dirimu yang saat ini mulai mempelajari apa yang sedang terjadi.


"Aku tidak mengatakan satu tindakanmu akan mengubah Fyrriheim, tetapi yang kukatakan disini adalah keputusanmu pada Yggdrasil.


"Landasanku ingin kembali ke masa lalu, adalah untuk menghentikan—bukan....


"Setidaknya aku bisa mengetahui alasan kenapa Ratu Peri Feline bisa meramalkan dirimu menghancurkan dunia.


.


.


.


.


Zeeta terdiam seribu bahasa. Ia mencengkeram kedua tangannya.


"Namun di situlah letak kesalahan Scarlet." Galkrie menggantikan Scarlet. "Meski disebut dunia lampau yang tak akan berubah, dunia ini adalah dunia dimana Yggdrasil masih ada. Kami tetap hidup damai tanpa adanya perpecahan.


"Oleh karena itu, jika Scarlet—Manusia dari Galdurheim ikut campur pada kehidupan di sini, keseimbangan Fyrriheim akan runtuh, yang mengakibatkan gagalnya kemungkinan Yggdrasil bisa tumbuh sekali lagi.


"Dia tidak membaca lebih jauh dengan baik buku turun temurun kalian."


Zeeta menatap kosong Galkrie dari ucapannya barusan. "Heh?! Buku turun temurun?!" ia juga mengedipkan matanya dua kali, merasa salah dengar.


"Sudah kuduga kau pun tidak mengetahuinya. Masalah itu biar kuberitahu nanti.


"Tapi yang pasti, Scarlet terperangkap di sini tanpa bisa membuka ulang portal yang telah memanggilnya ke dunia ini.


"Satu-satunya tempat aman agar dia bisa tetap hidup adalah sebagai asistenku, menjadi Pencabut Jiwa makhluk yang sudah pada ajalnya, bersamaku. Ini tidak dihitung sebagai ikut campur karena dia sesama Aurora, dia juga mengikuti aturan dunia ini, juga tidak pernah berinteraksi dengan makhluk lain."


"Eh? Eh? A-aku ingin tahu bagaimana Nenek bisa melakukan itu tanpa diketahui, juga tak dihitung sebagai ikut campur... apakah dia mengendap-endap?" tanya Zeeta.


"Tidak. Cara kerjanya sama seperti yang telah kuperlihatkan padamu." Galkrie menunjuk ke sebuah kolam di belakang berair merah dan berjentik biru. "Jika jentik itu berwarna hitam, maka Scarlet hanya perlu menyentuhnya. Akulah yang akan menuntun jiwa yang telah meninggalkan tubuhnya itu ke Lembah Jiwa."


"Aku mengerti sekarang. Nenek Scarlet, kau tidak perlu lagi khawatir soal Ratu Peri Feline. Soalnya dia—"


"PSSSTT!" Scarlet menutup paksa mulut Zeeta. "Jangan katakan apapun yang terjadi di sana, di tempat seperti ini! Kau akan terperangkap juga sepe—"


"Tidak, kurasa dia akan baik-baik saja," tukas Galkrie, "Gadis Muda ini sudah mendapatkan perlindungan dari Roh Kuno Ifrit. Kalaupun dia ikut campur di dunia ini, aku ragu dia akan terperangkap."


"Tidak, Kakek Galkrie, aku tidak berniat melakukan apapun di sini, kecuali...


"Aku bertemu empat makhluk kecil bersayap dan bercahaya. Mereka menyuruhku untuk melihat apa yang terjadi di dunia ini, lalu menyerahkan keputusannya padaku. Apa Kakek tahu siapa mereka?"


Galkrie tersenyum kecut. "Wah wah... ternyata dunia ini sudah berjalan sejauh itu....


"Ya, tentu saja aku tahu.


"Mereka adalah Seele. Spirit yang menurunkan dan membuat pecahan bulan menjadi anting yang kalian pakai. Jika Seele yang menuntunmu ke Fyrriheim, maka dirimu harus menuntaskan apa yang diminta mereka.


"Seele selalu melihat perjuangan masing-masing pemilik kekuatan bulan. Kalau Spirit seperti mereka, ditambah Ifrit membukakan jalan padamu ke sini, itu berarti kau memanglah kunci pada kejadian selama ini.


"Gadis Muda, siapa namamu?"


"Aku Zeeta. Zeeta Aurora XXI."

__ADS_1


"Zeeta...." Galkrie tersenyum. "Aku hanya berpesan satu padamu. Jadilah seorang pemilik kekuatan bulan yang tidak akan kausesali!"


__ADS_2