Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Kerajaan Gala


__ADS_3

Hari itu, hari dimana Klutzie menerima segudang kenyataan dari sejarah ayah dan ibunya, membuat semua dunia yang dipandangnya berubah.


Sejak dirinya kecil, ia tidak begitu memedulikan seperti apa dunia ini bekerja, ada apa saja di luar kerajaannya, atau seperti apa saja keindahan dan makhluk yang hidup di dalamnya. Ia berpikir, sudah cukup kakaknya saja yang mengetahui hal seperti itu. Jika memang dirinya butuh sesuatu, dia hanya akan bertanya padanya. Sesederhana itu.


Lantas, apa yang menjadi tujuan hidupnya?


Ia sudah membicarakan hal tersebut dengan Zeeta dan beberapa orang sebelumnya. Ia ingin menjadi nomor satu, sebab dirinya telah dipilih oleh Roh Yggdrasil sebagai seorang Wadah. Dia menjadi sombong, hanya karena ada tuturan "orang terpilih".


Namun, semua itu sekarang berbeda. Bermacam-macam hal telah terjadi dan melibatkan dirinya sebagai salah satu pemeran dalam berbagai kisah. Dia mengalami "character development"—sebuah fase dimana pemikiran, sifat, dan kedewasaan tiap individu akan berubah.


Klutzie sadar bahwa setiap ada langit, selalu ada lapisan langit lain yang hadir di atasnya. Tidak semua orang bisa menggapai langit-langit tersebut, termasuk dirinya sendiri. Oleh sebab itu, ia mempertanyakan lagi tujuannya menjadi Benih Yggdrasil. Apakah ia akan tetap seperti ini—hanya menjadi pihak pembantu bagi gadis yang menjadi pusat dunia—Zeeta? Ataukah ia ingin menjadi pemeran utamanya?


Menjadi pemeran pembantu dalam sebuah kehidupan orang, dalam suatu artian, ia malah menjadi pemeran utama ... untuk dirinya sendiri.


Hanya saja, ia masih memiliki kegundahan. Rakyatnya makmur atas jasa kakaknya, ayahnya bisa hidup bersamanya saat ini berkat bantuan Zeeta dan Aurora. Kemudian, apa yang hanya dirinya sendiri bisa lakukan? Adakah itu?


Klutzie sekarang sedang mencari jawaban itu. Ia sedang mencari "jati dirinya".


......................


Pangeran yang nantinya akan mewarisi takhta Nebula, kini sedang bertekuk lutut di hadapan sang Raja. Tidak ada siapapun di singgasananya, selain sang Raja seorang. Kendati di sebelahnya ada kursi untuk pendampingnya, sudah sejak lama itu hanya menjadi hiasan semata.


Ruang takhta itu hanya memiliki sumber cahaya dari beberapa sudut saja. Cahaya matahari dari balik kaca-kaca patri (dekoratif) di belakang kursi takhta dan lampu-lampu sihir di dalam lentera berbentuk bola di pilar-pilarnya. Warnanya hanya satu—putih. Di dalam ruang tersebut, memang minim penerangan, entah apa yang menjadi alasannya.


Dengan posisi penerangan yang demikian, Klutzie tak bisa melihat dengan pasti raut wajah Eizen yang tertutup oleh bayangan sandaran kursi yang lebih tinggi dari postur punggungnya tersebut.


"Klutzie, Putraku, apa kau membenci ayahmu sendiri setelah tahu aku adalah seorang pembunuh?" pertanyaan ini membuat Klutzie tersentak—terdiam untuk memikirkan jawabannya sejenak.


.


.


.


.


"Aku ... tidak mengerti jawaban apa hang harus kuberi, Ayahanda. Tetapi ... yang bisa kupastikan dalam diriku sendiri, Anda bukanlah pria yang mau melakukan itu tanpa alasan yang sangat-sangat kuat.


"Selain itu... aku masih bertanya-tanya, mengapa waktu Anda dan ibu tahu kalau aku dipilih menjadi Wadah Roh Yggdrasil, kalian sangat marah?


"Kupikir ... itu ada kaitannya dengan sejarah kalian bersama raja Barghest dan ratu Scarlet."


"Tidak, itu hanya melibatkan aku, ibumu, dan Barghest. Scarlet tidak tahu apapun tentangnya."


Klutzie mendongak. "Ma-maaf?"


"Ceritakan padaku dulu apa dugaanmu tentang Barghest dan rahasia Gala."


"A-aku pikir Ayahanda tidak ingin rahasia yang telah diungkap raja Barghest dan telah ditulisnya pada buku harian dibaca oleh generasi selanjutnya.


"Sementara itu, kak Suzy berpikir kalau robekan itu hanyalah keputusan raja Barghest karena kekuatannya yang bisa berbicara dengan hutan."


"Hmm. Sudah kuduga dari putri dan Putraku." Klutzie bisa melihat seringai di wajah Eizen. "Klutzie, kelak kau akan menjadi penguasa kerajaan ini. Masa depan rakyatmu ada di tanganmu. Bahkan sebelum kau menjadi raja, kau sudah melewati masa-masa dimana kau harus memutuskan sesuatu yang sangat berat, bukan?


"Kau memupuskan harga dirimu yang tinggi, belajar di bawah guru-guru Aurora, bahkan bisa menyelamatkanku karena hal tersebut.


"Itu semua tak ada bedanya dengan yang kami lakukan dahulu."


"Jadi...." Klutzie mulai menerka-nerka. "Apa itu berarti Anda dan raja Barghest memang memutuskan untuk merobek catatan itu?"


Eizen tersenyum. "Ikutlah denganku." Ia kemudian membawa dirinya dan Klutzie dengan sihir teleportasi. Mereka lalu muncul di lantai dimana Vanadust berada.


Sesuai cerita yang didengarnya melalui sudut pandang ibunya, Vanadust memanglah menyimpan banyak mana. Ia bisa merasakannya.


"Jauh di salah satu area di tengah-tengah sungai dan hutan di seberang sana...." Eizen menunjuk ke arah barat. "Dahulu terdapat kerajaan makmur tempatku berasal, Gala.

__ADS_1


"Kerajaan itu tidaklah seberingas Aurora dan Southern Flare yang mengutamakan status dan mana, kerajaanku benar-benar tenteram.


"Tidak ada diskriminasi, tidak ada permusuhan, semua rakyatnya hidup damai. Kautahu? Bahkan ras lain hidup di dalamnya. Slime, Half Elf, dan masih banyak lagi.


"Kami memiliki gunung yang menghidupi kami dengan kesejukan dan tanahnya yang subur. Sungai dan air terjun memberkati kami dengan air yang segar dan murni.


"Tidak ada sama sekali kekurangan dalam gaya hidup kerajaan Gala.


"Kami semua hidup ceria, saling membantu satu sama lain. Kami juga memiliki projek besar dimana semua rakyat ikut terlibat—menciptakan sebuah senjata."


"Senjata...?"


"Ya. Sebuah senjata yang diwariskan sejak ratusan tahun yang lalu oleh para leluhur kami.


"'Suatu hari, Akhir Dunia akan tiba. Tanah bergemuruh, langit terbelah, gunung mengamuk, laut menerjang.


"Di tengah-tengah langit, kelak akan terbuka sebuah gerbang. Gerbang tersebut menandakan waktunya sudah tiba.


"Kelak, akan ada Penyelamat kami. Namun, ia bukanlah makhluk yang penuh kuasa. Kami akan membantunya, sebagaimana kelak ia akan membantu kami.


"Bantulah ia, sebagaimana kita dibantu oleh alam.


"Kami menciptakan ini bukan untuk peperangan dan ini tidak berguna untuk hal semacam itu. Siapapun yang hendak berniat demikian, ia akan lenyap menjadi debu.


"Kita adalah kerajaan Gala. Jauhilah peperangan apapun yang terjadi.'


"Itulah warisan dari para leluhurku dan sesuatu yang terlambat disadari oleh Barghest."


"A-aku baru tahu hal itu!


"Kalau memang begitu, kenapa Gala bisa...?"


"Sejak hari dimana aku dan rakyatku terkunci di ruang yang diciptakan oleh Elf bernama Jewel, aku sudah tidak mampu lagi menggunakan mana dengan jumlah besar.


"Sehingga, ini sudah waktunya kau mengetahui dan mewariskan apa yang diwarisi kepadaku.


Kala itu, Klutzie dibuat bertanda tanya.


Siapa pria berhati lembut di depannya ini?


Kenapa saat ia kecil dulu, sosoknya yang begini tidak pernah dilihatnya? Kenapa pria ini tidak pernah hadir di sisi pujaan hatinya saat ia sakit?


"Izinkan aku mendengarkannya dulu, apakah itu boleh?" tanya Klutzie.


Eizen tersenyum. "Tentu saja. Lagi pula, ini bukan sesuatu yang harus ditentukan secara dadakan. Maafkan aku."


.


.


.


.


"Setelah malam dimana kami semua dipertemukan, keesokan harinya aku diinterogasi oleh mereka.


"'Kenapa kau mengincarku?


"Kenapa kau menjebak kami?


"Apa tujuanmu ke Southern Flare?'


"Banyak sekali.


"Yang jelas, setelah kujelaskan semuanya, kami paham kalau saat itu aku dalam pengaruh sihir L'arc. Hal yang membuat mereka semakin panik saat itu adalah mereka tidak mengetahui tujuan Barghest.

__ADS_1


"Scarlet dan Maaya hanya melihatnya melesat pergi bersama L'arc, sementara Ashley sibuk mengurusiku."


"Lalu, bagaimana cara kalian tahu kalau raja Barghest sedang menuju Gala?"


"Awalnya, Scarlet sudah menduga kuat ia akan ke sana, namun ia masih ragu dengan beberapa hal. Jika ia memang ke sana untuk menumpas Hollow, lalu mengapa ia pergi bersama L'arc?


"Banyak faktor yang membuat mereka terlambat untuk memutuskan, sampai akhirnya...."


......................


[Empat puluh dua tahun silam, di dalam istana kerajaan Southern Flare.]


"Sudah cukup!" bentak Scarlet sudah diambang batas emosinya. "Aku akan pergi mencari Barghest sendiri jika kalian tak bisa membantuku!" ia hendak melesat dengan sihir terbangnya.


"Tunggu!" jerit Maaya, "aku merasakan mana makhluk yang kalian incar itu ... berubah arah—tidak—berhenti!"


"Kaubisa mengetahuinya?" tanya Ashley.


"Aku tak bisa menjelaskannya dengan kata-kata, tetapi percayalah!"


"Lalu, apa kau juga bisa merasakan kehadiran Barghest seperti ia bisa merasakanmu?" tanya Scarlet.


"Tidak—maksudku—dia tidak ada di dekat makhluk itu. Ia berada di suatu tempat di barat."


"Barat?" Eizen bertanya. "Jangan-jangan... Gala?!"


"Tsk. Kenapa jadi begini?!" Scarlet kesal.


"Ayo bagi jadi dua tim," saran Ashley. "Scarlet, meskipun kau membencinya, hanya kau dan aku yang bisa mengalahkan Hollow itu, Maaya dan Eizen, pergilah ke Gala.


"Eizen tahu pasti letak Gala, sementara Maaya, kaulah yang bisa mengerti Barghest. Jika sesuatu terjadi padanya...."


Maaya mengangguk, sementara Scarlet mencengkeram kedua tangannya. Ia merasa tak berguna untuk tunangannya.


Tidak ada objeksi dari saran Ashley, maka bersiaplah keempat orang itu. Mereka kemudian pergi ke halaman istana. Sebelum berangkat, Maaya yang merasakan kegundahan Scarlet, segera memegang kedua tangannya.


"Tenang saja, Putri Scarlet. Tunanganmu—Barghest—pasti akan kembali padamu." Maaya berusaha menenangkan hati teman perempuan pertamanya.


Scarlet balas menggenggam tangan Maaya. "Dan kalau aku merasakan sedikit saja tanda kalau kau menyukainya," bisiknya dengan nada mengancam, "kau pasti akan menjadi musuhku."


"U-uhm... percayakan saja padaku...."


.


.


.


.


Meskipun tujuan keempat orang itu berbeda, arah berangkatnya tetaplah sama.


"Biarkan aku bertanya satu hal," ucap Eizen, "kalian tidak berniat menuju Gala dengan terbang, 'kan? Kalian pikir sejauh apa Southern Flare dengan Gala?!"


Ashley dan Scarlet menyeringai lebar. "Hah! Ternyata sihirmu pun tidak kuat, ya, Pangeran Cupu!" ejek Scarlet.


"A-apa...?! Kalian itulah yang tidak waras! Gala dan Southern Flare itu berjarak satu minggu! Meskipun melalui udara, tidak mungkin kalian tidak butuh istirahat!"


Maaya tiba-tiba memegang lembut bahu Eizen. "Untukmu yang sudah menyerah duluan, kuizinkan kau naik ke punggungku." Gadis berambut keemasan itu tersenyum lembut—yang malah membuat seorang lelaki tulen seperti Eizen semakin merasa direndahkan.


"Ha-hah???"


Tak lama kemudian cahaya emas menyelimuti Maaya dan menyilaukan mata tiga lainnya. Kemudian, gadis itu berubah menjadi burung raksasa dengan helai-helai sayapnya menyerupai api. Ia tetap berwarna keemasan.


"Bantu aku dengan menciptakan tameng di depanku. Kau akan menghambat udara saat aku terbang berkecepatan tinggi dan kita akan segera sampai. Tapi, buatlah tameng itu sekuat mungkin, jika tidak itu akan hancur karena tekanannya yang sangat kuat.

__ADS_1


"Sederhananya, kau akan melakukan slipstream untukku."


__ADS_2