
Beberapa jam sebelum Zeeta terbangun dari lelapnya, teman-teman sepantarannya, yaitu Danny, Gerda, Azure, dan Mellynda, tengah mengadakan pertemuan. Kali ini, karena kondisi yang memaksakan, mereka bertemu di dalam suatu kamar Labirin Cremlyn. Mellynda-lah yang menggagas ingin bertemu dengan Danny dan Gerda. Alasan ia melakukannya adalah si Klutzie dari kerajaan tetangga. Menilai seberapa penting kepolitikan masalah ini, dan menilai ini tak bisa dibungkam dari teman-teman Zeeta sejak di desa, ia harus menceritakannya. Yah, alasan utamanya karena ia adalah rivalnya, jadi dia tidak bisa tinggal diam begitu saja.
Mellynda pun sudah tahu dengan pasti kondisi ayahnya yang sudah disembuhkan Zeeta, ia juga sudah bertemu dengan rivalnya. Sebagai rival dan teman bangsawan pertamanya, ia tahu Zeeta sedang memiliki banyak hal yang dipikirkan.
.
.
.
.
"APA? INGIN BERTUNANGAN DENGAN ZEETA-KU?!" teriak Danny dan Gerda bersamaan.
"Hei, apa-apaan maksudmu kalau Zeeta adalah milikmu? Najis!" seru Gerda.
"Ka-kau juga, apa maksudmu?! Dia juga bukan milikmu! Lagian, aku ini Kakakmu, hormati aku, dasar tidak tahu diri!" balas Danny.
Azure segera menengahi mereka. "Hei hei hei, kalian berdua tenanglah dulu! Ini bukan masalah tentang siapa yang memiliki Zeeta! Kalian pasti tahu, jika dia tahu ada orang seperti dia masuk ke kerajaan ini, pasti akan membuatnya terbebani!
"Dia juga baru mengalami banyak hal dengan makhluk sihir! Sebagai temannya, kita harus menyemangati dia, dan memberitahunya tanpa harus membebaninya!"
Gerda dan Danny dalam sekejap tenang. "Kalau itu aku juga tahu," kata Danny, "tapi mengatakannya lebih mudah daripada melakukannya. Memangnya Kakak tahu bagaimana caranya?"
Azure menyeringai. "Kita akan menculik dia!"
"Eh?" ketiganya merasa tersambar petir.
"Kita akan mencekoki dia seberapa sok kuatnya anak itu dengan membuat dia menangis tentang seberapa peduli kita dengannya.
"Gerda, kaubisa memasak?"
Gerda mengangguk. "Aku dan Zeeta sering berlatih bersama."
"Makanan favoritnya yang akan membuatnya langsung terharu, apa?"
"Hmmm...." Gerda memegangi dagunya. Ia memikirkan banyak opsi.
"Berikan dia kue renjie yang pernah dibuatnya!" seru Danny.
Gerda menatap sipit kakaknya dan mendecitkan mulutnya. "Cih. Aku kesal denganmu, tapi kau ada benarnya...."
Azure menatap Mellynda lalu bertanya, "Melly, kau bantu Gerda dengan membuat kristal khusus di luar sana—seperti kita akan piknik. Bisa?"
"Huhuhum, demi rivalku, itu adalah masalah yang mudah. Serahkan saja padaku!" jawab Mellynda, yang tangan kanannya bertolak pinggang dan tangan kiri menunjuk diri dengan jempol.
"Danny, kauikut denganku untuk menculiknya. Aku butuh seseorang yang bisa memaksanya keluar dari kediaman Grand Duchess."
__ADS_1
"Siap!" Danny berhormat.
"Bawa ini." Azure memberikan sebuah sapu padanya. "Mana-mu berbeda denganku atau Zeeta. Aku sudah menyihir sapu itu dengan sihirku agar bisa terbang. Kau kuberi tugas penting, bawalah Zeeta dengan aman sampai kita mencapai tujuan."
"Siap!" balas Danny, yang kemudian mencerna kembali dengan baik kata-kata itu. "Itu artinya...?" Danny membayangkan Zeeta akan "bermesraan" dengannya di atas sapu terbang itu.
Gerda memandangi kakaknya dengan tatapan penuh kesal campur jijik dan iri. "Sialaaaaan...," katanya sambil menggigit jari.
Danny justru semakin memamerkan senyum bahagianya pada adiknya. "Inilah yang kusebut 'karma instan', Adik Kecil! Mwahahahaha!" Danny benar-benar senang dengan "tugas" ini.
......................
Lalu kini, Danny sedang dipandu oleh Azure dari depan menuju lokasi yang sudah ditentukan mereka. Ia memandangi Zeeta yang termenung dan masih terlihat bekas sembabnya.
"Apa yang terjadi dengannya...?" batin Danny, "kuingin menanyakannya, tapi... apa aku benar-benar bisa bantu mengurangi masalahnya? Sekarang Zeeta adalah Tuan Putri, sedangkan aku hanyalah rakyat jelata...."
Zeeta tiba-tiba berbicara sehingga sedikit mengejutkan Danny. "Kenapa?" tanyanya, "mau apa kalian?"
"Yah... eh... anu... itu...." Danny menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena tidak bisa menemukan alasan yang tepat.
"Kalau tidak penting, biarkan aku mengurusi masalahku sendiri. Ada banyak yang harus kulakukan. Aku harus menuntaskannya!"
Danny sempat terdiam sebelum menjawabnya. "Uhm. Kami tahu. Tapi, kami hanya rindu denganmu. Sudah dua bulan lebih kita tidak menghabiskan waktu bersama.
"Rasanya aku melanggar suatu peraturan kerajaan dengan menculikmu begini, tapi menurutku kaubutuh angin segar. Ini terdengar egois, tapi kau adalah bagian dari keluarga desa Lazuli.
"Ini semua tidak ada gunanya!" teriak Zeeta. "Kau mampu bilang begitu karena kau tidak tahu apa yang harus kualami!
"Apa kaubisa menjadi seseorang yang menanggung banyak nyawa? Satu kesalahan saja bisa menyebabkan nyawa orang melayang! Aku tak bisa membuang waktuku sia-sia seperti ini!"
Azure yang mendengar pekikan Zeeta itu mendadak berhenti, menghampiri Zeeta, lalu menamparnya.
"Berani sekali kau mengucapkannya, ya, Zee," kata Azure, "baiklah. Kau akan menceritakan semua yang terjadi denganmu pada kami. Kita sudah sampai."
Azure turun diekori oleh Danny dan Zeeta yang memegangi pipinya.
......................
Zeeta dikejutkan dengan kristal-kristal berwarna merah muda yang sudah disusun sedemikian rupa dan senyaman mungkin untuk jadi sebuah set piknik. Kursi panjang, meja, piring, teko dan cangkir, semua itu adalah buatan tangan dan imajinasi dari Mellynda.
Gerda sendiri telah menghidangkan berbagai macam makanan, seperti kue renjie yang renyah, manis, serta sensasinya dingin ketika dikunyah, berbagai macam kue kering lainnya, beberapa lapis sandwich baik yang hanya sayur atau ditambah dengan keju dan daging. Ia juga tidak lupa menghidangkan teh dingin yang akan melegakan dahaga setiap mulut yang lelah dengan kue atau sandwich-nya. Benar-benar persiapan yang mantap untuk dua orang anak kecil.
Gerda dan Mellynda yang melihat tamunya akan segera mendaratpun melambaikan tangannya. Tetapi mereka segera tersadar, bahwa tatapan Zeeta tidak biasa dan terdapat bekas memerah di pipinya. Lantas, mereka menghentikan lambaian itu dan menerka-nerka apa yang sudah terjadi padanya.
Ketika Azure, Danny, dan Zeeta sudah mendarat, hal yang pertama kali dilakukan Azure adalah merangkul kepala Zeeta. Lalu, ia berkata, "Aku tahu aku cukup kasar padamu, tapi inilah yang ingin kami lakukan padamu. Aku tak ingin kauanggap semua ini adalah hal yang sia-sia.
"Sekarang, kutanyakan ini padamu, Zee. Apa kau menganggap kami berarti untukmu?"
__ADS_1
Zeeta termenung. Ia melihat ke bawah lalu menjawabnya dengan pelan. "Tentu saja.... Tidak mungkin kalian tidak berarti."
Kemudian Azure meremas pipi Zeeta untuk memaksanya menatap matanya. "Kalau begitu jangan pernah bilang hal seperti itu lagi! Bersyukurlah karena mereka masih ada bersamamu, yang nasibnya jauh lebih baik daripada keluargaku di desa Lapis!
"Aku sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini. Orang tuaku, keluargaku, bahkan desaku sudah hancur karena Rowing! Aku tidak ingin menyaksikan orang yang sudah kuanggap sebagai adik sendiri, menjadi bangsawan yang tidak bisa menghargai teman-temannya!
"Kau itu memiliki kami! Harus kukatakan berapa kali agar kau mengerti, kalau kau tidak usah sok kuat begitu?!
"Anggaplah kami ada dengan cerita pada kami. Kami selalu khawatir denganmu setiap kali ada masalah yang menghampiri Aurora. Kau selalu berdiri yang terdepan, tapi kau merasa kau harus menanggung itu semua karena masalah itu adalah masalahmu?!
"Jangan bercanda! Apa kau ini bodoh?!"
Zeeta tersentak dan menitikkan air mata.
"Kau itu keras kepala, egois, dan tidak pernah mendengarkan apa kataku bahkan untuk sekalipun!
"Pikirkanlah aku ... pikirkanlah kami yang sudah terikat denganmu! Bergantunglah pada kami seperti kau bergantung pada makhluk-makhluk sihir itu.
"Atau kau... justru memilih kami meninggalkanmu karena kau tak pernah berbalik pada kami?"
Gerda, Danny, dan Mellynda menatap iba pada Azure. Memang benar, hanya dirinya seorang yang tersisa dari desa Lapis.
"TIDAK! Aku sangat tidak ingin itu!" Zeeta segera mendekap Azure dengan sangat-sangat erat. "Aku tidak ingin kalian pergi! Aku ingin menghabiskan banyak waktu dengan kalian! Sebenarnya aku ingin bermain bersama kalian daripada jadi Tuan Putri!
"Tapi... tapi.... Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.... Banyak sekali masalah yang harus kuselesaikan. Aku takut jika aku gagal... karena itulah aku—"
Azure mendekap Zeeta. "Kalau begitu, bergantunglah pada kami. Kami memang tidak sebanding denganmu, tapi kami pasti bisa membantumu. Lihatlah sekitarmu.
"Kaupunya Melly yang mengaku-ngaku sebagai rivalmu—"
"Hei! Aku memang rivalnya, tidak sopan sekali!" tukas Mellynda.
Azure melanjutkan bicaranya. "Melly juga seorang bangsawan utama dan dia cukup tahu tentangmu. Jika kau tidak bisa mengandalkan kami, kaubisa mengandalkannya, bukan? Misalnya untuk masalah kerajaan.
"Kaupun memiliki Danny dan Gerda yang sudah hadir sejak kalian di desa Lazuli. Kupikir mereka rela membantumu apa saja selama mereka mampu, benar, 'kan?"
"Tentu saja!" jawab Gerda memamerkan senyum lima jarinya.
"Kupikir... aku akan berlatih lebih giat dengan paman Arthur, supaya aku bisa meraih tanganmu dan lebih berguna untukmu, Zee—tidak, Tuan Putri!" balas Danny yang berapi-api.
"Ya, kau juga memiliki ayahmu, Arthur. Kau memiliki banyak orang yang bisa mendorongmu dari belakang. Manusia itu tidak bisa hidup sendirian, oleh karena itu kita saling membantu, saling peduli, dan saling mengasihi."
Zeeta mengingat ucapan Azure sama dengan ucapan Velvet beberapa saat yang lalu. Lantas, ia tersenyum. "Aku memang harus lebih bersyukur lagi...," batin Zeeta, "terima kasih, kak Velvet, Kak Azure.... Aku menyayangi kalian."
Ia melepas dekapan pada Azure lalu dengan senyum yang terlukis di bibirnya, ia berkata, "Aku selalu berpikir kalau takdirku malang karena aku diramalkan akan mengakhiri dunia. Tapi, karena kalian ada bersamaku, kupikir aku bisa mengubah diriku menjadi lebih baik dan melangkah ke depan bersama kalian.
"Ini akan jadi petualangan yang tidak pernah kalian rasakan sebelumnya, jadi mohon bantuannya!"
__ADS_1