Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Ketragisan yang Harus Diakhiri


__ADS_3

“Apa yang harus kulakukan…?” batin Julia ditengah kepanikan rakyat pada tingkah Pria yang membawa Velvet dan Elhart sebagai sandera. Sementara itu, Roze yang bukan lagi seorang Ratu—yang masih ada di belakangnya—menatapnya dalam-dalam. Ia juga bertanya-tanya, apa gerangan yang akan dilakukan Si Ratu Baru ini.


Di sana, Roze dapat melihat bagaimana peluhnya menetes dari pelipis Julia, disaat ia memikirkan dalam-dalam apa yang harus dilakukannya. Ketika itulah, ayahnya—Gerald—datang dari salah satu ruangan istana, menghampiri Roze. Mantan Raja itu kemudian bertanya, “Kauyakin tidak ingin membantunya? Tidakkah ini terlalu berat baginya disaat ia baru saja menjadi Ratu?”


“Jangan tunjukkan sikap lembut pada anakmu disaat seperti ini, Sayang," balas Roze, “Julia sudah bersumpah pada bulan bahwa dia akan menjadi Ratu yang tegas. Tentu saja, 'tegas' memiliki banyak arti. Seperti apa tegas di dalam bukunya—seperti itulah wajah Aurora nanti. Baik atau buruknya wajah itu, adalah bagian dari kehidupan masa depan.


“Aku tidak pernah tertarik untuk mencampuri banyak urusan tentang masa depan, apalagi pada keturunanku yang masih ada jauh di depan.


"Bila Aurora hancur, biarlah hancur—karena pada dasarnya—cepat atau lambat—sebuah kerajaan, baik itu kuat, lemah, cantik, indah, kaya ataupun miskin—semuanya akan hancur.”


Gerald menatap diam Roze. Ia tahu, mengerti, dan setuju dengan ucapannya.


“Tetapi ... untuk pertama kalinya, kakak-kakakku tidak sepemikiran denganku. Masa depan ... generasi muda ... keturunan kami yang telah diramalkan itu, sangat ingin dihentikan oleh mereka.


“Aku tidak masalah untuk itu, namun bayaran dari melakukan itu semua tidaklah kecil. Bisakah kau melihatnya sejak sekarang, Sayang, bila keluarga ini perlahan-lahan akan gugur?”


Gerald melirik Roze, lalu Julia, kembali lagi pada Roze. Ia lalu menyeringai. “Kebiasaan burukmu. Berpikiran negatif.”


Alis Roze berkedut mendengarnya.


“Tentu saja, pemikiran panjang dan luasmu sering mengalahkan pikiran negatif itu, karena itulah saat ini, kau membiarkan Julia memakai apa yang dia temukan di ruang bawah tanah.


“Kautahu keluarga ini akan berada diujung tanduk, tetapi kau pun melihat adanya kemungkinan untuk membalikkan itu semua.


“Jangan remehkan aku, dong, Roze. Begini-begini, aku membuat Roze sang Mawar Es bisa merona merah dan berdegup kencang.”


“….”


Tak ada respon dari Roze untuk sesaat. Suami tercintanya itu sadar bahwa ia mengalihkan pandangan. Gerald lantas tersenyum.


“Dasar bodoh! Ingatlah usia dan ingatlah situasinya!”


“Usia? Hahaha. Sampai mati pun aku mencintaimu, Roze.” Gerald masih bisa melihat dengan jelas jika rona merah pipi Roze menyebar hingga telinga.


Roze kemudian berdiri, lalu mengibas jubah ratunya. “Janganlah terlalu lama berpikir, Julia! Bila kautahu apa yang harus kaulakukan, entah seperti apa risikonya, lakukanlah bila itu demi kebaikan kerajaan!” serunya, memecahkan suasana.


Julia menggertakkan giginya. “Aku tahu dan aku akan melakukannya sekarang!” jerit Julia. “*Aku masih tidak tahu siapa pria misterius itu....


"Tetapi yang pasti, dia memanglah penipu. Semua rakyat telah kami beri surat pemberitahuan mengenai proses penobatan ini, jadi bila ada satu pun orang


yang tidak setuju saat proses penobatannya berlangsung*....


“Seperti yang tertulis pada surat....


“Maafkan aku, Mary. Keputusan yang kuambil pasti akan membuatmu benci padaku, tetapi ini demi kerajaan...!”


......................


“Julia ... aku.... Aku....


 “Eh...?


“Siapa aku...?

__ADS_1


“Kenapa aku tahu siapa nama wanita itu...?”


Potongan-potongan ingatan mendadak “menyerang” kepala si pemilik suara—Marianna. Dimulai dari saat ia masih kecil, memiliki kenangan bersama orang tua dan saudara-saudari sepupunya, serta bersama neneknya, hingga saat-saat berdarah dimana ia telah mengotori tangannya.


“Ini adalah salah satu kekuatan dari Rune yang kutuliskan padamu”


“Siapa kau?! Apa yang kauinginkan dariku?!


“Tunjukkanlah wujudmu!”


“Belum saatnya, Mary... belum saatnya.”


Marianna kembali melihat Julia, yang kini tengah duduk di kursi takhta, yang berhadapan dengan Audrey, dimalam hari. Audrey tampak gagah dengan rambut pirang keemasan kuncir satu dan pakaian berzirah-jubahnya.


“Sudah lima hari sejak penobatanmu,” ujar Audrey, “setidaknya untuk saat ini kerajaan sudah tenang.”


“Ya,” balas Julia, “tapi masih terlalu dini bagi kita untuk tenang. Sebelumnya, kuucapkan terima kasih padamu karena sudah berhasil menyelamatkan bibi Velvet dan paman Elhart. Kinerjamu sebagai Jenderal patut disanjung.”


“Hentikanlah. Kita ini sepupu. Tak perlu formal kalau hanya kita berdua.


“Lalu, apa yang ingin kaubicarakan? Tentu saja ini hal yang berkaitan dengan Mary, bukan?”


“Ya. Ada beberapa hal yang kuingat dan sadari dalam kejadian ini.


“Mary adalah sepupu kita yang paling polos, baik hati, dan mulia diantara kita semua. Kecuali dia, kita sudah sering melakukan kebohongan demi nama dan harga diri sebagai keluarga kerajaan.


“Sulit bagiku untuk percaya pada pria misterius itu, bahwa Marianna ingin melakukan hal buruk pada kerajaan ini. Karena itulah, aku jadi ingat ... apa yang pernah dikatakannya saat nenek Clarissa memberitahu kita tentang keturunan kita di masa depan itu.”


“Oh... soal itu... Bahwa dia ingin membantu kerajaan dari balik layar?”


“Lalu?”


Julia mengernyitkan mata. “Setelah pertemuan itu, sejujurnya aku melihat Mary ke desa Lazuli.”


“A-apa?! Mau apa dia ke sana?!”


Julia melihat ke kanan dan kiri, lalu membuat sebuah medan penghalang. Audrey dibuat bertanya-tanya. “Medan penghalang? Untuk apa?”


“Peri.”


Audrey langsung berwajah serius begitu mendengarnya.


“Terlalu banyak keamisan tentang mereka. Aku pernah beberapa kali ke ruang bawah tanah dan menemukan banyaknya catatan kerajaan yang tidak begitu bersahabat dengan mereka.


“Tetapi pengetahuanku soal catatan itu terlalu terlambat. Ini hanya dugaanku, tetapi mungkin di malam aku melihat Mary menuju desa Lazuli adalah demi bertemu Peri dari Hutan Peri.


“Ada pula keganjalan mengenai nenek yang langsung bisa menggunakan sihir, tetapi rakyat dan bangsawan di sini tidak—padahal catatan itu....


"Tidak. Bahas soal itu nanti saja. Intinya, yang ingin kukatakan....


“Peri adalah tersangka utama kita. Entah apa yang dibicarakan, dijanjikan, atau apapun pada Mary dan Peri, lakukanlah apa yang akan kukatakan.”


Saat itulah, Marianna mengetahui rencana mereka—yang ingin memancing Peri untuk menunjukkan jati diri dan sifat asli mereka—dengan mempertaruhkan nyawa Marianna—setelah mendapatkan persetujuan Velvet, tanpa memberitahu Elhart, mengingat dirinya membenci ayahnya sendiri.

__ADS_1


Rencana itu benar-benar sudah dipikirkan matang-matang, bagaimana jalur evakuasi rakyat nanti, bagaimana mereka akan mengawal-menyelamatkan Marianna, dan bagaimana mereka akan mengatasi Peri. Tetapi satu hal saja yang terlewat dari rencana mereka, bahwa mereka sama sekali tidak mengetahui jika Marianna telah memiliki anak. Dan karena keangkuhan Manusia, rencana matang itu basi begitu saja.


......................


"Camkan kata-kataku ini untuk kalian, Feline, Morgan! Aku tahu kalian menyaksikan ini dari sana! Ketika aku kembali, aku pasti akan membinasakan semua Peri yang ada di sana! Aku bukanlah lagi orang yang bisa diam saja!"


“Oh dunia! Berikanlah aku kekuatan untuk membalas semua kekejaman ini!


“Aku, Marianna, bersumpah demi jiwaku dan jiwa-jiwa anakku yang telah tiada, untuk membunuh mereka yang telah mengatur semua ini!"


“PASTI!!”


Saat itu, adalah saat-saat dimana Marianna tersegel oleh kekuatan Iris, Velvet, Roze, dan Elhart. Tanpa diketahuinya, kekuatan jahatnya yang baru bangkit, menyisakan sisa-sisa aura merah kehitaman, yang langsung mengambil nyawa orang-orang yang terjalin hubungan keluarga dengannya.


Adik Julia, Gilbert, dan seorang Alexandrita, Dasz. Selain kedua bangsawan itu, rakyat juga tak sedikit yang jadi korban keganasan aura itu.


“Air mata yang kautumpahkan adalah kesedihan dan amarah dengan kelemahanmu sebagai Aurora.


“Seseorang memberitahuku tentang itu.


“’Kenapa aku tidak bisa melindungi mereka?’


“’Kenapa aku tidak bisa mencintai mereka?’


“’Dan kenapa aku ... harus mengalami ini?’


“Siapapun Aurora-nya, pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul, meski tidak selalu sama.


“Mary.


“Aku akan memberimu sebuah 'boost' untuk meluapkan segala yang telah kaupendam menjadi kekuatan dengan Rune-ku. Dengan begitu, kau tidak lagi memiliki penyesalan dan bisa terbebas.


“Akhirilah ini, Mary. Kebencianmu yang sudah berlangsung selama dua ratus tahun itu tidak perlu lagi kaudekap.


“Kerahkanlah semuanya padaku!”


.


.


.


.


‘FWWWUUUMM!!’


Gempa dan kelap merah menyilaukan dunia. Keheningan datang menyusul, membuat orang-orang dilanda kecemasan. Tidak lama setelah itu, langit menunjukkan keretakan. Orang-orang fokus padanya dan retak itu semakin melebar dan muncullah....


Sebuah laser yang di ujungnya terdapat seseorang. Laser itu terus memanjang hingga menghancurkan gunung—melubanginya bak sebuah setengah cincin.


Identitas dari penembak laser itu akhirnya muncul dari langit yang retak.


Monster.

__ADS_1


Hanya itulah yang bisa ditangkap orang-orang yang melihatnya....


__ADS_2