Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Kekalahannya


__ADS_3

Kencangnya arus yang jatuh dari air terjun membuat suara layaknya dentuman bertubi-tubi. Di sekitar sungai yang mengalir arus dari air terjun, terdapat bermacam pepohonan seperti kelapa dan pohon buah lainnya. Tidak seperti hutan, tapi cukup asri. Di sekitar pepohonannya, tersembunyi rumah-rumah kecil yang dibuat dari kayu. Penduduknya pun unik, macam kupu-kupu bersinar, kupu-kupu yang menjatuhkan butiran warna, serta hewan-hewan yang menyerupai aslinya, tetapi sedikit "berevolusi" karena sihir. Seperti kucing berekor dua, kuda berekor dan berambut api, dan masih banyak lagi.


Jauh di seberang pemukiman air, terdapat pemukiman yang terbuat di dalam tebing. Dengan konsep rumah koloni semut, terdapat berbagai macam makhluk yang tinggal di sini. Seperti Minotaur, Salamander, Slime, dan beberapa Dwarf.


Para Minotaur bisa berjalan empat atau dua kaki. Mereka bisa mengubah kuku kaki depan mereka menjadi kepalan tangan sesuka hati. Sedangkan Salamander, ada banyak jenis—elemennya. Api, air, angin, dan kegelapan. Tak tampak Salamander berelemen cahaya. Mereka hidup berkelompok tanpa membedakan "ras" mereka. Salamander berbeda dengan Naga, yaitu mereka lebih kecil dan lebih lemah, meskipun mereka satu keluarga.


Sementara untuk Slime, mereka tersebar di berbagai tempat karena jumlah mereka cukup banyak.


"Bagaimana bisa...?" tanya Zeeta. Ia masih dibuat tak percaya. "Apa yang sebenarnya...."


"Yang Mulia," ujar Myra, "Salamander, Minotaur, dan Slime, adalah entitas yang hidup sejak Yggdrasil masih hadir."


"Eh?" Zeeta merasa tidak pernah menceritakan apapun tentang Yggdrasil pada rakyatnya. "Kenapa Myra bisa...?"


"Fufufu...." Myra hanya mengalihkannya dengan tawa.


"Kalian sudah membawanya, ya?" pria tua berambut merah dan berponi perak panjang melebihi dagu datang dari arah air terjun. Ia sempat datang di Vivid Party dan menjadi tamu Zeeta. "Kerja bagus," sambungnya. Pria tersebut langsung menatap tajam Zeeta sampai membuatnya tiba-tiba terpental.


"Kau!! Apa yang kaulakukan?!" jerit Ashley, kemudian berlari menghampiri Zeeta yang terseret di tanah.


"Jangan ikut campur, ini adalah urusan kami dengannya," balas pria itu. "Jika tidak, kau akan mati, lho."


Axel dan Myra tak lagi tampak di sana. Ashley yang menganggap ini sudah jadi bagian rencana orang-orang itu, segera membuka Buku Sihir-nya.


"Bangunlah, Nak. Aku tahu kau takkan kalah hanya dengan lecet itu!"


Zeetapun segera meresponnya. Dengan tertatih ia berusaha bangun. "Zee, kau baik saja?" tanya Ashley.


"Tidak mungkin, lah." Zeeta memberi sihir penyembuh di luka sekitar keningnya akibat seretan tanah.


"Kau memang sudah dipilih oleh Roh yang Agung dan telah berhasil mengalahkan Hollow... tapi dengan kemampuanmu saat ini, mengancam Ratu Peri saja kau takkan mampu, sematang apapun rencana yang sudah kaubuat."


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Zeeta.


"Kalahkan aku dan jawabannya milikmu. Tetapi jika kau kalah, pergilah dari sini."


Zeeta mengatur napasnya dalam-dalam. "Entah kenapa selama ini aku bisa membedakan mana milik orang jahat atau yang baik. Mungkin itu karena kekuatan dari mana alam yang membantuku. Sejak pertama aku dan Luna melihatmu di Vivid Party, aku merasa aku harus benar-benar waspada denganmu....


"Guru ... menjauhlah dari sini. Aku ... akan serius!"

__ADS_1


"Baiklah, tapi... berhati-hatilah!"


"Uhm!" Zeeta mengangguk.


Kemudian Ashley menjauh ke arah pepohonan.


Pria tua itu tersenyum dengan jawaban Zeeta. "Tekad yang bagus, tapi apakah itu cukup?" gumamnya.


"Selama ayah mengajariku di desa Lazuli, ini adalah satu-satunya sihir serangan terkuat yang ayah miliki, yang mewajibkannya menggunakan berbagai jenis sihir secara bergiliran dalam waktu yang berdekatan.... Kuharap, diriku yang sekarang bisa melakukannya!"


......................


Zeeta berkuda-kuda, kemudian ia membuka telapak tangan kanannya untuk mengumpulkan butiran mana warna-warni menjadi bola air yang kemudian berubah menjadi bentuk pedang. Ia kemudian berlari dan melemparkan pedang air itu ke lawannya. Namun, ia tidak bergerak sama sekali, seolah ia menganggap apa yang akan dilakukan Zeeta takkan mempan untuknya.


Tetapi, ia meremehkannya. Pedang air itu meng-klon-kan diri menjadi lima bilah dan menancap di bagian vitalnya seperti kepala, bahu, perut, dan paha. Tidak ada darah yang keluar tetapi ia berhasil di-stun olehnya.


"Cih, trik murahan! Hanya begini sa—"


"Kena kau!"


Ketika Si Pria Tua bergerak, pedang-pedang air itu memerangkapnya dalam bentuk gelembung. Zeeta yang masih berlari, menggunakan tangan kirinya untuk memakai sihir lagi. Kini, ia membuat kilatan petir lalu menujahnya ke gelembung air itu. Seketika, terjadi ledakan yang menimbulkan asap putih. Zeeta segera menjauh beberapa langkah lalu bersiap dengan serangan selanjutnya dari kedua tangannya, yang terkumpulkan kilauan cahaya hijau. Ia merasa mana dari pria tua itu belum melemah, jadi ia segera melancarkan serangannya.


'BWAMM!'


Zeeta terhempas dari arah asalnya hingga menyangkut di tebing di belakangnya. Hempasan itu membuat sebagian asap putih tertiup dan menunjukkan tangan kiri pria itu menjadi jauh lebih besar dan bercahaya kuning keemasan yang dilapisi petir.


"Zeeta!" pekik Ashley. Ia tetap memantau Zeeta dari kejauhan.


"Pakailah Catastrophe Seal itu. Jika kau memang sudah dipilih Roh yang Agung, menggunakannya yang kedua kali tidaklah sesulit yang pertama kali. Aku akan menunggumu merapal jadi cepatlah bangun!" teriak Si Pria Tua.


"Selalu ... selalu selalu selalu saja begini!" Zeeta melepas tubuhnya dari tebing dengan mementalkan tubuhnya dengan sihir angin meski mendaratnya tidak sempurna. "Jangan remehkan aku!" anting bulannya yang berbentuk cembung, bersinar biru dan aura birunya ikut muncul. Ia mendorong tangan kiri dimana Catastrophe Seal dipakai.


"Dengarlah aku, wahai penguasa kehidupan mistik. Patuhilah aku sebagai tuanmu yang akan memusnahkan bencana di depanku. Segel ... dilepas!"


Cincin dari jari tengah kirinya berubah menjadi sabit emas. Dari sabit tersebut, berjatuhan pula butiran mana emas. Zeeta memutar sabit itu ke belakang, mata pisau di bawah dan tongkatnya di atas.


Zeeta berkuda-kuda untuk melayangkan sayatan pada lawannya saat ini. "Dunia ini adalah dunia yang diciptakan untuk kedamaian. Dunia ini bukanlah dunia yang pantas untuk engkau tinggali. Oh, wahai makhluk yang tersesat, kembalilah menuju kehampaan!"


'ZRAAAANG!'

__ADS_1


Sebuah sayatan garis di bawah tampak.


"Catastrophe!" kemudian sayatan seperti garis miring dilancarkan.


"Seaaaal!!" lalu terakhir, sebuah sayatan di atas muncul layaknya huruf "Z", kemudian menyerang pria tua itu.


Sayatan berbentuk "Z" itu menyilaukan seluruh mata yang menyaksikan dengan cahaya emasnya.


'ZDARRTT!'


Sebuah ledakan berbentuk bola emas terlihat jelas. Zeeta tiba-tiba terjatuh ke tanah sambil tetap memegang sabitnya. Ia terengah hebat.


"Hanya segini, kah, Zeeta?!"


Zeeta sangat terkejut mendengarnya. "Apa...?"


"Apakah ini seluruh kekuatanmu?! Jika saja kau tidak dibantu dengan mana alam, Hollow takkan bisa kauhancurkan! Kau beruntung!"


"Ke-kenapa?! A... aku sudah pakai seluruh kekuatanku!" seru Zeeta. Zeeta bergemetar ketika Catastrophe Seal saja tak bisa mengalahkan sosok yang ia waspadai di Vivid Party. Ia jadi semakin bergemetar ketika Si Pria Tua itu mendekatinya dengan tubuh yang benar-benar beda dari sebelumnya.


Ekor menjulur ke tanah, tangan kanan yang juga ikut berubah besar seperti tangan kirinya. Tubuhnya juga dikelilingi oleh semacam aura kilat petir.


"Kau adalah pemimpin untuk rakyatmu, kau adalah sosok yang diharapkan oleh rakyatmu. Merasa takut mengkhianati rasa percaya itu adalah wajar, tapi....


"Apa yang bisa kaulindungi jika kau lemah begini, hah?!


"Dengan percaya dirinya kauyakin kau akan mampu menghalau Ratu Peri jika dia menyerang....


"Naif!


"Ingatlah bahwa dia juga merupakan makhluk yang ada sejak Yggdrasil masih ada!


"Apa kau benar-benar yakin rencanamu dengan benda mati itu bisa terwujud?


"Tidak! Tidak akan!"


Zeeta mulai menangis. Suara menggelegar dari pria itu membuatnya takut, ditambah petir dari tubuhnya yang terus mencungkil tanah yang disentuhnya.


"Kau kalah. Pergilah dari sini." Pria itu mengembalikan tiga bagian tubuhnya yang berubah seperti sedia kala. "Nikmatilah rasa putus asamu di luar sana."

__ADS_1


__ADS_2