
Tanah bergemuruh, langit gelap pun mendatangkan guntur. Burung-burung berterbangan ketakutan, menjauhi kerajaan. Rakyat mendadak panik, Elhart, Audrey dan Julia terbelalak melihat gerak-gerik Marianna.
"JULIAA! AUDREEYY! TAKKAN KUMAAFKAN KALIAN! Aku pasti akan membalaskan dendam ini! Aku akan mengubah dunia yang sudah rusak ini dengan tanganku sendiri!” pandangan itu perlahan meredup oleh sesuatu yang menutupi.
Sementara itu, di salah satu sudut kursi rakyat yang menonton, terdapat Velvet Aurora XI—ibu dari Marianna, yang duduk diantara keluarga kerajaan lain beserta Alexandrita di area VIP, seperti Iris, Roze, para suami mereka, tak melupakan Pangeran Gilbert dan Erina. Velvet yang tak kuasa menahan tangisnya pun ikut terbelalak dengan mana jahat yang memusat pada anak sematawayangnya. Mana yang terpusat itulah yang membuat langit dan tanah meraungkan suara menakutkannya.
“A-ada apa dengan Mary?!” tanya sejumlah rakyat yang panik.
“Aliran mana-nya terasa aneh!”
“Lihat pula aura hitam keunguan itu! Apa yang sebenarnya terjadi?!”
“Mary putriku .... Maafkan ibumu yang tak bisa melakukan apapun untukmu.... Seharusnya ketika itu ibu menghentikan ayahmu berbicara seperti itu....
“Ibu tahu, meskipun kamu tidak pernah ingin terlibat dengan kami keluarga kerajaan, kamu masih mengkhawatirkan kami. Kamu pun memiliki kehidupan yang menyenangkan di luar sana....
“Namun, meskipun hidupmu menyenangkan, itu tidak mengubah fakta bahwa ibu tidak mampu melakukan apapun sebagai ibumu!
“Aku tidak tahu apa yang telah kaulihat setelah momen dakwaanmu itu, tapi aku takkan membiarkanmu melakukan hal yang bodoh!”
“MARY!” jerit Velvet yang mengejutkan orang-orang VIP. Ia kemudian melompat lambung menghampiri Marianna.
“Erina, Gilbert, segera ungsikan rakyat!” seru Iris memerintah, yang langsung disambut anggukan oleh keduanya dan melaksanakannya. “Roze, apa kau memikirkan apa yang kaupikirkan?”
“Tentu saja. Kapan kita bertiga tidak satu pemikiran?” tanya Roze.
“Kalau begitu cepatlah.”
“Tidak ada gunanya. Kau pun rasakan sendiri mana ini. Ini adalah mana yang dia miliki selama ini dan tak pernah ia gunakan.”
“Heh.” Iris menyeringai. “Waktu yang tak terbatas, katanya? Sombong sekali. Gadismu terlalu meremehkan Marianna.”
“Begitupun dengan gadismu.” Roze juga ikut menyeringai.
......................
“Mary, apa yang terjadi? Apa yang telah kamu lihat?!” tanya Velvet yang sampai ke hadapan Marianna.
“Velvet, apa yang kaulakukan?!” tanya Elhart, “menjauhlah darinya segera!”
“Bibi Velvet!” seru Julia dan Audrey menghampiri.
“AKU MELIHATNYA!” urat mata yang tampak dari Marianna seketika mengubah kesannya yang polos, selalu ingin tahu, serta baik hati, menjadi seseorang yang begitu menakutkan—yang telah dikotori oleh sebuah pengkhianatan. “Aku melihat orang suruhan Audrey membunuh anak-anakku!”
“A-apa?!” semua yang ada di sana kaget. Mereka berpeluh.
“Jika begitu, sudah pasti Julia yang memberinya perintah! Berani-beraninya kalian mengkhianatiku semudah ini!
“Audrey! Apa ucapanmu yang hanya berkisar beberapa jam lalu hanyalah sebuah kebohongan?! Apa itu hanyalah sebuah trik untuk bisa memisahkanku dengan anak-anakku?!"
......................
Marianna sedang berada dalam salah satu dari empat tower istana yang akan menuntun mereka ke tempat eksekusi. Di sana, ia sedang berbicara dengan Audrey perihal anak-anaknya dalam kondisi terborgol rantai.
"Kautahu...? Mimpiku selalulah sama. Tidak pernah berubah sejak saat itu.
"Aku ingin bisa membantu kalian dengan pengetahuan yang kumiliki, hingga suatu saat di masa depan nanti, dunia tidak dihancurkan oleh keturunan kita sendiri, seperti yang dikatakan nenek Clarissa.
"Tetapi, walaupun aku akan berakhir mati, setidaknya aku masih bisa memenuhi keinginan lama ini. Anak-anakku kelak akan menjadi teman dan kekuatan untuk kerajaan. Bahkan jika nantinya mereka tak mampu, kuharap mereka bisa berteman dengan Manusia, tanpa adanya diskriminasi.
"Audrey ... bisakah kau berjanji untuk melindungi anak-anakku dibawah nama Alexandrita? Kuyakin dengan cara itu, rakyat tidak berani memandang mereka sebelah mata."
Audrey menatap luluh sepupunya ini. Ia kemudian tersenyum. "Ya. Akan langsung kujemput mereka dan akan kuperlakukan layaknya anakku sendiri!"
......................
“Aku takkan memaafkanmu!” pelototan mata yang diberikan Marianna pada Audrey menandakan tak ada sedikitpun niat baginya untuk tak melaksanakan ucapannya. Semuanya paham ketika melihatnya.
“Selama bertahun-tahun ini yang kulakukan adalah demi kalian! Meskipun aku sudah diusir oleh keluargaku sendiri, meskipun aku tidak pernah ditolong oleh saudara-saudariku, aku tetap melakukan semuanya untuk masa depan kalian!
“KENAPA KALIAN TIDAK PERNAH MENGERTI?!
“Pria sialan yang tidak pernah mau berbicara denganku, seenaknya menilaiku, seenaknya menjatuhkan hukuman....
“Aku sangat membencimu, dari dalam lubuk hatiku!
“Jika kalian berdua senada dengan pria itu….”
__ADS_1
‘DDUAARR!’
Petir menyambar tanah.
“MARY!” Velvet menampar putrinya dengan kedua tangan—memaksanya bertukar pandangan. “Lihatlah aku! Lihatlah baik-baik siapa aku, Mary!”
“I-Ibu...?”
“Ibu tahu apa yang kamu lakukan selama ini! Ibu pun tahu siapa anak-anakmu dan sebutanmu untuk mereka!
“Mereka adalah Elf!
“Mereka adalah Lucy, Jewel, dan Hugo!
“Tidakkah kausadar selama ini Ibu berada di dekatmu?!”
Marianna sempat tenang sejenak, tetapi….
“Sudah terlambat, Ibu... sudah sangat terlambat.
“Ketiga orang di belakangmu adalah pengkhianat, pelaku kejahatan yang hanya memikirkan ego mereka sendiri!”
“Bukan!
“Mereka bukanlah orang yang harus disalahkan!
“Mary, Ibu selalu ada di dekatmu, mengawasi pertumbuhanmu, serta mengawasi aktivitasmu bersama anak-anakmu. Kamu dan aku sangat mirip, kita selalu ingin tahu!
“Sebelum semuanya berakhir, dengarkanlah Ibu. Apa yang terjadi sekarang pada kita saat ini, mereka yang berada di Hutan Peri sedang tertawa menikmatinya!
“Tidak ada satupun Peri di sini, padahal kautahu perjanjian mereka dengan nenekmu, bukan?”
Apa yang diucapkan Velvet dengan harapan mengganti sasaran, justru membalik. Mana Marianna menjadi semakin membesar, membuat Velvet terpental. Marianna mengingat ketika ia pertama kali bertemu seekor Peri ... yaitu Feline. Darah seketika mengganti tangisnya. “AAAAAAAAAHHHH!”
Jeritan yang dipenuhi perasaan sengsara, penyesalan, amarah, sedih, terdengar begitu lantang. Jeritan itu berhasil menghancurkan tanah, borgol rantai, dan bangunan eksekusi yang ada di dekatnya. Jeritan yang diikuti aura hitam yang melebar perlahan-lahan memperbesar area tanah yang hancur. Elhart segera berlari menghampiri Velvet untuk melindunginya dari bahaya aura hitam itu dengan punggungnya.
“GHAKK!” erang Elhart yang disusul muntahan darah.
“Julia! Cepatlah gunakan sihirnya!” seru Audrey.
“Sihirnya masih aktif! Mananya terus menghalangi sihir kita bekerja! Kalau begini terus, justru sihir kita yang ditelannya!”
“Tak ada waktu untuk menyesal atau memikirkannya! Kita harus melakukan sesuatu padanya!”
“Tapi, bagaimana?!”
“Pokoknya kita harus mengurangi mananya agar tidak menyebar keluar. Bantulah aku dengan sihir yang sama sepertiku!” Julia kemudian membuat lubang di beberapa tempat yang menunjukkan langit biru. Aura dan mana yang menyelimuti tempat eksekusi itu sedikit demi sedikit tersedot ke dalamnya.
“Baiklah!” balas Audrey kemudian melakukan hal sama layaknya Julia.
......................
Sementara dua bangsawan paling penting sekerajaan—Audrey Alexandrita dan Julia Aurora—melakukan apa yang harus mereka lakukan, di sisi lain, Elhart masih dalam posisi bertelungkupnya, melindungi Velvet yang tak sadarkan diri. “Apa yang telah kulakukan....” Elhart menangis, membasahi pipi Velvet. “Bila saja aku tak mengatakan kata-kata itu.... Apa yang telah kulakukan....” Ia mencakar tanah.
“Aku hanyalah hakim dari kalangan rakyat biasa.... Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan terhadap lingkungan baruku yang segalanya bersihir luar biasa!
“Kukira Mary sama sepertiku yang tidak begitu spesial terhadap sihir, tetapi....”
Elhart mengingat ketika Marianna pulang dari ruang bawah tanah istana dan mengadu tentang apa yang
telah terjadi padanya—bahwa ia sedang mengandung anak dari seekor Peri.
“Meskipun begitu, ini tidak semuanya salahmu, Elhart....” Velvet telah membuka matanya.
“Velvet! Kau baik-baik saja?!” tanya Elhart.
“Ya....” Velvet kemudian duduk. “Aku baik.” Ia melihat kedua keponakannya sedang berusaha melakukan sesuatu terhadap anaknya. Ia menggenggam tangan Elhart, lalu bilang, “seperti yang sudah kukatakan pada Mary, semua ini didalangi oleh Peri. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara Mary dengan mereka, tetapi aku sangat yakin. Semuanya berubah ketika Mary bertemu Peri, dan sekarang keberadaan mereka tak ada sejak pagi.” Velvet melihat ke atas, dimana saudari-saudarinya—Iris dan Roze—berada.
“Elhart, dengarkanlah apa yang akan kulakukan. Kemungkinan besar apa yang kupikirkan sama dengan Iris dan Roze, jadi….”
......................
“Kalau begitu, mari lakukan ini,” ujar Iris, melihat ke arah Roze.
“Ya. Roze mengangguk, yang kemudian melihat ke arah suaminya. “Kuserahkan Gilbert padamu, Gerald.” Ia mengakhiri kalimatnya dengan senyuman.
Senada dengan Roze, Iris pun memandang suaminya. “Didiklah Erina dengan baik sampai ia menetas seperti kakaknya, Dasz.”
__ADS_1
Baik Dasz atau Gerald, kedua suami itu menanggapi istri mereka dengan diam dan kepalan tangan yang erat. Namun....
“Tak adakah cara lain selain mengorbankan diri kalian?!” tanya Gerald yang tidak mampu menahan lagi emosinya.
“Tidak ada! Hanya kamilah yang bisa melakukannya!” balas Roze dan Iris bersamaan.
“Khhh….” Gerald meneteskan air matanya.
“Gerald. Aku mengerti apa yang kaurasakan, tetapi ini demi masa depan!” seru Dasz.
Kala Gerald menengok kepada Dasz, ia kaget dengan ekspresinya. Meskipun Dasz tidak bergerak dari tempat duduknya, tangisnya tidak membohongi. Mengerti artinya, Gerald hanya bisa pasrah.
“Kalau begitu, kami pergi dulu,” ujar Roze.
“Selamat tinggal!”
Iris dan Roze pun melompat mendekati Marianna. Mereka berdiri mengapitnya.
“Ibu?!” Audrey terkejut dengan kedatangan ibunya.
“Mama?!” sama dengan Audrey, Julia pun kaget.
“Cepatlah dan selesaikan salammu, Velvet!” jerit Roze. Ia merentangkan tangannya. Sebuah cahaya biru muncul di kedua telapaknya.
Sama seperti Roze, Iris pun merentangkan tangannya. Di telapaknya, muncul cahaya kuning keemasan. Perlahan tapi pasti, sihir waktu yang diciptakan Audrey dan Julia—yang tidak menunjukkan keaktifannya sejak terganggu oleh mana Marianna—semakin membesar.
Setelah mendengar apa yang dijelaskan Velvet, keringat jatuh dari pelipis Elhart. “Baiklah! Jika ini yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku padanya... akan kulakukan!”
Velvet tersenyum mendengarnya. “Ayo!”
Melakukan yang Iris dan Roze lakukan, Velvet dan Elhart ikut melakukannya. Velvet memunculkan cahaya merah, sementara Elhart biru pudar. Sihir waktu Julia dan Audrey semakin besar dan mulai menelan kaki Marianna.
“E-Elhart? Apa yang kau—?” Iris dan Roze tak menduga kedatangan Elhart.
“Ini demi Mary!” jawab Elhart.
“KAU?!” Marianna segera merespon suara Elhart dengan penuh benci. “Menjauhlah dariku, pengkhianat! Pergilah jauh dariku!”
Terkekang oleh keempat orang yang mengelilinginya, Marianna tak bisa bergerak banyak. Namun, sebagai bayarannya, keempatnya memuntahkan darah.
“Hanya fokuslah pada apa yang harus kita lakukan!” seru Iris.
“Kaupikir apa yang sedang kita lakukan?!” tanya Roze.
Sihir waktu Julia dan Audrey yang berwujud seperti portal bulat mulai menelan kaki Marianna.
“Lihat itu!” seru Audrey—menghentikan sihirnya.
“Ja-jangan-jangan mereka…?” Julia juga menghentikan apa yang dilakukannya. Ia kemudian lemas. Dia mengerti apa yang hendak dilakukan ibu, bibi, dan pamannya. “Haruskah ... haruskah kita berpisah dengan cara seperti ini...?”
“Julia!” Audrey menangkap Julia yang terhuyung-huyung. “Kuatkanlah dirimu!”
“Tapi ... tapi ... Mary ... sepupu kita yang manis dan maniak pengetahuan itu....”
“Jangan katakan apapun lagi! Kuyakin mereka memiliki maksud lain melakukan ini....
“Andai saja... aku lebih kompeten dalam memilih prajurit dan langkah yang harus kuambil sebagai Jendral... mereka tak harus....”
Ketika sihir waktu berbentuk portal itu menelan setengah badan Marianna, kondisi empat orang yang mengelilinginya semakin buruk. Mata mereka semerah darah, juga kesulitan bernapas. Kala itu, Roze dan Iris mendengar apa yang menjadi kalimat terakhir yang mereka dengar.
"Camkan kata-kataku ini untuk kalian, Feline, Morgan! Aku tahu kalian menyaksikan ini dari sana! Ketika aku kembali, aku pasti akan membinasakan semua Peri yang ada di sana! Aku bukanlah lagi orang yang bisa diam saja!"
...“Oh dunia! Berikanlah aku kekuatan untuk membalas semua kekejaman ini!...
...“Aku, Marianna, bersumpah demi jiwaku dan jiwa-jiwa anakku yang telah tiada, untuk membunuh mereka yang telah mengatur semua ini!"...
“PASTI!!”
.
.
.
.
‘BWUAAMM!’
__ADS_1
Kilat merah menghantam Marianna. Tangan kanannya berubah layaknya tangan monster, sementara empat orang di sekitarnya yang terbelalak atas hal yang baru saja terjadi, mulai ikut hilang dari kaki.
Julia dan Audrey—beserta Dasz dan Gerald yang menyaksikannya, adalah saksi mata tentang bagaimana kebencian Marianna terkunci selama 200 tahun lebih.