
Arthur dan Hellenia, serta warga desa yang menyaksikan bagaimana Zeeta hilang bersama dua orang asing begitu saja dengan cepatnya, segera kepanikan. Setelah apa yang baru saja terjadi pada mereka beberapa hari yang lalu—perang dengan pasukan Hollow, kendati berakhir dengan kemenangan yang tidak diduga, pada dasarnya mereka belumlah tenang.
Jika ada sesuatu yang memicu sedikit saja kepanikan, maka....
“Hei! Putri Zeeta telah diculik oleh seseorang! Segera beritahu Ratu Alicia tentang ini!” seru Warga A.
“Apa ini ada keterkaitannya dengan peperangan kemarin? Bukankah suara yang entah bagaimana bisa kita dengar, menyebut nama Putri Zeeta?” tanya Warga B.
“Hei kau!” seru Warga C pada Warga B, “kau berani menuduh Putri Zeeta berhubungan dengan serangan kemarin?! Dia sudah selalu menyelamatkan kita, tidak mungkin dia tega melakukan itu pada kerajaannya sendiri!”
“Terserah apa yang kaukatakan, tapi aku percaya dengan apa yang kudengar!”
Ya.
Kepanikan terjadi dan menyebar luas bagaikan virus yang menular dengan sangat-sangat cepat, tanpa perlu Hellenia—sebagai salah satu pilar kerajaan, melapor pada Alicia.
Isu tersebut pun segera sampai pada mereka yang tidak mengetahui bahwa Zeeta sedang berjalan-jalan ke desa Lazuli—para sekutu-sekutu non-Manusia-nya. Raut wajah yang tidak gembira segera tergambarkan pada masing-masing ras.
Pun dengan cabang keluarga kerajaan resmi, Levant. Para sepupu kembar Zeeta yang sedang menyantap makanan di suatu restoran, dapat mendengar dengan jelas isu tersebut dari para pelanggan yang baru saja tiba.
“Kak Zee...? Lagi-lagi dia terlibat sesuatu...?” Edward yang pertama kali merasa terganggu.
“Dia pasti baik-baik saja, Ed,” balas Ella.
Edward heran dengan tanggapan Ella. Dia mengernyit, juga menyuguhkan pertanyaan. “Kautahu dari cerita papa kalau sirkuit sihirnya sedang mati setelah keluar dari Tanah Kematian, ‘kan?”
‘Prrff!’
Ella menyemburkan minuman yang sedang diteguknya ke samping.
“Dasar. Wanita memang tidak bisa jujur pada dirinya sendiri. Kalau khawatir, bilang saja!”
“Bu-bukan begitu, bahkan kak Zee bisa keluar dari tanah itu, berarti dia sanggup melakukan sesuatu!
“Yang ingin kukatakan, kita tak ada apa-apanya dibanding kak Zee. Meskipun kita mengkhawatirkannya dan ingin melakukan hal berguna untuknya, kita pasti akan selalu dicegat oleh papa dan yang lain!”
“Meski begitu, Ella.... Kau kembaranku! Kaupasti memahami gundah yang kurasakan!”
“Aku tahu, Ed. Tapi ... apa yang bisa kita lakukan...?”
Sepasang kembar itu mencengkeram tangan karena ketidakmampuan diri sendiri....
......................
“Bila kita para Benih Yggdrasil bersama-sama, Naga, ataupun dirimu sendiri itu, pasti bisa kita hadapi!” Hitomi Reiko yang memiliki alias sebagai Asteria itu membujuk Zeeta yang sedang tertampar oleh fakta teman sejak kecilnya telah menjadi abu.
“Apa yang bisa kulakukan disaat aku tak bisa bersihir begini? Aku sama saja dengan manusia biasa!” seru Zeeta. “Malah, jika Gerda sedang dalam kondisi seperti itu, maka akulah yang harus menyelamatkannya, bukan kau!”
“Dengar Zeeta. Aku meminta bantuanmu untuk menyelamatkan kekaisaranku bukan hanya karena mereka saja yang terancam, tetapi seluruh dunia.
“Kata-katamu yang menyuruh Elf yang terhubung dengan pohon waktu untuk membiarkan kami mendapatkan Batu Jiwa, sudah dibaca terlebih dahulu oleh dirimu yang lain—Penguasa Kekelaman.
“Jika dia adalah cerminan dirimu sendiri, aku tak perlu menjelaskan apa bahaya yang kumaksud padamu, bukan?
“Kutahu ada beberapa hal yang tidak sejalan dengan yang terjadi di lini masa dunianya, tetapi dia sudah mengantisipasi terjadinya hal ini selangkah, dan saat pasukan-pasukan kekaisaran tiba....”
Zeeta terbelalak. Dia sangat mengerti apa maksud Hitomi. Namun....
“Sudah kukatakan, apa yang kubisa disaat aku tak bisa bersihir!?”
“Jawablah aku dulu, Zeeta. Apa kau bersedia membantu? Atau kau akan membiarkan dunia tertelan tidak hanya Jötunnheim, Jormungand, tetapi juga oleh DIRIMU SENDIRI?!”
“Apa bedanya dengan tujuanmu selama ini untuk mengumpulkan Batu Jiwa? Pada akhirnya, kau pun ingin mewujudkan Ragnarok, bukan?”
“Haaaah~” Hitomi menghela napas panjang. “Aku tak percaya harus menjelaskan ini pada orang yang sudah selalu dituntun oleh leluhur-leluhurnya.
“Dengar. Aku ini Benih Yggdrasil. Tidak mungkin aku melaksanakan rencana yang berkebalikan dengan tujuan Roh Yggdrasilku.
“Dengan kekuatanku, aku tahu siapa yang akan menjadi inti dari ketiga Benih sejak lama. Apa yang kulakukan tidaklah berjauhan dengan Hari Akhir yang sedang kita tuju. Apa hal sederhana itu tidak bisa kau mengerti?
“Secara kronologisnya, Ragnarok akan tiba seperti ini. Dua dunia akan saling bertabrakan dengan Galdurheim, kemudian tanda dimulainya Ragnarok adalah turunnya Raksasa Jahat berbentuk ular bernama Jormungand.
“Hal tersebut pasti diketahui oleh Roh Yggdrasil lain, sebab itu adalah waskita yang dilihat mereka sebelum memecah diri menjadi Roh.
“Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukan Klutzie, sebab selama ini aku selalu disibukkan oleh dua penyihir yang identitasnya sama, namun sangat berbanding terbalik.
“Kumohon, tegarkanlah dirimu dan hadapi ini bersama.”
“.....” Zeeta terdiam. Dia terlihat sedang mempertimbangkannya.
.
.
.
__ADS_1
.
“Apa yang bisa kulakukan untuk membantu kalian?” tanya Zeeta.
“Sederhana. Temuilah ayahku, Kaisar Zero. Kalian akan berpolitik di sana.”
“Berpolitik...?”
“Kuingatkan ini terlebih dahulu, Seiryuu bukanlah kekaisaran yang lemah. Setiap masyarakatnya bisa menggunakan Ki untuk membela diri mereka sendiri. Kuakui, tentu saja ada yang lemah, namun bukan berarti mereka tidak akan membela diri mereka sendiri.
“Aku ingin kau ... meyakini ayahku untuk menghentikan Penguasa Kekelaman.
“Sebelum kau keluar dari Tanah Kematian, dirinya dan ayahku telah bersepakat. Sepengetahuan ayahku, Penguasa Kekelaman adalah dirimu. Jadi, bila harapan masih ada, ayahku akan membatalkan kesepakatan itu dan akan berpihak pada Aurora.”
“....” Zeeta terdiam lagi.
“Bagaimana... Zeeta?”
“Dia tidak akan membantumu.” Suara lain terdengar menggema di dimensi penuh bintang dan terang cahayanya.
“Si-siapa itu?!” Hitomi segera memberi jarak, Xennaville yang sedaritadi terdiam membelakangi majikannya.
Anting bulan di telinga kiri Zeeta berguncang sendiri. Panik, Zeeta melepasnya. “A-apa lagi yang terjadi di sini?!” jeritnya.
Cahaya merah menyilaukan mereka, kemudian....
“Kuakui, mulutmu itu sangat manis di telinga dan menghangatkan hati.”
“Te-Tellaura...?!” Zeeta melotot melihat leluhurnya memunggungi dirinya.
“Apa lagi, jika lawan bicaramu adalah orang amatir politik sepertinya,” sambung Tellaura.
“Cih....” Hitomi sama sekali tidak senang.
“Kau pun pintar. Saaangat pintar. Kau memanfaatkan kesempatan dimana dia masih dalam kondisi nihil sihir, untuk mematahkan kemampuannya merasakan mana, dan disaat yang sama, kauingin menjebaknya untuk menelan kesepakatan politik ini supaya kau tidak perlu repot-repot bertemu orang-orang kuat di Aurora yang hanya akan menghalangi rencanamu.
“Seperti yang kaubilang. Yang paling mengerti dirimu, adalah diri sendiri....
“Iya, ‘kan, Penguasa Kekelaman...?”
Tellaura menatap tajam Hitomi Reiko. “Sialan!” dengan wajah geramnya, Hitomi hendak keluar dari dimensinya, tetapi....
‘KLIK!’
Dimensi tersebut segera berubah menjadi tanah berwarna lavender dengan lautan api mengelilingi mereka. “Ba-bagaimana bisa—“ Hitomi kaget dirinya sekarang berada di dimensi lain hanya karena satu jentikan jemari saja.
Hitomi yang melihat tatapan matanya, seakan terkena semacam serangan. “Aghk!” erangnya. Tak lama kemudian, dirinya pingsan, pun dengan Xennaville.
Disaat yang sama, di tempat lain....
“Aaagghhk!!” laung Penguasa Kekelaman. “Mataku!” dia memegangi matanya. “Haah... haaah... haah....” Tetesan darah mengucur dari matanya. “Sial... sial!
“Bukankah dia juga baru keluar dari Tanah Kematian? Bagaimana caranya dia bisa masuk ke dalam dimensinya?! Seharusnya sirkuit sihirnya masihlah mati, sama seperti yang lain!”
Dia memikirkan jawaban terbaik dari pertanyaan itu.
“Jangan-jangan...?!”
......................
“Te-Tellaura... kenapa...?” tanya Zeeta, yang saat ini di dimensi leluhurnya.
“Aku adalah orang mati yang memiliki syarat keluar dari Tanah Kematian—untuk membantumu mengakhiri Ragnarok. Sederhananya seperti itu.”
“Ta-tapi … bagaimana caranya kau….”
“Kau tidak perlu memikirkan hal sepele tentang itu. Yang terpenting saat ini … kau sudah mendengarnya sendiri. Tujuan kita sekarang … adalah untuk menyerang Seiryuu, dan menghabisi Penguasa Kekelaman sebelum dunia jatuh ke tangan yang salah.”
Zeeta menelan liurnya sendiri. Ia tidak menduga ada hari dimana dirinya harus … membunuh dirinya sendiri.
.
.
.
.
‘FWASHH!’
Laksana putaran angin dengan panas api, Zeeta dan Tellaura kembali ke desa Lazuli—tempat yang sama sebelum Zeeta lenyap.
Para penduduk yang sedang panik, melongok seperti orang bodoh. Ada jeda beberapa puluh menit setelah kehilangan Zeeta, dan kini Sang Tuan Putri ada di hadapan mereka lagi, namun bersama orang lain dengan ... anting yang serupa.
Tellaura sedang merangkulkan lengan kanan Zeeta pada bahunya untuk membantu keturunannya ini tetap kuat berdiri.
__ADS_1
“Zeeta!” tidak seperti mereka yang melongok karena kebingungan, mereka yang kenal dekat dengan Zeeta di desa itu, seperti Arthur, Hellenia, Grilda, dan Recko, berlari menghampiri keduanya.
“Kau! Apa yang kaulakukan pada putriku?!” seru Arthur sambil berancang-ancang untuk bersihir.
“Tenanglah, Arthur!” seru Hellenia, “lihatlah anting itu! Dia pasti ada ikatannya dengan Putri!”
“Meskipun begitu, dia bisa saja berkomplot dengan gadis yang menculik Zeeta!”
Melihat kekhawatiran dari beberapa orang di sana, membuat Tellaura tersenyum. “Inikah Lazuli yang sekarang?” tanyanya.
Zeeta ikut tersenyum. “Benar. Inilah hasil dari perubahan yang kaubawa sejak tiga ratus tahun silam.”
“Syukurlah....”
“Zeetaaa!” jerit Recko, yang berlari mendahului Arthur.
“A-apa?!” Arthur tak percaya lelaki nyaris paruh baya itu lebih kencang darinya yang masih muda.
Tanpa ba-bi-bu, Recko meluncurkan kepalan tangannya pada Tellaura, namun wanita berambut merah itu cukup mudah menghindarinya, sehingga Recko jatuh tersungkur di tanah.
“Hehe, aku baik-baik saja, Paman Recko.”
“BENARKAH?!” tanya Recko, tak memedulikan hidungnya yang berdarah.
“Zeeta, kau tak apa?!”
Tellaura melepas Zeeta supaya bisa dipeluk oleh Arthur.
“Uhm. Aku tak apa,” jawab Zeeta dalam dekapan ayah angkatnya.
Hellenia dan Grilda menyusul terakhiran. Sebagai salah satu pilar kerajaan, tentu saja Hellenia menyadari anting bulan Tellaura. “Semuanya, tenanglah. Wanita ini mungkin orang yang diceritakan Nyonya Scarlet—leluhur Putri Zeeta dan Penyihir Kutukan yang mendatangkan sihir untuk manusia, Tellaura!”
Mereka yang mendengar, terbelalak. Terbiasa dengan perasaan kebencian dan tak nyaman karenanya, membuat Tellaura bersiaga.
“TERIMA KASIH BANYAK!” seru Arthur, yang kemudian membungkukkan badan.
“E-eh...?” Tellaura mengernyitkan dahi.
Tindakan Arthur dicontoh oleh mereka yang sebelumnya melongok. Pun dengan Hellenia, Grilda, dan Recko.
“Terima kasih telah menyelamatkan Tuan Putri kami, Nyo—uh... Nona Tellaura!” sambung Arthur.
“Terima kasih, Nona!” sahut yang lain bersamaan.
Zeeta lalu menyelesaikannya dengan memeluk leluhurnya dan mengucapkan hal yang serupa. “Di sini, kau tidak akan lagi mengalami kebencian. Kebencian itu sudah benar-benar sirna di kerajaan ini!” Tuan Putri berambut perak ini melihat dengan jelas bagaimana mata Tellaura berlinang secara perlahan. Ia juga merasakan dekapan yang perlahan-lahan semakin menguat.
“Ini ... bagaikan mimpi....
“Desa yang sebelumnya selalu menolak keberadaan kami … begitu menerima kami dengan hangat dan bahkan tersenyum...!”
Mendengarnya, membuat Zeeta jadi luluh. Inilah. Hal inilah yang ingin ia dengar dari tujuan yang selama ini dikejar bersama dengan tanggung jawabnya.
Disaat itu, ia mendekap erat leluhurnya, sambil membatin, “Terima kasih, diriku. Berkatmu, aku berhasil menemukan jawabanku.”
.
.
.
.
Setelah tenang, keduanya saling melepas dekapan. Zeeta lalu berdiri di sebelah Tellaura dengan wajah yang serius. “Semuanya, tolong dengarkan aku!” pintanya, yang langsung disambut keheningan.
Senja yang menyambut kepulangan Zeeta bersama Tellaura, mulai bersembunyi dibalik gemerlap bintang dan terangnya bulan hampir penuh.
“Kalian adalah orang-orang pertama yang akan mengetahuinya, jadi ini adalah hal yang sangat serius.
“Setelah beratus-ratus tahun leluhurku mencoba mengubah arus waktu untuk menghentikan hari dimana aku menghancurkan dunia, waktu tersebut akhirnya telah ada di hadapan mata.”
Semua orang terbelalak dan terkesiap.
“Dari semua perjuangan mereka, ada beberapa hal yang berubah dari arus waktu, namun ada satu hal yang tidak bisa diubah dari semuanya, yaitu perubahan dunia.
“Aku telah berjanji pada banyak orang, terutama ayah angkatku, Arthur, untuk tidak sama seperti bangsawan yang pernah menginjak-injak mereka yang tidak memiliki atau hanya memiliki sedikit mana. Berkatnya pun, aku mengerti dan belajar banyak hal tentang dunia, hingga akhirnya aku bertemu dan memiliki banyak teman.
“Dari ras Elf, Raksasa, Naga, Dwarf, dan masih banyak lagi.
“Jika para leluhurku tidak mencoba membelokkan arus waktu, kuyakin aku hanya akan menjadi penjahat dan akan dibenci oleh kalian, namun aku harus mengatakan ini.
“Kata-kata dimana aku akan ‘menghancurkan dunia’ tidaklah berubah, tetapi ada satu hal yang harus kalian garis bawahi.
“Arti dari kata-kata tersebut, adalah untuk mengeluarkan dunia dari belenggu yang selalu membuat tidak hanya manusia, tetapi ras lain, bahkan Raksasa dan Naga, terpecah belah dengan tirani yang disebut ‘sihir’.
“Aku sudah berkeputusan.
__ADS_1
“Aku akan menghancurkan dunia sihir ini dan menuntun kalian menuju dunia dimana semua ras bisa hidup damai berdampingan!”
Mereka yang menyaksikan pidato dadakan dari Zeeta di sana, melihatnya. Bagaimana mata biru langit Zeeta bersinar, dan seakan menggerakkan hati mereka dan meyakinkan bahwa dirinya benar-benar serius. Kala itu, sirkuit sihirnya sudah kembali hidup, bersamaan dengan sinar rembulan yang menyinari mereka.