
Ledakan besar yang terjadi di tembok terluar Aurora menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pasukan tambahan yang terdiri dari rakyat Aurora sendiri yang berada di balik temboknya. Tidak hanya khawatir dengan nasib sang Ratu dan Raja mereka, tetapi juga dengan kekuatan dari pihak lawan.
Sementara itu, para prajurit kerajaan yang memantau di tembok—memang ada yang ikut terlempar karena
ledakannya, tetapi untungnya tidak ada korban jiwa karena Alicia sudah melindungi mereka dengan mana-nya. Mereka juga melihat sendiri apa yang dialami Ratu dan Rajanya, oleh sesosok gadis misterius bertopeng dan berambut hitam yang tiba-tiba saja muncul di langit beberapa saat yang lalu.
.
.
.
.
Asap yang mengepul yang menutupi pandangan Keenai, hanya membuatnya tertawa akan nasib Alicia dan Hazell yang tiba-tiba saja terhempas oleh kekuatan gadis di hadapannya itu. “Sekarang aku sudah bisa—“
“Belum. Jangan terlalu terburu-buru. Lagi pula, mereka adalah Bulan dan Matahari. Jangan anggap mereka remeh, Keenai,” tukas Si Gadis.
“Ta-tapi!”
“Lihatlah dengan jeli.”
Begitu Keenai memerhatikan lagi secara saksama, dia terbelalak. “Bagaimana bisa...?” tanyanya. Dia melihat Hazell mampu menahan serangan Si Gadis meskipun tubuhnya tergores-gores.
“Tunggulah sesaat lagi. Aku akan merapalkan kutukan pada mereka.
“Ba-baiklah.”
Tatkala Si Gadis terbang dan menutupi perkasanya bulan, semua mata tertuju padanya. Apa yang dilakukan setelahnya menjadi bahan untuk mereka terkejut sekali lagi. Dia menuliskan Rune Perthro dengan ukuran besar pada bulan.
Dua Naga yang melihatnya—Elbrecht dan Myra—tak menyangka melihatnya. “Siapa Manusia itu sebenarnya?!” mereka bertanya-tanya.
“Sialan... Rune itu sangat merugikan kita!" seru Ozy, yang tak kalah gempar. "Tak kusangka ada manusia yang bisa menuliskan Rune itu!”
“Apa memangnya itu?” tanya Elbrecht.
“Rune itu ... mampu menghalangi kekuatan Bulan—atau lebih tepatnya meniadakan dalam jumlah tertentu resonansinya pada Alicia.”
“Tunggu, itu berarti....” Myra dan Elbrecht melihat ke bawah. Dan benar saja, mereka yang sebelumnya terlapisi oleh mana Alicia, saat ini tidak lagi dan dalam kondisi kebingungan.
Seakan ingin menambah kepanikan, Si Gadis kemudian angkat bicara dengan tambahan sihir pengeras suara di depan mulutnya. “Sekarang, nikmatilah keputusasaan yang telah menjadi nasib kalian, Aurora....”
Mengerti sinyal dari Si Gadis, Keenai langsung memerintahkan para Hollow-nya untuk segera beraksi, memporak-porandakkan segala sesuatu yang ada di hadapannya.
Ledakan terjadi dimana-mana, menyusul Keenai yang mengangkat tangan sebagai kode memerintahnya.
“Kita tidak bisa terus diam saja!” seru Marcus, “apapun risikonya, sudah tugas kita untuk melindungi kerajaan!”
“Ya, ayo!” Novalius satu suara.
Keduanya kemudian memakai sihir terbangnya lagi dan tanpa menunggu aba-aba lagi, mereka segera mengeluarkan senjata sucinya.
“HRAAAAHHHH!” keduanya beraksi dengan secepat mungkin—mencoba mengurangi jumlah Hollow-Hollow kecil yang jumlahnya paling membludak.
“Aku juga....” Saat Colette ingin turun dari istana untuk menyusul dua rekannya, dia dihentikan oleh Aria.
“Kau membantuku dari sini. Dengan senjata itu, jarak jauh pun kaubisa melakukannya, bukan?” tanya Mintia.
“Ya, aku bisa.”
“Maka ikutilah aku.”
__ADS_1
“Uhm!”
.
.
.
.
“Kakak, kita juga!” seru Myra.
“Ya.” Elbrecht mengangguk. “Ozy, bisa kaulakukan sesuatu pada Rune itu dulu?”
“Akan kucoba,” balas Ozy.
......................
[Sementara itu, di Tanah Kematian....]
Zeeta yang meminjam kekuatan Ifrit, dibuat terengah oleh Belle yang terbang di udara dengan mana-nya yang membumbung seakan dipamerkan.
“Percuma saja, Zeeta!” seru Belle, “kekuatanmu takkan ada gunanya di hadapanku, bahkan Roh Kuno yang kau banggakan itu sekalipun!”
“Tidak.”
“Hah...?”
Zeeta mengepal erat tangan kanannya. “Kaukira sudah berapa lama aku bertahan dari semua kekerasan dan kekejaman dunia sihir ini…?”
‘FWASH!’
Belle kaget saat melihat Zeeta tiba-tiba berubah menjadi gelombang api dan dengan cepat bergerak menujunya. Perutnya juga mendadak panas. Tak lama setelahnya, wujud Zeeta muncul utuh kembali. Kepalan kanannya yang berlapis api sudah mendarat di perutnya. Antara api dan perutnya, apinya bukan berwarna merah—melainkan biru.
Zeeta kemudian menendang punggung Belle dengan kaki kanannya, setelah memutar tubuh sembilan puluh derajat terlebih dahulu. Belle terpental keras di tanah—seakan menyapu tanah keringnya—menambah luka pada tubuhnya.
Namun, Belle sama-sama seorang Aurora. Hanya begitu saja takkan membuatnya tumbang.
“SIALAN!” Belle langsung menerjang kembali ke arah Zeeta. Tampak sedikit perubahan saat dia “dalam perjalanan” menerjang lawannya. Jemari-jemarinya menghitam, kukunya pun menghitam. Seakan tornado, dia tetap memaku jalannya pada Zeeta.
Merasa itu serangan bahaya, Zeeta membuat perisai api berlapis-lapis dibarengi dengan mundurnya dia.
‘FWSH FWSH FWSH FWSH!’
Semua perisai apinya lenyap begitu saja di tangan Belle. Zeeta langsung sadar bahwa kekuatannya itu mirip dengan kekuatan Marianna. Ia tahu apinya diserap oleh Belle. Zeeta harus menepi di detik-detik genting Belle akan meraihnya dengan kuku runcingnya. Saat Zeeta menghindar itu, ia juga sadar bahwa kalung bulan Belle menyala kelabu.
Belle tidak berhenti hanya karena serangannya berhasil dihindari. Dia memaksa tubuhnya untuk berhenti, lalu mengangkat tangan kirinya. Zeeta yang curiga tidak ada sihir yang muncul setelahnya, terlambat sadar bahwa di belakangnya ada ranting pohon kering yang memanjang dan mengikat kaki dan tangannya ke belakang secara paksa.
“Gawat!” panik Zeeta. Tetapi ia tidak tinggal diam. Dia yang dalam kondisi ‘Ratu Iblis Api’ yang memiliki tanduk banteng meliuk sebagai bagian dari kepalanya, bersinar merah, kemudian membakar rantingnya. Sayangnya itu tidak berhasil.
“Kenapa tidak terbakar?!”
“Percuma saja, Zeeta! Sudah kukatakan, di hadapan kematian, kau akan menyesal karena telah meremehkannya!” Belle menunjuk-nunjuk Zeeta.
Zeeta tahu bahwa kekuatannya diserap oleh pohonnya. “Cih! Hanya ini sajakah yang kaubisa?! Menyerap dan meniadakan sihirku?!”
“Hanya...?
“Jadi kau masih meremehkanku. Baiklah. Akan kutunjukkan padamu.”
‘KLIK!’
‘ZRRSSHHTT!’
__ADS_1
Setelah Belle menjentikkan jemarinya, tubuh Zeeta mendadak hancur lebur—seakan-akan menjadi bubur dengan banyaknya darah yang menggenangi tanah kering.
Belle sekali lagi menjentikkan jarinya.
Zeeta linglung. “Apa yang baru saja terjadi?” gumamnya sambil melihat kanan-kiri. Dirinya juga sadar tak lagi terikat oleh ranting yang memanjang.
“Lihatlah bawahmu!” perintah Belle.
Saat Zeeta melihatnya, betapa terkejutnya dia dengan kakinya yang tergenang oleh ... darah dan potongan tubuhnya sendiri. Bahkan bagian kepalanya yang ditumbuhi tanduk banteng meliuk pun dapat terlihat jelas. Dia membatu. Jarinya pun tidak bisa ia gerakkan sedikitpun. Bayangan-bayangan menakutkan yang pernah ia bayangkan dulu, mendadak datang begitu saja.
Tentang bagaimana ia takut bahwa banyak orang mati karena dirinya yang terlalu kuat. Tentang bagaimana dunia hancur karena dirinya yang terlalu kuat. Juga tentang dirinya yang gagal mengemban nasib dunia....
“Aku adalah Penjaga Tanah Kematian. Keberadaanmu itu adalah hal mudah bagiku untuk kukendalikan.”
.
.
.
.
“AAAAAA!!!” Zeeta segera menjerit histeris.
Mendengar teriakan kencang cucunya, Scarlet terbelalak. Secepat mungkin ia berusaha menyusulnya. “Baik baik sajalah, Cucuku Zee!”
Serupa dengan Scarlet, Porte yang sedaritadi mencoba menyusul ke arah Zeeta berada, mempercepat langkahnya. “Tidak pernah kudengar teriakan dari Putri Zeeta sebelumnya! Semoga Anda baik-baik saja!”
Azure dan Mellynda yang sedang diantar oleh Flakka di bahunya, juga mendengar teriakan Zeeta. Terutama Azure, ia sangat ingin cepat menemui adiknya itu. “Perasaanku tidak enak sedari tadi Belle dan Zeeta saling bertarung!” serunya.
“Aku tidak pernah dengar Zeeta berteriak sekencang ini sebelumnya.... Kuharap dia—“
“PASTI BAIK-BAIK SAJA!”
Mellynda kaget dengan paniknya Azure. Ia paham betapa kacaunya perasaan Azure saat ini. Ia bahkan melihat betapa amat berusahanya Azure untuk menahan tangisnya agar tak jatuh.
......................
‘FWUUUSHH!’
Tanah kering dan sekitaran Zeeta mendadak menjadi es sesaat setelah ia berteriak. Zeeta kemudian jatuh terduduk dan segera menjauh supaya tidak lagi bisa melihat jelas tubuhnya sendiri.
Melihat Zeeta bisa melakukan itu, membuat Belle mengernyitkan keningnya. “Orang ini benar-benar... monster!”
“Berhentilah panik! Yang kulakukan padamu hanyalah untuk membuatmu mengerti tentang kekuatan—“
“BERISIK!
“Haahh hahh hahh hahh....”
Zeeta terengah dengan cepat, seakan jantungnya tak bisa menangkap napas dengan baik.
Belle sadar ada yang tidak beres dengan gelagat Zeeta. Sehingga ia memutuskan untuk mendaratkan diri pada tanah yang sudah berubah menjadi es itu.
“Inilah yang kubenci! Aku benci semua ini! Aku benci diriku sendiri!” Belle bisa mendengar gumaman Zeeta. Ia terpatung melihatnya memukul-mukul es hingga ia berdarah.
“Ifrit! Lepaskan kekuatanmu! Aku sudah tidak peduli lagi!” Zeeta menangis. Dia juga bergemetar. “Sudah kubilang, lepaskan saja! Turutilah kemauanku!” dia seperti bicara sendiri di mata Belle. “Kenapa kau tidak mau...? Bukankah kau sudah tahu kalau ... aku ... aku....
“Sial!
“Sial!
“SIAAAALL!”
__ADS_1