Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Mana


__ADS_3

Hari ini, untuk yang ke sekian kalinya, kerajaan Aurora hidup dalam kedamaian. Suasana yang diawali oleh hangatnya mentari pagi, kemudian diikuti oleh iringan kicauan merdu dari burung-burung yang terbang dan hinggap di berbagai sudut bangunan, selalu hadir di kerajaan ini. Meskipun kebanyakan dari penduduknya sudah tahu tentang ramalan Ratu Feline tentang masa depan mereka saat dipimpin oleh Zeeta, mereka lebih memercayai apa yang ada di depan mata mereka.


Zeeta sudah membuktikan, bahwa dia bisa melindungi rakyatnya dengan kekuatan sihirnya yang luar biasa besar. Mereka juga ragu bahwa Tuan Putri yang selalu tersenyum itu, akan membawa kehancuran untuk mereka. Namun, apapun yang dipercayai mereka, tetap saja takkan membuat mereka tahu apa yang akan mengancam mereka selanjutnya, apalagi jika itu lebih mengerikan dari sebuah ramalan yang sudah diceritakan turun temurun.


Di hari yang sama dengan Zeeta, Edward, Ella, Gerda, dan Danny di Neko's Inn, di suatu tempat di kedalaman hutan yang takkan mungkin menjadi tempat tinggal seseorang, terdapat rumah dengan model seperti kediaman milik seorang bangsawan. Itu tampak mewah, namun juga bobrok. Itu juga tampak elegan, namun tak terawat. Rumah itu berlumut, dikelilingi oleh tumbuhan merambat yang sudah mendekap erat seluruh rumahnya, bahkan pagar hitam tinggi yang menjadi "benteng" terdepannya.


Tak ada tanda-tanda kehidupan hewan di sekitar rumah tersebut. Sejauh mata memandang, itu hanyalah sebuah rumah yang tampak tak memiliki arti jelas di tengah-tengah kedalaman hutan. Walaupun di luar tampak seperti itu, di dalam rumah tersebut....


"Jadi... tiga generasi, mereka semua memiliki mana yang sangat besar...."


Hanya berbekal penerangan dari cahaya matahari di luar, seorang pria tampak melihat buku yang bertuliskan nama Scarlet, Alicia, dan Zeeta. Masing-masing darinya terdapat sedikit biografi tentang mereka.


"Tak bisa diizinkan. Tak bisa dibiarkan hidup. Dia harus kusingkirkan sekarang juga!"


Pantulan merah dari mata dan sekujur tubuh yang diselimuti oleh asap hitam keunguan, tak dapat memungkinkan untuk tahu seperti apa penampilan pria tersebut. Yang pasti, ia keluar dari rumah tersebut, kemudian dari tanah, muncul lagi banyak makhluk yang terlihat sama persis seperti dirinya. Kemanapun mereka pergi, tumbuhan yang dilewatinya, mendadak menjadi hitam, layu, dan mati.


......................


Neko's Inn, tepat setelah Zeeta turun bersama dua anak yang sebagian dari pelanggan tahu siapa mereka, reaksi pertamanya adalah menganga, terpatung, dan mengucek mata.


"Tu-Tuan Putri Zeeta?!" mereka berteriak bersamaan.


Mendengar suara para pelanggan, membuat pemilik penginapan lekas keluar dari kamarnya yang terletak di belakang resepsionis, dan segera memberi hormat pada Zeeta dengan berlutut di hadapannya.


"A-ada apa gerangan Anda mampir ke tempat seperti ini, Yang Mulia?" tanya si pemilik. Ia pria diusia kepala lima.


"Tak perlu kaku seperti itu, berdirilah," kata Zeeta. Si pria pun mengiyakannya. "Hehe, aku tak menyangka kedatanganku justru membuat heboh. Apa aku mengganggu?"


"Ti-tidak! Sama sekali tidak! Hanya saja... kami semua bingung... kenapa...?"


"Ah, sebenarnya, aku hanya ingin memasak untuk sepupuku."


Pemilik penginapan melihat ke Edward dan Ella yang menggandeng erat Zeeta, kemudian kembali bertanya, "Memasak...? Tuan Putri...?"


"Uhm. Sudah lama aku tak menyentuh dapur. Apa aku boleh?"


"Te... tentu saja. Tapi, mengapa harus di tempat seperti ini...?"


"Yah, ada beberapa masalah. Benar, bukan?" Zeeta meminta "iya" dari Edward dan Ella.


Edward dan Ella mengangguk.


"Ah... begitu...."


"Kalau begitu, antarkan aku ke dapur. Mereka sudah lama menunggu."


"I-ikuti saya, Yang Mulia." Pemilik Penginapan pun mengantar Zeeta ke dapur yang ada di seberang kiri bagian resepsionis.


......................


Di kediaman Alexandrita, Lowèn, Agatha, Karim, Arthur dan Ashley, masih membahas tentang Zeeta saat para pelayan sedang menyajikan makanan di atas meja.


"Grand Duchess," kata Karim, "tentu saja Anda tahu ini, tapi biarkan aku mengatakannya. Zeeta akan kami asuh. Anda tidak usah membiarkan pria bernama Arthur ini terus mengasuhnya, sementara dia punya keluarganya sendiri."


Arthur diam. Ia mengerti maksud Karim.


"Aku tak berhak ikut campur masalah keluarga orang, tapi Zeeta adalah Tuan Putri, biarkan dia yang memilih," jawab Ashley.


"Tidak. Tidak bisa seperti itu. Meskipun aku tidak suka cara Lowèn memperlakukan anaknya, aku tetap mengerti apa yang diinginkannya. Zeeta adalah cucuku. Dia adalah keluargaku."


Ashley menyeruput secangkir es kopi, kemudian menatap Karim. "Tuan Karim, apa Anda tahu ledakan yang terjadi di kediaman Rowing berasal dari Zeeta?"


"A-apa? Ledakan biru itu?!"


Agatha dan Lowèn tampak ikut terkejut.


"Ya, itu benar. Ada satu hal yang menarik bagiku setelah melihat kondisi di sana, yaitu selain Rowing, tak ada siapapun orang yang terluka akibat ledakannya."


"Ti-tidak mungkin!" Lowèn menggebrak meja.


"Tak ada manusia yang tahu bahwa Zeeta akan dicintai oleh alam, bahkan ibu dan ayahnya sendiri. Namun, kekuatannya tidaklah hanya karena dicintai oleh alam, tapi juga berasal dari dirinya sendiri.


"Tuan dan Nyonya Levant sekalian, mari kita pikirkan ini baik-baik. Normalnya, semua anak kecil akan berperilaku seperti Edward dan Ella yang tanpa beban tertawa dan bersedih. Tapi, Tuan Putri kita tidak seperti itu.


"Arthur, dulu hanyalah rakyat jelata biasa yang dengan modal giat belajar dan terus berlatih keras, bisa masuk ke Akademi Dormant lalu akhirnya mengasuh Zeeta. Kali ini akan kubuka apa yang tidak kuceritakan saat insiden Erigona lima belas tahun yang lalu.

__ADS_1


"Scarlet pernah bilang, Erigona—sebelum berevolusi, adalah tumbuhan dari bagian Yggdrasil. Entah seperti apa caranya, itu bisa sampai ke sini."


"Tu-tunggu dulu ... Yggdrasil? Bukankah itu hanya legenda belaka...?" Lowèn tampak ketakutan.


"Grand Duchess, kenapa Anda tutup mulut masalah itu dengan kami?" tangan Karim juga bergemetar.


"Sederhana, Scarlet tidak ingin kalian tahu. Lagi pula, kalian ini... istimewa, bukan?"


Tiga Levant itu bergemetar, layaknya melihat momok yang begitu mengancam.


"Grand Duchess... apa itu Yggdrasil?" tanya Arthur.


"Kau...?! Kau yang ada di tempat kejadian dan bertarung dengannya, tak tahu apa itu Yggdrasil?!" Lowèn tiba-tiba naik darah.


"Mau bagaimana lagi jika aku benar-benar tak tahu?!"


"Tuan Lowèn, kendalikan emosimu. Biar aku yang menjelaskannya," ujar Ashley.


"Ba-baik." Lowèn mengatur napasnya agar tenang.


"Arthur, kautahu kerajaan Aurora bisa memakai sihir sejak legenda penyihir itu ada, bukan?" tanya Ashley.


"Ya, tentu saja."


"Lalu, apakah kau pernah mengira, darimana datangnya mana, atau bahkan mengapa Peri dan makhluk sihir lain bisa melakukan sesuatu yang begitu ajaib di mata manusia sebelum legenda penyihir ada?"


Arthur menjatuhkan keringat dari pelipisnya. "Tunggu tunggu tunggu... jadi... masih ada banyak misteri tentang mana yang selalu kita gunakan ini?!"


Ashley mengangguk, kemudian melanjutkan penjelasannya.


......................


Menurut Ashley, yang informasinya telah didapat melalui Scarlet, Yggdrasil adalah ibu dari segala makhluk—termasuk Manusia. Ia yang memberi kehidupan serta mana untuk digunakan demi keberlangsungan hidup. Selanjutnya, Ashley menjelaskan, sebelum legenda penyihir di kerajaan Aurora ada, Peri dan makhluk sihir lain tinggal di dekat Yggdrasil demi melindungi keberadaannya dari Manusia yang serakah. Hal itu lambat laun memicu terjadinya perang antar manusia dan para penjaga Yggdrasil, termasuk Peri. Dikatakan, bahkan Naga yang sampai saat ini belum pernah terlihat kembali keberadaannya, ada untuk menjaga pohon kehidupan dunia tersebut.


"Lalu, bagaimana akhir dari Yggdrasil itu?" tanya Arthur.


"Mereka mengubah diri menjadi Roh agar pertumpahan darah itu tak berlanjut," jawab Ashley.


"Aku... aku tidak tahu apapun tentang ini... bagaimana bisa...?"


"Huh...? Tunggu... apa hubungan Zeeta dengan semua cerita itu?" Arthur tampak kesal.


"Scarlet pernah cerita padaku. Ketika itu, tidak seperti biasa ia memiliki raut wajah yang sedih ... cemas ... dan takut. Saat itu, ia bilang begini...."


......................


[Kerajaan Aurora lima belas tahun yang lalu....]


Di kamar pribadi Scarlet yang terletak di istana yang tentu saja tampak megah dan mewah, Scarlet dan Ashley tengah berbincang masalah Yggdrasil itu. Scarlet berdiri memandangi taburan bintang di beranda kamar memunggungi Ashley.


"Scarlet, ada apa denganmu hari ini?" tanya Ashley, "kau tampak tak semangat seperti biasanya."


"Hei, Ashley ... jujur padaku, apa kau pernah terpikirkan mengapa aku begitu kuat?" tanya Scarlet.


"Aku hanya berpikir kau adalah orang yang jenius, itu saja. Lagi pula, serius, ada apa denganmu? Aku merinding melihatmu cemas berlebihan tentang sesuatu seperti ini!"


"Hahaha... kau benar. Aku juga heran." Scarlet mengangkat kepalanya untuk menatap bulan. "Aku heran mengapa Manusia begitu mudah untuk dikendalikan."


"Huh? Apa maksudmu?"


Scarlet berjalan mendekati Ashley, kemudian melepas anting bulan purnamanya, kemudian menyuguhkannya pada Ashley.


"Sihir itu lebih rumit dari yang kita semua duga. Selama ini kukira aku hanya melanjutkan warisan dari leluhurku untuk menyelamatkan cucuku dari masa depannya. Aku tidak tahu leluhur-leluhurku melihat ini atau tidak, tapi....


"Aku melihat masa lalu. Masa lalu yang sangat jauh dari leluhurku yang bisa mengendalikan mana untuk pertama kalinya, Clarissa. Di sana, aku diperlihatkan, bagaimana sebenarnya mana bisa ada."


"Bi-bicara apa kau ini? Bukankah mana berasal dari alam?"


"Tidak. Itu salah. Tidak masalah jika kauingin percaya cerita ini atau tidak, tapi dengarkanlah." Kemudian Scarlet menceritakannya.


Setelah selesai, Scarlet menyampaikan pendapatnya, "Menurutku, pesan dari masa lalu itu adalah suatu saat nanti, ada seseorang yang akan menghidupkan kembali Yggdrasil dengan mengumpulkan semua Roh yang tersebar di seluruh dunia."


"Jangan bercanda! Jadi menurutmu, kau telah dipilih oleh sebuah Roh dan dia memperlihatkanmu masa lalu itu?!" Ashley meledak-ledak. Ia tak tahu harus beremosi seperti apa. Haruskah ia senang dengan informasi baru ini, ataukah kesal karena selama ini hidup didalam ketidaktahuan.


"Bukan, ini bukanlah perbuatan Roh. Ini adalah perbuatannya." Ashley menunjuk anting bulannya.

__ADS_1


"Huh? Apa maksudmu?"


"Sejak aku kecil, aku selalu bertanya-tanya, darimana dan bagaimana anting ini dibuat, lalu siapa pencetus awalnya? Tentu saja aku sudah menanyakan ini pada Ratu Feline, tapi dia tak tahu apapun mengenainya.


"Meski di bagian dalam kerajaan pun, masih ada misteri yang aku—tidak, bahkan leluhur dan penerusku tidak tahu kebenarannya."


"Lalu... apa yang ingin kaulakukan, Scarlet?"


Scarlet memakai lagi antingnya.


"Seperti biasa. Menjadi ratu untuk rakyatku dan membuat mereka aman dari segala ancaman. Tapi, ada satu hal yang tampaknya tak mungkin kuwujudkan."


"Apa itu...?"


"Aku... tak ingin cucuku mengemban semua beban ini di pundak mungilnya. Aku mungkin tak bisa hadir di sisinya karena sifatku yang mudah membuat musuh. Aku sudah membahayakan nyawa Alicia karena keputusanku demi menguak dan benar-benar memastikan bahwa Morgan tidak di pihak kita.


"Hal itu membuatku tersadar, nyawaku juga mungkin takkan berlangsung lama demi melihat pertumbuhan cucuku, atau bahkan mendampingi Alicia melahirkan."


Saat itu, Ashley tersentuh. Sang Ruby Berkobar yang selalu terbakar oleh api jiwa untuk terus melindungi rakyatnya—bahkan jika itu membuatnya dibenci, menjatuhkan air matanya. Mungkin ini adalah kali pertamanya ia menangis.


"Ashley," kata Scarlet setelah menghapus air matanya, "jangan beritahu ini pada siapapun, tapi Erigona itu... adalah bagian dari Yggdrasil."


Ashley mengerutkan kening. "Kenapa?"


"Mereka takkan siap menerima faktanya, seperti kau dan aku. Terlebih...."


"Terlebih?"


"Aku sangat yakin bahwa cucuku adalah orang yang akan membangkitkan Yggdrasil."


......................


"Me-membangkitkan?! Apa Anda serius?! Itu pohon kehidupan dunia, lho! Apa Anda tahu seperti apa besarnya pohon itu?! Bagaimana mungkin Zeeta mampu membangkitkan Yggdrasil, jika dia hanyalah Manusia!?" Karim tiba-tiba berdiri dan membanting meja.


"Ho? Scarlet bahkan tak menceritakan padaku tentang tinggi Yggdrasil, Tuan Karim. Mungkin, inilah yang diinginkan Scarlet agar tidak memberitahu kalian, ya?"


"Cih...." Karim kembali duduk, kemudian menghapus keringat di wajahnya dengan sapu tangan dari saku mantel putihnya.


"Grand Duchess, Sayang, a-aku tahu masalah ini sangat penting, tapi... kita sedang di tengah-tengah makan siang...," ujar Agatha, berusaha mencairkan suasana.


"Kau benar, Nyonya Agatha. Kita lanjutkan pembicaraan ini lain kali." Ashley akan mengisi perutnya dengan sebuah ayunan sendok, tapi....


"G-Grand Duchess, maaf menganggu Anda!" seorang prajurit datang membanting pintu.


"Apa-apaan kau ini, mana sopan santunmu?!" teriak Ashley.


"Ma-maafkan saya! I-ini masalah Tuan Putri!"


"Huh? Ada apa dengannya? Bukankah dia sedang menyusul Edward dan Ella?" tanya Ashley.


"I-itu benar... tapi... kami menerima laporan bahwa Tuan Putri dan sepupunya ... sedang berada di sebuah penginapan biasa bernama Neko's Inn!"


Ashley menjatuhkan sendoknya. "APA KATAMU?!


"Cih, aku lupa jika dia bisa teleportasi! Lalu, apa yang dia lakukan di sana?"


"So-soal itu... dia hanya memasak untuk sepupunya...."


"APA KATAMU?!" Lowèn berteriak kali ini. "Tuan Putri... memasak?!"


"Bwh... bwahahahahah!" Arthur tertawa.


"Huh?! Apa yang kau tertawakan?" tanya Lowèn.


"Tidak tidak.... Hanya saja, bahkan setelah menjadi Tuan Putri, Zeeta tetaplah Zeeta dari desa Lazuli!"


"Agh, nafsu makanku hilang gara-gara anak itu. Rommy, suruh Marcus ke sana dan awasi dia!" perintah Ashley.


"Laksanakan!" prajurit bernama Rommy itu segera berlari.


"Astaga... Zeeta sangat berbeda dari Scarlet atau Alicia.... Aku tak menyangka akan menyaksikan perbedaan sifat yang begitu besar dari keluarga kerajaan begini...." Ashley menekan-nekan pelipis kanan dan kirinya dengan telunjuk dan ibu jari tangan kirinya.


"Tuan Karim, kuharap kau mengerti, kau boleh meminta Zeeta tinggal bersama kalian, tapi biarkan Zeeta memilihnya," ujar Ashley.


"Aku mengerti," balas Karim.

__ADS_1


Pada hari itu, dapat dikatakan bahwa adalah hari sebelum mimpi buruk tiba. Ancaman yang mereka hadapi, jauh lebih berbahaya dari apapun yang pernah mereka hadapi sebelumnya.


__ADS_2