Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Sang Penyihir Harapan [END]


__ADS_3

"Apa yang akan kaulakukan, Zee?" tanya Klutzie. "Apa permintaanmu pada mereka? Jangan tutup-tutupi lagi."


"Tidak akan. Aku hanya ingin waktu untuk mengucapkan selamat tinggal pada keluarga dan temanku. Namun, aku butuh kekuatan Yggdrasil. Jadi, aku akan melakukannya ditengah-tengah tumbuh kembalinya pohon itu."


"Baiklah."


"Kalian tahu apa yang harus dilakukan untuk menumbuhkan Yggdrasil, bukan?" Zeeta memastikan.


"Tentu saja!" Hitomi sewot. "Kaupikir siapa aku ini?! Xenna, Siren! Pokoknya kalian harus memastikan sampai dia benar-benar selesai!"


Dua Roh Yggdrasil itu tersenyum. "Pasti."


Kemudian, Klutzie, Hitomi, dan Zeeta, membentuk lingkaran bersama dengan Siren dan Xennaville. Mereka semua memejamkan mata untuk mendapatkan fokus. Beberapa saat setelahnya, Roh Yggdrasil yang bentuknya seperti bola kecil bercahaya datang dari sisi Grandtopia dengan begitu cepat. Mereka membentuk diri menjadi bentuk semulanya di belakang Zeeta. Perlahan namun pasti, Xennaville dan Siren pun ikut bersamanya.


"Kalau begitu, aku pamit dulu."


......................


[POV Zeeta.]


Alter adalah diriku dan aku adalah dirinya. Kami sama-sama seorang Zeeta Aurora XXI, hanya dari dunia yang berbeda, akhir yang berbeda, dan menghancurkan dunia dengan cara yang berbeda.


Sihir yang sebentar lagi akan aktif ini adalah seluruh daya hidupku bersama mana alam yang terkumpul melalui mana Roh Kuno yang telah menyatu denganku. Julukan "Benih Yggdrasil" bukanlah sebuah hiperbola. Aku, yang menjadi pusat tentang semua kejadian dunia sihir selama ribu-ribuan tahun ini, akan menjadi pondasi baru untuk dunia yang baru. Namun, untuk bisa melakukannya, dunia yang lama harus dihancurkan. Disitulah peran Klutzie dan Hitomi selanjutnya. Mereka akan memandu masing-masing Roh Yggdrasil mereka untuk membentuk kehidupan asalnya— Pohon Kehidupan. Demikian pula Roh-Roh Yggdrasil yang tersebar di Grandtopia. Baru setelah itulah, aku, yang sebagai benih sekaligus pondasinya, dapat diwujudkan keinginannya.


Persiapanku untuk bisa mewujudkan ini sama sekali tidak mudah. Banyak hal yang harus kurelakan dan kulepas dari genggaman. Nyawa, mimpi, keinginan, cinta, keluarga, dan teman. Namun, aku bercermin lagi dengan diriku yang lain. Dari diriku yang telah kehilangan lebih banyak dariku itu, bahkan sihirnya sendiri, tetapi ia masih bisa menghidupkan lagi Yggdrasil, kendati akhirnya benar-benar pahit untuknya.


Kami adalah orang yang sama, maka dari itu Rune Kaunaz tidak akan berguna untuk menebak serangan atau melihat masa depan apa yang akan menunggu kami berdua— hanya jika kami berdekatan dalam jarak tertentu.


Di malam sebelum aku dan yang lain memersiapkan segala yang dibutuhkan demi Ragnarok, walau aku sedang dalam wujud manusia biasa dibawah malam bulan purnama, aku melihat waskita. Bukan dari Kaunaz, bukan dari Chronos, bukan juga dari leluhurku, tetapi Luna, walau ia tak menyadarinya. Kemungkinan besar ini disebabkan waktu yang semakin sempit dan betapa mengancamnya sosok diriku yang lain ini bagi keberlangsungan dunia kami.


Aku tahu akan ada kehancuran sebelum adanya penciptaan. Penciptaan sebuah dunia baru yang pada kala itu aku tak tahu apakah dapat kuwujudkan atau tidak. Yang bisa kulakukan adalah melakukannya, meyakininya, dan percaya pada yang lain, sama seperti mereka yang memercayaiku.


Alter benar-benar diriku secara tiga ratus enam puluh derajat. Dikhianati, dikhianati, dan terus dikhianati. Pada lubuk hatinya yang terdalam, dia tahu teman-temannya tidak mengkhianatinya secara nyata, tetapi itu karena ketidakmampuannya sehingga mau tak mau, mereka melakukannya.


Bila aku mengalami apa yang Alter lalui di dunianya, maka aku yakin, Zeeta yang kulihat bersama Luna diwaktu yang bersamaan ketika pemakaman tuan Willmurd, adalah (what if) diriku di masa ini. Kutinggalkan segala yang mencintaiku, demi menghancurkan dunia sihir yang terus merebut apa yang berharga bagiku, juga dari para leluhur, serta banyak makhluk hidup lainnya.


Perang sihir yang kami lihat di dunia itu, sengaja dicetuskan diriku sendiri, supaya bisa membunuhku yang telah mendapatkan kekuatan lebih sejak membangkitkan Yggdrasil. Kuyakin, dua Benih lainnya sudah kubunuh juga demi tercapainya tujuan itu.


Aku adalah aku, dan akulah yang paling mengerti diriku sendiri. Masing-masing dari kami telah memilih jalan hidupnya.


Dengan terwujudnya sihir ini, aku bisa beristirahat dari apa yang telah kulalui selama tujuh belas tahun ini. Baik apa yang diketahui rekan ataupun tidak, perjalananku sangatlah panjang.


Naga Oboro, Naga Kabut Bulan, sempat berbicara denganku sebelum kulakukan sihirku ini. Kukatakan tanpa ditutup-tutupi apa yang akan kulakukan dengan dunia ini dan dia meminjamkanku kekuatannya untuk....


......................


Semua orang yang sedang mengungsi di Aurora dan dibalik kokohnya Töfrahnöttur yang baru dapat melihat bagaimana Vanadust dan pulau layang di sekitarnya hancur lebur oleh alam yang benar-benar mengamuk. Bahkan pulau layang di balik Töfrahnöttur juga tak kuasa menahan getaran Bumi kendati mereka berada di udara. Mereka yang ada di balik pelindung, yang dapat bertahan hidup kala itu, akan menjadi saksi hidup tentang tak masuk akalnya yang sedang terjadi.


Kendati tanah terbelah dimana-mana, menunjukkan lahar panas di dalamnya, mereka tak merasakan panas yang begitu menyengat kecuali suhu yang memaksa mereka berkeringat, selain karena faktor takut.


Lava-lava yang meleleh hingga membakar habis hutan, tak terkecuali Grandtopia, semakin memerahkan pandangan mereka yang masih hidup dan terus berharap semuanya dapat berakhir dengan cepat. Hutan Elf, berkat adanya Serina, Titania, dan Ozy, dapat terlindungi walau ketiganya sedang tidak baik-baik saja.


Tidak ada yang merasa tidak takut ataupun cemas. Tidak ada yang tidak berpikir bahwa ini adalah akhir dari dunia. Tiada pula yang akan menduga bahwa tiba-tiba segala kehancuran yang terjadi berhenti begitu saja tanpa peringatan. Namun tak lama setelahnya, tanah bergemuruh kembali, memunculkan sebuah tunas raksasa yang perlahan menjalar meninggi, meninggi, dan terus meninggi hingga ke langit. Mereka semua tahu apa itu— Pohon Kehidupan.


Segala makhluk yang ada di Bumi, baik yang mampu menyelamatkan diri dari ganasnya hancurnya alam, ataupun mereka yang berlindung di balik Töfrahnöttur, segera mengubah ekspresi suram menjadi senyum sumringah. Tanpa terkecuali. Mereka melihat sendiri bagaimana tunas tersebut berubah secara cepat menjadi pohon yang teramat besar, tinggi, dan secara misterius segera membawa ketenangan bagi siapapun yang memandangnya.


"Berhasil! Tuan Putri Zeeta berhasil!"


Sorakan salah seorang rakyat Aurora menggema di seluruh kerajaan, mendatangkan semakin banyak berubahnya ketakutan menjadi kebahagiaan.


"Horee!"


"Syukurlah!"


Seruan kesahajaan semakin merambat kemana-mana, namun mereka dikejutkan oleh hancurnya Töfrahnöttur tiba-tiba. Kemudian alam seakan memperbaiki dirinya sendiri dengan menutup segala retakan dan jurang yang tercipta sebelumnya. Hujan perlahan mengguyur dengan deras, memadamkan panasnya lava dan lahar. Kendati basah-basahan, mereka yang sedang berbahagia, termasuk para Elf dan Raksasa, tak berhenti menyerukan sorakan senang.


"Terima kasih, Zeeta!"


Beberapa makhluk sihir menyerukan perasaan tulus mereka.


Tidak hanya alam saja yang mengalami perubahan. Beberapa makhluk sihir, seperti Naga, pun mengalaminya. Mereka perlahan mengecil sampai ke ukuran manusia, menyisakan tanduk, ekor, ataupun sisik. Itu merupakan bukti bahwa dunia yang ingin diwujudkan Zeeta sedang dalam proses pembentukannya. Para Phantasmal yang hidup dibalik perlindungan Zephyr selamat, tanpa adanya perubahan yang signifikan. Makhluk laut seperti Duyung pun demikian. Mereka masih bisa memakai kekuatannya untuk memanipulasi air.


"Tuan Putri Zeeta... kau berhasil...." Cynthia yang berada di antara kerumunan Aurora, tersenyum memandangi Yggdrasil.


[Sementara itu....]


Crescent Void sedang berkumpul di atas salah satu tower gerbang luar kerajaan. Luka yang dialami Gerda dan Danny sebelumnya perlahan sembuh dengan sendirinya, selama Yggdrasil tumbuh.


"Tuan Putri akan kembali, 'kan...?" Colette bertanya dengan nada ragu. Ia tak yakin apakah tepat menanyakan pertanyaan ini sekarang.


"Tentu saja!" bentak Azure dan Mellynda bersamaan.


"Gadis itu masih memiliki janji yang belum ditepatinya!" sambung Mellynda. "Kalau dia sampai tak kembali, aku pasti akan—"


"Maaf tentang itu, Melly."


Suara yang sangat dikenali dan begitu dirindukan kehadirannya segera memaksa yang mendengarnya terbelalak dan seketika menolehkan kepala. Layaknya dua Benih Yggdrasil sebelumnya, enam orang tersebut dipaksa untuk terkejut.


"Hei ... apa-apaan ini, Zeeta?!" Azure segera menitikkan air mata, paham apa yang sedang terjadi.


Gerda juga serupa. Dia menggertak gigi. "Pembohong...!" ia mengepalkan kedua tangan, menggertak gigi— berusaha untuk menahan tangisnya.


Zeeta tampil dengan tubuh bercahaya dan seperti kertas yang terkumpul dari arah Yggdrasil. Seperti Yggdrasil mewujudkan tubuh semu dirinya ke hadapan mereka. Gadis yang sudah berambut violet itu tersenyum kecil. "Maaf, ya, Kak Azure, maaf juga kalian semua....

__ADS_1


"Sejak tahu apa kewajibanku, aku sudah tahu ini akan terjadi. Aku sengaja tak menceritakannya karena aku pun masih diselimuti kabut tebal keraguan. Namun sekarang, berkat hadirnya kalian bersamaku, aku bisa membulatkan tekad!


"Inilah jalan yang kupilih."


Tak ada yang merespon Zeeta selain suara sesenggukan yang terlepas ataupun ditahan.


"Jangan salah, aku memang ingin menghabiskan sisa hidupku dengan kalian, tapi inilah bentuk kewajibanku, Teman-Teman."


Danny memberanikan dirinya lagi untuk mengatakan sesuatu. "Zeeta! Aku dan Luna sempat berbicara, dan aku pasti akan—"


"Ya, Dan, aku tahu. Aku tahu apa yang kalian bicarakan. Kunantikan itu bila kau benar-benar mampu melakukannya."


"Pasti! Pasti akan kulakukan!"


"Apa? Apa yang kalian bicarakan?! Jangan ada rahasia diantara kita disaat seperti ini!" Gerda membentak.


Zeeta berjalan menghampiri Gerda. Ia terkekeh sambil mengusap tangis di pipinya. "Dasar, siapa di sini yang cengeng sekarang, hmm?"


"Berisik! Aku tak ingin dengar itu darimu, dasar cengeng!"


Zeeta lalu berjalan ke sampingnya, dimana Mellynda sudah menangis tersedu-sedu. "Terima kasih sudah melindungiku dan mengalahkan Alter. Tanpa pertandingan ulangpun kau akan memenangkannya. Terima kasih juga karena sudah menjadi teman bangsawanku, Melly!"


"Aku memang membencimu, Zee! Kau tak pernah mau menceritakan hal sepenting ini dan terus berusaha menanggungnya sendirian, bahkan kau tak peduli jika kami kesepian tanpamu, 'kan?!


"Kau selalu menjadi cahaya penerang jalanku untuk terus mengasah kemampuanku. Bila kau tiba-tiba pergi dari sisiku, kepada siapa lagi aku akan—"


"Demi dirimu sendiri. Kau akan hidup demi dirimu sendiri dan jika mau, hiduplah demiku. Aku melakukan ini karena menyayangi kalian. Tertawalah, menangislah, marahlah padaku ... pada dunia yang sudah bukan lagi dunia sihir ini."


"Sial! Aku benar-benar ingin memelukmu tapi tubuh itu tembus pandang, 'kan?! Kau benar-benar curang!"


Zeeta melihat ke arah Yggdrasil, seakan meminta sesuatu. Teman-temannya segera melihat tubuh gadis tersebut menjadi nyata kendati tetap bercahaya. Tanpa mengatakan apapun, Mellynda segera mendekap erat Zeeta. Sangat sangat erat. "Aku menyayangimu juga, Zee!"


"Ya, Melly, terima kasih...."


Selepasnya, Zeeta mengucapkan salam perpisahannya pada Novalius. "Terima kasih atas pengabdianmu padaku, Tuan Novalius. Kuyakin, kakekmu, Tuan Willmurd, akan bangga denganmu. Dengan ini, bersama datangnya kedamaian dunia, Crescent Void akan dibubarkan. Tuan Novalius, hiduplah menjadi apa yang kauinginkan nanti. Terima kasih sudah melindungi dan berjuang bersamaku."


Novalius bertekuk lutut. "Suatu kehormatan tak tergantikan bagiku untuk bisa berguna bagi Anda, Yang Mulia. Aku turut bahagia dengan selesainya kewajiban Anda, namun jika berkenan, bolehkah beritahu kami apa yang akan terjadi pada Anda setelah ini?"


Zeeta tersenyum. "Tentu. Nanti." Ia ke arah Colette dan Marcus. "Colette."


"Ya! Yang Mulia!" Gadis yang sebenarnya lebih tua bertahun-tahun dari Zeeta itu masih tak bisa menghilangkan tegangnya.


"Waktu yang kuhabiskan denganmu kebanyakan adalah latihan sihir. Namun, tentu kau mengingat bagaimana pertama kali kita bertemu, 'kan?"


"Tentu saja! Mana mungkin kubisa melupakan itu. Anda benar-benar seperti yang dibicarakan rakyat. Anda sangat disayangi dan dipercaya mereka!"


Zeeta mengangguk. Ia kemudian menatap Marcus. "Terima kasih atas kesetiaan dan kepercayaanmu padaku, bahkan sejak menyelamatkanku dari penjara bawah tanah Rowing, Marcus. Kau adalah pahlawan. Jagalah calon istrimu dan buatlah ia bahagia!"


Marcus tersenyum lebar. "Tentu saja, Putri! Sebab aku sangat mencintainya!"


Azure adalah orang terakhir yang diucapkan sampai jumpanya. "Kak Azure.... Tolong jaga orang tua kita, ya."


"Kau tidak akan mengatakan pesan seperti yang kaukatakan pada mereka?"


"Hehe, untuk apa? Kau mengerti diriku, 'kan?


"Setelah ini, aku akan beristirahat, terlepas dari semua urusan dunia ini, di suatu dimensi yang tercipta berkat Ars. Dimensi itu disebut Avalon. Tenang saja, meski aku tak akan terlibat, aku mungkin bisa melihat kalian dari sana. Jadi, teruslah hidup, ya!"


Keenam orang itu mengusap air matanya, kemudian menjawab dengan lantang sambil tersenyum. "Ya! Terima kasih, Zeeta!"


Sembari melambaikan tangan, Zeeta lenyap dari hadapan mereka dengan tersenyum. Yggdrasil seperti menyerap lagi tubuh gadis itu.


......................


[Disaat yang bersamaan sejak mereka berbicara, sosok yang sama pun hadir di hadapan orang tuanya....]


Alicia, Hazell, dan Scarlet, usai memberikan mana mereka kepada kristal yang kemudian berubah menjadi Töfrahnöttur, kembali ke istana supaya bisa melihat apa yang terjadi di luar kerajaan dengan lebih jelas. Belum sampai di ruang takhta, ketiganya segera dikejutkan oleh kedatangan Zeeta yang datang dari arah berlawanan.


Alicia langsung membatu, Scarlet terbelalak, dan Hazell yang menggeleng kepala. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Zeeta langsung melompat dan memeluk Alicia. "Maaf dan terima kasih, Ibu...."


Alicia tidak membutuhkan penjelasan tentang apa yang terjadi dengan putrinya. Tangisnya datang secara perlahan tetapi semakin deras dengan cepat. Ia membelai rambut panjang gadisnya yang sudah berusia tujuh belas tahun. "Kenapa kamu berbohong pada kami...? Kenapa kamu menyembunyikannya?"


Zeeta juga ikut menangis sebab respon lembut yang diberikan ibunya. Tidak ada sedikit pun ucapan meledak-ledak. Gadis ini justru merasa sangat nyaman dan tak bisa menahan emosinya. Dirinya semakin memeluk erat sang ibu. "Aku ... aku tak ingin kalian khawatir.... Bila kuungkap, tekadku pasti takkan sekokoh sekarang.


"Maaf, Ibu....


"Aku tak bisa menghabiskan banyak waktu bersama kalian.... Aku benar-benar mendambakan kebersamaan dengan kalian, tapi ini adalah kewajibanku. Sejak Ratu Clarissa memberitahu tentang pembangkitan Yggdrasil, aku sudah tahu kalau hal seperti ini akan terjadi padaku."


Hazell tak kuasa lagi. Ia ikut mendekap putri dan istrinya erat. "Kamilah yang seharusnya minta maaf, Zee! Kami tak bisa berbuat apapun demi dirimu dan membiarkanmu terbebani oleh kewajiban seperti ini...!"


Scarlet tidak ikut memeluk, namun ia mencengkeram tangannya. Ia tidak ingin mengantar kepergian cucunya dengan tangis.


"Tidak Ayah.... Karena dirimu, Ifrit sudah melindungiku berkali-kali. Berkat dirimu yang memercayakannyq padaku, aku pun bisa melihat kisah leluhur pertama kita yang tiada seorang pun yang mengetahuinya, serta berinteraksi dengannya."


"Sudah cukup tentang leluhur atau apapun itu," kata Alicia, "apa yang akan terjadi padamu setelah ini? Tak bisakah kami bersama denganmu lagi...?"


"Aku akan melihat kalian dari sana."


Ketiganya kaget. Hanya satu arti dari ucapannya itu.


"Mengapa Yggdrasil tidak adil padamu?!" Scarlet akhirnya buka suara. "Setelah semua yang kaukorbankan—"


"Tanpa diriku, semua yang sedang terjadi di luar sana saat ini, tidak mungkin dilakukan, Nek. Inilah mengapa kekuatanku sangat jauh lebih besar daripada yang lain."

__ADS_1


"Meskipun begitu...."


Zeeta melepas dekapannya dari orang tuanya. "Sudah waktunya. Tolong sampaikan terima kasihku pada guru Ashley. Tanpa ajarannya, aku pun tak bisa sampai di titik ini. Jagalah diri kalian, ya!"


Sewaktu Zeeta hendak pergi dari hadapan orang tuanya, Alicia langsung mendekap lagi putrinya dan mengecup semua bagian wajahnya kecuali bibir, mata, dan hidung.


"I-Ibu...?! Aku bukan anak kecil! Kenapa—"


"Kapanpun waktu telah berlalu, putriku tetaplah anak kecil tersayangku! Selamat tinggal, putri tercintaku...! Ibu sungguh menyayangimu!"


Zeeta tak tahan dengan ucapan itu. Ia langsung menangis dengan derasnya. "Uhm! Aku juga menyayangi Ibu! Selamat tinggal...!"


Kemudian, seperti yang terjadi dengan Crescent Void, Zeeta lenyap dari hadapan mereka.


"Sialan!!" Scarlet menghancurkan tembok di sebelahnya dengan tangan kosong. "Kenapa harus seperti ini?!"


......................


Diwaktu yang sama, di tempat lain, Arthur dan Hellenia yang berada di tengah kerumunan warga, yang sama-sama melihat tumbuhnya Yggdrasil, serentak melihat seberkas cahaya di salah satu gang di dekat keduanya. Begitu dihampiri karena rasa penasaran, "Z-Zee?!" adalah reaksi Arthur.


"Sayang sekali waktuku tak begitu banyak lagi. Maaf karena terkesan terburu-buru begini, Ayah Arthur, tapi....


"Terima kasih sudah merawatku selama delapan tahun, mengajariku berbagai macam hal, membentukku menjadi siapa diriku sekarang."


"Ap-apa yang terjadi ini, Zee?! Aoa yang kaukatakan?!"


Keduanya melihat kaki Zeeta, meski bercahaya seperti yang lain, itu tak terbentuk dengan sempurna. Lebih tepatnya, tidak lagi sempurna.


"Setelah ini semua reda, tepatilah janjimu padaku dan Nona Hellenia, ya, Yah." Putri angkat Arthur ini tersenyum tulus.


Arthur mengepalkan kedua tangannya sambil memandang ke bawah. Ia mengerti apa yang sedang terjadi. "Pasti. Pasti akan kutepati, maka dari itu, kau ... datanglah!"


Zeeta tersenyum. "Tenang saja, Yah, aku pasti akan melihat dari kejauhan. Dari dunia sana, sih, hehe....


"Nona Hellenia...."


"Ya, Putri Zeeta?"


"Buatlah ayahku bahagia, ya!"


Hellenia berlinang air mata. "Pasti." Ia menjawabnya dengan senyum.


"Kau juga, Ayah, wanita di sebelahmu itu sudah jatuh cinta padamu sejak kalian masih remaja! Jaga dia dengan baik dengan cinta yang lebih besar!"


Arthur mendengus. "Tentu!"


Zeeta tersenyum lebar. "Haaah~ aku jadi lega! Sudah saatnya. Selamat tinggal, kalian semua!"


......................


Di hadapan Klutzie dan Hitomi, terdapat Zeeta yang kaki hingga pahanya sudah berubah menjadi akar. Ia berdiri tegak merapatkan kaki, membuka kedua tangan seakan ingin memegang sesuatu. Matanya yang sembab dan perlahan dibuka itu menandakan kalau apa yang ia pinta pada Xennaville dan Siren sudah selesai. "Kalian bisa memanggil sepupuku itu sekarang."


"Baiklah." Klutzie menjawab. Sebagai salah satu dari dua orang terakhir yang bisa menggunakan sihir, lelaki ini menteleportasi Ella dan Edward yang sedang memandangi Yggdrasil tepat ke hadapan Zeeta.


"A-apa yang—?!" Edward yang kaget dengan berpindah tempat, begitu melihat Zeeta, ia paham. Demikian pula dengan adiknya.


"Siap tidak siap, kalian berdua." Ucapan Zeeta langsung membawa tangis kedua sepupunya.


"Padahal aku sudah mengira kau akan pulang!" Edward dan Ella mengatakannya bersamaan. Kendati demikian, mereka memegang masing-masing tangan Zeeta yang sudah berubah menjadi batang kayu.


"Terima kasih, kalian semua. Ed, Ella, sampaikan salamku pada kakek dan nenek." Zeeta tersenyum, hingga wajahnya kaku oleh perubahan kayu yang terus menjalar. Setelahnya, tanda di punggung Ella dan Edward bercahaya. Perlahan, dari tangan yang digenggam mereka, Zeeta lenyap bagaikan butiran mana.


"Aku tak ingin membunuh kakakku sendiri dengan tanganku!" keluh Edward yang tak kuasa menahan tangis dan air hidungnya.


"Berisik! Memangnya kita bisa apa?! Apapun yang kita pikirkan, pasti berakhir untuk menghormati keinginannya!"


.


.


.


.


Hari itu, dihari sebelum seorang Tuan Putri yang dicintai seluruh rakyat dan orang terdekatnya berulang tahun kedelapan belas, dunia sihir berubah total dari pondasinya. Aurora kehilangan Tuan Putri, Putri, Adik, Kakak, sekaligus Teman. Jasanya bagi mereka tak dapat tergantikan, hingga kelak ia mendapatkan julukan abadi sebagai "Penyihir Harapan".


.


.


.


.


Sepasang kaki berjalan menyusuri hamparan bunga warna-warni. Ungu, putih, merah, biru, dan lain-lain. Di dekat hamparan tersebut, ada aliran sungai yang tenang meski sang pemilik kaki itu tak tahu dari mana sumbernya. Ia terus berjalan tanpa tahu arah. Dia berjalan mengikuti perasaannya saja, kemanapun yang diinginkan. Kemudian, ia melihat seorang gadis kecil dengan rambut pirang dan kulit kecokelatan. Ia membalik tubuhnya dan menyambutnya dengan senyuman yang sangat menyilaukan dan menghangatkan.


"Selamat datang di Avalon, Zeeta!"


"Ya, izinkan aku istirahat di sini, Ars."


"Silakan. Kalau ingin tidur, tidur saja. Takkan ada apapun yang akan mengganggumu."


Perlahan Zeeta menidurkan dirinya di tengah-tengah lautan bunga tersebut. Ia dapat melihat warna langit yang berwarna merah muda dan awan yang kejinggaan. Ada pula awan yang putih tapi jinggalah yang mendominasi. Ia menutup matanya tanpa terburu-buru. Semilir angin menderu, membawakan kenyamanan baginya.

__ADS_1


"Selamat istirahat, oh pahlawan dunia...." Tak lama setelahnya, Ars hilang dari Avalon. Ia telah menuntaskan tugasnya dan kini kembali ke dekapan orang tuanya.


__ADS_2