Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Awal dari Sang Pembalas Dendam, Marianna Aurora


__ADS_3

Siapapun manusia, akan melakukan proses adaptasi terhadap lingkungan baru di sekitar mereka. Adaptasi tersebut, ada yang dilakukan dengan jangka waktu yang lama atau sebentar. Ya, siapapun pasti tahu ini. Proses ini juga dialami oleh Tuan Putri yang memiliki tanggung jawab besar di pundaknya, yakni Zeeta Aurora XXI, yang baru menghabiskan hari-harinya di negeri para Elf, Grandtopia, selama lima hari. Segala sesuatu harus ia lakukan bersama dengan Aria—yang menjadi rekan sehuni di rumah khusus untuk mereka, dan membantu kehidupannya selama latihan di sana. Banyak hal baru yang ia dapatkan di negeri unik nan jelita ini. Selain pengetahuannya tentang makhluk-makhluk sihir yang eksis di dunia bertambah, ia juga mengetahui fakta yang ingin dikatakan Aria berkali-kali namun tertunda.


Hal itu terjadi ketika malam ketiga dirinya tinggal di sana. Para Elf sudah berada di dalam kediaman masing-masing. Ada yang sudah terlelap, ada juga yang sedang mengasah bilah tombak, anak panah, dan senjata berburu lain untuk digunakan pada dini hari. Yang pasti, di rumah yang hanya dihuni oleh dua makhluk itu, terasa hening ketika ungkapan demi ungkapan dilontarkan oleh Aria. Aria menceritakan rahasia para Elf pada Zeeta di ruang makan setelah mereka makan malam.


“Ini adalah sejarah yang sangat penting untuk keberadaan kami, sekaligus menjadi krusial untukmu ketahui. Sejarah ini tidak pernah diberitahu pada Manusia, Naga, Peri, atau ras lain di dunia ini, kecuali sebagian kecil dari mereka pernah terlibat di dalamnya,” tutur Aria membuka topik pentingnya. “Awalnya, alasanku mengawasimu hanya karena penasaran.... 'Kenapa, sosok keturunannya memilih jalan kehancuran, kenapa sosok yang berharga


bagi kami memutuskan untuk menghancurkan dunia?'


"Apapun alasanmu di ramalan itu melakukannya, aku ingin mengetahuinya. Kalau aku menyukai alasan itu, cara berpikir atau caramu bertindak, aku memutuskan untuk terlibat lebih jauh denganmu. Aku akan menemanimu sampai akhir hayatku.


"Dan sekarang, di sinilah kita berada. Aku bukanlah orang asing bagimu, begitu juga denganmu."


Zeeta paham apa yang ingin dikatakan Aria, tetapi ia juga tak mengerti di beberapa bagiannya. Ia memutuskan untuk diam dan membiarkan Aria selesai bicara.


“Apakah kau tidak menyadari, bahwa Lucy memiliki anting bulan yang sama sepertimu? Apa kau sudah tahu jika Lucy adalah salah satu leluhurmu?”


Dengan senyum kecut di bibirnya, Zeeta menjawab, “Tentu saja aku tahu. Dia sangat terpaku padaku, dan gelagat kak Velvet juga aneh sejak namanya disebut kak Azure. Tapi ... apa hubungannya dengan kalian?”


“Aku pernah bilang, bahwa Elf terbentuk dengan tercampurnya mana Manusia dan Peri. Orang yang melakukan itu adalah Lucy.


“Lucy adalah keturunan dari Velvet Aurora XI, saudari kedua dari tiga bersaudari-nya Clarissa Aurora IX, yang memiliki akhir hayat yang sangat tragis.


“Nama asli Lucy adalah Marianna Aurora, panggilannya adalah Mary. Suatu hari pada 250 tahun yang lalu, ketika ia mengetahui sesuatu yang diturunkan dari neneknya….”


......................


Hari itu, senja sudah ingin lelap dalam tidurnya. Di istana kerajaan, lampu-lampu dari sihir api atau lilin serta chandelier menyinari istana kerajaan, sementara wilayah di sekitarnya masih cukup gelap karena hanya memiliki penerangan dari obor dan belum semaju di takhta Alicia.


Semua cucu Clarissa dikumpulkan di ruang makan dengan meja berukuran panjang, mewah, serta kuno dengan barang-barang antik serta khasnya seperti piring, cangkir, dan hiasan ruang makan lain. Tidak ada orang tua mereka yang menemani, hanya ada lima cucu yang satu diantaranya adalah lelaki, dan beberapa pelayan yang bersiaga di sana.


Audrey Alexandrita dan Erina Alexandrita; adalah putri dari Iris Aurora X atau yang saat itu menjadi Iris Alexandrita IX, Marianna Aurora; putri tunggal dari Velvet Aurora XI, lalu ada Julia dan Gilbert Aurora; putri dan putra dari Rozè Aurora XII.


Kelima cucu Clarissa itu ber-gap usia tidak begitu jauh, hanya 3-6 tahun saja. Para Tuan Putri sudah menginjak usia belasan mereka, sementara sang Pangeran baru sepuluh tahun.


“Katakan padaku, Cucu-Cucu kesayanganku. Jika salah satu diantara kalian mewarisi beban dan tanggung jawab para leluhur kita, apa yang


akan kalian lakukan?” tanya Clarissa, dengan ditemani secangkir teh hangat. Kelima cucunya bungkam beberapa saat, yang pertama kali menjawab adalah Audrey.


“Menuntaskan beban dan tanggung jawab yang belum terselesaikan itu, Nenek,” jawab Audrey. Ia memiliki rambut emas panjang terurai dan mata kuning. Sikap dan kelakuannya sudah dididik tegas, proporsi tubuhnya juga terlatih sebagai prajurit.


“Kalau aku ... aku akan mencoba semampuku, hehehe.... Lagi pula, aku masih harus banyak belajar dari Kakak dan sepupu-sepupuku,” jawab Erina. Ia


memilki rambut kelabu-ungu panjang sebahu yang diikat satu dan bermata ungu. Saudari Audrey ini juga memiliki postur tegap dan terlatih, sama seperti kakaknya.


“Hmph. Untuk apa aku memikirkan leluhurku. Kehidupanku ya kehidupanku,” balas Julia, sambil menyilangkan tangan. Ia berambut merah panjang yang ditata seperti “bor”. Ia memiliki mata zamrud.


“A-aku ... juga tidak ingin merasa terbebani. Tapi, kalau aku tahu aku mampu mengemban beban dan tanggung jawab itu, aku akan melakukannya,” jawab Gilbert, yang sama-sama berambut merah, tetapi bertipe ikal dan pendek. Matanya berwarna biru.


Keempat cucu itu sudah menjawab, dan mereka menunggu jawaban dari Marianna, yang tampangnya berkacamata bulat besar, dan bisa dianggap paling tak bermodis dibanding sepupunya yang lain.


“Bagaimana denganmu, Mary?” tanya Clarissa, sambil tersenyum lembut.


“A-aku.... Dengan kemampuanku yang tidak seberapa dibanding yang lain, aku hanya bisa membantu dari balik layar.... Jika apa yang kulakukan dibalik layar bisa mengangkat beban leluhurku, meskipun berat, aku akan melakukannya.


“Tapi ... mengingat aku yang paling lemah, aku ragu jika aku bisa menuntaskannya. Aku hanya akan menjadi beban untuk generasi Aurora selanjutnya.... Ma-maafkan aku, Nek, karena tak bisa memenuhi harapanmu...."


Audrey lekas bangun dari duduknya, mengabaikan fakta jika dia membuat kaget seisi ruang makan dengan bantingan meja. Ia mendekati Marianna dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Marianna yang menebak dia akan ditampar, menutup matanya erat-erat. Tapi....


“Apa maksudmu, Mary? Diantara kami semua, kaulah yang paling berhati mulia. Masing-masing dari kita memiliki kelebihan dan kelemahannya sendiri. Jadi jangan layu sebelum kau mekar!” sambil mengelus kepalanya, Audrey menunjukkan senyum lima jarinya yang sangat menyilaukan bagi Marianna.


“U-uhm. Terima kasih, Audrey...,” balas Marianna memaksakan untuk tersenyum.


“Mary!” pekik Julia.


“I-iya, ada apa Julia?”


“Kau adalah keturunan dari Clarissa Aurora dan Velvet Aurora. Kau hanya perlu mengingat dua hal itu saja dan itu cukup untuk memberimu kekuatan!


“Aku tidak ingin melihat sepupu kesayanganku seakan-akan dikucilkan. Seperti kata Si Bar-Bar Audrey itu, kau memiliki kekuatan yang tidak dimiliki kami!”


“Hah? Apa katamu, Rambut Bor?” Audrey memancarkan mana pekatnya.

__ADS_1


“Hmm? Kau menantangku, Gadis Bar-Bar?” Julia juga melakukan hal yang sama.


“Syukurlah,” kata Clarissa, yang seketika menenangkan suasana. “Aku tidak mengumpulkan kalian hanya untuk menanyakan hal itu. Jadi, ada alasan khusus kenapa aku menanyakannya. Dengarkan aku baik-baik.


Kemudian, Clarissa menceritakan apa yang diramalkan Ratu Peri Feline pada kelima cucunya, bahwa keturunan mereka yang kedua puluh satu akan menghancurkan dunia. Oleh karena itu, putri sulungnya, Iris, keluar dari silsilah kerajaan dan menikah dengan bangsawan lain hanya untuk mendedikasikan keluarganya untuk mendidik dan melatih mental, sihir, fisik, tata krama kerajaan, dan hal-hal bangsawan lainnya pada keturunan tuan putri selanjutnya.


Jadi, ketika takhta dari Rozè digantikan oleh Julia, keturunan Julia akan dididik oleh Audrey. Begitu seterusnya.


“Tapi, Nek... kenapa keturunan itu...?” Erina bertanya-tanya tentang alasan keturunannya jauh di masa depan menghancurkan dunia.


“Tidak tahu, karena itulah kita semua akan mencegahnya. Mungkin saja itu karena kebencian, atau hal lain yang terjadi di kehidupannya,” jawab Clarissa. “Aku tidak mencoba membuat kalian takut dan merasa kalian bertanggung jawab dengan apa yang terjadi di masa depan, dan berujung pada kalian yang tidak menikmati hidup kalian sendiri.


“Aku hanya ingin kalian tahu, bahwa keluarga kita memiliki kekuatan besar yang didapatkan melalui penderitaan. Jangan sampai membuat kesalahan yang akan merugikan diri sendiri. Gunakanlah kekuatan itu dengan bijak. Jika tidak ... aku tidak akan memaafkan kalian di alam sana.” Kelima cucunya merasakan mana yang sangat besar mengancam hidup mereka.


Dengan begitu, kelima cucu itu mengundurkan diri dari istana dan pulang ke kediaman mereka masing-masing dengan kereta kuda. Berbeda dengan


yang lain, Marianna pergi ke desa Lazuli, kampung halaman neneknya, dimana ia bertemu dengan Feline untuk pertama kalinya....


......................


Lima belas menit menggunakan kereta kuda setelah menyamarkan diri menjadi warga desa biasa, Marianna pergi ke perbatasan hutan dan desa. Desa


yang dalam keadaan terlelap, sama sekali tak menyadari keberadaan salah satu Tuan Putri mereka. Dengan matanya, ia dapat memastikan. Hutan itu memiliki mana kuat dan tak bisa dirasa atau dilihat manusia biasa. Tak lama setelah itu, ia bertemu dengan Feline....


“Oh? Apa yang kaulakukan malam-malam begini, wahai Tuan Putri?” Peri itu mengepakkan sayap yang menjatuhkan butiran merah muda.


“Ka-kau...? Peri ...? Jadi kalian benar-benar ada...?” tanya Marianna.


“Lihatlah delapan helai sayap ini. Kau tidak tahu siapa aku?”


“Ahahaha.... Ma-maafkan aku....”


“Baiklah, aku takkan menyalahkanmu. Namaku Feline. Lalu, apa perlumu?”


“Ah ... jadi begini. Nenekku bercerita kalau....” Marianna menceritakan apa yang baru saja terjadi.


Peri itu—tersenyum dengan lebar.


Marianna membelakangi Feline dan memberitahunya dengan mata yang berbinar dibalik kacamatanya. “Aku baru berteori, mungkinkah sebuah makhluk baru tercipta dari tergabungnya satu mana dengan mana yang lain? Aku terlemah dari saudara-saudariku, tetapi aku tetap ingin membantu mereka dengan


tujuan baru kami.


“Kalau teoriku benar, dengan terciptanya makhluk baru ini, mereka bisa melejitkan kekuatan kerajaan sekaligus melindunginya.”


“Ho...? Kauingin menyatukan mana-mu dengan Peri?”


Marianna mengangguk. “Itu benar! Apa aku diizinkan…?”


“Tentu saja! Sebagai Ratu dari seluruh Peri, aku akan membantumu sampai tuntas, Putri Mary….”


Tanpa menyadari niat terselubungnya, Marianna


berbinar-binar.


......................


[Kembali ke Grandtopia....]


“Kemudian, banyak yang terjadi di kerajaanmu. Banyak isu buruk yang terus menyerang istana, terutama pada Velvet dan Mary. Mary disebut-sebut mengandung anak dari Peri, padahal bukan itu yang sebenarnya terjadi. Ia masihlah suci.


“Mary meneruskan jalan ibunya yang sangat ingin tahu tentang banyak hal. Untuk mewujudkan teorinya, ia mengurung dirinya di ruang bawah tanah istana sambil menuangkan mana-nya pada botol berisi mana dari Morgan. Tetapi tiba-tiba, mana di dalam botol itu masuk ke dalam perutnya. Tak ada yang bisa dia lakukan untuk mengeluarkan mana itu. Dia juga tidak tahu kenapa mana itu masuk ke dalam perutnya.


“Meskipun dilanda ketakutan dan kecemasan yang tiada henti, ia tetap mementingkan satu hal yang ia kukuh genggam di benaknya.


“Yaitu membantu saudara-saudarinya, untuk mewujudkan masa depan cerah di era-mu, Zeeta.”


Zeeta menangis. Ia tak percaya bahwa pembunuh yang sudah melenyapkan nyawa ratusan Peri, termasuk Willmurd, ternyata adalah orang yang seperti itu.


“Tetapi, di saat itulah, semuanya menggelapkan mata Mary….”


......................

__ADS_1


“Hebat.... Hutan ini dipenuhi dengan entitas-entitas bermana tinggi! Kenapa aku tidak menyadari kalau ada banyak makhluk seperti kalian? Kalau aku tahu aku pas—ughkk....” Marianna  yang sedang terpana dengan lokasi sebuah hutan seorang diri, tiba-tiba


merasakan kontraksi pada perutnya. “Di tempat seperti ini?!” batinnya. Mau tak mau, dia harus melahirkan di sana. Tak lama kemudian….


“Kuu kuu…, jangan memaksakan diri. Aku akan membantumu.”


“Si-siapa ka—aghk!”


“Tenanglah. Aku akan ada di sisimu sampai kau selesai melahirkan.”


Merasa tak ada ancaman dari makhluk berwujud burung hantu itu, Marianna mengiyakannya.


.


.


.


.


Setelah sekitaran delapan jam berlalu dengan penuh usaha, keringat, dan darah, Marianna melahirkan tiga anak yang masing-masing diantara mereka bertelinga runcing.


“Wah, hutan ini memiliki penghuni baru. Selamat datang di dunia sihir ini, kuu kuu.” Maisie mengelus pipi ketiga bayi itu.


“Kenapa ... kautahu ... tentang ini...?” tanya Marianna.


“Aku adalah Pengawas Hutan, Dryad. Namaku Maisie. Jadi, kau sudah memutuskan nama untuk makhluk baru ini?”


“Uhm. Mereka adalah Elf. Nama mereka adalah Lucy, Jewel, dan Hugo.


“Anu... Nyonya Dryad?”


“Kuu kuu?”


“Apa kami boleh tinggal di sini?”


“Kuu. Tentu saja.” Maisie menyambut mereka dengan hangat.


Lalu enam tahun setelah itu....


“Ibuu....!” Elf berambut perak panjang berlari ke pangkuan ibunya yang sedang membuat sesuatu dengan sihirnya.


“Ada apa, Lucy, anakku sayang?” Marianna yang kini rambutnya sangat panjang segera menyambut anaknya dengan gendongan tinggi.


“Begini begini ... aku sedang bermain dengan Hugo dan Jewel, tapi tiba-tiba, antingmu bersinar dan membuat kami kaget!


“Kami pikir Ibu yang pintar pasti tahu jawabannya, jadi aku membawakan ini!” Lucy memberikan anting bulan pada Marianna.


“Uhm. Terima kasih! Tapi, di mana adik-adikmu?”


“Entahlah, mereka mungkin sedang berburu.”


“Hmmm.” Marianna segera memakai antingnya. Lalu....


“Mary?! Akhirnya tersambung juga! Apa yang kaulakukan selama ini?! Ayah dan ibumu akan dieksekusi! Segeralah pulang, dasar bodoh!”


Suara dan ucapan dari Audrey mengagetkan setengah mati.


“E-eh...? Apa maksudmu...? Siapa yang memberi perintah itu...?”


“Julia! Di sini banyak yang terjadi sejak kau meninggalkan Aurora. Aku tak bisa menjelaskan semuanya lewat anting. Segera temui aku di tower Trezia!”


“Ba-baiklah! Aku akan berteleportasi!”


Melihat ibunya yang biasanya ceria tiba-tiba panik, membuat Lucy sedikit ketakutan. “I-Ibu ... apa semuanya baik-baik saja...?”


“Lucy! Carilah adik-adikmu dan berlindunglah. Bersembunyi dari siapapun yang mencari kalian. Jangan berisik, jangan bersuara, jangan menangis. Kau adalah kakak untuk mereka. Berjanjilah pada Ibu kalau kau akan melindungi mereka. Mengerti?”


“Ba-baik! Aku mengerti!”


Marianna mencium kedua pipi Karina lalu memeluknya. “ Ibu akan segera pulang! Ibu berjanji!”

__ADS_1


__ADS_2