Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Saksi Hidup Sejak Ribuan Tahun Silam


__ADS_3

Gravitasi yang mendadak menjatuhkan orang-orang ke tanah oleh Marianna, terasa hingga ke Rumah Sakit Guinerva. Crescent Void yang terbaring di satu ruang yang sama, terpaksa bangun bersamaan dengan hancurnya kasur mereka.


“Aduh...,” erang Gerda, yang pertama kali terbangun. “Eh... a-apa ini? Tu-tubuhku...!”


“Apa, sih, ribut-ri.... He-hei! Ada apa ini?!” Colette adalah orang yang bangun kedua.


“Mmmmhh....” Suara Mellynda menyahut keduanya. Ia tampak linglung karena baru saja bangun tidur. “Yang lebih penting, apa yang terjadi setelah kita mengatasi badai aneh itu? Tubuhku terasa sakit setelahnya, tetapi sekarang....”


“Tidak hanya itu,” timpal Novalius, yang juga bernada santai. “Di mana Danny dan Marcus?”


"Kenapa kalian masih bisa tenang?!" jerit Gerda. "Paniklah sedikit!"


Tidak lama kemudian, gemuruh-gemuruh mulai memecahkan kaca, menjatuhkan rak, lemari, dan segala yang ada di ruangan tersebut. Pecahnya kaca di dekat mereka, memungkinkan mereka jadi mendengar sedikit apa yang terjadi diluar—yaitu sebuah kepanikan akan datangnya meteor.


“Hei hei hei hei! Meteor?!” Colette memberi reaksi meski dalam kondisi di tekan gravitasi.


Kemudian, mereka segera mendengar hal lain yang tidaj kalah mengejutkan.


“Lag... lagi pula ... kenapa Nona Azure ... yang sudah hilang enam setengah ... tahun... justru membawanya ke sini? Apa dia ... musuh kita?”


Gerda kaget mendengarnya. “Kak Azure...?” batinnya, "Oh iya, Kakak dan Marcus juga terluka karena kak Azure, jadi dia kembali lagi setelah penyerangan itu?"


[Sementara itu, di Istana....]


“Janganlah gegabah!” seru Scarlet sambil mencengkeram bahu Alicia. “Kau adalah Ratu! Apapun alasannya, Ratu tidak boleh jatuh disaat genting seperti ini!


“Ada hal penting lain yang harus kau selesaikan dan itu berkaitan dengan alasan mengapa aku menyuruh Hazell mengumpulkan orang bermana besar!


“Lakukanlah demi rakyatmu, Alicia!”


Alicia tersentak mendengar ucapan ibunya. Ia benar-benar dibuat lupa oleh amarah dadakan yang membesitnya perihal putrinya yang sedang terluka parah karena leluhurnya sendiri.


“Bocah berambut hitam itu biar aku yang menyelamatkannya!” Scarlet kemudian hinggap di jendela yang sudah pecah—berancang-ancang untuk melompat dengan tambahan sihir di kaki sebagai pelontar.


Di sana, Scarlet menyaksikannya dengan jelas. Kedatangan seorang gadis remaja yang beberapa waktu yang silam telah berinteraksi cukup lama dengannya. Gadis remaja itu datang dengan tongkat sihir yang dijadikannya seperti sebuah sapu terbang. Dia duduk menyamping, sambil mengutak-atik sebuah ranting di jemarinya. Bersama tongkatnya, ia terbang tidak menuju wanita bertangan monster yang menjadi target emosi putri sulungnya, tetapi justru menukik menuju meteor. Seakan tidak terpengaruh gravitasi, dia seperti bintang jatuh ... hanya saja dirinya terbalik. Sebenarnya, tidak hanya Scarlet yang menyaksikannya. Semua yang jatuh dan dalam posisi sedang memandang ke atas bisa melihatnya dengan jelas.


Gadis itu tersenyum, tetapi tidak ada pancaran senang di wajahnya. Sama sekali. Senyum itu diberikan seperti sebuah sapaan yang monoton. Sebuah sapaan yang mengatakan, “Hai. Aku sudah di sini.”

__ADS_1


......................


Disaat yang sama....


Meteor berbentuk lonjong dengan ukuran yang sudah pasti mampu menghapus segala yang ada di daratan dan memancing terjadinya tsunami, menghantui siapapun yang ada di daratan. Mentari yang mulanya menunjukkan kegagahan dan keperkasaannya pada dunia dan memberi secercah harapan sejak terjadinya badai api-petir... ternyata hanyalah sebuah kepalsuan belaka. Penduduk dunia, terutama Aurora, bergemetar oleh ketidakpastian Buana yang telah terjadi beberapa hari terakhir.


Semakin mendekatnya meteor yang didatangkan Marianna, sekaligus gravitasi yang menekan segala makhluk kecuali beberapa orang, membuat tidak sedikit yang kehilangan kesadaran, bahkan hingga menguyuh di celana.


Di tempat lain di waktu yang bersamaan, suatu pertarungan yang terjadi tanpa ada saksi kecuali satu orang—telah berhenti. Pertarungan itu dilakukan oleh Xennaville dan Jeanne. Keduanya mendongakkan kepala, menanyakan hal yang sama. “Apa yang terjadi dalam beberapa puluh menit ini?”


Asteria—majikan dari Xennaville—memberitahu apa yang terjadi padanya. Mendengarnya, ia segera menurunkan pertahanannya dengan melemaskan kuda-kuda. “Lihatlah, Jeanne, jika kautak memberi kami Spirit Stone, setiap harinya kalian akan merasakan ketakutan yang sama, hari-hari yang dihantui oleh melayangnya nyawa, HANYA KARENA keberadaan SATU gadis Manusia itu!


“Bila kau menyerahkan Spirit Stone itu pada kami, pasti dunia akan menjadi seimbang seperti sedia kala, bersama dengan kehadirannya Yggdrasil!


"Mengertilah! Kami akan menggunakan Spirit Stone untuk menyelamatkan dunia ini!"


Jeanne sama sekali tidak senang atas ucapan maid di depannya. Emosinya bahkan meretakkan tanah. “Apa yang kauketahui tentang keseimbangan dunia?!


“Apa yang kauketahui tentang ketakutan?


“Entah seperti apa akhir generasinya, tetapi saat ini, aku percaya gadis itu adalah HARAPAN bagi kami!”


Asteria yang mendengarnya melalui alat komunikasi yang dipasang di telinga—menyambung dengan headband Xennaville—memerintahnya untuk membiarkannya bicara melalui loud speaker.


“Nonaku ingin bicara,” ujar Xenna, melepas headband-nya lalu menyodorkannya.


...“Selamat pagi, Jeanne. Maaf jika kutak sopan karena bicara jarak jauh dengan Raksasa sepertimu dan disaat genting seperti ini....


...“Tentu saja, sekarang pun aku melihat apa yang sedang rekan Benih Yggdrasil-ku lakukan, jadi tenanglah. Dia tidak akan membiarkan meteor ini menghancurkan kita.”...


“Benih Yggdrasil?” Jeanne membatin. Ia melirik sedikit kepada Xennaville.


...“Aku tidak bisa terima ucapanmu yang dengan mudahnya mengecap Zeeta sebagai harapan....


...“Sejak awal, apa kau mengerti apa itu 'harapan'?...


...“Apakah itu adalah suatu kekuatan yang akan membimbing orang menuju cahaya?...

__ADS_1


...“Ataukah suatu kata yang hanya memberi ketidakpastian ke arah mana seseorang harus pergi?...


...“Jangan katakan kau tidak tahu kalau 'harapan' tidak pernah membawa orang jatuh ke dalam keputusasaan, Jeanne....


...“Apa yang kami lakukan adalah memastikan bahwa keputusasaan itu tidak pernah datang—yaitu dengan menghadirkan Jótunnheim dan memaksa Manusia bercermin pada diri masing-masing......


...“Bahwa mereka adalah cecunguk pembual, busuk, dan penuh dengan rasa takut!...


...“Mereka yang seperti itulah yang membuat mereka diremehkan dan direndahkan di zaman itu! Sebuah api keberanian pasti bisa membawa kita ke satu pemahaman yang sama—yang percaya pada Yggdrasil!”...


“....”


“....”


Keheningan lama membuat suasana sedikit canggung. Tetapi tidak lama kemudian, meteor itu hancur tanpa membawa kerusakan yang menyebar—walau dengan ukuran tak masuk akal. Pecahan-pecahan batu meteor tetap melayang layaknya tak terpengaruh oleh gravitasi tambahan Marianna berkat Zeeta. Jika gravitasi itu memberikan efek lada pecahan batunya, maka secara logika, mereka akan jatuh semakin cepat dan keras, bukan?


“Pemahaman yang sama?” tanya Jeanne, yang akhirnya menanggapi Asteria. “Kamilah yang tidak mencoba memahami Manusia, bocah.


“Kau yang tidak hadir di zaman itu, meskipun dengan ras yang sama, tidak bisa meremehkan mereka yang terus berjuang mati-matian hingga akhir hidup mereka!


“Apa yang terjadi saat ini ... hanyalah SEJENTIK kecil dari keseharian Manusia di zaman itu!


“Dan kaubilang mereka penakut, pembual, dan busuk?!


“Apa yang kautahu dari mereka?!


“BERCERMINLAH!


“Apapun yang terjadi, aku takkan memberikan kalian Spirit Stone!”


Asteria diam sesaat. Dirinya yang berada di tempat lain dan sedang duduk santai, menampakkan urat di kepalanya.


...“Lakukan saja, Xenna. Kuizinkan kaugunakan itu.”...


“Sesuai perintah Anda, Nona.”


Jeanne merasakan perubahan mana dari Xennaville yang memaksanya terkejut bukan main. Sambil bergerak mundur dan bersiap untuk sekali lagi bertarung, ia mengatakan, “Sudah kuduga, kalian adalah serigala berbulu domba!”

__ADS_1


__ADS_2