Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Peran Keluarga


__ADS_3

[POV ZEETA.]


Adakah seseorang yang bisa mengerti perasaanku? Tentang beratnya tanggung jawab yang kupikul ini?


Ratu Clarissa ataupun kak Velvet memang leluhurku dari ratusan tahun yang lalu. Mereka juga orang yang baik dan selalu menyemangatiku.


Tapi....


Apa yang kuinginkan tidak berada di sana....


Aku bersyukur karena dikelilingi oleh bangsawan yang berbeda dengan Rowing. Namun... apa aku bisa tetap seperti ini jika bertemu halangan yang sama?


Ayahku adalah Raja, seorang bangsawan Levant, yang masih menjadi misteri untukku. Begitu pun dengan ibuku. Aku hanya tahu mereka dari cerita dan bukti kehidupan mereka sebelum aku lahir.


Aku ingin mereka tahu, aku baik-baik saja, tetapi aku juga ingin tahu bahwa aku pun TIDAK baik-baik saja.


Sebenarnya ... apa yang ingin kulakukan setelah bertemu mereka?


......................


Kediaman Ashley, tanpa seorang pun tamu yang berkurang, menjadi tempat dimana Siren dan Klutzie bermalam akan diinterogasi. Di sana, sudah ada Zeeta dan dua sepupunya yang sudah pulang. Edward dan Ella berdiri menghimpit ibu tercinta mereka, Claudia, sementara Zeeta duduk dengan dipenuhi rasa cemas.


Kecemasan itu datang dari bermacam alasan. Apakah orang yang akan ia temui berpotensi membawa kehancuran lagi bagi kerajaannya? Dengan kondisinya yang tidak dalam seratus persennya, ia mencemaskan lebih banyak hal dari biasanya.


Beberapa saat kemudian, Siren digiring oleh Luna dengan bentuk rubah mininya masuk ke kediaman Ashley, setelah sempat membaringkan Klutzie di sebuah kamar, ditemani oleh empat anak-anak sebelumnya.


Begitu Zeeta melihat kedatangan teman-temannya, ia tidak mampu merasakan perbedaan mana dari mereka. Meski begitu, orang-orang di sekitarnya menyadari perbedaan tersebut dengan menunjukkan wajah tak percaya mereka. Lantas, ia memandangi kedua tangannya. "Apa sampai seburuk ini...?" batinnya. Ia mengatur napasnya, lalu berlagak seperti biasa.


Keempat temannya segera berlutut untuk memberi hormat, sementara Siren menolak melakukannya.


"Bangunlah, teman sebayaku," ujar Zeeta, "aku akan bicara secara pribadi dengan kalian nanti, tapi aku butuh laporan resmi dari kalian, meskipun aku sudah tahu apa yang terjadi dengan Roh Yggdrasil bernama Siren ini dari Luna."


Keempat temannya berdiri, kemudian Zeeta kembali berbicara. "Kak Azure, apa benar kau yang menyembuhkan luka dari tamu terhormat kerajaan kita?"


"Ya, itu benar," balas Azure.


"Kuucapkan terima kasih dari benak hatiku, Kak Azure. Kalau begitu, aku akan menemui kalian setelah kutanya singkat pada Mellynda von Ophenlis berserta tamu-tamu ini."


"Baik, Yang Mulia!" Azure memberi hormat dengan membungkukkan setengah badannya, diikuti Gerda dan Danny. Kemudian, mereka keluar dari kediaman Ashley.


......................


Zeeta menatap dengan dalam mata Siren, seakan ia berpikir sesuatu yang rumit.


"Yang Mulia Zeeta, ada apa?" tanya Ashley.


"Oh?" Zeeta tersadar. "Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya ingat aliran mana di sekitarnya pernah mengganggu Mellynda."


"Eh?" semua yang hadir di sana terkejut, bahkan Siren sekalipun.


"Apa yang kaukatakan?!" bentak Siren, "aku bahkan tidak pernah—"


"Aku tahu, tenanglah, Roh yang Agung." Zeeta mengubah arah matanya ke Mellynda. "Mellynda, ingat ketika kau berulah dan melukaiku?"


"Y-ya... aku ingat," jawab Mellynda.


"Tentu kau dan aku, juga semua bangsawan di sini tahu, yang membuatmu linglung dan berniat melukaiku disebabkan oleh Morgan yang menyihirmu.


"Tetapi, entah kenapa, aku merasa jika mereka memiliki aliran mana yang serupa dengan Morgan...."


"Ini aneh.... Aku tak bisa merasakan mana di sekitarku, tetapi justru yang lebih jahat seperti ini bisa kurasakan...?" Zeeta melirik ke arah Luna, tetapi Luna mengisyaratkan akan membahasnya nanti, dengan bahasa tubuh menggelengkan kepala.


"Zeeta, jadi kaubilang mereka adalah sekutunya Morgan?!" Aria langsung emosi.


"Tidak. Aku tidak bilang begitu. Hanya saja....


"Tidak, Roh yang Agung, bisakah kauceritakan pada kami apa yang terjadi pada kalian?"


Kemudian, Siren menceritakan yang dialaminya ketika bertemu Suzy, dan perkataan Luna yang mengatakan Suzy adalah Phantasmal. Zeeta tampak memikirkan sesuatu sambil mendengarkan Siren. Ia mengingat lagi Phantasmal yang pernah dihadapinya, yaitu Hollow.


"Siren—bolehkah aku memanggilmu Siren?" tanya Zeeta.


Siren mengangguk.


"Kenapa kalian harus lari? Aku diberitahu Ratu—oleh Luna—cara memakai Catastrophe Seal untuk menghadapi Hollow.


"Apakah Klutzie itu tidak mampu melakukannya?"


"HAAAAH...?!! CATASTROPHE SEAL, KATAMU?!" pekik Siren. "LUNA, APA YANG KAUPIKIRKAN?!"


"E-eh? Ada apa? Apa ini tidak wajar?" tanya Zeeta, yang dibuat kebingungan.


"Tentu saja tidak wajar! Catastrophe Seal tidak bisa sembarang makhluk—bahkan Benih Yggdrasil yang bisa menggunakannya!"

__ADS_1


"Ta-tapi... aku sudah menggunakannya dua kali...."


"Eh...? Serius...? Apa tak ada hal aneh yang terjadi padamu?"


"Yah... itu, sih, aku merasakan sakit di sekujur tubuh dan lemas, tapi saat kedua kaliku memakainya, seingatku aku tidak terlalu merasakan apapun...."


"Siren, lihatlah dengan teliti Zeeta. Kau akan tahu alasannya!" timpal Luna.


Siren memandangi Zeeta dengan menyipitkan mata. Ia melihat dua anting yang sangat ia kenal.


"Sialan! Pantas saja!


"Zeeta, kukatakan ini padamu sekarang juga. Kau terlalu kuat dan itulah yang membuat kami kerepotan!"


"A-aku yang salah?"


"Ya! Jika kau tidak ada, maka Lutz tidak akan—"


"Mana aku peduli, masalah itu." Zeeta menundukkan kepalanya. "Kau adalah Roh Yggdrasil, kenapa menyalahkan Manusia sepertiku? Bukankah kalian lebih kuat dariku?


"Yang benar saja!"


Kediaman Ashley tiba-tiba berguncang.


"Zeeta!" Claudia segera memeluk Zeeta. "Tenanglah, Nak. Jangan pikirkan apa yang baru dia katakan." Ia mengelus kepala Zeeta.


"Pergilah," kata Luna pada Siren.


"E-eh...?" Siren kebingungan.


"Tidak, aku tidak apa...." Zeeta mengatur napasnya. "Aku harus terbiasa."


"Tidak," sanggah Ashley. "Luna benar, pergilah Roh yang Agung. Kami pun memiliki masalah kami sendiri. Meskipun Anda adalah Roh Yggdrasil, apabila tidak bisa bersadar diri, terpaksa kami harus meminta Anda untuk pergi.


"Tenang saja, Klutzie Nebula akan kami rawat dengan baik."


"Tu... tunggu...?"


"Siren, akan kujelaskan nanti." Luna memakai sihirnya untuk "membuang" Siren keluar kerajaan.


[Sementara itu....]


"Kuhaha.... Kuhahahahah!


"Astaga... siapa yang menyangka ada Roh Yggdrasil semacam itu.... Dunia ini memang layaknya kotak Pandora!


......................


Zeeta diberi waktu istirahat selama dua jam, setelah pertemuan di kediaman Ashley dibubarkan. Mental Zeeta yang masih anak-anak, memang tak bisa disalahkan jika akhirnya harus seperti ini.


Saat ini, Zeeta berada di kediaman Levant, ia berada di bekas kamar ayahnya dan memandangi foto bingkai yang menampilkan ayah dan ibunya ketika masih di akademi.


Ia mendekap bingkai tersebut dengan erat kemudian menjatuhkan tangisnya dengan deras.


Lowèn, Karim, Claudia, dan Agatha hanya bisa murung dan membiarkan Zeeta sendiri untuk saat ini. Tak ada siapapun yang bisa menggantikan sosok ayah ibunya, meski mereka adalah keluarga.


Tetapi, begitu mereka mendengar tangis Zeeta berhenti, Zeeta keluar dari kamar dengan mata sembapnya.


"Aku ingin bertemu ayah—maksudku Arthur. Aku rindu mereka," pintanya.


"Kalau begitu, biarkan aku mengantarmu," Lowèn berdiri, tetapi dihentikan Zeeta.


"Tidak usah. Maaf ya, Paman...." Zeeta segera menuju ke tempat Arthur berada. Keluarganya hanya bisa terdiam selagi Zeeta angkat kaki.


"Memalukan," kata Lowèn kemudian membanting meja. "Sebagai keluarga kandungnya, apa kita memang harus memercayakannya pada orang asing?"


"Tidak, Lowèn," sanggah Karim, "Arthur sudah bagian dari keluarga. Jika kaupikirkan dengan baik, Zeeta tumbuh seperti ini karena dibesarkan oleh pria itu."


"Sulit untuk diterima, tapi lingkungan desa lebih ramah daripada kerajaan," timpal Agatha.


......................


Zeeta memakai teleportasinya untuk kembali ke desa Lazuli yang sudah selesai dibangun ulang. Ia datang tepat di depan kedai A n' Z. Ia memandangi kedai itu cukup lama, sampai Arthur membuka kedai itu untuk mengeluarkan kotak berisi barang tak terpakai.


"Zee... Zeeta?" Arthur menaruh kotak itu lalu berlutut. "Ada apa?"


Zeeta menunduk, kemudian menjatuhkan badannya ke dekapan Arthur lalu menangis tersedu-sedu sampai sesenggukan.


"Ayah... Ayah...!" pekiknya dikala ia menangis. Ia juga mencengkeram celemek yang dipakai Arthur.


"Cup cup cuupp...." Arthur mengelus punggung Zeeta. "Ayo bicara di dalam sambil minum cokelat panas kesukaanmu, oke?"


"Hiks ... uhm... hiks...."

__ADS_1


Arthur kemudian menggendong Zeeta masuk ke dalam kedai, lalu membalik tanda "buka" jadi "tutup" pada pintu. Ia juga menghangatkan ruangan dengan api lampion yang dibesarkan.


Selama Arthur membuat cokelat panas, Zeeta hanya duduk diam tanpa ditemani binar di matanya, yang biasa ia lakukan kapanpun ia melihat Arthur di dapur.


"Aku tak ingin dia kembali dengan suasana hati seperti ini, tapi dia butuh aku. Sebagai ayah, aku harus mendampinginya!" batin Arthur.


"Silakan, Tuan Putri." Arthur menghidangkan cokelat panas dan sepiring kukis.


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu dulu," katanya. Ia tak mengubah suasana hatinya.


"Baiklah. Jadi, apa kauingin menginap di sini untuk sementara?"


"Eh?"


"Aku akan bertanggung jawab meski akan masuk ke penjara lagi. Jika ini demi Putriku, itu adalah hal yang sepele!"


"Akan kupikirkan...."


"Kautahu? Aku sangat kesepian menjalankan kedai ini tanpamu. Selama delapan tahun terakhir, kita selalu memasak bersama di dapur ini. Begitu kujalankan kedai ini lagi, rasanya... aku tak semangat lagi, ehehe." Arthur menggaruk pipinya.


"Iya! Aku juga begitu!" Zeeta sampai membanting meja. "Meskipun aku menjadi Tuan Putri dan dikelilingi bangsawan yang baik, aku merasa apa yang Ayah rasakan! Aku ingin kembali ke dapur, aku ingin kembali asyik memasak lagi.


"Tapi, akhir-akhir ini masalah kerajaan tak pernah berhenti. Padahal kukira pembangunan kemarin akan jadi hal yang terakhir dan aku bisa fokus menyelamatkan ibu, tapi...." Wajah Zeeta yang sempat semangat kembali sedih.


"Hei, Ayah.... Bukankah Ayah satu akademi dengan ayah dan ibuku?"


"Oh, Alicia dan Hazell? Ya, tentu."


"Apa Ayah pikir mereka akan kecewa melihatku seperti ini?"


Arthur tersenyum. "Mereka bukanlah orang yang seperti itu. Mereka adalah orang aneh dengan sifat mereka yang diluar kewajaran orang biasa."


"Eh...? Apa maksudnya?"


"Ibumu punya kekuatan yang besar sepertimu. Tapi dia terkenal sangat nakal karena sering membolos akademi untuk melakukan percobaan dengan sihirnya. Dia selalu bilang, 'Pelajaran kalian sangat membosankan daripada kehidupan yang ada di luar sana!'


"Meski dia selalu membolos, dia adalah orang yang jenius karena selalu mendapatkan peringkat kedua setelah Nona Hellenia. Kami juga tidak tahu apa sebenarnya yang ia lakukan dengan percobaannya, dengan sifat ibunya yang sangat berlawanan dengannya.


"Coba kaubayangkan. Nenekmu Scarlet adalah singa yang merajai hutan, tetapi ibumu adalah kelinci yang bergerak lincah kesana dan kemari. Sangat bertolak belakang, bukan?"


Zeeta mulai mendapatkan semangatnya lagi. "Lalu, bagaimana dengan ayahku—ehh, ehm... ayah kandungku?"


"Hazell adalah lelaki yang selalu menjadi contoh di akademi. Dia dipenuhi semangat ksatria dengan menjunjung tinggi keadilan. Tapi, tipe seperti dia yang ayah tidak terlalu suka."


"Hueh? Kenapa?"


"Dia terlalu ketat! Salah sedikit sudah diomeli. Aku benci mengakuinya, tapi dia sedikit mirip dengan Lowèn."


"Uwoooohhh...."


"Kau tidak perlu mencemaskan apa yang mereka pikirkan tentangmu. Tapi, jika kau benar-benar penasaran, pasti mereka menganggap kau sangat membanggakan mereka.


"Mereka juga adalah orang tua yang akan meminta maaf padamu karena sudah membebanimu beban seperti ini.


"Banggalah dengan dirimu apa adanya! Apapun yang dikatakan orang lain, kau adalah kau! Kau adalah Zeeta Aurora XXI, anak perempuan dengan mana kuat, memiliki banyak teman makhluk sihir, berasal dari desa Lazuli, juga dicintai oleh Ayah angkatmu, Arthur!"


Zeeta tersenyum lebar. "Aku juga cinta Ayah!"


Zeeta kemudian meneguk habis cokelat panasnya. "Tambah lagi!"


"Siap, laksanakan!" Arthur kembali ke dapur.


Disaat yang sama, seseorang mendobrak pintu kedai.


"Di sini kau rupanya, Zeeta!"


Orang itu adalah temannya, Azure, Gerda, dan Danny.


"Eh, Kak Azure? Ada apa dengan mana-mu?! Kalian juga, Gerda, Danny! Kenapa jadi bisa sebesar ini?! Oh, tidak... jangan-jangan kau bukan—"


"Paman, kami pinjam Zeeta!" tukas Azure.


"E-eeeh...? Tapi cokelat panasku....!"


"Itu bisa ditunggu!"


Arthur hanya bisa tersenyum melihat anaknya dibawa pergi begitu saja.


Tetapi setelah itu....


"Anu...?"


Arthur mengalihkan matanya pada sumber suara.

__ADS_1


"Ah, maaf, kami sudah—"


Arthur terbelalak hingga nyaris terjatuh ketika melihat sosok suara tersebut. "No-Nona Hellenia?!"


__ADS_2