Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Langkah Awalnya


__ADS_3

Satu hari usai eksekusi Rowing di ruang publik, hari ini matahari tengah menunjukkan kehangatannya. Burung-burung bernyanyi dengan melodinya yang merdu, bersama dengan tarian-tarian gemulai rindang pepohonan yang tertiup angin. Suasana hari ini cerah, semuanya tampak akan berjalan dengan penuh bahagia. Sayangnya, hal itu tak berlaku pada Ashley.


Sejak ia mendengar bahwa kekuatan Zeeta berubah memiliki kebencian dari Bastanil, ia merasa bahwa itu pasti ada kaitannya dengan ramalan Ratu Peri yang mengatakan Zeeta akan menghancurkan dunia. Tetapi tetap saja ia tak dapat menemukan jawaban pastinya. Ia dapat menentukan beberapa kemungkinannya, tetapi jika kemungkinan tersebut dicegahnya, apakah poros waktu di masa depan akan berubah? Salah satu kemungkinan yang didapatnya adalah kebenciannya terhadap bangsawan.


Ashley saat ini tengah merenungkan kemungkinan-kemungkinan tersebut di bawah rindangnya pepohonan bersama dengan nyanyian merdunya para burung. Ia duduk dengan meluruskan kakinya dan menyandarkan punggungnya di pohon lalu memejamkan matanya.


"Hanya dengan alasan membenci bangsawan tidaklah cukup kuat untuk membentuk alasan bahwa dia akan menghancurkan dunia. Mau dia suka atau tidak, bangsawan yang akan ia temui, memiliki berbagai macam sifat yang berbeda... tapi...."


Ashley mendongakkan kepalanya. Ia mengingat perkataan seseorang.


"Orang-orang yang benci kepadaku menandakan bahwa aku memiliki ruang untuk menjadi Ratu yang lebih baik. Jika semua orang di kerajaan ini memihakku, aku akan sangat bersyukur atas hal itu. Tetapi, Guru ... aku bisa sejauh ini karena ada suamiku, teman-temanku, dan dirimu. Aku tak bisa membayangkan bagaimana takutnya diriku menghadapi semua kebencian-kebencian itu seorang diri...."


Ashley mengingat Alicia—Ratu Kedua Puluh—pernah mengatakan hal tersebut padanya.


"Haaah~ guru macam apa aku ini...," gumam Ashley, sambil menghela napasnya karena kecewa.


......................


Dua hari menjelang penobatan Zeeta menjadi Tuan Putri secara sah, di Wilayah Timur, keluarga Ophenlis sedang menghabiskan waktu di kediamannya sambil meminum teh dan sepiring kukis untuk masing-masing. Pengecualian untuk Porte yang tidak suka teh, cangkirnya yang terbuat dari kristal berisi kopi susu.


Pewaris nama Ophenlis merupakan anak perempuan seusia Zeeta. Putrinya mewarisi warna rambut kedua orang tuanya, yakni pirang. Jika harus dibandingkan, rambut pirangnya lebih mirip dengan ibunya yang warnanya lebih kontras dibandingkan Porte.


Illia Lopèz von Ophenlis, adalah nama dari istri jelitanya Porte. Dengan slender body dan tinggi semampai, serta parasnya yang elok, membuat Porte bisa dikatakan pria yang beruntung. Matanya berwarna merah gelap, sehingga tidak jarang orang-orang yang tak cukup kenal dengannya menganggap Illia adalah Iblis Berbulu Malaikat karena tatapannya yang tajam, namun gerak tubuhnya yang gemulai dapat melelehkan banyak orang—terutama pria.


Mellynda von Ophenlis, adalah nama penerus mereka. Matanya berwarna hijau yang diwariskan dari ayahnya. Ia juga mewarisi tubuh tinggi dari ibunya, jika hendak dibandingkan dengan anak seusianya, ia pasti selalu dianggap lebih tua dari mereka. Mellynda terlihat seperti anak yang pendiam, namun tak ada yang bisa menebak apa yang sebenarnya dia pikirkan... kecuali ibunya. Meskipun begitu, bukan berarti Mellynda tidak dekat dengan ayahnya. Ia sangat menyadari betapa bekerja keras ayahnya untuk keluarga serta kewajibannya kepada Grand Duchess. Ia bermimpi ingin memiliki pendamping hidup seperti ayahnya, meskipun masih terlalu dini untuk dipikirkan.


"Hei, Ayah...," panggil Mellynda seraya memakan kukis.


"Melly, dimana sopan santunmu?!" bentak Illia melihat anaknya mengunyah sambil berbicara.


"Glek..." Melly menelan kukisnya. "Ma-maafkan aku Ibu...." Melly tampak menyesal.


"Bagus. Jangan ulangi itu lagi." Illia memberikan senyum kecil padanya.


"Ada apa, Nak?" tanya Porte.


"Tuan Putri itu... katanya baru sah menjadi Tuan Putri saat dinobatkan lusa?"


"Uhm. Kau benar." Porte mengangguk. Ia juga menyeruput minumannya.


"Kenapa?"


"Hmm? Kenapa apanya?"


"Tuan Putri sudah menjadi Tuan Putri sejak lahir, bukan? Kenapa harus repot-repot memakai penobatan segala? Makanya karena itu, dia jadi tidak bisa memerintah Rowing agar tidak seenaknya sendiri, 'kan?"


"Tidak, itu memang harus dilakukan. Kondisi kerajaan kita berbeda... untuk generasi ini."


"Hmm.... Apa ini ada hubungannya dengan akar raksasa di istana?"


"Ya. Dalam kondisi yang normal, Ratu Aurora ada untuk memerintah kerajaan, dimana disaat yang sama, Tuan Putri ada sebagai keturunannya. Penobatan tidak perlu dilakukan karena sang Ratu masih hidup.


"Apabila sang Ratu tak ada dalam keturunan kerajaan—dalam hal ini tewas—maka Tuan Putri yang ada akan dinobatkan sebagai Ratu Aurora, DENGAN CATATAN jika usianya sudah tepat, yaitu tujuh belas tahun.


"Nah, jika Tuan Putri masih belum cukup usia, maka sang Raja-lah yang akan memerintah.


"Oleh sebab itu, karena kondisi saat ini seluruh istana dilanda situasi yang tidak pasti, dimana tak ada satupun di kerajaan ini tahu apakah Raja dan Ratu masih hidup, ada atau tidak adakah penerus tahta kerajaan, sehingga yang mewakili kepemimpinan adalah Grand Duchess."


"Hmm... kurang lebih aku memahaminya...." Melly mengatakannya sambil mengangguk-angguk kecil. "Jadi, setelah Tuan Putri muncul dan membuktikan dirinya adalah garis keturunan Aurora, maka dia akan dinobatkan sebagai Tuan Putri sebab sebelumnya tak ada yang tahu pasti di kerajaan ini ada atau tidak seorang penerus tahta....


"Lalu, saat ia berusia tujuh belas tahun nanti, dia baru bisa jadi Ratu negeri ini secara sah?"


"Ya. Kau benar sekali."


"Hmm...." Tiba-tiba raut wajah Melly tampak bosan.


"A-ada apa tiba-tiba begitu?"


"Tidak... aku hanya tidak ingin terlibat saja dengannya, tampaknya sulit jadi dia."


Terkejut atas ucapan Melly, Illia membentaknya sekali lagi.


"Membosankan, kau bilang?!" tatapan tajam dari mata merah Illia membuat Melly merinding ngeri. "Seharusnya kau mencontoh orang seperti dia! Meskipun dia tidak tahu apa-apa tentang keluarganya, bahkan ibu kandungnya yang merupakan Ratu teramah disepanjang sejarah Aurora, dia masih mau mengemban tanggung jawabnya!


"Dan kau bilang itu membosankan?!"


"A-apa, sih, Bu...? Lagi pula aku juga tidak tahu seperti apa Ratu yang Ibu sebut teramah itu! Biarkan aku punya pendapat sendiri, dong!"


"Hah...? Berani-beraninya ka—"


"Sudah sudah kalian berdua!" tukas Porte menengahi, "Melly, Ayah tidak akan menyangkal pendapatmu tentang Tuan Putri, tetapi Ibu ada benarnya. Tanggung jawab Tuan Putri tidak bisa dianggap remeh. Jika kau mau, Ayah akan mengajakmu melihat bagaimana Tuan Putri yang kau anggap membosankan itu."

__ADS_1


"Hmmmm...." Melly tampak berpikir keras. Wajah itu juga menunjukkan betapa enggan sebenarnya dirinya ikut.


Porte terdiam menunggu jawaban dari putri kesayangannya.


Setelah memikirkan cukup lama keputusannya, akhirnya Melly memantapkan jawabannya "Baiklah... aku ikut!" Melly kemudian meneguk tehnya hingga habis.


......................


[Beberapa hari kemudian....]


"Aku di sini sekarang karena kalah oleh rasa penasaranku ... tapi apa-apaan ini?! Kenapa ada Raksasa tiba-tiba muncul?! Kalau aku tahu jadinya begini, lebih baik aku turuti kata ayah dan ikut naik ke kediaman Grand Duchess, bukannya ada di tengah-tengah kerumunan seperti ini!" batin Melly yang dipenuhi dengan protes demi protes.


'DDUUUMM!'


'DDDUUUMM!'


'DDUUUMMM!'


Guncangan tanah terasa semakin mendekati kerumunan rakyat serta kediaman Grand Duchess. Tetapi guncangan tanah dari seorang Raksasa yang membuat siapapun panik dan ketakutan itu, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Cahaya biru yang mengelilingi tubuhnya bersinar, dan tanpa diduga siapapun yang ada di sekitar Zeeta, termasuk Zeeta sendiri, anting bertanda bulan tersebut merespon sinar dari Raksasa itu.


Albert yang ada di tengah kerumunan karena berperan sebagai keamanan agar situasi kondusif—jika hal ini tak terjadi—melihat anting tersebut bersinar. "Itu merespon Raksasanya?" batin Albert mengerenyitkan mata. "Menarik sekali...."


Raksasa batu yang telah menghentikan langkahnya, kemudian tampak menggerakkan tubuhnya kembali. Tidak untuk berjalan, namun untuk berlutut.


Semua orang yang ada di sana berdecak kagum, kaget, juga kebingungan. Apa yang sebenarnya terjadi?


Merasa ini ada hubungan dengan garis keturunannya, Zeeta pun membuat keputusannya.


"Tuan Porte, Tuan Willmurd, Nona Hellenia, Guru, aku ... akan menemui Raksasa itu."


"Tidak, jangan bertindak sendirian. Kau adalah harapan terakhir negeri ini, setidaknya bawalah—" ucapan Ashley dipotong.


"Biar aku saja," tukas Aria dengan wajah yang tidak senang.


"Aria...." Zeeta merasa terbantu, juga sedikit cemas akan mimik wajahnya.


"Kalian tidak pernah tahu seperti apa Raksasa itu, bukan? Jika begitu, serahkan saja pada aku yang setidaknya tahu makhluk apa dia itu," sambung Aria untuk meyakinkan para bangsawan utama di sana.


Ashley juga membuat keputusan. "Baiklah. Zeeta, jika sesuatu terjadi, gunakanlah debu sihir ini." Ashley memberikan stoples kecil debu sihir berwarna kuning keemasan pada Zeeta.


"Untuk apa ini?" tanya Zeeta saat menerima toples tersebut.


"Kau akan tahu saat memakainya."


Melihat Zeeta dan Aria pergi mendekat ke arah Raksasa, membuat rakyat berpendapat.


"Tuan Putri akan melakukan sesuatu pada raksasa itu...?" ucap seorang rakyat. Ia bertanya-tanya.


"Eh...? Dia masih kecil, lho, apa yang bisa dia lakukan...?" sambung rakyat yang lain.


Mendengar ucapan itu, Arthur terpancing. "HUUUH?! Kauingin bilang bahwa putriku tak bisa dipercaya?!" dengan tubuh kekarnya Arthur dan aura mengancam darinya, ia membuat dua rakyat tersebut ciut.


"Jangan remehkan Tuan Putri yang sudah kuanggap sebagai adik sendiri itu, dasar!" Azure juga ikut membela Zeeta.


"Sebaiknya kita diam saja di sini seperti kata Tuan Putri. Berkat sihirnya, kita masih bisa bernapas lancar disaat seharusnya banyak dari kita yang sudah pingsan kehabisan napas." Recko yang ada di sana juga memberikan argumen positif.


"Cih... baiklah-baiklah, kami mengerti!" kedua rakyat itu mengalah.


"Berhati-hatilah, Nak!" batin Arthur melihat Zeeta menjauh dari kediaman Grand Duchess.


......................


Saking besarnya ukuran tubuh si Raksasa, tubuh itu sudah seperti sangat mendekati wilayah kerajaan, meskipun ia masih ada di luar tembok. Ketika Aria dan Zeeta sudah didekatnya, tubuh mereka seolah seperti semut bagi si Raksasa.


"A-aku tak menyangka tubuhnya akan sebesar ini!" seru Zeeta, "Aria, apa kautahu Raksasa ini?" Zeeta turun di tembok dan melihat betapa besarnya raksasa itu.


"Ya, aku tahu. Tapi ini aneh," jawab Aria, "setelah ratusan tahun menyembunyikan dirimu, untuk apa kau ke sini?"


Perlahan tapi pasti, Raksasa itu menunjuk kepalanya. Kemudian, ia menunjuk Zeeta. Sebuah lingkaran sihir besar seukuran mulutnya terbentuk dengan warna merah di depan mulut si Raksasa.


"Penguasa ... Kekelaman ... telah tiba. Ozy ... ingin Aria ... menjauhinya." Raksasa itu berbicara dengan intonasi yang lambat—seperti tak biasa untuk berbicara.


'DEG'


Zeeta seakan tertusuk. Apa lagi yang harus membuatnya merasa seperti ini? Tidak bisakah hal seperti ini berhenti?


"Apa maksudmu?" tanya Aria, yang mengernyitkan kening.


"Ratu Peri ... ramalannya."


"Hah? Apa kau bercanda? Itu takkan terjadi sekarang!" Aria berusaha untuk melindungi Zeeta yang terpatung dengan meregangkan tangan kanannya.

__ADS_1


"Dia ... ancaman ... dunia!"


"Ancaman?! Anak penyayang, cengeng, dan pantang menyerah ini adalah ancaman?!"


Raksasa bernama Ozy itu tampak kesal.


"Aria ... apa kau ... memihak dia?"


"Ya." Aria menjawabnya dengan cepat.


"Kenapa?!"


"Karena dia bukanlah ancaman, Ozy! Lihatlah dengan mata sihir itu. Tak bisakah kau memastikannya?"


Mengikuti permintaan Aria, Ozy melihat Zeeta kembali dengan mata bercahaya birunya.


"...." Ozy terdiam.


Beberapa detik setelahnya, Ozy kembali bersuara. "Buktikan," seru Ozy yang membuat keduanya bingung. "Buktikan ... jika kau bukan ... ancaman."


"A-apa yang harus kulakukan?" tanya Zeeta bergemetar.


"Manusia ... lindungi."


"Eh?" Zeeta tak mengerti.


Tanpa menjawab pertanyaan Zeeta, Ozy berdiri kemudian mengangkat tangan kirinya ke atas dan membuka telapak tangannya.


"UWOOOOGGHHH!!" erangannya terdengar aneh bagi Zeeta, Aria, serta yang berada dalam istana.


Tepat setelah erangan dari Ozy, angin berhembus dengan kencang, namun suasana terlalu hening. Yang membuatnya semakin aneh, tak ada burung yang terbang ketakutan. Aria dan Zeeta semakin tak tahu apa yang ingin dilakukan Ozy.


Tak lama kemudian, Ozy menghempaskan tangan kiri itu ke bawah. Ketika Zeeta dan Aria mendongakkan kepalanya saat melihat tangan itu dihempaskan, tatapan mereka berubah.


Mereka melotot. Tak percaya apa yang mereka lihat.


"O-Ozy, apa yang kauingin coba lakukan?!" teriak Aria marah.


"Aurora ... sangat kuat. Meteor ... bukanlah ... tandingannya."


Ya. Meteor.


Ozy menjatuhkan meteor berukuran sebesar istana—sedikit lebih besar—tepat ke arah Aurora. Sepertinya Ozy mampu mengendalikan apapun yang pada dasarnya adalah batu, bahkan jika itu dari luar angkasa sekalipun.


"OZY! YANG BENAR SAJA!" teriakan Aria yang disertai wajah yang begitu marah sampai tampak titik air mata di matanya, membuat Ozy terkejut. "Selama ratusan tahun kau menyembunyikan diri, dan setelah datang kau seenaknya begini?!


"Apa kau mau membunuh semua makhluk di sini?! Apa kepala batumu itu tak bisa terpikirkan, bahwa Zeeta hanyalah anak kecil!?


"Apa yang membuatmu seperti ini? Bukankah kau sangat menyukai anak kecil karena kejujuran dan ketulusan mereka?!"


Ozy yang tampak sudah kenal lama dengan Aria itu tak mampu mengucapkan sepatah kata.


Sementara Aria mencurahkan segala emosinya pada Ozy, Zeeta berada di ruang kecil di hatinya kembali.


......................


[POV Zeeta]


"Meteor dia bilang?


"Bagaimana bisa aku melakukan sesuatu terhadap meteor sebesar itu?


"Kenapa ini semua ... terjadi padaku?"


"Lagi pula ... apa-apaan 'ancaman dunia' itu? Bukankah Raksasa dan meteor inilah ancaman dunia yang sebenarnya?


"Apa itu 'Penguasa Kekelaman'? Kenapa aku disebut dia seperti itu? Apa aku mengenalnya?


"Ah ... aku tahu ... ini ... pasti karena ramalan Ratu Peri?


"Cih.


"Jangan bercanda denganku!"


......................


Anting bertanda bulan—yang kini bulannya tampak sabit—bercahaya kembali.


Di suatu tempat asing yang memiliki langit berwarna jingga berpadu abu-abu kebiruan bersama dengan ratusan Roh di sekelilingnya, seseorang memegang anting yang sama dengan milik Zeeta. Disaat bersamaan dengan anting Zeeta, anting itu juga bercahaya. "Zeeta...," batin orang itu meneteskan air matanya.


"Akan kubuktikan! Akan kubuktikan bahwa semua ramalan dan prasangka semua makhluk sihir itu salah!"

__ADS_1


Zeeta membulatkan apa yang akan ia lakukan.


__ADS_2