
Setelah diselimuti oleh kegelapan dan keputusasaan, matahari kini kembali menyinari Bumi dengan memberikan sedikit harapan bagi Manusia dan makhluk lainnya untuk terus hidup. Namun, hampir empat puluh persen dari Wilayah Timur kerajaan Aurora, rusak parah dan hangus terbakar. Desa-desanya pun habis dilalap dan diremukkan oleh Hell Hydra. Satu yang timbul dalam benak korban selamat dari Wilayah Timur adalah, "kita selamat, lalu ... apa?"
Pelan-pelan dengan teratur, rakyat keluar dari Labirin Cremlyn yang dipandu oleh prajurit kerajaan. Mellynda berjalan berdampingan dengan sang ibunda, Illia. Namun, ia tampak murung. Anak perempuan itu memikirkan orang-orangnya, termasuk ayahnya sendiri, apakah ia baik-baik saja atau tidak. Sambil berjalan keluar, rakyat juga saling berbisik tentang nasib Ashley dan Zeeta, yang mau tidak mau ikut terdengar oleh dua bangsawan ini.
"Aku senang kita selamat, tapi ... aku cemas dengan Nyonya Ashley dan Putri Zeeta...," kata rakyat A.
"Kau benar. Aku juga malu pada diriku sendiri setelah ragu pada Tuan Putri. Dia hanya seorang bocah, tapi dia yang paling berjuang untuk kita," balas rakyat B.
"Ah ... disaat seperti ini, keluarga pasti akan selalu menyemangati. Andai saja Ratu Alicia masih hidup...."
......................
Sebuah tabung air herbal khusus yang dipakai untuk menurunkan mana dan meningkatkan daya hidup seseorang, tampak terpajang di sebuah ruang bawah tanah Alexandrita. Kini, Ashley ada di dalamnya. Meskipun air herbal tersebut mustahil menutup lukanya, ini akan melepasnya dari genggaman kematian.
Albert, Willmurd, dan Hellenia yang telah memberitahu keduanya bahwa Zeeta sudah mengalahkan Hell Hydra, sedang berusaha untuk mengimajinasikan sihir bersama-sama—yang diharapkan mampu untuk menutup semua luka yang diterima Ashley. Namun, seseorang datang melalui lingkaran sihir hijau, yang tak lain adalah Maisie. Ia lalu ia berkata, "Berhentilah, kukuu."
"Ka-kau...?" Albert menghentikan sihirnya. Kemudian diikuti oleh Hellenia dan Willmurd, walau wajahnya kebingungan.
"Jika kalian tetap melakukannya, sihir kalian justru akan gagal dan membuat Ashley tewas seketika."
Tiga bangsawan itu terkejut.
"Lalu apa... APA YANG HARUS KULAKUKAN?!" teriak Albert yang merasa tersudut oleh situasi.
"Aku akan membantu kalian. Ini adalah tanda terima kasihku pada Zeeta yang telah mengalahkan Hollow," jawab Maisie, "menjauhlah dari sana." Maisie kemudian membuat lingkaran sihir kecil di masing-masing luka Ashley.
"Kukuu? Kelihatannya kalian mampu menemukan sebuah cara yang unik untuk mengobati fisik kalian saat kekurangan mana, ya? Baiklah, ini akan mempermudahku." Maisie mengetuk tongkat panjangnya sebanyak tiga kali, lalu lingkaran-lingkaran sihir di tubuh Ashley berputar-putar dan bersinar.
Tiga bangsawan yang ada di sana kembali dibuat terkejut setelah melihat air herbal di tabungnya terserap ke dalam lingkaran sihir, kemudian lingkaran sihir tersebut menutup total luka Ashley.
"Ba-bagaimana kaubisa...?" Albert tak habis pikir. Begitu juga dengan Willmurd dan Hellenia.
"Hmm? Kenapa kalian begitu terkejut? Ini adalah sihir, sama seperti yang biasa kalian lakukan, kukuu," balas Maisie. Ia kemudian mengangkat tongkatnya dari lantai untuk menghentikan sihirnya.
"Tapi, kenapa kau melarang kami membuat sihir? Bukankah itu akan sama dengan yang baru saja kau perbuat?" tanya Hellenia.
"Kukuu...? Kuhahaha! Apa kau bercanda?"
"Eh?" tiga bangsawan itu mengerutkan kening.
"Luka yang diterima Ashley adalah serangan dari Hollow. Manusia tidak akan bisa menyembuhkan atau bahkan menutup lukanya. Albert, alasan kau tidak bisa menyembuhkan Zeeta, adalah karena tubuhnya sempat tersentuh oleh Hollow."
Tiga manusia itu terdiam. Mereka ingin penjelasan lebih lanjut.
"Hollow yang tidak hanya tercipta dari bagian kecil Yggdrasil, ia juga tercipta dari residu emosi buruk berbagai makhluk. Lebih spesifiknya, makhluk yang ada di sekitarnya. Hollow tidak akan membentuk diri atau bahkan bergerak, jika tidak ada keinginan kuat yang memengaruhinya.
"Yggdrasil... yang merupakan ibu dari segala makhluk, selain dari sihirnya sendiri, ia tak akan mampu dilukai. Dengan konsep seperti itu, bahkan untuk mengobati dan menutup luka darinya, adalah hal yang mustahil juga."
__ADS_1
"Tunggu tunggu, apa itu Hollow? Yggdrasil? Apa yang sedang kaubicarakan?" Albert tak mengerti satupun jawaban dari Maisie.
"Nanti akan kami jelaskan," balas Willmurd, "saat ini biarkan Dryad ini berbicara."
"Lalu, jika kaubisa menutup luka Nyonya Ashley, itu berarti kau...?" Hellenia menebak-nebak.
"Bagian dari Yggdrasil? Tentu saja tidak, kukuu! Jika begitu, seharusnya kau juga mempertanyakan mengapa Zeeta mampu mengalahkan Hollow yang sudah berevolusi!" Maisie tersenyum.
Tiga bangsawan itu terdiam.
"Tidak tahu? Padahal ada satu keluarga bangsawan di kerajaan ini yang mengetahui jawabannya...."
Mendengar ini, tiga bangsawan itu menerka siapa yang Maisie maksud. Tak lama kemudian, Maisie bersiap ingin keluar dari sana dengan membuat lingkaran sihir.
"Tunggu!" seru Hellenia.
Maisie menoleh. "Apa?"
"Kalau Hollow terbentuk dari keinginan negatif yang kuat, itu berarti ... ada makhluk sihir yang ingin kehancuran untuk Aurora?"
"Kukukuu, benar sekali."
"Oh? Kalau begitu, siapa pelakunya?" tanya Willmurd.
Maisie tampak berpikir dua kali sebelum menjawab pertanyaannya.
......................
Albert telah menerima penjelasan secara singkat apa yang sebelumnya tidak ia pahami dari Willmurd dan Hellen. Merekapun melanjutkan pembicaraan.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apa alasan Levant selalu bungkam selama ini ada hubungannya?" gumam Albert, sambil mengeluarkan Ashley dari tabung dan menaruhnya di atas tandu yang dibuat Hellen.
"Kau benar. Mengapa Levant selalu diam?" tanya Willmurd.
"Tidakkah kalian mengerti?" tanya Hellenia.
"Hah?" Willmurd dan Albert memang tak mengerti.
"Jawabannya adalah kita, Manusia. Bukankah sangat aneh jika dipikir kembali, bahwa hanya Manusia saja yang dirugikan dengan kejadian ini?"
"Cih, saat kau mengatakannya, justru timbul semakin banyak pertanyaan di benakku!" sahut Willmurd. "Ayo segera bawa Nyonya Ashley ke rumah sakit dan periksa keadaan Tuan Putri!"
Mereka bertiga mendadak tersentak. Mereka baru tersadar jika mereka terlalu fokus pada Ashley sampai melupakan Zeeta.
"Demi Aurora, matilah kita!" seru ketiganya bersamaan.
"Kalian berdua carilah Putri Zeeta, aku akan membawa Ibu ke rumah sakit, nanti aku akan menyusul!" perintah Albert.
__ADS_1
"Baik!" ketiganyapun membubarkan diri sambil berkeringat dingin.
......................
Disaat bersamaan ketika Maisie dan tiga bangsawan utama sedang bertemu, Azure, Gerda, dan Danny, bersama Recko, Grilda, dan Arthur, serta keluarga Levant, begitu keluar dari Labirin Cremlyn, segera menyusul ke tempat dimana Zeeta terakhir terlihat jatuh sebelum ditangkap oleh Aria.
Dari kejauhan, mereka melihat Aria memasuki sebuah portal bersama Zeeta di pangkuan tangannya. Tanpa pikir panjang, Azure segera berteriak dan menghempaskan sihir anginnya pada Aria. "Tunggu, sialan! Mau kemana kau dengan Zeeta?!"
Tapi sayang, Aria berhasil pergi sebelum sihir Azure mengenai dirinya. Mereka semua terengah setelah berlari, dibarengi dengan emosi setelah melihat Zeeta begitu saja dibawa pergi oleh Aria.
Merasa kesal, Arthur memunculkan aura merahnya. Kebetulan, Lowèn juga melepas aura kuningnya. Tanah dibawah mereka bergemetar dan terasa seperti ingin membelah diri. Namun, perasaan marah itu sekejap lenyap setelah mendengar suara Maisie. "Tenanglah, kalian berdua. Zeeta hanya akan pergi beberapa jam saja. Dasar, kalian ini sungguh posesif, ya? Kuhahaha!"
"Kemana putriku pergi?! Aku tak bisa membiarkan dia mengalami bahaya terus menerus seperti ini!" bentak Arthur. Ucapannya mendapat lirikan tajam dari Lowèn.
"Tidak akan kuberitahu."
"Apa katamu?!"
"Ada hal yang lebih baik tidak perlu kauketahui. Dah, aku pergi dulu." Maisie memakai lingkaran sihirnya kembali.
Semua orang di sana terpatung, kecuali Arthur yang tiba-tiba berteriak. "Aku ingin Zeetaku pulaaang!"
"Harus kukatakan berapa kali jika dia bukan putrimu!?" teriak Lowèn.
"Hah?! Aku yang membesarkannya sejak dia bayi! Aku adalah ayahnya!"
"Apa?! Meskipun begitu, kau tetap bukan ayahnya! Titik, tak ada alasan lagi!"
Aura menekan terasa oleh Lowèn dan Arthur. Mereka perlahan melihat ke belakang, dan mendapati Karim yang segera meledak.
"Zeeta adalah cucuku!" kemudian Karim menjitak kepala dua pria dewasa itu.
"Hahh...." Agatha hanya bisa menghela napas, melihat kelakuan pria-pria dewasa di sekitar Zeeta.
......................
"Hei! Hei...! Bangunlah!" Zeeta mendengar suara yang familiar. "Aku tahu kau lelah, tapi bangunlah! Kau akan melihat sesuatu yang indah! Sayang jika kau lewatkan, lho!"
Zeetapun perlahan-lahan mulai membuka matanya. Ketika ia benar-benar mendapatkan kesadarannya, Catastrophe Seal telah kembali menjadi cincin dan ia merasa sangat lemas. Namun, apa yang dirasakan tubuhnya kalah dengan apa yang ia lihat. Mata Zeeta berbinar, tubuhnya pun tampak berkilau oleh sesuatu yang memantulkan cahaya kepadanya. Ia merangkak menuju pohon yang ada di dekatnya, lalu memakainya untuk sanggahan dirinya berdiri. Kala ia berdiri itulah, ia semakin terpukau oleh apa yang ia lihat.
"Kunang-kunang...? Tidak, mereka bukan kunang-kunang... ini juga bukan mana...," gumam Zeeta.
Ia melihat banyak sekali—bahkan tak terhitung jumlahnya—titik-titik bercahaya dengan berbagai warna. Ada dari mereka yang hinggap di lembaran daun, rumput, ranting, ada juga yang tak berhenti berterbangan.
Zeeta memandangi sekelilingnya. Apa yang ia lihat bukanlah hutan dengan warna dominan hijau, melainkan hutan yang bersinar biru. Rumput dan dedaunannya bahkan berwarna biru terang. Langitnya pun gelap, tetapi terlihat sebuah garis melebar bersinar biru yang membelahnya. Belahan garis tersebut tampak seperti ketika manusia melihat galaksi dengan bintang-bintangnya.
"Tunggu ... sepertinya aku pernah melihat ini...." Zeeta berusaha mengingat. "Aria...?" ia melihat sekelilingnya lagi. "Tidak, Aria yang kulihat di mimpiku tidak berada di hutan ini ... lagipula, apa ini memang hutan...?"
__ADS_1