
Volten Sisters sedang berhadapan dengan Jewel yang masih menjadi parasit untuk Suzy. Tidak ada satu pun diantara mereka yang tahu apa yang terjadi padanya, mengingat fakta yang telah diceritakan Aria. Yang pasti, mereka semua tahu, bahwa saat ini, Jewel tidaklah lagi seorang Elf, entah dirinya sadar atau tidak.
"Apa kauyakin kekuatan kita mampu menahan dia?" tanya Serina. Ia seperti sedang meracik sesuatu dengan sihirnya.
"Hanya itulah yang bisa kita lakukan, Serina. Reina bilang hanya Zeeta yang bisa memisahkan mereka, tetapi dia kini...," balas Jourgan. Ia bersiaga dengan tombaknya. "Kita hanya bisa percaya pada apa yang dilihat Reina."
"Tapi sebenarnya, apa beda Reina dengan Maisie? Mereka sama-sama mengawasi lewat hutan, 'kan?"
"Entahlah. Cukupkan bicaranya. Apa kau sudah selesai?"
"Ya. Akan langsung kulakukan." Serina mengusapkan apa yang telah diraciknya—sesuatu seperti salep—ke bagian leher, lengan, perut, dan kaki Suzy.
"Serina...," batin Jourgan sambil memandangi adiknya itu, "adikku satu ini adalah yang terpandai dari tiga bersaudari. Dengan kemampuannya yang bisa memantau, membaca, dan mengenali pergerakan mana dari suatu makhluk, memungkinkannya melihat bagian apa yang menjadi titik terlemahnya.
"Bagian vital memang merupakan area yang fatal jika diserang, tetapi sering kali makhluk sihir, terutama hewan di Grandtopia, memiliki semacam lapisan yang melindungi titik-titik vital tersebut. Untuk beberapa kasus, Serina harus melapisi racun pada senjata kami, yang tentu saja jika telah usai, kami akan menghilangkan racun itu dengan antidot yang diracik pula oleh dirinya.
"Reina yang telah menjadi 'murid' kami tahu pasti apa yang Serina bisa lakukan. Dengan konsep racun itu, kami berharap Jewel bisa kembali, seperti yang dikatakan Tetua Hugo...."
......................
Waktu mundur beberapa waktu. Ini terjadi di Grandtopia, tepat setelah sirkuit sihir Zeeta dilubangi oleh L'arc....
"Tidak mungkin...." Reina seperti melihat mimpi buruk yang nyata. Wajahnya pucat, ia berkeringat dingin. "Ba-bagaimana ini...? Jika begini... arus waktu bukan lagi akan berakhir sama, tapi... ini pasti berubah!
"Ti-tidak! Meskipun berubah, tanpa adanya Zeeta, semuanya akan sama seperti sedia kala! Sebelum Zeeta memutuskan jawabannya, dia tidak boleh mati! Tapi...."
Tidak lama kemudian, Reina bisa mendengar suara Hugo dalam batinnya. Mereka tersambung melalui telepati. Sementara Reina mengurung diri di dalam rumah sambil menjadi mata bagi perjalanan Zeeta, Hugo mengumpulkan penduduknya di satu tempat. Hal ini sudah berlangsung sejak Zeeta memutuskan untuk pergi ke Nebula.
"Tetua! Apa Reina telah melihat sesuatu?" tanya Elf A.
"Apa Zeeta menang telak seperti biasa, Tetua?" tanya Elf B.
"Bagaimana kondisi saat ini di sana, Tetua?" tanya Elf C.
Diantara penduduk Elf itu, terhitung Aria dan Volten Sisters di dalamnya. Mereka berwajah cemas. Hugo kemudian maju ke tengah kerumunan, lalu berkata, "Langsung pada intinya, Zeeta mati."
__ADS_1
Bagai disiram air, dibekukan, lalu disambar petir, para Elf yang telah mengikat tali pertemanan, terdiam seribu bahasa. Tidak terkecuali bagi Lloyd, mengingat sifatnya yang keras.
"Tidak mungkin secepat itu, Tetua," ujar Lloyd, "kita semua tahu Zeeta sangat kuat. Dia sampai ke tujuannya tidak sampai beberapa menit dan kaubilang dia—"
"Anak itu masih lembut seperti biasa," tukas Hugo.
Lloyd sempat terkejut, kemudian menggeleng kepala, dilanjutkan dengan hela napas panjang. Seolah mengerti maksud reaksi Lloyd, para Elf lain tidak begitu terkejut.
"Lagi pula... ini Zeeta yang kita bicarakan...," ujar Elf A.
"Kalau tidak bersifat lembut, rasanya tidak seperti dirinya sendiri...," sambung Elf B.
"Jadi ... inikah akhirnya...?" tanya Elf C.
"Tidak," balas Hugo, yang memancing semua mata padanya. "Kesampingkan masalah Zeeta, karena kuyakin anak itu belumlah akan mati. Sekarang, kalian memiliki masalah pribadi Elf yang harus diatasi terlebih dahulu.
"Reina, arahkan pandanganmu pada Benih Yggdrasil Klutzie, lalu ceritakanlah apa yang kaulihat, rasakan, dan pikirkan setelahnya."
"Baik, Tetua," balas Reina.
"Aku melihatnya, Tetua.
"Seorang Manusia yang menjadi Wadah sebuah... Phantasmal...? Tidak, Elf...?
"Dia sedang satu lawan satu dengan Klutzie."
"Eh...? Apa maksudnya itu, Tetua...?" para Elf tidak ada yang mengerti.
"Setelah kalian mengetahui rahasia asal mula kita 247 tahun yang lalu dari mulut Aria, maka tidak perlu kujelaskan lebih lanjut siapa Elf bernama Jewel," balas Hugo.
"Uhm. Jewel adalah saudari perempuan dan kakak kedua darimu, 'kan?" tanya Serina memastikan.
"Itu benar. Dan seperti yang telah diceritakan, Jewel dan Lucy—kedua kakakku mati saat melindungiku dari serangan Manusia. Aku melihat kematian itu dari mata kepalaku sendiri, tapi sekarang....
"Sejak aku menyadarinya delapan belas tahun lalu, aku hanya bisa menebak-nebak sebuah teori saja. Karena ini panjang, jadi dengarkan aku baik-baik...."
__ADS_1
.
.
.
.
"Siapa yang menyangka ... bahwa jiwa makhluk hidup pun bisa bereinkarnasi menjadi Phantasmal melalui Tanah Kematian...," batin Jourgan, masih bersiaga dengan tombaknya. "Tidak masalah jika ini semua hanya sekadar teori, tetapi tentang hanya Zeeta yang bisa memisahkan mereka dengan Catastrophe Seal, kurasa sangat memungkinkan.
"Apa iya Zeeta akan baik-baik saja...?"
......................
Cahaya menyilaukan pandangan Azure dan memaksanya menutup mata.
"Ughuk ughukk!" suara batuk Zeeta didengar Azure. "Ap-apa yang terjadi selama aku tak sadarkan diri...?
"Gkhh... seluruh tubuhku terasa nyeri, tulangku serasa ingin hancur...." Zeeta kemudian mendapatkan kembali fokus matanya, melihat apa yang terjadi pada pulau layang Nebula. "UWAH! APA YANG TERJA—
"—kuuhh... sa-sakit...." Zeeta berusaha memegangi punggungnya. "Se-sebaiknya aku sembuhkan luka ini dulu...." Seolah benar-benar tidak menyadari Azure ada di belakangnya, dengan santainya Zeeta duduk sila dan membuat payung healer pada tubuhnya. Sihir itu menghujaninya dengan butiran hijau bercahaya. Setelah luka dan rasa sakitnya sirna, ia melemaskan tubuhnya. Masih merasa diacuhkan atas kelakuannya, Azure sampai pada batas kesabarannya.
"Hooo.... Beginikah sikap pada Kakakmu yang amat mengkhawatirkanmu ini, ya, Zeeta Aurora XXI...," ujar Azure ber-death-glare.
"Eek!" Zeeta bergidik ngeri. "Su-suara ini...? Tidak mungkin... Rune Kaunaz-ku tidak membaca apapun!" gumamnya.
"JANGAN BANYAK BACOT! Sekarang, kalau kau masih memiliki kekuatan dan waktu, gunakanlah untuk Nyonya Ashley dan Luna!
"Luna masih kutinggal sendiri di bawah dan untung saja dia berhenti berubah menjadi mana!"
"O-oke! Segera kusembuhkan!" alih-alih menyihir keduanya dengan sihir penyembuh, Zeeta memakai Catastrophe Seal mode tongkat sihir. Ia menuliskan Rune Laguz di dua tempat disaat yang bersamaan.
Sebuah huruf asing bagi Azure pun secara jelas dilihatnya. "Jadi inikah... sihir kuno Rune itu...," gumamnya dengan mata berbinar.
"Aku tidak tahu bagaimana, kenapa, dan apa yang membuatmu bisa ada di sini sementara aku selalu berusaha menyelamatkanmu, Kak Azure...." Dengan waktu yang cukup singkat, Zeeta mengembalikan lagi tongkatnya ke cincin. "Tapi kesampingkan itu dulu. Apa kau keberatan memberitahuku apa saja yang telah terjadi?"
__ADS_1