
[POV Clarissa.]
Kakakku adalah seorang yang sangat kuhormati dan kusayangi. Selain kuat dan pemberani, dia juga teguh pada keyakinannya. Apapun yang terjadi, dia selalu lurus pada tujuan yang telah dia yakini dan takkan melepasnya.
Kakakku juga selalu melindungiku, meskipun kami hanya berbeda tiga tahun saja. Dia selalu kasar dan tegas padaku, tapi aku tahu dia melakukannya karena dia menyayangiku. Dia adalah cahaya api yang selalu menerangiku.
Kakakku ... adalah pahlawanku sejak lama.
Sejak kami kehilangan orang tua dari aku berusia enam tahun, hidup kami tidak pernah tenang, tidur pun tak pernah nyenyak.
Masih terukir jelas di kepalaku, bagaimana hari yang menjadi permulaan neraka bagi kami terjadi....
......................
“Moh~ sampai kapan kau terus bermanja dengan Ibu, Risa?! Cepat bantu aku dan Ayah pindahkan barang-barangnya ke kereta!” jerit Tellaura, yang diusianya baru sembilan tahun sudah bisa mengangkat kotak besar berisi buah-buahan, yang kira-kira berbobot enam kilo.
“Tidak mau! Aku tidak seperti Kakak yang kuat! Tanganku bisa-bisa copot kalau mengangkatnya!”
“Dasar manja....” Telaura menghampiri Clarissa.
Clarissa yang mengira dirinya akan dipukul, menutup matanya erat-erat. Namun, yang dirasakannya adalah elusan lembut—sehingga ia terbelalak.
“Apa kau sudah lupa ke mana kita akan pergi hari ini?”
“Kerajaan Flare...?”
“Uhm. Lalu, di sana, sedang diadakan apa?”
“Fe... fes... festilav?”
“Ahahaha~ uhm! Festival! Kau tidak sabar untuk melihatnya, ‘kan?”
“Uhm! Aku tidak sabar!”
“Kalau begitu, bantulah aku. Apa kau tidak mau membantu Kakakmu yang lemah dan tidak bisa apapun tanpamu ini?”
Lubang hidung Clarissa membesar. “Humph! Apa boleh buat!” dia menyilangkan tangannya, lalu turun dari pangkuan ibunya. “Karena Kakak tidak bisa diharapkan, berterima kasihlah padaku!”
“Hehe, terima kasih, Adik!”
“U-umm... sama-sama, Kakak....”
Tiba-tiba keduanya segera dipeluk erat oleh ayahnya. “Dasar! Kalian benar-benar gadis-gadis yang sangat Ayah banggakan!” Ketiganya lalu tertawa riang bersama-sama. Mereka adalah keluarga kecil yang wajar dan bisa ditemukan dimana pun, sampai....
.
.
.
.
Kereta kuda yang dikusirkan oleh ayah mereka sendiri, mendadak terhenti di tengah-tengah angin kencang dan langit kelabu. Clarissa terlelap di pangkuan ibunya, tetapi Tellaura tidak. “Apa kita sudah sam—“
“Sst!” Ibunya segera membungkam mulutnya. Ia juga mendekapnya erat. “Jangan bersuara apapun sampai Ibu bilang aman!”
Tapi tidak sampai lima detik setelah itu....
‘BWHAAAMMM!’
Kereta kudanya meledak sampai hancur berantakan.
......................
[POV Clarissa.]
Setelah itu, yang bisa kuingat, aku berada di ruangan gelap berjeruji sendirian tanpa siapapun, juga kedap udara. Tapi yang bisa kurasakan saat itu hanyalah indera penciuman dan pendengaranku.
Aku mencium bau-bau busuk dan amis dari segala arah yang segera membuatku muntah dan suara teriakan kesakitan yang minta ampun, juga minta tolong....
Aku sama sekali tidak mengerti apapun yang sedang terjadi atau kenapa semua itu bisa terjadi.
Kemudian, seorang pria bernama Olav mendatangiku. Dia segera memarahiku entah apa alasannya. Yang kudengar darinya, hanyalah emosinya pada ayah dan ibuku, dan sebutannya pada mereka—sepasang monster....
Lalu aku dipukuli olehnya berulang kali, berulang kali, terus menerus hingga akhirnya aku menyebut nama kakakku....
__ADS_1
Pria itu segera mencari kakakku dan meninggalkanku sendirian, setelah menyiramku dengan air garam yang membuat lukaku terasa semakin sakit....
Saat aku membuka mata, aku berada di sebuah kamar asing, tetapi saat itu, bukan lagi bau amis dan busuk yang kuendus, tetapi bau yang aneh... yang entah kenapa membuat tubuhku tak berdaya. Tapi di situ, aku melihat siluet kakakku, yang mengatakan, ‘tenang saja, apapun yang terjadi, Kakak akan melindungimu!’
Suara bising yang kudengar, memaksa mataku untuk terbuka. Pendengaranku juga semakin aktif menangkap suara, dan apa yang kulihat saat itu adalah....
Sebuah tubuh yang tergeletak bersimbah darah. Kakakku berada di dekatnya. Saat itu, dia berteriak, ‘Jangan lihat ke sini, Adikku! Tutuplah matamu dan percayalah saja kalau aku akan melindungimu! Kita pasti akan bisa terbebas dari sini, aku bersumpah demi ayah dan ibu!’
Setelah cukup lama aku menutup mata dan hanya bisa mendengar teriakan demi teriakan tanpa suara dari kakakku, akhirnya dia bersuara padaku. Dia bilang, ‘Bukalah matamu. Untuk sekarang kita sudah aman.’
Kakakku membawaku ke sebuah hilir sungai, di bawah gelapnya langit. Namun, kami diterangi oleh banyaknya kunang-kunang.
......................
“Adikku. Dengarkan aku,” ujar Tellaura, yang menyembunyikan tangan penuh darah di belakang tubuhnya. “Di dunia ini, kau hanya tinggal memilikiku, dan aku hanya memilikimu. Meskipun kau selalu merepotkanku, kau adalah Adikku, yang akan selalu kulindungi.
“Mengerti?”
Tellaura mengakhiri ucapannya dengan senyuman terpaksa.
“Tidak mau.”
“Eh...?” Tellaura terbelakak, bibirnya bergetar.
“Aku tidak mau!”
“Ke-kenapa...?!” tangan Tellaura mulai bergemetar.
“Tidak mau ya tidak mau!”
“Tch....”
Tellaura yang terus menunduk dan terdiam cukup lama, membuat Clarissa bingung. “Kakak...?”
Tiba-tiba....
“KENAPA KAU TIDAK PERNAH MENDENGARKAN KATA-KATAKU?!” Tellaura membanting adiknya ke tanah. “Kaulihat tangan ini?! Lihat betapa rusaknya tangan ini!?
“Aku melakukan ini untukmu, untuk melindungimu!
“Ayah dan ibu sudah mati, Risa! Jika kau tidak ada untukku, maka untuk apa aku membu—uggghhh...!” Tellaura menangis.
“Aku... mendengar semua yang kalian katakan, jadi kau tidak perlu menceritakannya lagi. Kakak... kita pasti kuat bila kita terus bersama-sama!”
Tellaura membanjiri pipinya dengan air mata. “Sialan! Kau sungguh Adik yang merepotkan!” Tellaura memeluk erat Clarissa.
.
.
.
.
“Lalu, habis ini apa yang harus kita lakukan?” tanya Clarissa. Ia mendapati tatapan Tellaura kosong.
“Kita pulang dan minta bantuan Kepala Desa,” jawab Tellaura.
“Bagaimana?”
“Tch.” Tellaura melihat sekeliling. “Peluklah aku.”
“Eh? Kenapa?”
“Sudah, cepat lakukan saja.”
“U-uhm, baiklah.” Saat Clarissa sudah mendekapnya, Tellaura sengaja melompat ke sungai. Dia memosisikan Clarissa ada di atasnya.
“E-ehhh?! Ki-kita akan mati kalau begini caranya, Kak!” seru Clarissa.
“Tenang saja, percayalah padaku!”
“Ta-tapi….”
“Aku bertemu seseorang yang gila, tapi kegilaannya itu telah membantuku. Pokoknya kau tenang saja.”
__ADS_1
“Ba-baiklah....”
Setelah memakan waktu seharian berada di atas air, keduanya sampai di desanya, Lazuli. Mereka kemudian mengetahui kalau kediaman mereka hancur karena ulah seseorang yang datang setelah kepergian mereka dengan kereta kuda. Tanpa adanya tempat untuk beristirahat, keduanya pergi ke kediaman Kepala Desa—Greimwald.
Saat di perjalanan mereka yang tertatih, Clarissa bertanya, “Hei Kak.... kenapa semua orang menatap kita aneh? Kenapa tidak ada orang yang membantu kita?”
Dengan tatapan yang sangat lelah, Tellaura tetap menggandeng erat adiknya. Namun karenanya, dia tak mampu menjawab Clarissa.
‘DUGG!’
Mendadak, kepala Tellaura berdarah oleh lemparan batu. Dia segera terjatuh tak berdaya karenanya. “Kakak!” jerit Clarissa, “bertahanlah, Kak Laura!” saat Clarissa melihat siapa pelakunya, dia adalah Sigurd. “Sigurd! Kenapa kaulakukan ini?!”
“Matilah, Monster!”
Hanya karena ucapannya itu saja, Clarissa jadi mengingat semua tindakan yang ia terima sebelum ini dan itu membuatnya segera ikut pingsan.
......................
[POV Clarissa.]
Ketika kami bangun, Kepala Desa membuat kesepakatan dengan kami.
Katanya, kedatangan kami tidak diterima oleh warga karena kami dianggap terkutuk—pulang setelah hanyut berhari-hari dan kami dituduh sebagai pembawa petaka pada orang tua kami.
Kakakku segera marah besar pada Kepala Desa, tetapi dia tidak memiliki pilihan lain selain menerima kesepakatannya—yaitu bekerja untuknya sebagai budak.
Semua itu dilakukannya agar kami bisa bertahan hidup di dunia yang meninggalkan kami sendirian ini. Meskipun hari-hari kami terasa seperti berada di neraka, aku tetap berterima kasih dan menyayangi kakakku atas semua yang telah dia lakukan.
Oleh karena itu, melihatnya sekarang semarah ini setelah sekian lama dan tidak ragu untuk memukul orang lain.... aku merasa harus melakukan sesuatu padanya, jika tidak....
......................
[Sepuluh tahun kemudian—ketika Sigurd sudah dipukul oleh Tellaura....]
“Aku dan Risa telah kalian jebak, kaupikir kami sebodoh itu untuk menyadarinya, Sigurd?!
“Sudah cukup kutahan emosiku. Aku akan mengubah desa ini menjadi lebih baik!”
“Ka-Kakak, jangan lakukan i—“
“Jangan hentikan aku, Risa!
“Aku sudah muak selalu dicaci maki dan direndahkan oleh orang-orang seperti mereka! Tidakkah kauingin mengubah hidupmu menjadi lebih baik?!
“Mereka sudah sepantasnya kubu—“
‘PLARR!’
Clarissa menampar kakaknya. “Sadarlah dengan apa yang kaulakukan, Kak! Kau hanya akan membuat mereka takut! Apa gunanya mengubah pandangan benci mereka pada kita, untuk menjadi pandangan takut? Apa yang kau cemaskan, Kak Laura? Aku ada di sini bersamamu.” Clarissa segera memeluk lagi kakaknya. “Di dunia ini kau hanya memilikiku dan aku hanya memilikimu. Kita saling melengkapi.”
Tetes tangis jatuh dari mata Tellaura. “Maaf, aku terbakar emosi.”
“Jangan minta maaf padaku, maaflah pada Sigurd.”
“Ehhh? Padanya...?”
“Ayolaaah.”
“Haaah~ baiklah.” Tellaura mengangkat kepala Sigurd dengan tangan kiri pada rambutnya, tapi keduanya segera dibuat kaget. “U-uwah! Kenapa wajahnya bisa sekacau ini?!”
“I-itu salahmu!”
“A-aku?! Uhh... apa ada sihir yang bisa mengembalikannya seperti semula...?” Tellaura segera memejamkan mata lalu mengarahkan tangan kanannya pada wajah Sigurd. Cahaya hijau segera muncul di tangannya, wajah Sigurd pun perlahan kembali seperti sedia kala.
“He-hebat...,” gumam Clarissa.
“Fiuh. Syukurlah.”
.
.
.
.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, Sigurd terbangun di bawah lindungan bayangan pohon. Secarik kertas tersumpal di kepalan tangannya. Di kertas itu tertulis,”Maaf, sungguh, dari Laura.”
“Cih!” Sigurd melempar sumpalan kertas itu sembarang. “Dasar monster!”