
Hilma dan Tellaura telah membersihkan Clarissa dari banyaknya noda yang menutupi dirinya. Setelah itu, mereka memakai ruang baru sebelah kediaman Tellaura yang sebelumnya dipakai untuk menginapnya Hilma dan Leon. Setelah si adik dipakaikan pakaian hangat serta diselimutkan, kedua teman yang baru dipertemukan kembali itupun berbincang.
“Kita harus meminta pertolongan desa, Laura,” kata Hilma, membuka pembicaraan.
“Tidak. Itu tidak akan ada gunanya.” Tatapan Tellaura menatap kosong ke lantai.
“Tidak ada salahnya bila kita mencoba! Siapa tahu ada orang di desa ini yang mau membantumu!”
“Tidak, Hilma. Aku memahami desa ini—sebuah desa yang tidak akan pernah mau membantu kami. Malah, aku ingin bantuan darimu saja.”
Hilma menatap serius Tellaura. “Jika itu adalah bantuan untuk membunuh Sigurd, aku takkan segan. Aku akan segera melakukannya!”
“Orang itu harus kubunuh dengan tanganku sendiri. Sudah sejak lama aku menahan diriku pada orang bajingan itu.
“Yang aku inginkan, adalah bantuanmu untuk membawa adikku ke istana. Jelaskan semua situasinya pada Leon, dan bila adikku masih tidak diterima di sana....
“Bunuhlah Risa.”
Hilma tersentak. “A-apa maksudmu?! Dia adik tercintamu! Dia satu-satunya keluarga bagimu!”
“Ya, dan aku pun adalah keluarga satu-satunya untuk dia.
“Tapi... aku sudah muak dengan dunia ini, Hilma." Tellaura mencengkeram tangannya. Ia juga hampir menitikkan air mata. "Benar-benar sudah muak.
"Begitu aku menyelesaikan urusanku dengan Sigurd, aku akan mengakhiri hidupku....”
“Ta-tapi... kau masih memiliki orang yang peduli pada kalian! Seperti aku dan Leon! Jangan lupakan adikmu sendiri!”
Tellaura tersenyum, kemudian memegang pelan bahu Hilma. “Terima kasih, tetapi ibu kota tidak ada bedanya dengan desa, Hilma. Aku benar-benar sudah lelah dengan semua ini.”
Hilma mencengkeram erat tangannya. Ia benci dirinya sendiri yang tidak mampu mengeluarkan sebuah solusipun.
“Tolonglah, Hilma,” ujar Tellaura sambil memasang wajah memelasnya. “Aku mohon.”
Tangis mencucur deras, Hilma lalu memeluk Tellaura. “Aku menyayangimu. Sungguh menyayangimu.”
Tellaura sedikit tersentak mendengarnya, tetapi itu dilanjutkan oleh simpulan senyum. Ia lalu membalas pelukannya sambil menjawab, “Aku juga, Hilma. Senang bisa bertemu denganmu lagi. Maaf karena tidak sempat mengunjungi makam Matilda walau sudah berjanji.” Dia lalu melepas dekapannya untuk menghampiri Clarissa. “Adik, maafkan Kakakmu yang lemah ini. Aku tidak bisa melindungimu disaat kau benar-benar butuh pertolonganku. Tetapi, setelah ini kau harus hidup demi aku. Hiduplah bahagia, hiduplah sepenuh hati, dan nikmatilah apa yang belum kita ketahui di dunia yang luas ini.
“Namun, bila keberadaanmu sendiri di dunia ini tetap ditolak, aku takkan mencegahmu untuk menyusulku. Hanya saja, aku berjanji, meskipun aku sudah mati, aku akan tetap melindungi dan mencintaimu....” Tellaura mulai menitikkan air mata.
“Dik..., sejujurnya, aku sudah lelah. Dan akhirnya, kuputuskan untuk beristirahat. Apapun keputusanmu pada kehidupanmu sendiri, aku akan menyambutnya.
“Semoga hidupmu panjang dan bahagia, Clarissa, oh Adikku tercinta....”
__ADS_1
Tellaura lalu mencium kening adiknya, sambil mengelus kepalanya lembut. Hilma yang menyaksikannya langsung, tak kuasa menahan air matanya. Dirinya kenal Tellaura sejak lama. Meskipun mereka pernah terpisah oleh jarak dan waktu yang cukup jauh nan panjang.
“Aku pergi, Hilma.”
“Sialan... hiks... kenapa ... kenapa aku harus kehilangan sosok sepertimu?! Aku ... aku ... hiks ... senang bisa berteman dan kenal denganmu, Laura!”
“Hehe, terima kasih. Aku titip adikku padamu.”
Setelah itu, Tellaura pergi ke arah hutan di belakang desa mereka—hutan yang sebenarnya adalah Hutan Peri. Dibawah gelapnya malam, tanpa adanya satupun cahaya, Tellaura sampai di sana. Begitu melihat hutan yang dipisahkan oleh sungai, kakinya jatuh lemas. Dirinya lalu memandangi langit.
“Sial...! Siaal...! Siaaal!” Tellaura sekali lagi menangis. Kini, tangisnya seakan tidak bisa berhenti. Ia juga memukul-mukul tanah sebagai pelampiasannya. “Setidaknya ... setidaknya ... selama sembilan belas tahun ini ... aku memiliki kisah hidupku sendiri....
“Tapi....” Tellaura mengeluarkan anting bulan yang sebelumnya ia terima dari Leon, lalu memandanginya sesaat. “Aku benci dunia ini. Sungguh membencinya. Tetapi, demi adikku, aku rela terluka dan melukai diriku sendiri. Karena tanpanya, aku takkan bisa hidup sampai sejauh ini. Dia adalah satu-satunya harapan bagiku, dia adalah satu-satunya wujud keinginanku. Aku ingin dia bahagia, menemukan pasangan hidupnya, lalu menutup usiaku dengan melihat senyumannya.
“Lihatlah diriku sekarang!
“Apa bedanya kejadian ini dengan sepuluh tahun yang lalu itu?
“Apa bedanya ini dengan kejadian saat itu...?” ia mengingat kala dirinya dan adiknya dinodai oleh kelompok Sigurd. “Lagi-lagi aku gagal melindungi adikku!
“Jika aku memang benar-benar memiliki kekuatan hebat, jika saat ini hanya akulah yang bisa memakai sihir di dunia ini, aku mohon padamu, bulan! Ini adalah permohonan pertama dan terakhirku! Perlihatkanlah siapa yang harus kumusuhi sebenarnya, siapa pihak yang harus kujadikan rekan ... dan yang terakhir... aku tidak tahu apakah ini akan cukup tapi....
“Atas ganti nyawaku, aku ingin membunuh Sigurd dan mengutuk dunia yang kejam ini.”
Tangis Tellaura perlahan menjadi darah. Tetesan darahnya itu kemudian menetes ke anting bulannya. Anting tersebut menyerap darah itu, lalu itu memantulkan bulan purnama ke langit—sebuah bulan purnama merah. Saat itu juga, kesadaran Tellaura seakan-akan ditarik, sebab tubuhnya mendadak melengkung, lalu perlahan telentang di atas hamparan tanah.
Orang-orang menyaksikan semuanya. Rakyat Lazuli termasuk Hilma, Aurora, orang-orang dari kerajaan Southern Flare dan sang Ratunya, lalu para makhluk sihir, bahkan para Peri dan tentunya Sigurd. Mereka semua melihat bagaimana bulan merah muncul begitu saja di gelapnya malam, menerangi Bumi dengan warna merah darah. Ia tidak membawakan cahaya tenang dan menentramkan, tetapi ia membawa cahaya yang penuh akan ketakutan dan amarah.
Sementara itu, bagi mereka yang mengerti apa arti bulan tersebut, ada yang takut, ada yang bimbang, ada pula yang berbahagia.
Mereka yang berbahagia adalah Jeanne, juga beberapa makhluk sihir yang tiga ratus tahun ke depan akan bersekutu dengan seorang bocah berusia delapan tahun. Meskipun, mereka agak merasakan bulan itu tidak membawa “perubahan yang damai”.
Mereka yang bimbang adalah Peri. Sang Ratu Peri menggumam, “Tidak salah lagi perubahan itu akan dibawa oleh Laura. Tetapi ... bulan merah...? Apakah pertanda ini baik ataukah buruk untuk kami...?” anehnya, Ratu Peri itu tersenyum.
Sementara untuk mereka yang takut, adalah mereka yang berasal dari keluarga kerajaan Aurora—seperti Amanda.
“I-Ibunda...? A-apa yang terjadi? Kenapa wajahmu seperti itu...?” tanya Leon yang kebingungan, yang selama ini tetap menunggu di sekitar gerbang istana. Mereka sudah memerintahkan para bangsawan meninggalkan jamuan makan malam. Di situ juga tentunya ada sang Raja.
“Bu-Bulan Darah!” jerit Amanda. “Aku selalu menyangkal kejadian seperti itu hanyalah legenda, tetapi tak pernah kusangka aku akan melihatnya sendiri dengan mata kepalaku ini!”
“A-apa sebenarnya itu, Ibunda?!” tanya Leon lagi.
“Y-ya, beritahulah kami, Ama!” timpal Gerard.
__ADS_1
“Legenda mengatakan, Bulan Darah adalah sebuah masa dimana seorang keturunan bulan akan menurunkan kutukannya pada dunia. Ini bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng dan bukan siapapun keturunan bulan yang bisa melakukannya.
“Hanya mereka yang mampu membawa dunia menuju akhirnya sajalah yang mampu!”
“A-akhir dunia...?” Leon terkaget-kaget, “jadi, Laura sekarang...?”
“Dugaanmu mungkin benar, Putraku. Ada sesuatu yang terjadi pada adiknya, hingga membuatnya berkeputusan seperti itu.... Tetapi ... aku sama sekali tidak tahu apa arti dari ‘menuju akhirnya’ itu!”
Sementara itu, Tellaura sendiri berada di atas bentangan air. Air itu tidak menenggelamkannya—hanya memantulkan dirinya saja. Dirinya pun berada di depan sebuah pohon raksasa. Ia yang masih ingat ukuran pohon-pohon Tir Na Nog, tahu sekali bahwa itu kalah besar dan kalah tinggi dari pohon ini.
Raksasanya pohon ini menjadi satu kesatuan dengan cabang-cabangnya. Wujudnya pun tampak sudah sangat tua, kendati demikian terlihat kokoh dan tak tergoyahkan. Di sekitarnya, ia melihat beberapa ekor makhluk bercahaya kuning. “Keinginanmu ... kami ... kabulkan,” ujar makhluk tersebut—Seele—atau Spirit bulan—secara bergantian. Salah satu dari makhluk tersebut menyentuh kening Tellaura.
Para Seele memperlihatkan kejadian ribuan tahun lalu, ketika kejadian Gala, Flare, dan Ars. Tellaura benar-benar ingat bagaimana seorang wanita, seorang yang pernah membantunya kabur dari Southern Flare, menceritakan hal yang serupa. “Jadi ... kejadian di cerita wanita itu ... Peri-lah yang menyebabkannya...?! Selama ini Hilma benar, Peri berusaha untuk menipu Manusia...?
“Jadi... aku dan adikku ... karena mereka juga...?”
Setelah itu, dirinya melihat seorang lelaki berambut merah keunguan yang menggendong seorang wanita yang sudah terbujur kaku di atas pangkuan tangannya. Lelaki itu berjalan sambil menangis darah menghampiri seekor Naga hitam. Setiap langkah kakinya menghentak tanah, itu menghancurkannya dan memuntahkan magma.
Lelaki itu tetap memeluk wanita yang digendongnya, saat dirinya mentelekinesiskan Naga itu ke pohon raksasa yang sama dengan yang ia lihat sebelumnya. Pohon itu mengubahnya menjadi sesosok manusia, yang pernah juga dilihatnya—yaitu Sephiroth.
Seakan buku bergambar dari pandangan matanya, ia melihat lelaki itu mengucapkan dialog, “Suatu saat aku ... tidak ... bulan akan menghakimimu lagi bila kau tidak bercermin, Sephiroth.”
Lalu, bertahun-tahun setelahnya, dengan mata yang melihat perpindahan waktu itu seperti sebuah buku bergambar yang bergerak, dia melihat seorang lelaki berambut ungu yang lagi-lagi menangis darah, sama sepertinya. Tapi, saat ini kejadian di sekelilingnya lebih parah dari lelaki berambut merah sebelumnya.
Perang terjadi dimana-mana. Itu tidak melibatkan benda-benda, melainkan sihir. Manusia dan makhluk-makhluk yang belum pernah ia lihat sebelumnya, semuanya ikut berperang. Tidak ada yang berpihak pada satu pihak saja. Begitu pun dengan manusia. Mereka semua bergerak atas alasannya sendiri-sendiri. Bahkan, Tellaura melihat adanya Peri yang ikut serta di dalam peperangan itu.
“Lagi-lagi Peri...?!”
Kemudian, Tellaura melihat tangisan darah lelaki berambut ungu itu, dilanjutkan dengan pecahnya pohon raksasa itu menjadi serpihan-serpihan, lalu “bersarang” di hutan yang memiliki pepohonan besar nan menjulang tinggi—yang tidak lain dan tidak bukan adalah Tir Na Nog.
“Po-pohonnya hancur...?!”
Tepat setelah itu, gadis berambut merah itu melihat banyaknya makhluk-makhluk asing serta Manusia di sana lenyap seperti asap, sampai menyisakan lelaki berambut ungu, yang sekali lagi memunculkan dialog yang bisa dibacanya. Dialog itu berkata, “Aku benci dunia sihir ini. Dunia ini merenggut segalanya dariku.”
Tellaura lalu melihat lagi terus menerus perubahan waktu. Dimana setiap lelaki dan wanitanya memiliki sebuah dialog yang selalu memiliki kesamaan—yaitu “benci dunia”. Sampailah dirinya akhirnya melihat dirinya sendiri..., yang mengatakan apa yang baru saja digumamkannya sebelum melihat semua ini.
Kemudian, dirinya yang menyangka penglihatannya akan berakhir sampai di situ saja, salah besar. Dirinya dibawa jauh... sangat jauh ke masa depan, pada seorang gadis berambut perak, yang sedang menangis di tengah-tengah ribuan atau mungkin seisi dunia yang telah berubah menjadi hitam-putih, sendirian, tanpa siapapun yang menemaninya. Yang berwarna hanyalah langit, lautan, dan tangisnya yang berwarna darah. Tellaura melihat dialog dari gadis itu yang mengatakan, “Aku mencintai dunia ini. Tapi, apa yang telah kulakukan...?”
Tellaura terkesiap. “Dunia ... hancur...?” Barulah setelah itu, seakan terbangun dari mimpi, ia kembali ke hadapan Seele dan pohon raksasa.
“ Itu adalah ... waskita ... Pohon Dunia.” Para Seele bergantian lagi. “Tentukanlah ... keputusanmu ... oh yang terpilih....”
“A-aku....”
__ADS_1