
Kerajaan Aurora, kediaman Alexandrita. Dua bangsawan dari keluarga ini—Albert dan Ashley—berdiri memimpin barisan Crescent Void, Azure, dan para Elf—untuk menuntaskan perintah Ratu. Keduanya juga memegang salinan peta Batu Jiwa, yang sebelumnya telah diberikan Suzy. Setelah berpikir dan berunding, mereka memutuskan ada lima tim yang akan terbentuk, dengan masing-masing tim beranggotakan dua sampai tiga orang.
Tim A; terdiri dari Colette dan Lloyd, Tim B; beranggotakan Gerda dan Serina, Tim C; adalah Mellynda dengan Azure, kemudian Tim D; adalah Jourgan bersama Danny, lalu yang terakhir ada Tim E; anggotanya adalah Marcus, Novalius, dan Mintia
Anggota-anggota ini diberi pengarahan tentang barang bawaan misi mereka nanti, seperti alat komunikasi berbentuk gelang yang terhubung dengan kediaman Alexandrita dan menggunakan mana sebagai “sinyal”, dan dua keping permata buatan keluarga Emeria, yang bila ditanamkan ke bebatuan atau pohon, mereka akan berubah menjadi tenda, sementara itu Zeeta dan Ozy sedang berbincang empat mata di sebuah bukit.
......................
Sang Raksasa dan Si Penyihir Harapan yang merupakan guru dan murid, sedang bersandar di sebuah pohon. Si Penyihir duduk di atas batang dan Si Raksasa bersandar. Mereka bisa menatap kerajaan dari sana. Ditemani elusan lembut dari angin hingga seakan memelodikan dedaunan pohon, itu menghadirkan suasana untuk berbincang perihal sesuatu yang dalam.
“Aku...." Ozy membuka pembicaraan “Tidak menyangka semuanya akan berjalan ke arah sini.” Pandangannya seperti kosong walau lawan bicaranya adalah muridnya sendiri.
Zeeta melirik ke bawah, tetapi segera balik menatap kerajaan. “Jika kau berkata begitu, maka aku pun lebih tidak menyangkanya.
“Sebenarnya, batasanku sampai mana?
“Hanya karena aku memakai Catastrophe Seal dengan tambahan kekuatan Rune, aku jadi membahayakan seluruh dunia. Bahkan aku tidak akan tahu jika kalian tak memberitahuku tentang goresan dimensi antara Galdurheim dan Jötunnheim setelah tebasanku kala itu. Aku amat fokus dengan tujuanku pada Mary.”
Tak ada respon dari Ozy, tetapi dia mencengkeram kedua tangannya.
“Haaaah....” Zeeta menghela napas panjang. “Sejak aku diperlihatkan fakta dunia oleh Seele, aku sedikit membayangkan kehidupanku jadi lebih rumit, tapi....” Zeeta melompat dari batang dan mendarat dengan mudahnya dengan posisi bertolak pinggang—menghadap Ozy.
“Kupastikan dirimu kalau aku tidak akan menjadi Penguasa Kekelaman!” ia mengucapkannya disertai senyuman lebar. Setelah itu dia membalik tubuh, melihat lagi kerajaan sambil tetap bertolak pinggang. “Ozy ... beritahulah aku satu hal.
“Apakah kau mau hidup kembali bersama Raksasa lain? Kuingat kau pernah berkata jika kau adalah Raksasa yang hidup seorang diri sejak ribuan tahun lalu sampai kau bertemu leluhurku. Tapi sekarang, kita semua sudah mengetahui kebenarannya.
“Apa yang akan kaulakukan?”
Ozy bangun dari duduknya, berjalan menghampiri Zeeta. “Jika itu adalah aku dari ribuan tahun lalu,” jawab Ozy, “aku pasti akan segera menjawab ingin kembali bersama mereka. Karena aku tak pernah hidup di luar kelompok sebelumnya, aku akan melihat dunia ini dalam kesempitan.
“Tapi sekarang....
“Sejak aku bertemu Clarissa, pandanganku berubah. Ras-ku adalah ras yang berbahaya, tetapi bukan berarti semua dari mereka berpikiran yang sama—yang sangat membenci Manusia. Oleh karena itu....
__ADS_1
“Aku akan berdiri bersama Aria dan kalian, meski itu artinya akan menghadapi ras-ku sendiri.”
Zeeta tersenyum. “Menghadapi, ya?
“Begitu....”
Ozy tidak mengerti respon Zeeta. Kala ia ingin bertanya, Zeeta justru melanjutkan lagi ucapannya. “Aku dan Luna sudah pernah berbicara tentang keputusanku ketika Yggdrasil bangkit lagi dan aku sudah membulatkan keputusan itu sekarang.” Ia menghadap Ozy, lalu memegang kedua bahunya. “Ozy, kujamin kau satu hal ini.
“Menghapus keberadaan sihir, bukanlah satu-satunya jalan untuk semua ini. Aku sadar itu setelah mendengar banyak penjelasan dari Luna.
“Itu saja.” Zeeta memungkas ucapannya dengan senyuman lagi.
“Zeeta....” Ozy saat itu langsung sadar. Bahwa muridnya—Sang Penyihir Harapan—semakin tumbuh tak hanya dari sisi kekuatan, tetapi juga mental dan pikiran. Hal itu tanpa sadar membuatnya ikut tersenyum. “Kau juga harus selalu ukir dalam hatimu, bahwa di dunia ini kau tak menopang semuanya sendirian.
“Jika kau memang yakin menghapus sihir bukanlah satu-satunya jalan, seperti yang telah kukatakan pada Clarissa dan dia pun memberitahumu....
“Kami akan membantumu. Jangan berpikir bahwa kami tak bisa melindungi diri. Karena kami akan mendukungmu itulah, kami ingin terus bersamamu.
Zeeta dan Ozy menutup perbincangan mereka dengan senyuman—yang kebetulan diterangi oleh cahaya senja.
......................
[Kekaisaran Seiryuu....]
Ornamen-ornamen berpola naga menghiasi dinding, menjadi ukiran tembok, bahkan pakaian warganya juga memiliki unsur naga. Tampak luar kekaisaran ini, adalah negara yang kuat baik dari fisik, mental, dan pendirian.
Di suatu tempat di atas gunung, terdapat kuil dan Torii—sebuah pintu gerbang. Di depan kuil itu ada seorang lelaki dan seorang perempuan. Si Lelaki berambut putih lurus lebat dan bermata sayu merah. Sementara itu Si Perempuan, berambut hitam panjang dan bermata biru. Kulitnya lebih pucat jika dibandingkan dengan Si Lelaki.
Si Lelaki sedang telentang menatap langit senja sementara Si Perempuan berada di dekat kakinya, berdiri dengan kepala yang tertunduk.
“Maafkan aku, Kak Arata...,” ujar Si Perempuan. Kemudian dia menangis. “A... aku sama sekali tidak menyangka... o-orang itu—”
“Diamlah. Aku tahu,” tukas Si Lelaki. Ia menutup mata lalu menghela napas. “Aku tahu kau tidak pernah belajar dari kesalahan. Aku membiarkanmu bertindak sesuka hati karena aku tahu kau akan gagal.”
__ADS_1
“Ja-jahat! Padahal aku melakukan ini semua untukmu!”
“Aku selalu bilang padamu bahwa aku tidak mempedulikan semua yang dilakukan ayah, bukan? Bahkan jika rakyat menatapku takut, membenci, dan selalu mengusirku kemana pun aku pergi, aku tidak mempermasalahkannya.
“Jika kau terus seperti ini, kau yang akan dalam baha—tidak, kau sudah dalam bahaya....
“Inilah akibatnya kalau kau tak mendengarkan ucapan kakakmu, Hitomi.”
“Ta-tapi....”
Lelaki bernama Arata tersebut bangun dengan kaki duluan. Ia menghampiri Si Adik dan menepuk kepalanya. “Kekaisaran sedang dalam bahaya karena keberadaan dia. Aku ingin kau bertanggung jawab dan selesaikan masalahnya. Aku yang akan menuntaskan permintaan dia untuk membunuh Zeeta.”
“Jangan! Itu terlalu berbahaya dan berisiko!
“Kau tidak tahu seberapa kuat orang gila itu!
“Jika tidak karenanya, dia tidak akan muncul!”
“Jika tidak karenamu yang gegabah, ini semua tak akan terjadi, Hitomi!” Arata membentaknya. “Tidak usah menyalahkan orang lain karena kesalahanmu sendiri! Sampai kapan kau ingin menjunjung tinggi harga diri itu, jika tak bisa menyadarinya?!”
Hitomi menunduk. “Uhm... maaf....”
Arata menatap sesaat adiknya. “Cih.” Ia kembali telentang. “Pergilah. Aku akan berangkat tengah
malam nanti.”
“Ba-baik....” Hitomi kemudian menghilang dengan butiran hitam melintir.
“Jangan kira hanya kaubisa terus berakting seperti adik yang bodoh, kikuk, dan kaku, Hitomi.
“Kaupikir kaubisa menipu kakakmu ini?
“Aku harus segera bertemu Zeeta ini. Pandangan dia pada dunia mungkin bisa membantuku.”
__ADS_1