
Dentuman demi dentuman yang saling membalas satu sama lain, menyebabkan istana emas bawah laut—kediaman dimana Cynthia Sang Putri Duyung bergetar dan menjatuhkan debu dari berbagai sudut. Salah satu prajurit selamat dari Kekaisaran Seiryuu yang bernama Aira juga masih tergeletak tak sadarkan diri di dekat Jourgan dan Cynthia.
Selagi Danny disibukkan oleh lawan yang tak sebanding dengannya—yaitu Benih Yggdrasil dari lima ratus tahun yang lalu, Si Putri Duyung dan Si Dark Elf berbincang mengenai Batu Jiwa dan keluarga Cynthia.
“Beberapa pekan yang lalu, Kerajaan Bawah Laut Orsfangr didatangi oleh sekelompok orang.” Cynthia mulai bercerita. “Dari keluargaku, yang segera menyadari kalau seseorang dari mereka hanyalah memakai sihir samaran ... adalah ayah dan ibuku.
“Orang itu sudah tua, tapi aku tidak bisa memastikan berapa usianya. Satu hal yang pasti, ketika hari-hari kami berjalan seperti biasa, di ruang singgasana, orang itu....”
......................
Seorang pria tua, tiga orang remaja, dan seorang pria memasuki ruang singgasana istana emas dengan santainya. Anggota keluarga kerajaan yang ada di sana pada saat itu, adalah Raja Orsfangr, Marshall Orsfangr, Ratunya, Tiffany Hilda Orsfangr, Putri Pertama, Sugar Vazquez Orsfangr, dan Putri Kedua, Cynthia Arseld Orsfangr.
Rambut sebelah kiri pria tua itu dipotong gaya pendek sementara poninya dibiarkan menutup kening,
dan rambut sebelah kanannya dibiarkan tumbuh sedikit lebih lebat dibanding sebelah kiri. Di mata biru kanannya terdapat monocle. Dia juga memakai seragam militer yang berbasis warna merah gelap.
Sang Putri Pertama dan Putri Kedua segera mengacungkan senjata mereka, tetapi keduanya segera dihalangi oleh sang ibu. Keduanya juga terkaget-kaget karena ekspresi yang dipasang sang ibu, demikian pula dengan ayahnya.
“Ayahanda...? Ibunda...? Kenapa...?” tanya Cynthia.
“Ssst!” sang ibu tidak mengizinkan putrinya bertanya.
Hal itu justru menambahkan besarnya tanda tanya, siapa mereka?
Sang Raja dan Ratu segera berlutut. Karena dipaksa oleh situasi yang tidak jelas, mau tak mau kedua putri kerajaan itupun mengikuti langkah orang tuanya.
Tapi tiba-tiba....
‘PEW!!’
Tiffany tergeletak bersimbah darah begitu saja.
Mata terbelalak, mulut yang menganga, rasa kaget dan marah yang tak terbendung.... Arah dari siapa yang menembak ibu mereka, keduanya tahu.
“SIALAN! Mau apa kau sebenarnya?!” Sugar tidak bisa mengontrol emosinya.
“I-Ibunda...? I-I-Ibunda…?” dengan suaranya yang bergemetar, Cynthia menggoyangkan tubuh ibunya, berharap sang ibu masih bernapas.
“Oh?” Si Pria Tua akhirnya bersuara. “Kau bahkan tidak mengajarkan keturunanmu untuk tunduk padaku, ya? Kalau begitu....” Dia bersiap untuk menembak sekali lagi.
“Tu-tunggu, Tuan Carlou! A-aku siap menanggung tanggung jawabnya, tolong jangan....”
“Tanggung jawab? Memangnya makhluk rendahan sepertimu, apa yang bisa kau—“ dia tiba-tiba terhenti ditengah bicaranya. Dia menekan telinga kirinya. “Apa, Zero? Aku tidak akan memaafkanmu kalau menghubungiku untuk sesuatu yang tidak penting.
"Jötunnheim...? Kau yakin tidak bermimpi dengan mata itu?
“Baiklah. Aku akan kembali.”
Si Pria Tua yang selalu cemberut, dengan badan setengah berbaliknya mengatakan, “Kau beruntung. Ingatlah, turuti saja keinginan empat orang ini dan kalian akan selamat.
“Oh, untuk jaga-jaga....” Mata birunya tiba-tiba bersinar. Tiga Duyung yang masih hidup itu, yang sebelumnya berukuran cukup raksasa, menyusut perlahan-lahan.
“Ke-kekuatanku....” Sugar mendadak jatuh berlutut.
“Bersenang-senanglah, kalian berdua.” Si Pria Tua melambaikan tangannya, kemudian lenyap dengan sihir portalnya.
“Fufufufu.” Salah seorang remaja, Kiratsuzan, terkekeh. “Sebaiknya dibunuh dengan cara apa, ya…?”
“Siapa bilang kalian boleh membunuhnya?” mendadak Kiratsuzan menciut dengan kata-kata yang keluar dari pria di sebelahnya, yang tak lain dan tak bukan adalah L’arc. “Jika kau langsung membunuhnya, aku juga jadi tidak bisa bersenang-senang.
“Tapi, aku sedang merasa tidak begitu ingin untuk bermain, jadi kuserahkan pada kalian. Ingat, jangan dibunuh.”
“Ba-baik, Tuan L’arc…,” balas Kira. Ia tetap tidak berani menatap langsung Tuannya itu.
L’arc setelah itu angkat kaki dengan santainya. Tidak merasa bersalah sama sekali, atas kedatangannya ke sini.
__ADS_1
“Si-siapa sebenarnya kalian…?” tanya Cynthia, yang pipinya sudah basah dan mata yang sembab. Dia juga memeluk erat ibunya, yang kini sudah kalah besar darinya.
“Ayahanda, jangan diam saja!” bentak Sugar. Namun, saat dia melihat ke arah ayahnya itu, ia kaget setengah mati. Tatapannya putus asa, tak pernah dia lihat ayahnya begitu. “Aya… handa…?”
“Adikkku! Segera bawa pergi orang tua kita ke tempat yang aman!”
Suara seorang lelaki muncul entah darimana. Mendadak, sebuah trisula menghantam ketiganya dengan sambaran petir yang berhasil menyerangnya dengan telak.
Sadar dari siapa suara tersebut, kedua putri itu segera menarik paksa kedua orang tuanya. Sugar pada ayahnya, Cynthia pada ibunya.
“Sialan, disaat aku tidak bersama mereka…. Kenapa ini bisa terjadi?!" Sang Penerus Takhta, Juggernaut Orsfangr, geram dengan dirinya sendiri. “Penyusup! Atas nama Orsfangr yang menguasai lautan ini, sebagai bayaran yang telah kalian lakukan pada kami, aku pasti akan membunuh kalian!”
......................
“Tapi sayangnya … kakakku kalah, kemudian mereka dengan mudahnya mengejar kami, menjadikan ayahku dan kakak lelakiku menjadi tawanan mereka, serta menjadikan kakak perempuanku jadi alat mereka.
“Namun untungnya saat itu, Dion, Sion, Qyu, dan Gamma, segera memberikan kami bala bantuan. Meski kami nyaris saja kalah, untungnya aku masih bisa selamat.
“Keempatnya kemudian memberitahuku tentang dunia darat. Memang, khusus untuk empat temanku itu, tidak hanya bisa merasakan perubahan di dasar laut, mereka juga bisa merasakan apa yang terjadi di darat.
“’Ada seseorang yang sedang mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan dunia. Dia sedang mengincar Batu Jiwa.’ Itulah kata-kata mereka.
“Oleh karena itulah, kami bersama-sama menyusun rencana untuk memanggil bala bantuan.”
“….” Jourgan diam sesaat, sambil memegangi dagunya. “Lalu, siapa identitas Pria Tua yang membunuh ibumu tanpa alasan itu?” tanyanya kemudian.
Jourgan kemudian menyadari Cynthia yang mencengkeram erat kedua tangannya. “Dia adalah … Naga.”
Tatkala mendengarnya, Jourgan memejamkan mata. “Begitu, ya…. Tidak heran, mereka berasal dari tempat yang sama.
“Lalu, apa kau juga sudah tahu apa tujuan mereka menyusup ke sini? Apa itu ada hubungannya dengan Batu Jiwa?”
“Aku … tidak mengerti.” Cynthia menggeleng kepala.
“Baiklah, kaubisa bangun dan segera jelaskan tujuan kalian ke sini, Aira? Entah itu Ki ataupun mana, jangan remehkan pendengaran Dark Elf yang sering memburu sepertiku.”
“E-eh…?” Cynthia mendekat pada Jourgan.
.
.
.
.
“Sialan….” Aira duduk di pinggiran kasur sambil memegangi kepalanya—mengasihani dirinya sendiri. “Tidak hanya gagal dalam misi, teman-temanku dikhianati dan dibunuh, aku bahkan diselamatkan oleh musuh. Apa-apaan penghinaan ini?!”
“Asal kautahu, Manusia,” ujar Jourgan, dia kemudian mengacungkan trisula padanya. “Aku tidak memedulikan nyawa Manusia lain selain yang berharga bagiku. Kau selamat hanya karena Danny menyelamatkanmu.
“Jika kau melakukan sesuatu yang lucu di sini, meskipun itu berarti aku mengkhianati Danny, aku tak segan lho, untuk membunuhmu.”
Aira dengan cepat mencengkeram trisulanya dan mendekatkannya pada leher. “Silakan saja! Aku tidak sudi juga diselamatkan oleh musuh sepertimu!”
“Baiklah.”
“EHHH?!” Cynthia tidak mengira Jourgan akan menyetujuinya. Dia benar-benar mengira Dark Elf itu akan berpikir dua kali untuk merenggut nyawa seseorang.
“Tapi,” sambung Jourgan, “tetap saja kau tidak bisa mati tanpa rasa sakit setelah apa yang kauperbuat.”
Dari ujung tengah trisulanya, tetesan hitam-keunguan jatuh di tubuh Aira.
“Aghk?!” erang Aira, yang bahkan tidak sempat menghindar. “Apa yang kauberikan padaku, Bajingan?!”
Jourgan memelototi Aira, yang segera menggetarkan kegigihan remaja perempuan itu. “Racun Raksasa. Ingat, ‘kan?”
__ADS_1
“A-ap…?”
“Tapi tenang saja, dosisnya sudah kukurangi sembilan puluh sembilan persen. Itu akan membunuhmu dengan perlaaaahan-lahan….”
“Ke-keparat…!”
“Sekarang, beritahu aku, Manusia! Apa tujuan kalian ke sini adalah Batu Jiwa?!”
“Apapun yang terjadi … a-aku takkan memberitahunya!”
Jourgan mengernyit. Ia lalu bilang, “Hanya untuk melepas kebosanan Tuan Carl… kah?”
“A-apa?!” baik Cynthia atau Aira, keduanya sama-sama kaget. Bagaimana dia bisa tahu, adalah pertanyaannya.
......................
[Beberapa menit yang lalu, di Hutan Sihir Agung, Grandtopia....]
Penduduk Elf yang tinggal, atau memilih menetap di hutan ini, kendati ada hutan baru dengan tujuan untuk mengelabuhi Manusia, terancam oleh bangkitnya Asuka dan Nanashi sekali lagi oleh sihir Penguasa Kekelaman yang dirapal pada mereka, kendati keduanya sudah dilenyapkan oleh para Elf.
Mereka langsung berubah ke bentuk Naga-nya. Nanashi bersisik kuning keemasan dengan tubuh yang memanjang, sementara Asuka bersisik cokelat dan bertubuh besar.
“Kami akan menghancurkan kalian!” seru Nanashi. “Gendut, perlihatkan kekuatanmu!”
Merasakan bahaya yang amat besar, Hugo lantas berteriak, “Semuanya, lari!” jeritannya itu langsung direspon oleh semua Elf yang ada di sekitar.
‘KRAK! BWOAMM!’
Tanah dengan mudahnya diubah ukurannya oleh Asuka. Ada yang mencuat menjadi tebing tinggi, ada pula yang retak dan memunculkan jurang. Untungnya, para Elf masih sempat menyelamatkan diri.
“Apa-apaan kekuatannya itu?!” seru salah satu Elf.
Namun....
“Gwaaahhh!” erangan terdengar dari para Elf tanpa ada yang menduganya. Darah bercucuran dimana-mana tak lama setelahnya. Nanashi menyerang mereka dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh Elf.
Nanashi menyeringai. “Hehe. Sekarang tidak ada lagi yang bisa menentang kami. Langsung saja kaupakai itu, Gendut!”
Mata Asuka setelah itu menyala. Mereka yang masih mengerang kesakitan, mendadak jatuh di tanah. Bahkan ada juga yang jatuh ke jurang. Mereka ... diubah menjadi batu.
“Semuanya!” jerit Reina, yang bersembunyi di balik salah satu pohon Chronos. Tapi Hugo segera menutup mulut dan menariknya untuk tetap bersembunyi.
“Jangan gegabah!” bisik Hugo. “Kita perlu lakukan sesuatu untuk sihir pembangkit mereka!” Tapi tiba-tiba, Hugo mendapati Aria yang berjalan gontai menghampiri keduanya. “A-Aria…? Apa yang kau…?” Reina juga jadi ikut melihat Aria.
.
.
.
.
“Hei, Keparat. Apa senikmat itukah, kalian membunuh?” tanya Aria kala ia berjalan.
“Haa?” Nanashi melirik ke bawah. “Hei hei, meskipun putus asa, jangan sebodoh ini untuk menyerang kami, dong. Tidak seru!”
“JAWAB AKU!” jerit Aria.
Nanashi terdiam sesaat....
“Kalau aku bilang iya, memangnya apa yang bisa kaulakukan? Iya, 'kan, Gendut?”
“Kau benar,” jawab Asuka.
“Demi nama Elf yang sangat kuhormati, Lucy, Jewel, dan Hugo, serta ibu mereka Marianna... akan kukalahkan kalian karena sudah mengotori tempat ini, Manusia!”
__ADS_1