Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Sang Raksasa Alpha, Fenrir


__ADS_3

Fenrir adalah Raksasa yang memimpin ribuan Raksasa berkaki empat lainnya. Raksasa-Raksasa tersebut bermacam tinggi tubuhnya, yang paling kecil diantara mereka adalah setinggi enam meter, sementara yang paling tinggi adalah enam puluh meter, Fenrir itu sendiri.


Begitu Fenrir menerima pil kekuatan dari Keenai, tubuhnya diselimuti oleh aura ungu gelap. Mata hijaunya berkilau. Ia juga menggeram, seakan ada sesuatu yang memantik emosinya. Atas pil yang ditelannya itu, tiba-tiba Fenrir mengingat sebuah kejadian jauh di masa lalu.....


......................


Dunia masih dikelilingi oleh hijaunya alam tanpa adanya bangunan pencakar langit, birunya angkasa, dan berkilaunya samudera. Angin semilir dapat dirasakan di mana saja, kebebasan pun tak perlu dipaksakan. Sebuah pohon raksasa yang menghidupi seluruh makhluk hidup di Bumi, menjadi sebuah kehidupan yang selalu membawa senyum terhadap mereka yang hidup di dekatnya, tak peduli siapapun rasnya.


Di sana, hiduplah sekelompok Raksasa berkaki empat berwujud serigala. Sang Alpha memiliki bulu bagian atas berwarna kelabu dan bagian bawahnya berwarna hitam. Sementara itu, sang Beta—pendamping hidupnya—adalah serigala berbulu putih yang tampak sangat lembut dan baik hati. Matanya berwarna kuning dan ia selalu mengawasi anak-anaknya—yang sedang bermain-main di dekat pohon raksasa tersebut. Tidak hanya keluarga Alpha saja, tentu ada serigala lain yang tinggal di dekat mereka, dan mereka ini adalah Omega.


Sebagai seorang Alpha, tugasnya adalah untuk menjaga kawanannya tetap aman, mencari wilayah buruan untuk mengisi perut, dan menjadi penengah ataupun penantang bagi para Omega yang ingin merebut titel "Alpha"-nya.


Semua kawanan itu hidup sebagaimana mestinya. Ada yang tewas karena kalah dalam pertarungan antar sesama kawanan, perebutan kekuasaan, atau tewas karena usia. Alam menghidupi mereka dan demikianlah sebaliknya.


Sang Alpha tidak pernah turun kuasa sejak seratus lima puluh tahun usia Manusia. Dan sejak pertama kali ia menjadi Alpha, banyak Omega yang tunduk padanya. Ia adalah Alpha yang kuat, dihormati, dan begitu disegani.


Sampai suatu ketika, saat Alpha sedang mencari makanan bersama dengan para Omega, meninggalkan Beta beserta anak-anaknya di dekat pohon raksasa kehidupan, suatu peristiwa yang mengubah seekor Fenrir menjadi begitu ganas dan tak mengenal ampun kepada satu pun Manusia.


Peristiwa tersebut diawali oleh ledakan besar di daerah kawanan serigala itu tinggal. Besarnya ledakan tersebut mampu dilihat dari jarak ratusan kilometer dan asapnya yang menjulang tinggi walau sama sekali tak mendekati tinggi pohon raksasa kehidupan di dekatnya.


Alpha dan Omega segera kembali ke sarang mereka, namun sayang, pandangan mereka tertuju pada sekelompok Manusia yang bersimbah darah di atas tubuh Beta dan anak-anaknya. Tubuh mereka juga membekas noda hitam dan bakar, bukti bahwa mereka terkena ledakan besar tersebut. Beberapa diantara mereka, termasuk Beta sendiri, terluka cukup parah. Sementara itu, Manusia yang ada bersimbah darah tersebut....


"Tunggu, Fenrir!" seorang wanita berambut merah dan bermata biru mencoba menjelaskan. "Ini kesalahpahaman! Kami tidak melakukanya, tapi—"


"Fenrir! Jangan dengarkan mereka!" seekor Peri berambut putih dan bermata merah berseru. "Lihatlah dengan mata sihirmu itu, Fenrir. Dia adalah keturunan Matahari! Dialah penyebab ledakan itu dan sengaja mengincar mereka kala kau sedang berburu! Bukankah ini sangat kejam menurutmu?!


"Aku menyaksikannya sendiri dengan mata ini, Fenrir! Aku berusaha menghentikan Manusia-Manusia bodoh yang tidak mengerti tentang cinta dan sayangmu terhadap keluargamu!


"Lihatlah para Omega-mu, Fenrir. Mereka juga kehilangan keluarganya ... semua karena Manusia-Manusia ini...."


"Feline ... kau...!" Wanita Berambut Merah itu mencengkeram tangannya.


"Eleanor, harus apa kita sekarang?!" tanya kelompoknya. Mereka semakin memojok mendekati pohon raksasanya, demikian pula Si Wanita Berambut Merah, Eleanor.


"Kembalilah, aku akan mengulur waktu." Eleanor berkeringat dingin. "Sampaikan kalau kita kalah telak dan mustahil menerima perlindungan mereka lagi."


"Ta-tapi, selanjutnya harus—"


"Pikirkanlah sendiri!" Eleanor menjerit, menunjukkan urat mata dan tubuhnya uang bergemetar hebat. Para kelompoknya segera bungkam dan segera berlari.


"Kumohon jangan kejar mereka. Aku siap mati di tanganmu."


Fenrir tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak melihat semuanya, pun ketika Si Peri membeberkan apa yang terjadi—menurut versinya.


"Awooo!!" Fenrir segera mencabik-cabik Eleanor menjadi serpihan-serpihan daging kecil. Ia tak sudi memakannya, justru ia habisi lagi hingga tak bersisa dengan menumbuknya ke dalam tanah. "Grrr!" ia menoleh ke arah para kelompok Manusia sebelumnya berlari, dan menyuruh Omega-nya untuk membunuh mereka.


Tidak disaksikan dengan mata Fenrir, Si Peri tertawa terpingkal-pingkal. Namun, tanpa disadari, semua kejadian itu disaksikan oleh apa yang ada di dekat mereka—pohon kehidupan raksasa—Yggdrasil. Kendati, pohon ini tak melakukan apapun.


......................


Ingatan yang sangat dibenci Fenrir dan terpaksa diingat lagi olehnya, membuat mana yang dimilikinya meledak. Omega yang tunduk dibawahnya yang jumlahnya ribuan, bernasib sama sepertinya, sebab seekor Alpha mewakili dan menanggung nasib para Omega-nya.

__ADS_1


Setelah Fenrir menyerukan auman untuk menyerang, Omega-nya tak mengenal siapa lawan atau kawan, kecuali untuk sesama berkaki empat. Mereka mencabik, menggigit, merobek, atau menyihir dengan mulut, mata, atau cakarnya demi melaju ke satu arah spesifik, kerajaan Aurora. Tempat ini adalah tempat dimana Fenrir merasakan keturunan Matahari berada dan ia takkan diam dan mati dengan tenang bila mereka belum musnah dari muka Bumi.


Ditengah-tengah perjalanan para Raksasa berkaki empat, di pihak Manusia, sudah bersiap beberapa orang yang dipimpin oleh seorang Crescent Void, Gerda Bloomy. Ia ditemani seorang teman Manusia-nya dan seorang High Elf, Bellaria. Mereka berdiri berdampingan.


"Melly, apa kau melihatnya?" tanya Gerda.


"Apa?" tanya Mellynda yang bingung, tidak hanya dari pertanyaannya, namun juga betapa santai temannya itu.


"Masa lalu dari pemimpin Raksasa yang sedang mengganas dan menarget kita."


"Uhh... tidak? Memangnya kaulihat?"


"Uhm." Gerda mengangguk.


"Itu berarti alam menunjukkanmu, Gerda," sahut Aria, menimbrung percakapan.


"Alam?"


"Dengan kondisi Galdurheim yang telah diperkuat Vanadust dan persiapanmu selama ini, bukan tidak mungkin alam pun mampu memberitahumu apa yang terjadi."


"Atau...." Gerda mengangkat tongkat sihir—senjata sucinya. "Karena inilah aku melihatnya."


"Senjata suci?" tanya Aria.


"Yap, juga karena mana seseorang yang mendatangkan meteor-meteor gila selagi kita bicara ini."


'BWHAAAMM!!'


"It's showtime, Melly!" seru Gerda.


"Okay!" balas Mellynda. Ia memakai senjata sucinya untuk menembak. Kali ini, bukan kepada kaki ataupun tanah, namun ke udara. Dua peluru yang ditembakkan secara sekaligus dari shotgun-nya meledak dan menumpahkan butiran debu kristal. Debu-debu tersebut melambatkan laju lari lawannya yang sangat cepat, demikian pula Hollow-Hollow yang berlari ataupun terbang bersama mereka. Ia terus menembak ke manapun area yang belum terkena imbasnya.


"Aria!" seru Gerda, yang memberi sinyal. Aria segera memakai sihirnya pada lawan. Ia menghembuskan angin dingin tiupan mulutnya yang mampu membekukan portal dimana para Hollow terus saja keluar bak tiada akhir.


Gerda memejamkan matanya sesaat. "Aku mulai!" ia ayunkan tongkat sihirnya pada lawan untuk beberapa menit. Perlahan tapi pasti, sebuah lingkaran sihir muncul dibawah kaki mereka. "Zeeta, bila kau melihat ini, saksikanlah. Ini adalah hasil latihanku yang aku yakin tak pernah kaulihat!"


Tubuh Gerda dikelilingi oleh butiran mana hijau dan putih. Aria tak percaya melihatnya, sementara Mellynda penasaran apa yang hendak dilakukan temannya ini.


"Wahai alam, aku pinjam kekuatanmu demi kebaikan dunia. Bersihkanlah kejahatan di hadapanku ini dan bawakan ketenangan baginya.


"Songs of Zero!"


Dari alam, utamanya tumbuhan, baik itu rerumputan yang telah hancur oleh hentakan kaki para Raksasa ataupun bunga yang telah kehilangan warnanya, terkumpullah butiran-butiran mana dari mereka ke satu wilayah, membentuk seekor serigala dan kawanannya. Mereka lalu melaju kemana para Raksasa berkaki empat dan Hollow tersegel pergerakannya, terus menerus menembus semua yang menghadang.


Aria merasa ia bermimpi. Seorang Manusia bisa melakukan ini?


Para Raksasa yang telah dilalui butiran-butiran mana berwujud tersebut tiba-tiba jatuh, sementara para Hollow lenyap tak bersisa. Demikian pula portalnya. Ada sesuatu yang terkumpul di udara sejak Gerda memakai sihirnya. Itu adalah ekstrak dari sihir kegelapan yang merasuki para Raksasa, juga ekstrak dari para Hollow yang tidak sempat beraksi. Ekstrak tersebut semakin membesar selama Gerda terus melajukan sihirnya.


Sosok Gerda yang terus fokus mengarahkan kemana butiran mana itu melaju. Ia pun berbagi pandangan dengan sihirnya sendiri. Butiran mana-nya sampai ke hadapan Fenrir yang mendadak mematung, padahal sebelumnya ia melaju dengan sangat kencang.


"Berhasil atau tidak, kuserahkan sisanya pada kalian," celetuk Gerda, "setelah ini aku takkan bisa bergerak untuk waktu yang cukup lama."

__ADS_1


Mellynda dan Aria saling tatap sesaat, lalu mengangguk. "Serahkan saja pada kami!" jawab mereka bersama.


Gerda ikut mengangguk, lalu mengayunkan lagi tongkat sihirnya. Butiran mana-nya menembus Fenrir. Ekstrak sihir kegelapan pun semakin besar.


Dalam pandangan Fenrir, ia melihat Beta dan anak-anaknya tersenyum sembari mengibas-ibaskan ekornya. Keluarganya ini berada di hamparan sabana luas dengan sungai yang ada di dekatnya. Auman dari mereka terdengar bahagia dan tidak terasa adanya sedikit pun kebencian dari mereka ataupun penyesalan.


Fenrir segera paham saat itu juga. Beta dan anak-anaknya tewas bukan karena dibunuh oleh Manusia, namun karena melindungi mereka. Sudah sewajarnya seperti itu, sebab demikianlah ia bisa jatuh hati pada betina untuk seumur hidupnya itu. Seperti itu juga Beta-nya membesarkan anak-anaknya agar tidak bertinggi diri dan hidup berdampingan bersama siapapun. Sihir kegelapan yang bersarang dalam tubuhnya juga perlahan terangkat.


Sayangnya....


"Apa kau ini bodoh, Fenrir?" suara seorang wanita terdengar menggema.


"Ini adalah kesempatanmu untuk menghabisi Manusia-Manusia bajingan yang telah menghabisi kawananmu!


"Apa kau lupa dendam Omega-mu ketika itu?! Mereka memercayakan tuntasnya dendam itu padamu!"


Pandangan Fenrir terhadap Beta perlahan retak dan terus melebar.


"Kekuatan ini mampu menuntunmu ke kemenangan telak, jadi teruslah maju! Hanya ada tiga penerus kekuatan Matahari yang sama sekali bukanlah tandinganmu!


"Kau tidak boleh kalah di sini dan kau sangat tahu itu! Kau bisa beristirahat dan berkumpul bersama keluargamu setelah semua ini berakhir, kau pun sadar tentang tujuan itu!"


"Grrrr...." Geraman Fenrir kembali menumpahkan liur yang membuka portal bagi Hollow.


Wanita yang suaranya menggema dalam kepala Fenrir menyeringai senang.


.


.


.


.


"SIALAN KAU ZEETA!" jerit Gerda, "GUHAKKHH!" ia memuntahkan darah begitu banyak. Urat di dalam tubuhnya perlahan menghitam, ia juga jatuh ke tanah.


"Gerda!" seru Mellynda dan Aria khawatir.


"Apa yang terjadi?!" tanya Aria.


Gerda mencengkeram pakaian Aria dengan erat. "Zeeta! Dia menggagalkanku! Ughk!" uratnya berkedut-kedut seakan ingin meledak. "Dia ... dia mencemari sihirku dengan mana-nya!


"Fenrir... salah satu pemimpin Raksasa itu ... mengincar Le... vant!"


Gerda kemudian kehilangan kesadaran, walau uratnya terus seperti itu.


Aria menunduk cukup lama. Ia mencengkeram tangannya. Ia tahu Zeeta yang dibicarakan adalah Zeeta Alter. Karena itu jugalah ia merasa sangat marah.


"Aria, kita harus segera mundur dan bawa Gerda ke markas untuk penyembuhan!"


"Mana kegelapan, kah?" seseorang datang.

__ADS_1


Begitu keduanya menolehkan kepala, mereka terbelalak. Rambut hitam panjang, mata berwarna kuning, serta anting bulan di telinga kanan, tba dengan wajah yang serius. "Itu adalah keahlianku!"


__ADS_2