
Luna telah membawa Gerda ke sebuah dimensi yang tak memiliki batas ruang dan keseluruhannya berwarna jingga-keemasan, serta ada begitu banyak cahaya yang menyerupai bintang jatuh di sekelilingnya—bahkan sampai di bawah kaki.
Sang Roh Yggdrasil dan teman masa kecil Zeeta itu sedang membahas tentang masalah seorang anak Raksasa, juga sekaligus mengingatkan Si Teman Masa Kecil akan kejadian terbakar dirinya hingga menjadi abu beberapa waktu silam.
“Ada dua kemungkinan yang mungkin menyebabkan kejadian tak lazim ini, Gerda,” ujar Luna, yang menatap Gerda serius.
“A-apa maksudmu...?” tanya Gerda.
“Aku dan Zeeta datang dari langit, namun dari sana, kami tidak melihat adanya sosok Raksasa yang sedang melindungi dirimu—yang sudah dalam kondisi menjadi abu—dalam posisi telungkupnya.
“Tentang itu, ada dua kemungkinan yang bisa menjelaskannya.
“Yang pertama; hal itu disebabkan oleh kekuatan sang Raksasa itu sendiri. Jika menelaah akar asal-usulnya, maka hal itu bukan tidak mungkin dilakukan. Namun di sini, karena ia masihlah anak kecil—seperti yang sudah kaukatakan sebelumnya—kuyakin hal itu bisa terjadi dikarenakan ketidaksengajaannya.
“Tapi, yang harus kaugaris bawahi, jika memang seperti itulah kejadian yang sebenarnya, maka aku tak perlu repot seperti ini dan harus membesar-besarkannya.
“Yang menjadi masalah ... adalah kemungkinan keduanya—yaitu alasan mengapa kami berdua tak bisa melihat sosok Raksasa itu.
“Mungkin, ini karena sang Penguasa Kekelaman telah menggunakan semacam Rune agar bisa membatasi kami untuk merasakan mana, sekaligus menghalangi pandangan kami. Juga, aku yakin bila penyebab dirimu melupakan kejadian terbakarmu itu, karena orang yang sama.”
Gerda memasang wajah masam. “Aku ... tidak mengerti kenapa ia seperti itu.... Tidak... biar kuralat, sepertinya aku tahu, tetapi aku terlalu takut untuk mengakuinya.”
Luna tertarik mendalaminya. “Apa maksudmu?”
“Aku memang tidak ingat bagaimana aku bisa dibakar olehnya, tetapi aku ingat perasaanku saat itu kala melihatnya—ahh... aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata!
“Aku benar-benar lupa, tapi jauh di dalam pikiranku, aku seperti tahu apa yang terjadi!”
Luna memegangi dagunya seraya mengernyit. “Mungkin kau telah mengatakan sesuatu padanya, sehingga memantik tindakannya padamu setelahnya?
“Yang kita bicarakan ini adalah Zeeta. Baik kau dan aku, kita sama-sama tahu seperti apa orangnya. Pasti ada sesuatu yang terjadi padanya—di dunia asalnya—yang menyebabkannya benar-benar menjadi seorang Penguasa Kekelaman.”
“Itu benar... mungkin kau juga benar tentang dia yang memasang Rune padaku. Sebab aku hanya tidak ingat tentang hal spesifik itu saja. Bila aku tak ingat tentang Titania, itu bisa membuatku teryakinkan bahwa aku MEMANG kehilangan ingatan karena telah dibakarnya habis.”
“Sebelum Nak Elf dan Zeeta menenangkan Titania,” balas Luna, “kita akan anggap kalau Penguasa Kekelaman itulah yang membuatmu seperti ini. Namun, aku tak bisa melepaskan Rune itu bila kenyataannya demikian. Entah harus Zeeta, Titania, atau Penguasa Kekelaman itu sendiri yang melepasnya.”
......................
[Sementara itu, antara Serina, Zeeta, dan Titania....]
“Haaah~” Zeeta bertelentang meregangkan kedua tangan dan kakinya di dalam lubang tanah yang lebar. Ia melihat langit malam, cemerlang dengan perkasanya bulan. Meskipun demikian, tubuhnya sama sekali tidak merasakan rileks sebab tanah selalu berguncang. Serina tengah sibuk dengan Titania yang tetap mengamuk.
__ADS_1
“Seberapa jauh sebenarnya diriku yang lain itu menjadi jahat...?
“Tidak ... mungkin jahat bukan kata yang tepat.
“Karena ... aku mengerti kenapa dia melakukannya. Tapi... kenapa...?”
Zeeta mengingat bahwa beberapa saat yang lalu, ia melihat ekspresi Titania yang sangat marah padanya dan tidak bisa ditenangkan—untuk saat ini. Dirinya sendiri juga belum melakukan segalanya untuk menenangkan Raksasa yang lebih tinggi dari Ozy itu. Tubuhnya yang diregangkan itu juga bukan karena dia yang mau, namun karena serangan Titania.
Beberapa saat setelahnya....
“Biarkan aku yang menenangkan dia.”
Zeeta mendengar suara lelaki dari atasnya. “Ah! Ozy! Lama tidak jumpa!” ia tersenyum.
“Ya,” balas Ozy singkat, “kau sendiri, kenapa bertelentang seperti orang malas begitu? Aku tahu kau tidak selemah ini hanya karena pukulan keras seorang Raksasa.”
“Yah... sedikit-sedikit aku menyadari siapa Raksasa itu, hanya saja... saat melihat ekspresinya yang demikian, aku jadi ingat waskita tepat setelah aku keluar dari Tanah Kematian. Orang-orang menghunuskan semua senjata dan sihirnya padaku.”
Ozy melihat Zeeta mengucapkannya dengan senyum yang berubah kecut.
“Entah kenapa, setelah mengingatnya, tubuhku jadi lemas. Hehehe, maaf ya, aku butuh waktu," sambung Zeeta, dengan tetap berusaha memertahankan senyumnya.
“Hei, Ozy....”
“Hm?”
“Katakanlah jujur padaku sekarang, tetapi rahasiakan ini dari yang lain, oke?”
“Baiklah.”
Setelahnya, Zeeta mengatakan sesuatu pada Ozy melalui telepatinya.
"Bila aku ... bila aku menghancurkan keberadaan sihir dari dunia ini, kautahu, 'kan ... semua makhluk sihir yang kehidupannya bertopang pada sihir … akan binasa? Termasuk Roh-Roh Kuno sekalipun?"
"Tentu saja aku tahu," balas Ozy.
"Kau juga sudah tahu sejak lama, kalau temanmu, Clarissa, memberitahuku untuk menghancurkan sihir bukanlah hal yang mustahil—bila Yggdrasil mengabulkannya."
"Ya."
"Apa kau juga akan melawanku bila aku mengambil keputusan itu?"
__ADS_1
"Aku adalah gurumu. Tidak mungkin aku mengajarimu banyak hal, jika aku tidak mengerti tentang muridku sendiri."
"Tapi, pada kenyataannya ... kautahu sendiri ... seperti apa diriku yang lain itu."
Ozy terdiam untuk sesaat. Dia melihat seperti apa muridnya benar-benar gundah akan hal yang harus dilakukannya untuk mengakhiri Ragnarok dan semuanya.
“Hanya satu hal yang pasti, Zeeta,” kata Ozy dengan tegas, “apa yang terjadi di sini, berbeda dengan dunia itu. Nasib dunia ini memang ada di pundakmu, semuanya tahu—bahkan para Roh Kuno.
“Apapun jawabanmu tentang hal itu, maka seperti itulah yang akan terjadi. Apa yang menanti setelahnya, terlepas dunia akan jadi apa, biarkan dirimu yang ada di masa itu yang menghadapinya.
“Karena ... kau tidaklah sendirian di dunia ini.”
Usai mengatakannya, Ozy meninggalkan Zeeta.
“Maaf Ozy...,” gumam Zeeta, “aku takkan menanyakan itu, bila suara ini... tidak terus menerus mendengung di kepalaku.”
“Benci! Bencibencibencibenci...! Aku benci semuanya! Semua orang telah mengkhianatiku! Kenapa kalian mengkhianatiku?!”
Zeeta menutup matanya dengan lengan kiri. Tangis kemudian jatuh membasahi telinganya. Dia juga menggertak gigi, serta bergemetar. Dia sangat tahu, bahwa suara yang mendengung di kepalanya itu, adalah dirinya sendiri. “Sial...! Apa yang terjadi padamu sebenarnya, Zeeta...!?”
[Sementara itu di kekaisaran Seiryuu....]
Undine telah datang di kekaisaran yang kental dengan budaya Naga itu. Kedatangannya begitu mencolok karena tak peduli siapa yang menjadi korbannya, ia menggerus Manusia-Manusia yang ada di tanah dengan tsunami.
Sang Penguasa Kekelaman yang ikut menjadi korbannya pun tak bisa berkutik. Dia yang hanya bisa mengandalkan sensitivitasnya pada mana, tak bisa mengikuti atau menitikkan di mana sebenarnya Undine berada, karena besarnya mana yang dimiliki sang Roh Kuno.
Kendati demikian, gelarnya bukanlah isapan jempol belaka. Tidak seperti yang lain yang terbawa arus dan beberapa diantaranya ada yang menjadi korban jiwa, gadis itu tetap berusaha untuk berdiri.
Dirinya menggertak gigi. Ia juga mengepalkan kuat-kuat kedua tangannya. “Sialan! Ini pasti kau, Undine!” jeritnya.
“Hoo...? Tak kusangka kautahu siapa aku, meski tak bisa merasakan ataupun melihatku, Manusia."
“Jangan berlagak hebat hanya karena kau salah satu dari Roh Kuno! Aku tak keberatan untuk menghabisimu sekali lagi!”
Undine mengernyit, lalu....
‘ZRASSHHT!’
Pilar es menusuk dan membawa Penguasa Kekelaman melayang di ujungnya. Bercak darah dari mulut karena guncangan dari perutnya juga menciprat ke pilarnya.
“Inilah kesombongan yang selalu ada pada Manusia, entah kapan zamannya. Aku tahu keberadaanmu mengancam, oleh sebab itu aku tak bisa membiarkanmu hidup lebih lama lagi!”
__ADS_1