Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Naga Dan Manusia


__ADS_3

Danny terkapar lemah di tanah usai mengerahkan seluruh tenaganya demi memberikan Zeeta lebih banyak waktu untuk mendapatkan Rhongomyniad. Otot-ototnya menjerit, tulangnya tak berdaya. "Ah ... inikah akhir dari hidupku...?" gumam lelaki tersebut, sembari memandangi langit. "Kuharap ... Zeeta bisa menuntaskan kewajibannya.... Kuharap ... dia bisa mewujudkan dunia yang diinginkannya. Kuharap ... dia bisa tersenyum lagi...."


Air mata mengalir deras, memburamkan pandangannya. Ia sedih karena tidak bisa menemani Zeeta hingga akhir perjalanannya, tetapi ia cukup senang karena sudah bisa melindungi Zeeta, walau inilah hasilnya. Janji terhadap dirinya sendiri sudah terlaksanakan dan bila ia akan memejamkan mata untuk selamanya sebelum mendengar balasan Zeeta tentang perasaannya ... mungkin hanya itulah penyesalannya.


Lelaki itu memejamkan matanya. Ia dapat mendengar Bumi masih bertarung mengorbankan nyawa demi memperjuangkan keberlangsungan hidup mereka. Rintihan kesengsaraan, jeritan ketakutan, tentu dapat ia dengar. Meski demikian, ia tetap bisa mendengar lolongan semangat yang tak kunjung bisa dipatahkan. Seruan tak ingin menyerah tersebar di segala penjuru.


Kemudian....


"Disaat mereka belum menyerah begini, apa kau tak malu menjadi yang paling pertama gugur?"


Suara lelaki yang sangat familiar baginya itu, memaksanya untuk segera membuka mata. "Elbrecht... juga Myra...?"


Myra segera berjongkok dan menyembuhkan luka Danny, sementara kakaknya menjelaskan sesuatu. "Ada seseorang yang harus kaukalahkan dengan senjata suci itu, namun kau takkan bisa melakukannya tanpa bantuanku."


"Siapa memangnya?"


"Kau pernah melawannya satu kali. Kali ini, aku yakin ia ingin memperburuk situasi Ragnarok dengan kesempatan yang akan terbuka satu kali."


"Aku pernah melawannya satu kali...?


"Maksudmu... mantan Benih Yggdrasil itu...?"


"Ya."


"Baiklah."


Elbrecht cukup terkejut. Ia mengira Manusia satu ini akan ragu untuk sesaat. Sehingga, ia menyimpulkan seringai bangga padanya. "Kalau begitu, dengarkanlah. Kita tak punya banyak waktu. L'arc akan muncul ketika Klutzie hampir berhasil menebasnya." Ia menunjuk Nidhogg yang belum menjadi wadah bagi kutukan Keenai.


"Aku mengerti."


"Dia akan dihalangi oleh L'arc, kemudian ... ini hanya dugaanku saja seekor Naga—musuh lama kami—berusaha menghentikannya. Aku tak akan jelaskan siapa dia, karena aku tahu nanti kau akan menyadarinya sendiri. Naga itu takkan mampu menang melawan Benih Yggdrasil, walaupun ia tak lagi diakui.


"Aku akan pergi bersamamu."


Elbrecht menunjuk dual dagger-nya Danny. Prajurit khusus kerajaan ini sempat termangu dengan maksud Elbrecht, lantas ia bertanya, "Apa kauyakin?"


"Ya. Ini adalah janji lamaku yang harus kupenuhi pula."


"Baiklah. Aku takkan bertanya lagi." Merasa dirinya sudah sanggup bangun, Danny segera berkuda-kuda.


......................


[POV Myra.]


Ribuan tahun yang lalu, aku dan kakakku berjanji di hadapan orang tua yang sangat kami banggakan, Orsted dan Schrutz, kala mereka tengah menghadapi ajal. Mereka takkan bisa dikalahkan bila Naga-Naga itu tak memakai cara kotor.


Janji itu bukanlah tentang membalaskan dendam, namun membantu siapapun yang berperan dalam Ragnarok untuk benar-benar menyelesaikan lingkaran busuk dari dunia sihir ini.


Aku sempat menentang keinginan kakak yang ingin mengorbankan nyawanya demi menjadi katalisator bagi Danny. Ia memilih Manusia itu karena diantara semua Crescent Void yang memiliki senjata suci, hanya dialah yang mampu.


"Mengapa?" saat kutanya demikian, dengan senyum yang jarang diberikannya, ia menjawabku.


"Danny mirip denganku. Aku tahu dia bisa melakukannya."


Tidak pernah kulihat ia tersenyum setulus itu kapanpun saat berurusan dengan Manusia, bahkan kepada Zeeta sekalipun. Aku tahu kakakku itu selalu terbebani dengan apa yang disebutnya sebagai janji. Kadang itu berwujud seperti kutukan, kadang itu menampakkan diri sebagai kekuatan, terkadang pula ia menunjukkan identitasnya sebagai pengingat.


Aku tidaklah memiliki kekuatan perang layaknya kakak. Ayah menurunkan gennya kepada kakak, sementara ibu kepadaku. Oleh sebab itu, kendati aku tak ingin dia meninggalkanku, aku tidak bisa menghentikannya. Inilah cara yang bisa membebaskannya, juga demi diriku, dari janji tersebut.


Elbrecht ... wahai Naga Cahaya yang Mulia ... semoga jiwamu dapat bertemu kembali dengan mereka.


......................

__ADS_1


L'arc yang berada di udara dan sudah mendapatkan kekuatan serapan dari Naga dan Raksasa yang telah dirantai dengan sihirnya, menyeringai begitu senang kala hendak menyerang Klutzie dengan bilah sihir berwarna putih-transparan. Rantai-rantai tersebut terhubung dengan tulang belakangnya.


"Hentikannn!!!" jerit Cynthia histeris, namun tak digubris.


.


.


.


.


'BRSHTT!'


Darah mengucur deras di tanah seperti air yang mengalir.


"Kenapa... Roh Yggdrasil seperti kalian ... melakukan ini...?!"


L'arc yang tersenyum bahagia, mendadak cemberut. Ia melototi sosok yang tak dikenalnya yang melindungi Klutzie begitu saja.


Volsung.


Dia adalah Naga yang menjadi salah satu pemeran utama membunuh Orsted dan Schrutz, selain Nidhogg.


"Siapa kau ini ... Bajingan...?!" tangannya yang menciptakan sihir berupa bilah tajam itu, diputarnya.


'TRAHHSSS!!'


Darah semakin mengucur deras. Naga-Naga yang dirantai terkejut dengan tindakan pemimpin mereka.


 "Ayahanda!" jerit mereka satu per satu. Mereka sama sekali tak mengira pejantan satu itu akan dengan sigapnya mengorbankan nyawa demi seorang Manusia.


"Aku adalah Volsung, Naga Kekacauan. Takkan kubiarkan kau menghalangi jerih payah Galdurheim!" dengan moncong bersimbah darah, Volsung melotot.


"Ayahanda!!" walau Naga-Naga di sekitar mereka menjerit, mereka tak memiliki tenaga untuk melawan. Kekuatan mereka justru menjadi bumerang dan semakin menyiksa Volsung.


"Berani-beraninya kau!!"


Tatkala L'arc akan menebas ke samping kanan bilah tajamnya, sebuah cahaya merah melaju cepat dari arah yang sama. Keduanya melihat ke sumber cahaya tersebut, namun....


......................


[POV Danny.]


Ini adalah kekuatan terakhirku dan Elbrecht. Aku tak tahu apakah akan selamat setelah serangan ini, namun aku tahu tidak boleh gagal. Kukan kerahkan segala yang kumampu di satu serangan ini.


Gerda....


Marcus....


Colette....


Mellynda....


Novalius....


Terus berjuanglah!


Jika aku tak bisa pulang, tolong maafkan aku.


......................

__ADS_1


'ZRSHT!!'


Darah lagi-lagi bercucuran. Danny berhasil menusuk dada kiri L'arc dengan pisau kanannya yang bersinar merah gelap.


"Kau...?!" sambil menggeram, L'arc memelototi Danny. "Kau seharusnya sudah mati!"


"Aku tahu itu.... Kau pun sama, Pak Tua, heheh...."


"Keparat... kalian semua terus saja menggangguku...!" L'arc hendak membebaskan diri dengan menebas Volsung dan akan melibatkan Danny dalam serangannya.


"Kaupikir aku akan membiarkannya?!"


'BWUUFF!!


"GWAAHHHH?!!!"


L'arc mendadak terbakar api merah dan berbutir mana putih.


Volsung segera menyadari mana tersebut. "Orsted... Schrutz... dan Elbrecht...?!"


Berada di area yang sama dengan mereka, Snjor yang sempat melawan Danny, sama kagetnya dengan Volsung. "Jadi ... itu tadi bukanlah manifestasi kekuatannya saja... melainkan mereka sendiri...?! Siapa Manusia itu sebenarnya?!"


"Roh Yggdrasil!" jerit L'arc, "segera sembuhkan aku! Cepatlah!"


"Mustahil." Danny memancing emosi L'arc semakin tinggi.


"Apa?!"


"Senjata suci ini adalah senjata yang akan menyucikan segala keburukan yang tercipta dari makhluk hidup, bahkan jika itu Roh Yggdrasil sekalipun! Kau telah jatuh terlalu dalam, L'arc Darnmite! Ini saatnya bagimu untuk terlepas dari keinginan abadimu!" Danny memosisikan belati tangan kirinya yang bersinar biru pucat pada leher L'arc.


"Si-sial! Kenapa tubuhku tak bisa digerakkan?!


"Nona! Nona Zeeta! Tolong a—"


'SLASHH!!'


'BWOAAMMM!!'


Sebuah pilar cahaya merah dengan butiran putih memancing semua mata kepadanya, termasuk mereka yang ada di dalam Aurora.


Dengan tajamnya dan kekuatan yang didapatkan Danny Bloomy, L'arc Darnmite, seorang Mantan Benih Yggdrasil, telah berhasil dikalahkan. Bila lelaki itu tak sedang menusuk Volsung, mungkin saja ia bisa menghindar. Bila ia tak terlalu fokus terhadap apa yang ada di depan matanya, bisa saja Danny gagal.


"Pangeran!!!" jerit Danny yang sudah sempoyongan. "Aku tahu kau takkan gagal! Janganlah kalah dari rakyat jelata sepertiku!"


'Brugg!"


Danny terkapar lagi di tanah. Senjata sucinya pun ikut lenyap bagikan abu. Volsung juga ikut tak berdaya.


Tak lama setelahnya, cahaya biru dari Klutzie yang sedang dalam mode Spirit Warble, kembali bersinar terang lagi—begitu terang sehingga memaksa mereka yang ada di dekatnya menutup mata.


"ZYAAAHHHH!!!" seruan lantang dari Klutzie, membuat Cynthia sumringah, walau tak bisa melihatnya.


'ZWING, BLARR!!!'


Sebuah pilar cahaya lanjutan yang berwarna hitam keunguan dan dispiralkan oleh cahaya biru, menyusul. Nidhogg tak lagi ada di situ, pedang bertuliskan Rune-nya pun hancur. Sebagian tubuhnya terkontaminasi racun sebab terlalu lama berada di dekat Nidhogg yang sedang dalam kondisi menjadi wadah kutukan. Karena lukanya itu, juga kekuatannya yang terkuras habis, ia jatuh juga di tanah dengan napas yang tak teratur dan keringat membanjir. "Danny ... kau ini benar-benar...."


Cynthia yang masih bisa bergerak, segera menghampiri Volsung untuk mencoba mengobatinya, namun....


"Tidak perlu, wahai Duyung... ini adalah suatu keajaiban bagiku ... karena bisa melihat sosok yang sudah kurenggut nyawanya, masih bertarung dengan gagah berani.... Waktuku sudah berakhir. Ini adalah waktu bagi penerusku. Baik itu Manusia ... Raksasa ... ataupun Naga.... Tapi, tolong sampaikan maafku pada Oboro.... Katakan padanya, aku mencintainya."


Perlahan, Volsung lenyap menjadi butiran cahaya. Kepergiannya ditangisi oleh semua Naga yang ada di sana.

__ADS_1


Oboro, yang tetap berada di Drékaheim, ikut menangis dengan kepergian pendamping hidupnya, walau mereka berasal dari faksi yang bertentangan.


__ADS_2