Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Hubungan Adik dan Kakak


__ADS_3

"Hei Lutz... apa kautahu?"


Ingatan jauh di masa lalu terkenang ketika seseorang menunjukkan ilustrasi Hutan Peri di sebuah buku cerita bergambar.


"Di dunia sihir ini ... masih baaaaanyak misteri yang bisa kita gali, lho!"


"Eh...? Contohnya seperti apa? Kakak tidak sedang bercanda, 'kan?"


"Huuumph! Kakakmu ini tidak pernah bercandaaa!


"Lihatlah, ketika kamu berusia sepuluh tahun nanti, kamu pasti akan melihat keajaiban dunia!


"Selain itu, kamu juga akan menyaksikan bahwa di dunia ini benar-benar ada Pohon Dunia!"


.


.


.


.


"Hei, kak.... Beritahulah aku.


"Apakah sosokmu yang sekarang ini adalah bagian dari keajaiban yang selalu kauimpikan?


"Apa yang terjadi padamu?


"Kau adalah kakak yang kubanggakan. Kau adalah orang yang jenius, rendah hati, dan baik. Sedangkan aku... aku hanyalah...."


.


.


.


.


"Hei, Siren," panggil Klutzie. Ia menatap kosong Hutan Peri sambil duduk selonjor satu kaki. Ia menopang pipi dengan lutut kiri.


"Apa?" tanya Siren. Ia berdiri di belakang Klutzie, bersilang tangan.


"Sejak kapan kau menganggapku cocok sebagai Wadahmu?"


Siren menatap Klutzie. Tak ada yang berubah dari pandangannya. "Setelah Suzy menemukan itu."


"Begitu....


"Jadi, yang kita rasakan waktu itu...."


"Kemungkinan besar, iya."


"Hei ... beritahu aku, wahai Roh.... Apa yang bisa kulakukan untuknya?"


Siren mengepalkan tangannya erat-erat. Ia menjatuhkan dirinya lalu mendekap Klutzie. Ia meneteskan air mata. "Maafkan aku, Lutz.... Seharusnya aku bisa lebih banyak membantumu... maaf, ya...."


Klutzie tidak merubah ekspresinya. "Begitu, ya. Bahkan ... Roh sepertimu tidak mengetahuinya....


"Jadi, apa boleh buat, dong, ya. Berarti, aku tidak haru—"


"Pangeran Klutzie!!" jerit seorang gadis memanggil.


Perlahan Klutzie menengok. Ia mendapati Gerda yang terengah, sedangkan Gerda melihat pandangan kosong dari Klutzie.


"Aku minta maaf!" seru Gerda. "Maaf karena aku sudah bicara seolah aku mengetahui semua tentangmu! Aku... aku sadar ucapanku salah, jadi...."


Klutzie tersenyum. Senyuman itu terlihat tidak tulus tapi juga tidak terpaksa. "Uhm. Aku tidak memikirkannya. Masing-masing dari kita memiliki situasi sendiri."


Gerda merasa harus melakukan sesuatu terhadap pandangan Pangeran di hadapannya. Tatapan kosongnya adalah tanda dia tidak percaya pada dirinya sendiri. Ia jadi teringat dengan hubungan antara Zeeta dan Azure, meskipun Zeeta sendiri tidak pernah seperti ini. Dia ingat bagaimana Azure selalu keras pada Zeeta untuk tidak segan membagi beban yang ia pikul pada teman-temannya.


"Hei, apa aku boleh duduk di sebelahmu?" tanya Gerda. Ia sudah bertekad.


"Kenapa?" tanya Klutzie.


"Hanya ingin. Lagi pula, aku juga sedang menunggu Zeeta."


"Oh... baiklah."


Siren pindah ke sebelah kiri Klutzie dan Gerda kini duduk di sebelah kanannya.


'Fwuuussshhh....'


Angin menerpa ketiganya, menyambut suasana canggung sesaat diantara mereka.


"Apa ... tanggapanmu tentang Peri yang hanya tinggal beberapa ekor saja di Hutan Peri itu?" tanya Gerda, membuka pembicaraan.


"Jujur saja, aku senang," balas Klutzie, yang membuat tanda tanya bagi Siren dan Gerda. "Kami berdua pernah mengalami hal pahit karena salah satu dari mereka," sambungnya.


"Tapi, mereka tidak hanya ada di Hutan Peri saja," timpal Siren, "cepat atau lambat, mereka akan balas dendam. Kuyakin mereka berpikir begitu."

__ADS_1


Gerda terdiam dan memandangi kedua lawan bicaranya sesaat sebelum bertanya lagi.


"Apa kau juga hendak balas dendam dengan apa yang terjadi pada rakyatmu...?"


Klutzie melirik Gerda, lalu memejam mata. "Tidak tahu. Aku hanya seorang pesuaka yang tidak tahu apa-apa tentang kerajaanku sendiri."


Gerda serasa disindir dengan ucapan Klutzie. "Uuuu...." Ia kehilangan kata-kata.


"Aku serius. Begitu aku pulang ke kerajaan itu, tiada satupun tanda kehidupan, tak ada tanda-tanda teknologi yang dipakai, atau bahkan tanda perlawanan—jika benar-benar ada yang menyerang kami.


"Sebas ... pelayanku sejak aku kecil, mungkin sudah jadi tengkorak di sana, mungkin saja tidak."


Gerda membisu mendengarnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan selanjutnya.


"Hei," panggil Klutzie.


"Mmh? Kenapa...?" tanya Gerda.


"Jika kau menjadi aku, apa yang akan kaulakukan? Maksudku... kau dan aku sama-sama seorang adik. Jika kakakmu tiba-tiba membunuh dan melakukan banyak hal keji lain, bahkan berusaha untuk mengambil nyawamu sendiri... apa yang akan kaulakukan...?"


Gerda memejamkan mata untuk berpikir keras. Ia memikirkan pemandangan bagaimana Danny menjadi sangar, keji, dan tidak penyayang lagi.


"Gggrrrrggghhh...." Empat urat kepala muncul di pelipis Gerda. "TENTU SAJA 'KAN KUTENDANG BOKONGNYA SAMPAI MATI!"


"SAMPAI MATI!


"SAMPAI mati!


"Sampai mati...."


Akhir kalimatnya menggema hingga membuat Gerda merona dan malu sendiri. Klutzie tidak menduga reaksi yang diberikan Gerda. Ia mulai sedikit menunjukkan senyumnya.


"Eh... begitu, ya? Bagaimanapun, dia kakakmu, 'kan? Apa kau tega?"


"Tidak tidak tidak! Pangeran, kau sungguh tidak mengerti, ya!"


"Eh...? Tentang apa?"


"Sebagai adik, kita tidak bisa terus-terusan dilindungi! Pasti pernah terjadi di benakmu keinginan untuk melampauinya, 'kan?"


Pertanyaan Gerda memantik ingatan lampau Klutzie ketika ia berusia empat tahun.


.


.


.


.


"Fu fu fu.... Inilah! Inilah buah kejeniusanku, Lutz! Dilihat darimana pun ini berguna bagi rakyat, 'kan?


"Kubus ini berguna untuk memberi listrik dari daya tampung empat energi alam! Sekarang, apakah adik dari kakak yang jenius ini tahu apa sajakah energi ituuu?"


"Uhm! Tentu saja! Api, air, tanah, dan angin!"


"Benar, tapi kau sedikit keliru!"


"Eeeehh? Lalu apa, dong?"


"Ingatlah, Lutz. Yang kausebutkan, sebagai ilmu Manusia, itu benar! Tetapi, kubus ini bekerja dengan ilmu sihir!


"Dengan kata lain, inilah empat energi alam yang bisa ditampung kubus ini! Yaitu bulan, matahari, Bumi, dan mana!"


"Eeehhh? Aku tidak mengertiii! Kak Suzy memang pintar dan hebat, tapi suatu saat nanti aku pasti melampauimu!"


.


.


.


.


Klutzie terbelalak. Ia baru paham apa maksud Suzy ketika itu. "Pantas saja!" serunya.


"Eh? Apa maksudmu?" Gerda mengernyitkan kening, sama seperti Siren.


"Aku jadi melihat apa yang sedang dihadapi Zeeta sebenarnya!


"Tapi... kalau begini, dia...."


"E-eh? Pangeran? Apa maksudmu?" Gerda mencengkeram bahu Klutzie. "Apa maksudmu kau melihat apa yang dihadapi Zeeta?! Apa yang telah kauingat dari diriku yang tidak berguna ini?!" ia menggoyangkan bahunya.


"Ma-maaf! Aku belum bisa mengatakannya!" Gerda berhenti menggoyangkan tubuhnya. "Fuuhh.... Terima kasih kau sudah menge—"


"Hooo.... Jadi kau memilih jalan kekerasan lagi, ya, Pangeran Klutzie...?" aura mematikan dipancarkan Gerda.


"A-apa?!

__ADS_1


"Tidak tidak! Jangan salah paham lagi, Gerdaaa!" ketika Klutzie hendak menerima pukulan mematikan Gerda tanpa dihentikan Siren....


'Tingt ting ting ting!'


"Semuanya! Maaf sudah menunggu!" suara Zeeta terdengar sambil membunyikan gelas dengan sumpit besi, menghentikan aksi kasar Gerda.


"Nikmatilah!


"Soft cream lumière de l'espace, sebuah soft cream resep asli buatanku, dan cheesecake parfait buatan ayahku!


"Jangan biarkan dessert menggugah selera ini menetes, ya!


"Karena... kalian pasti akan menyesalinya!"


Ratusan gelas pair berhidangkan dessert milik Zeeta dan Arthur berterbangan di udara hingga sampai ke tangan masing-masing pengunjung. Mereka yang melihat dessert-dessert itu terbang dengan tampilannya yang mencolok dan menggiurkan, semakin membuat mereka tak sabar.


"Hei! Lihatlah soft cream buatan Putri Zeeta ini! Setengah dari krim-nya berwarna unik—seolah melihat bintang di langit!" ujar seorang pengunjung, "a-aroma yang dihempaskan sirup berwarna ungu yang melapisi krim ini... buah beri?! Ta-tapi... gemerlap yang menyelimuti sirup ini... apa...?"


"Hei! Tampilan parfait buatan Arthur juga tidak kalah! Dia juga menggunakan berbagai buah beri sebagai toppingnya... juga taburan bubuk kopi!" ujar pelanggan yang memegang gelas parfait.


Tanpa menunggu apapun lagi, para pelanggan menyantap dessert sesuai selera mereka. Ada yang menyantap soft cream terlebih dulu, atau sebaliknya. Meski begitu, ekspresi yang ditunjukkan mereka sekilas sama—yaitu terbelalak. Namun, apa yang mereka rasakan di lidah tentu saja berbeda.


Mellynda adalah salah satu yang mencoba soft cream terlebih dahulu. "A-apa-apaan soft cream ini?! Lezat sekali! Sensasi dingin yang kurasakan tidak dari dingin soft creamnya! Tapi... ini sesuatu yang lain! Krimnya yang bertekstur lembut dengan rasa manis yang tidak begitu menyengat lidah, semakin kujilat semakin membawaku melihat ilusi menakjubkan sambil menikmati soft cream-nya....


"Angkasa.... Soft cream ini membawaku terbang ke angkasa!


"Uggghhh kenapa rasanya sangat lezat hanya untuk soft cream begini...?"


Dilain sisi, Colette menyantap parfait duluan. "Mari kita coba... auhmm...." Colette menyuap satu sendok ke mulutnya. Lalu, tanpa menunggu tiga kunyah....


"Hmuh?! A-apa ini?!


"Kukira krim-nya hanya krim biasa, tapi ini memiliki cita rasa kopi di dalamnya! Perpaduan pahitnya kopi, gurihnya keju, dan manisnya sirup, serta keasaman dari buah-buah berinya sungguh memanjakan rasa laparku.... Jika pulang dari patroli, aku bisa tambah lima kali parfait ini untuk membayar rasa penatku!


"Lagi pula! Hidangan ini terlalu mewah untuk disajikan sebuah kedai di desa! Siapa sebenarnya ayah angkat Putri Zeeta ini?"


.


.


.


.


"E-ENAAAKKK! APA-APAAN HIDANGAN INI?!" jeritan para pengunjung memuaskan para koki di dalam kedai— Zeeta dan Arthur—yang sedang menyilangkan tangan sambil menyeringai.


"Hahaha... sensasi ini.... Tidak pernah membosankan, ya, Ayah...," ujar Zeeta.


"Heh, tak kusangka.... Aku bisa dikejar oleh anakku sendiri," balas Arthur.


"Hmm, kenapa? Apa Ayah kesal?"


Arthur melebarkan seringainya. "Apa kau bercanda? Tentu saja aku bangga!"


Sementara itu, Gerda dan Klutzie yang juga menyantapnya....


"Sialan! Anak itu benar-benar sudah berkembang! Kelezatan ini benar-benar memaksaku ingin tambaaahh!


"Bagaimana denganmu, Pange—"


"Ah.... Angkasa dengan bintang cheesecake.... Cinta!"


"Pwfftt!" Gerda melihat komedi dadakan.


"Hah!? A-apa yang baru saja kukatakan?!


"Ge-Gerda! A-apa kau mendengarnya?!"


Seringai dibuat oleh Gerda. "Xixixixi.... Tidak, sama sekali tidak lihaaaatt....


"Aku sama sekali tidak melihat sosok Pangeran yang mengatakan, 'ah... angkasa berbintang cheesecake.... Cinta!'


"Tidak, sama sekali tidakk!!"


Klutzie merona semerah tomat. "Ha-hapus ingatan itu dari kepalamu! Harga diriku sebagai Pangeran takkan membiarkannya!"


"Tidak sudii! Kyahahahaha!"


"Dasar gadis licik!!"


Siren yang menikmati dua dessert dengan tenang, tersenyum melihat interaksi keduanya. "Manusia memang makhluk yang menarik, ya, Luna...," batinnya.


Setelah itu, mereka bertiga mendengar jeritan yang lebih keras dari semua orang.


"MASAKAN ZEETA PALING MANTAAAP!"


Tak perlu menunggu waktu lama bagi Gerda untuk gantian memerah. "Si kakak bodoh itu.... Berani-beraninya dia berlagak seperti itu dan membuatku malu lagi...." Gerda segera tancap gas sambil berteriak, "Hei, sialan! Sampai kapan kuharus memukulmu agar kausadar dengan kelakuanmu sendiriiii?!"


Klutzie memandangi sosok Gerda yang akhirnya memukul hingga jatuh Danny dan memulai pertengkaran saudara. Ia tersenyum. "Siren, kurasa... aku tahu apa yang harus kulakukan sekarang," ujarnya.

__ADS_1


Siren tersenyum. "Apapun yang kaulakukan, aku akan selalu di sisimu, Lutz. Mari kita berjuang bersama!"


"Ya! Tentu saja!"


__ADS_2