
Bulan perbani menghiasi malam hari ini. Ditemani jutaan bintang dan nyanyian lembut dari sang udara, membawa seorang lelaki yang baru-baru ini mengungkapkan cintanya pada sang pujaan hati, termenung dalam benaknya. Ia merasa Luna ada benarnya dan tidak sepatutnya mereka—teman terdekat Zeeta—menganggap enteng ucapan Luna.
Danny sadar bahwa kalimat Zeeta sebelum ia pergi berbincang dengan para bangsawan, mengibarkan bendera perpisahan yang tak kasat mata. Bila diingat-ingat lagi, ini bukanlah pertama kalinya Zeeta seperti ini. Ia terasa ingin menjauh dari yang terkasih baginya dan mengorbankan dirinya seorang agar mereka dapat tetap tersenyum. Itulah arti kebahagiaan untuknya.
Namun....
Danny tidak bisa tinggal diam. Gadis itu belumlah menjawab perasaannya! Jika gadis itu memang hendak berniat meninggalkan dunia sihir ini, maka—!
.
.
.
.
Danny berlari mengejar Luna yang hendak kembali ke sisi Zeeta, dan keberuntungan sedang dalam pihaknya. Tanpa berbasa-basi lagi, lelaki yang menjadi kuat demi seseorang yang dicintainya ini lantas bertanya, "Apakah ada cara bagiku bisa menyelamatkan Zeeta?!"
Luna yang sempat terbelalak, perlahan tersenyum. "Dasar ... Manusia memang sungguh sukar dimengerti. Tapi itulah sisi baik dari kalian! Tentu saja ada dan ini bukanlah sesuatu yang mu—"
"Aku. Ingin. Zeeta. Bahagia.
"Pertempuran akhir ini akan menentukan semuanya, bukan? Maka, jika dia memang berniat mengakhiri semuanya dengan nyawanya sendiri, aku akan egois dan mendorong dia kembali ke sini."
Melihat keseriusan lelaki ini, segera membuat Luna yakin. "Baiklah. Keluarkan senjata suci-mu."
......................
Keesokan paginya, Zeeta yang sudah berpamitan dengan keluarganya, berangkat dengan tenang ke Grandtopia. Ia dijemput oleh Aria dan segera melanjutkan pembicaraan kemarin yang tertunda. Tidak ada yang mengganggu mereka—sebab dia, Zeeta, dan Ozy—sedang berada di gua dimana Si Raksasa itu memindah jiwanya ke tubuh Manusianya saat ini. Konsep waktu di sini jauh lebih lambat dari luar—setelah Ozy menuliskan Rune Dagaz. Di sini juga merupakan satu-satunya tempat yang terpisah dengan akar pohon Chronos, sehingga Reina ataupun Hugo tak bisa mengintip mereka.
"Jadi?" tanya Aria sambil bertolak pinggang, "apa, sih, sebenarnya yang ingin kautanyakan?"
"Ini mungkin tidak penting, tapi... Ozy... kenapa hanya kau saja di Bumi ini Raksasa yang berbentuk batu berlumut, sedangkan Raksasa yang lain malah serupa dengan Manusia?"
"Ah." Aria tampak baru menyadarinya. Ia lalu melirik ke arah Ozy.
"Aku sudah melihat banyak sekali sejarah dari berbagai leluhurku. Apa ini ada hubungannya dengan dirimu dan Jeanne yang merupakan Raksasa yang berpihak dengan Manusia?"
"Tidak, itu hanya bagian dari rencana saja," jawab Ozy, "rencana Jeanne, lebih tepatnya."
"Rencana?" Aria dan Zeeta sama-sama penasaran.
"Kautahu bahwa Yggdrasil telah berwaskita tentang dirimu, bukan?" Ozy melirik Zeeta dan segera dijawab dengan anggukan. "Yggdrasil telah membeberkannya pada seluruh makhluk yang ada di Bumi pada saat itu dan hampir semua Raksasa benar-benar ingin memusnahkan Manusia saat itu juga.
__ADS_1
"Itulah, Ragnarok yang pertama.
"Jeanne dan aku adalah bagian dari kelompok nyonya Æsir, yang berperan untuk memandumu atau jika sudah tidak mungkin, kami akan membunuhmu dengan Rune. Sekuat apapun sihirmu, Manusia takkan mampu menggunakan Rune. Tapi lihatlah sekarang, ha ha ha!"
Zeeta tersenyum kecil. "Siapa nyonya Æsir ini? Apa dia juga ada kaitannya dengan Jormungand?"
"Ya dan tidak." Ozy lalu menjabarkan tentang pembagian wilayah berdasarkan "Musim" para Raksasa.
"Hei hei...." Aria mencengkeram pergelangan tangan Ozy. "Kenapa kau tidak menceritakannya pada kami lebih awal?! Ya, mungkin Æsir adalah pemimpinmu dan kuat sekali, tapi ini GALDURHEIM, lho!
"Apa iya pertempuran kita dengan mereka bisa sepadan?!"
Zeeta tampak berpikir keras, hingga akhirnya mendapatkan ide. "Jormungand akan kukalahkan." Ia mengatakannya dengan percaya diri.
"HAH?!?!?!" Aria sewot. "APA KAU GILA?! Kau itu memiliki peran yang lebih penting daripada—"
"Marianna dan leluhurku yang lain sudah berjanji akan membantuku."
Ucapan Zeeta lantas direspon terkesiap oleh dua rekan makhluk sihirnya ini.
"Yang lebih kukhawatirkan bukanlah pasukan Raksasa ataupun Naga. Aku yakin kalian bisa mengatasi mereka, terlebih kita memiliki sekutu tambahan dari dasar laut, bukan?
"Yang kukhawatirkan adalah diriku yang lain. Ia menyebut dirinya bisa menuliskan dua puluh empat Rune. Aku yang paling tahu seberapa bahaya diriku yang kuat ini memakai Rune."
"Dasar bodoh." Ozy memandang rendah muridnya.
"O-Ozy?!" Aria kaget dengan kelakarnya.
"Kau masih memiliki sesuatu yang lebih kuat daripada Rune dan aku yang paling mengetahuinya! Lagi pula, cincin itu bukanlah hiasan semata!"
Zeeta terbelalak. "Ahahaha! Sungguh, aku ini memang bodoh!
"Lagi-lagi aku dibuat takut dengan diriku sendiri. Maa—"
"Tiada yang salah dengan takut dengan dirimu," tukas Ozy.
"Eh?"
"Dirimu yang lain telah mengkhianati kepercayaan teman-teman berharganya, telah membuang kemanusiaannya, dan membuang segala-galanya. Aku paham kenapa kaubisa takut.
"Namun....
"Sejak dulu, kau selalu punya keberanian yang tidak dimiliki orang lain—mengorbankan diri sendiri untuk kebahagiaan yang lain.
__ADS_1
"Tidak setiap waktu hal itu merupakan sebuah sisi negatif dari dirimu, tetapi itu jugalah yang mampu membawamu hingga ke titik ini, bukan?
"Demi melihat ibu dan ayahmu, demi keselamatan dan senyuman teman-temanmu, demi rakyat, dan demi dunia.
"Aku punya beberapa ide tentang apa yang hendak kaulakukan di pertempuran kalian nanti, tetapi aku percaya kaubisa menang melawannya!"
Zeeta segera berlinang air mata. Ia lantas memeluk erat gurunya, seraya mengucapkan, "Terima kasih, Ozy, sungguh!"
Aria tidak ingin ditinggalkan di momen manis ini, sehingga ia memutuskan untuk mengubah wujud dirinya menjadi wujud High Elf-nya, kemudian ikut memeluk Zeeta. "Kita pasti akan menang, apapun yang terjadi!"
Zeeta yang merasakan kekenyalan dari lengan kirinya, merasa aneh. Ia tahu rasa kenyal yang menyentuh kulitnya ini bersumber dari apa, tetapi jika begitu, siapa...? Aria? Tapi, Aria, 'kan....
Zeeta lantas membuka matanya lebar-lebar dan segera menjerit kencang saking kagetnya dia dengan sosok Aria saat ini. "A-a-ada wanita mesum—"
"Siapa yang kausebut mesum?!" Aria segera memukul kepala Zeeta sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Ehhh?! A-apa-apaan ini...?! Aku baru tahu!"
"Huhum...." Aria lantas berpose macam-macam. "Bagaimana kesanmu? Inilah wujudku yang sebenarnya, lho. Aduhai, bukan?"
"U-uhm!" Zeeta mengangguk mantap. "Pantas saja Ozy menyukaimu, kau pun tampak mesu—"
Aria merona semerah tomat dan segera menjerit, "Zeetaaaaa!!!"
Ozy yang menjadi penonton hanya bisa tersenyum pemandangan "damai" ini.
"Hehehe...." Zeeta merapikan pakaiannya yang berdebu usai terkena tanah sehabis pukulan Aria sebelumnya. "Aku akan mengunjungi Titania bersama kak Serina dan berterima kasih padanya."
"Baiklah," jawab Ozy, "tetapi jangan terlalu lama. Kau masih harus bertemu dengan Roh Kuno terlebih dahulu."
"Tenang saja! Aku tidak lupa tentang itu.
"Ozy, Aria, aku sungguh bersyukur memiliki kalian di sisiku! Kuharap kita bisa selalu bersama!" Zeeta mengatakannya seraya berjalan mundur untuk keluar seraya melambaikan tangan.
Ozy dan Aria membalasnya dengan, "Ya!" secara bersamaan, dan juga lambaian yang sama. Mereka pun tersenyum.
"Aku pasti akan memenangkan ini, Ozy," gumam Aria.
"Ayo segera rapat dengan para Elf yang lain. Walau kita bisa meyakinkannya, aku pun tidak tahu apa kita benar-benar bisa menghentikan pasukan Raksasa dan Naga."
"Kita juga harus ajak Elbrecht dan Myra."
"Kau benar. Dunia tidak bisa ditanggung sendirian olehnya, kita harus membantunya!"
__ADS_1
"Uhm!"