
Masih dalam sendirinya di tengah-tengah gua yang berisikan kristal merah terang, Marcus tetap duduk meringkuk—galau tentang apa yang sedang dialaminya sekarang.
“Tidak lama setelah apa yang terjadi saat itu...,” batin Marcus, yang mengingat kilas balik dalam hidupnya, “kerajaan mengalami kekacauan yang tidak terkendali—sebab hilangnya Ratu Scarlet ke dalam Portal Hitam. Bangsawan utama disibukkan oleh keharusan mereka untuk memecahkan masalah itu, selama satu tahun lamanya.
“Dalam masa itu, Tuan Putri Alicia, telah menikah dengan seorang bangsawan kelas atas ternama, Hazell Levant, dan sedang mengandung buah hatinya. Bahkan untuk mereka sekalipun, mencari solusi atas hilangnya Ratu Scarlet juga kelihatan mustahil.
“Banyak sekali kekacauan yang membludak kala itu—dimana salah satu diantaranya adalah protes masyarakat yang meragukan kemampuan bangsawan-bangsawan utama.
“Tidak mengherankan, sebab meskipun tampang, sifat, dan cara memerintahnya keras, rakyat memanglah mencintai sosok Ratu Scarlet yang mampu melindungi dan membangun kerajaannya menjadi lebih kokoh—baik dari segi luar dan dalamnya.
“Caranya yang keras namun adil dalam pemerintahannya, walau pada kenyataannya banyak bangsawan yang tidak menyukainya, masyarakat tetap menyeganinya. Seperti itulah sosok Ratu Scarlet di mata rakyatnya. Kuat, pemberani, dan selalu menerangi jalan di depannya dengan cahaya merah kirmizi—laksana namanya, Scarlet.
“Namun, setelah semuanya melandai, bangsawan utama memutuskan bahwa Tuan Putri Alicia akan naik takhta menjadi Ratu, selagi tetap mencari jawaban, mengapa ibunya bisa hilang secara mendadak.
“Saat itulah, aku yang berusia sebelas tahun, dipanggil bangsawan idolaku, Nyonya Ashley Alexandrita....”
......................
Di ruang kerja Ashley, Marcus dipersilakan duduk di sofa panjang. Ia melihat-lihat sekitar dan mendapati seekor kucing anggora di meja—tepat di depan Ashley yang duduk membelakanginya—menghadap jendela. Kucing itu tidur dengan lelapnya.
“Marcus McGroovey...,” ujar Ashley, “tahukah kau mengapa kupanggil secara empat mata begini?”
“Ti-tidak, Nyonya...,” jawab Marcus pelan.
Membalas jawabannya, Ashley menghela napas panjang. Ia kemudian berdiri, lalu menunjukkan dua carik kertas—yang tertera foto Marcus dan Colette di masing-masing kertas. Marcus yang melihatnya, tidak menyadari bahwa keduanya telah dimata-matai.
“Sejak gadis cilik bernama Samantha Colette ini memberanikan dirinya untuk menghadang Alexandrita, rakyat menjadi semakin lebih berani untuk mengutarakan pendapatnya pada apa yang sedang terjadi di kerajaan.
"Walau latar belakang dan seluruh informasi yang telah kami dapatkan tentang kalian tidak begitu istimewa, tetap saja.... Kau mengerti maksudnya?”
“Uhhh....” Marcus mencoba memahami dengan saksama. “Ka-kami akan dihukum karena telah lancang....?”
Ashley menyengir dibuatnya. “Fufu....
“Fufufu....
“Hahahaha!”
Gelak tawa Ashley membuat Marcus semakin gugup.
“Nyo-Nyonya Ashley...?” Marcus sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi.
“MENGHUKUM?
“Apa kau bercanda?
“Tentu saja kami tidak akan melakukannya!
“Malah, ini adalah waktu yang kutunggu!”
“E-eh...?” Marcus jadi semakin bingung.
__ADS_1
Ashley kembali duduk sembari menjelaskan. “Kerajaan ini sudah terlalu lama tunduk pada ketakutan dan diskriminasi sihir dari para bangsawan.
“Aku mengerti kemarahan nak Colette, tetapi kami tidak bisa seenaknya sendiri mengubah sistem—bahkan dengan kekuasaan Ratu Scarlet sekalipun. Kerajaan ini butuh gejolak perubahan, untuk menyambut suatu masa depan yang tidak akan banyak rakyat kira.
“Maksudku, secara singkatnya, untuk masa depan yang tidak lama lagi akan tiba, kerajaan ini haruslah berubah, dan kalianlah pemicunya!”
Marcus tidak pernah melihat Ashley seriang ini, walau kondisi kerajaan masihlah dipenuhi tanda tanya mengapa Ratu Scarlet bisa hilang. Tapi, pernyataannya tentang ia termasuk sebagai pemicu perubahan kerajaan, memantiknya untuk menyuguhkan pertanyaan. “Kenapa aku juga? Yang menghadang rombongan Alexandrita kan bukan aku....”
Ashley kemudian berdiri, menghampirinya. Marcus lalu kaget saat Ashley mengulurkan tangannya.
“Kau adalah orang yang kami—tidak—aku butuhkan dalam pasukanku.”
Marcus langsung terbelalak mendengarnya.
“Masa depan yang kukatakan tadi,” sambung Ashley, “kemungkinan besar adalah masa tersulit yang akan dirasakan kerajaan. Aku belum bisa bilang mengapa aku mengatakannya, tetapi kelak, jika kau mampu menunjukkan bukti yang nyata, ‘kan kubuka rahasia itu.
“Aku butuh orang yang tidak mudah gugur dalam harapan dan motivasinya dan selalu menghadap ke depan dan terus berjalan maju. Meskipun usiamu masihlah muda, potensimu teramatlah bagus dan aku ingin kau bergabung denganku, untuk kelak, melayani Ratu dan Tuan Putrinya.
“Namun, bukan berarti kau akan diistimewakan, karena masih banyak orang lain yang akan kurekrut.”
Marcus membisu sesaat. Ini adalah mimpi yang jadi kenyataan untuknya. Hidupnya pernah diselamatkan oleh bangsawan di depannya ini dan sejak saat itu dia menjadi tujuan hidupnya. Namun, ia masih dilanda dilema. Apakah ia mampu meninggalkan Colette sendiri... bersama sebuah keluarga bangsawan yang selalu menguras seluruh tenaga mereka?
Ashley menyadari kebimbangan Marcus. Iapun kemudian berkata, “Sungguh berat untukmu, bukan, disaat usiamu masih enam tahun, harus kehilangan kedua orang tua akibat makhluk sihir.
“Jika saja saat itu kami bisa datang lebih cepat....”
Marcus jadi semakin kaget. “A-A-Anda mengingatnya? Kecelakaan yang telah terjadi empat tahun silam itu?!”
Mata cokelat Marcus langsung berbinar. Tetapi, rasa dilemanya kembali menyerang—membuat binarnya langsung meredup. “A-aku menghargai ajakan Anda, Nyonya, tapi aku ... tidak bisa meninggalkan Colette....”
“Maka yakinkanlah dia.”
“Eh?”
“Alicia kelak akan mengubah banyak hal di kerajaan ini dan pasti akan membuat semua orang tersenyum secara merata. Kaukira kami, terutama Alicia sendiri, tidak pernah menyadari apa yang dirasakan rakyat?
“Ingatlah tentang apa yang telah kukatakan di hadapan nak Colette dan rakyat saat itu. Kaubisa menerbangkan sayapmu di sini, menuju esok yang kaudambakan.
“Kuyakin nak Colette akan mengerti.”
......................
“Pikirkanlah secara menyeluruh, Marcus….
“Jangan menerka-nerka hanya dengan satu sudut pandang. Lloyd adalah Elf yang sangat kuat. Menurut Volten Sisters, dia adalah Elf terkuat nomor dua, jadi... tidak mungkin hal buruk terjadi pada Colette.
“Toh, jika memang sesuatu terjadi padanya, kuyakin dia ataupun Colette tidak akan tinggal diam.
“....
“Sudah kuputuskan.
__ADS_1
“Colette.
“Untuk kali ini, aku akan percaya pada kekuatan dan keberanianmu!”
Marcus kemudian berdiri, menampar pipinya dengan kencang hingga memerah. “Sebaiknya segera kususul Mintia dan Nova....” Dia kemudian membalik tubuh, menuju sisi gelap gua. Namun, mendadak….
‘BWAAAMM!’
Ledakan besar terjadi, mendampakkan angin kencang dan oksigen yang lenyap bersamaan karena sempitnya ruang. Marcus yang masih berada tidak jauh dari mulut guanya, tidak begitu terdampak kecuali angin kencangnya. Tetapi, yang membuatnya khawatir adalah serpihan-serpihan kristal di gua itu—yang tampaknya terjadi dari tempat ledakan—terhempas hingga dimana ia berdiri.
“Apa yang terjadi…?” gumam Marcus.
.
.
.
.
“DASAR BODOH!”
Teriakan wanita membuat rasa khawatir Marcus sia-sia. Tapi disaat yang sama, membuatnya semakin ingin tahu apa yang terjadi disaat ia galau.
“KAN SUDAH KUBILANG, kristal ini mengandung mana yang bisa menimbulkan ledakan besar!
“Kita sudah mati jika aku tidak membuat medan penghalang!
“Lagi pula, kenapa kau malah memantiknya dengan sihir api?!”
Tidak lama kemudian, dua sosok rekan setimnya muncul dari balik asap dengan penuh noda hitam di sekujur tubuh.
“Ya-yah.... Aku hanya ingin mencoba ... apakah ledakannya bisa digunakan untuk menangkal Phantasmal itu atau tidak....” Novalius menjawabnya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
“Kau pun memiliki teman yang bisa menggunakan sihir kristal. Tak bisakah kau belajar satu-dua hal darinya tentang merasakan mana, kemurnian, dan kandungan yang berada pada kristalnya?”
“....” Novalius mendadak membisu. “Sial. Mendadak aku merasa membodohi diriku sendiri....”
Mintia mengerti bahwa “teman” yang ia sebut, adalah Mellynda. “Haah....” Ia menghela napas pendek.
‘BWUG!’
“ADUH!” erang Novalius, yang dipukul punggungnya oleh Mintia. “Kenapa kaulakukan itu?!”
“Tenang saja. Kau memang manusia yang bodoh. Tidak perlu menyangkalnya.”
“A-apa katamu?!”
“Hmm?” Mintia akhirnya menyadari sosok Marcus sudah berdiri menyilangkan tangan sambil menyeringai.
“Terima kasih kalian berdua,” ujar Marcus, “berkat kalian, aku punya ide untuk melewati Phantasmal itu.”
__ADS_1