
Riruko dan Arata kembali bersama ke halaman istana, dimana persiapan untuk makan dan istirahat sudah hampir siap semuanya. Di sana, ada pula Kirisaki Saitou—yang ternyata beridentitas seekor Naga bernama Nidhogg. Seperti penduduk yang lainnya, ia ikut membantu. Belum ada cerita yang diungkapkannya pada Arata, sebab sang Putra Mahkota sesegera mungkin mencari Riruko.
Begitu Arata kembali dan Riruko juga masuk ke rombongan masyarakat, pria berambut putih dan bermata merah itu lantas membagikan makanan yang didapatkannya dari Elbrecht. Masyarakat segera menyambutnya suka cita dan anak-anak pun sangat senang. Simpulan yang demikian di wajah rakyatnya ikut menghasut Arata untuk melakukan hal yang serupa. "Hari segera berakhir, selepas makan, mari langsung beristirahat," ajak Arata.
"Baik, Yang Mulia!" rakyatnya menjawabnya bersamaan dengan wajah yang masih sama. Arata cukup dibuat tersentak karena baru ini dia merasa diakui oleh rakyatnya sendiri.
......................
Dengan nyaris semua sumber daya alamnya yang hancur, membuat Seiryuu juga kehilangan banyak cahayanya. Oleh karena tiada yang bisa memakai sihir, mereka setuju untuk memasang api unggun. Kala itu, ditengah-tengah rakyatnya sedang terlelap, Arata dan Saitou berbicara empat mata di atas langit-langit istana.
"Aku adalah Naga yang bersekutu dengan para Naga yang menginginkan kekuasaan mutlak di dunia ini. Setidaknya dahulu." Saitou mulai membuka rahasianya. "Berbagai jiwa, tidak hanya dari Manusia saja, namun sesama Naga pun sudah kurenggut. Trik kotor pun tak segan kupakai bila itu dapat menuntaskan tujuanku."
"Itukah kenapa kau dijuluki sebagai Naga Pengecut?"
"Tidak, julukan itu kudapatkan setelah menghabisi Orsted dan Schrutz."
"Mereka adalah orang tua dari Elbrecht dan Myra, bukan?"
"Ya, itu benar. Namun, walau memang benar aku yang menghabisinya, yang memberi mereka luka beratnya bukanlah aku, tetapi ada sejumlah Naga."
"Sejumlah Naga...?"
"Orsted memiliki julukan sebagai Naga Perang. Tentu saja dalam strategi, dialah yang nomor satu diantara semua Naga. Berkatnya, kami harus kehilangan beberapa rekan kami, tetapi nyaris tiada dari mereka yang mati. Sangat berkebalikan dengan cara kami.
"Pemimpin kubuku dulu bernama Naga Bala, Garm. Tetapi, setelah kekalahannya dari seorang Manusia, Carlou-lah yang menggantikannya.
"Untuk menghabisi Orsted dan pasangannya, kami tidak memedulikan lagi harga diri kami. Semua sudah kami buang agar bisa menang darinya. Kami bersekongkol dengan bermacam makhluk sihir, tetapi itu tidaklah cukup.
"Pasangannya yang memiliki julukan Naga Penempa, sesuai namanya, mampu menciptakan senjata yang sangat kuat, yang mampu menandingi kekuatan Naga. Dan Manusia yang memegang senjatanya pun bukanlah Manusia yang dapat diremehkan.
"Sejujurnya, ditengah pertempuran kubu Carlou dan kubu Orsted, aku sudah ingin mundur. Aku sadar betapa jauhnya perbandingan kekuatan diantara kami.
"Namun, sesuatu yang tidak kami semua duga terjadi begitu saja."
"Apa itu...?"
"Semua kubu Carlou melihat pemandangan yang sama. Seorang Manusia memberikan kami kekuatan beratribut kegelapan dan membisiki, 'Wujudkanlah Ragnarok hingga waktu dimana aku tiba.'.
"Kami tidak diberi pilihan untuk mau menerimanya atau tidak, tetapi kami langsung mendapatkannya. Biar kukatakan satu hal yang pasti....
"Kekuatan kegelapan itu ... rasanya sungguh nikmat sekali. Kau merasa paling kuat dan tidak ada yang bisa menghalangimu.
__ADS_1
"Orsted kalah karena serangan Naga Kerakusan, Fafnir, dan Naga Kekacauan, Volsung, yang diarahkan pada Schrutz. Serangan mereka tembus, hingga mereka terluka fatal.
"Aku tidak bilang ini adalah alasanku semata, tetapi aku akui bahwa kekuatan yang mengalir di tubuhku kala itu sangat kunikmati. Dikala keduanya sedang berbicara dengan anak-anaknya dengan darah yang tidak kunjung berhenti, aku membunuh mereka."
"Dan kau menarik mereka hingga ke tempat yang disebut Tanah Kematian itu?"
"Itu hanyalah umpama. Sebuah permainan kata. Yang sebenarnya terjadi, aku memakan mereka."
"Ap—?!"
.
.
.
.
Arata sempat tidak ingin bersuara, tetapi ia tahu bahwa Saitou bukanlah orang, bukan, Naga yang seperti itu lagi. Lantas, bertanyalah dirinya. "Apa yang membuatmu berubah?"
Saitou mencengkeram tangannya. "Gara-gara aku, Jormungand jadi tidak bisa dikalahkan."
"Jormundgand...?"
"Apa maksudmu?"
Saitou kemudian menjelaskan apa itu Ragnarok, Jormundgand dan para Raksasa yang sama-sama memiliki kubu layaknya para Naga.
"Kematian Schrutz dan Orsted memancing kemarahan kubunya—para Manusia dengan kekuatan Bulan dan Matahari.
"Sebelumnya, peperangan diantara makhluk sihir dan Manusia nyaris seperti kebiasaan, hingga hari itu tiba. Ragnarok.
"Dan aku pun melihatnya sendiri. Sebagai Manusia yang memiliki kekuatan sihir terkuat, para pemilik kekuatan Bulan bahkan tidak bisa menggores SEDIKIT PUN kulit Jormundgand!
"Tubuhnya yang nyaris bisa menyelimuti keseluruhan Yggdrasil itu sendiri dan dengan kondisi tiada yang mampu memutar-balikkan situasi... kami semua sudah putus asa.
"Hingga pada suatu malam Bulan Darah...."
Naga yang berpersona lelaki paruh baya setengah botak itu masih mengingat bak kemarin kejadian di malam itu. Seorang lelaki berambut ungu yang menangis darah dan memutuskan untuk menghancurkan Yggdrasil.
Para Naga tiba-tiba tertarik ke langit, demikian pula para Raksasa dengan arah yang berbeda. Butiran mana dari hancurnya Yggdrasil memecah dunia menjadi tiga—seperti saat ini. Semuanya dipaksa berhenti oleh hancurnya Yggdrasil.
__ADS_1
.
.
.
.
"Arata...."
Arata menoleh ke arah Saitou. Ia segera mendapati dirinya yang bergemetar. Belum pernah sebelumnya dia melihat guru bela dirinya yang demikian.
"Aku takut. Aku takut terhadap makhluk gila itu. Aku takut dengan diriku sendiri. Mengapa aku mau menuruti kata-kata Manusia itu dengan mudahnya?
"Aku kehilangan arah tentang apa yang harus kulakukan, hingga aku bertemu dengan salah seorang Raksasa. Ia bernama Jeanne."
Salah satu saklar di ingatan Arata menyala. Ia ingat jika adiknya pernah menyebut nama itu. Tidak kepada dirinya, namun pada Xennaville. Ia hanya kebetulan mendengarnya.
"Jeanne.... Sudah kuduga memang Raksasa yang kuat." Hitomi menerima Batu Jiwa dari salah satu tangan Xennaville.
Arata yang mendengar pembicaraan mereka mengintip, yang matanya segera melihat pemandangan yang cukup tidak mengenakkan. Tangan kanan Xennaville hilang, namun pendarahannya sudah dihentikan. Sang pelayan pribadi adiknya itu juga kehilangan sebagian wajah dan bagian bawah tubuhnya.
"Sungguh," jawab Xennaville. "Aku juga butuh waktu untuk memulihkan seluruh tubuhku."
.
.
.
.
"Raksasa itu, Jeanne...," sambung Saitou, "mengatakan bahwa Ragnarok belumlah usai. Selesainya Ragnarok ketika Jormundgand telah dikalahkan. Awalnya aku sangat denial terhadap kemungkinan tersebut, hingga adikmu mendatangiku dan mengatakan ini langsung di depan wajahku.
"'Masa ini adalah masa dimana waskita Yggdrasil tiba. Aku tidak memintamu untuk menguasai ketakutanmu, tetapi ketahuilah ini, Nidhogg.
"Dunia sihir ini akan berubah oleh kita semua, termasuk dirimu sendiri. Jika kau memang menyesali perbuatanmu ribuan tahun yang lalu, maka balaslah kesalahan itu saat ini dengan apapun yang bisa kaulakukan, meskipun itu artinya membunuh orang lain.
"Jika itu aku, aku akan melakukannya. Yang kita pertaruhkan adalah masa depan.'"
"Adikku benar-benar mengatakan itu...?"
__ADS_1
"Ya. Karena itulah, aku tidak akan menjadi musuhmu—musuh Seiryuu. Aku juga bukan sekutu untuk Manusia berkekuatan Bulan atau Matahari di barat sana, sebab mereka juga tidak akan menerimaku. Aku akan berdiri bersama kalian apapun yang terjadi."
Arata menatap jutaan bintang di langit, kemudian tersenyum. "Mohon bantuannya, Guru Saitou."