
Langit kembali cerah, Buana pun kembali menghangat. Batu meteor yang hancur dengan Rune Uruz itu tercipta dari batang kayu yang Zeeta pungut secara sembarang. Batang kayu ini dipakainya sekali lagi untuk mengendalikan setiap bongkahan-bongkahan yang ada agar melesat ke Marianna. Dengan santainya, seperti sangat yakin bongkahan-bongkahan itu akan memberi efek pada musuhnya, Zeeta turun ke daratan. Merasa diremehkan, ditambah rasa kesal karena Zeeta tidak terpengaruh gravitasinya, Marianna siap mencakar ke atas dengan tangan monsternya.
“Percuma, percuma!” seru Zeeta, yang menghentikan sesaat Marianna. Kemudian....
‘DAR!’
Sebuah bongkahan meteor memukul dirinya. Tiada rasa sakit yang dirasakan Marianna, sehingga ia menyeringai—yang sayangnya harus segera disusul oleh mata yang melotot. Ia menyadari bahwa gravitasi yang ditambahkannya lenyap seketika, tatkala bongkahan ini menyentuhnya.
“Diamlah di situ sebentar.”
Marianna sadar bahwa tiap bongkahan-bongkahan batu itu bertuliskan Rune Nauthiz yang melemaskan tubuhnya. Urat kepala segera menyambut emosinya.
Lenyapnya gravitasi tambahan yang amat membebani tubuh itu disambut gembira oleh para penduduk. Pelaku yang mampu melenyapkannya tersebar begitu cepat dan lantang hingga sampai ke telinga Crescent Void yang berada di rumah sakit.
“Zeeta?! Zeeta ada di sini?!” Gerda langsung bersemangat. “Syukurlah ... kekhawatiranku sia-sia saja....”
Mellynda yang ingin memastikan, segera melihat lewat jendela, lalu menyipitkan mata. Demikian dirinya, begitu mendapati kondisi tubuh Zeeta. “Tidak. Mungkin kondisinya tidak begitu bagus.” Mereka yang berada di satu ruang langsung terganggu dengan ucapannya. Gerda menghampirinya, kemudian dengan kasarnya mendorong kepala Mellynda ke samping agar memberinya ruang lebih banyak supaya bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Tubuh Zeeta yang dipenuhi lecet baik kecil atau besar, menjadi concern bagi mereka yang tahu jika luka seperti itu bisa disembuhkan olehnya seperti bukan apa-apa. Namun, langkah selanjutnya yang diambil Zeeta, membuat Crescent Void jadi tidak mengerti ... dalam kondisi apa sebenarnya Zeeta. Baikkah? Burukkah?
Zeeta mendarat tepat di samping Azure. Kemudian, dengan tongkat Catastrophe Seal-nya, ia memutarnya di udara beberapa saat lalu menghentakkannya di tanah dua kali. Hentakan itu memunculkan lingkaran sihir di bawah Azure berwarna-warni. Tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun pada rakyat yang ada di sekitarnya, Zeeta hanya fokus untuk menyembuhkan Azure.
Perlahan-lahan luka parah yang dialami Azure oleh sabit bertentakel milik Marianna sebelumnya, menyatu kembali layaknya terjahit. Tidak hanya luka sabit, Zeeta juga menyembuhkan segala luka yang diabaikan Azure sebelumnya, bahkan hingga memperbaiki sirkuit sihirnya—yang dari luar seperti urat yang membengkak. Bisa dilihat pula oleh para saksi di dekatnya, bahwa secara bertahap napas Azure yang sebelumnya bergerak sangat lambat, mulai stabil.
Zeeta kemudian terengah. Ia bahkan berusaha untuk tidak jatuh dengan berpegang erat pada tongkatnya. Menyadari hal ini, penduduk di sekitar langsung bertanya, “Apa Anda baik-baik saja, Yang Mulia?!”
Zeeta mengangkat telapak kirinya. “Tenang saja.” Ia kemudian memejamkan mata, lalu mengatur napas.
Mereka yang di dekatnya merasa melihat suatu keajaiban setelahnya. Di sekitar mereka tiba-tiba gelap, seperti menjadi bayangan dari suatu cahaya. Kemudian tak lama setelahnya, dari tanah, dari rerumputan, daun, hingga pohon di sekitar mereka, muncul butiran-butiran mana yang mengubah daratan menjadi begitu indah. Mata mereka berkelap-kelip. Kagum. Hanya decak kagum yang terbayangkan oleh mereka.
“Apapun yang terjadi, aku akan melindungi kalian!
“Aku sudah berjanji....
“Aku sudah menetapkan tekadku!
".....
“Terima kasih karena sudah baik-baik saja, semuanya!”
Zeeta mengakhiri kalimatnya dengan senyum sumringah, yang telah dirindukan oleh rakyatnya bertahun-tahun lamanya.
__ADS_1
Butiran-butiran mana itu masuk ke dalam tubuh Zeeta, menyembuhkan luka yang ada di tubuhnya. Rambut peraknya kini berkilau, bersama dengan hembusan lembut angin. Postur tubuhnya
yang sedang memegang tongkat sihir, rambut perak terurai, berdiri tegak, ditambah dengan dua anting yang menghiasi... mengukir suatu ingatan terdalam untuk rakyatnya.
Zeeta.
Zeeta Aurora XXI.
Kehadirannya selalu membawa harapan. Dan harapan itu selalu diusahakannya agar terwujud, entah seperti apa masalah yang dilaluinya. Tangis pun kemudian menitik. Rasa hormat yang besar untuknya juga tertanam dalam benak.
“Pergilah mendekat ke istana. Aurora pasti akan melindungi kalian lebih dari apapun. Aku akan pergi untuk menyelesaikan bencana ini.”
‘SCHWIP’
Zeeta melesat begitu cepat, bahkan mata tak bisa menangkapnya. Bersamaan dengan kecepatan tingginya itu, ia menciptakan suatu dimensi di belakang Marianna—yang dengan segera ia lempar leluhurnya itu ke dalam bersama dirinya—yang diakhiri oleh langsung tertutupnya dimensi tersebut.
Scarlet, Alicia, Hazell, Lowén, dan Claudia. Kelima anggota keluarga kerajaan itu—meski di tempat yang berbeda-beda, menyaksikan apa yang disaksikan para rakyat yang berada di dekat Zeeta ketika rambut peraknya berkilau. Sama seperti mereka, kelima bangsawan itu tertegun dengan mata yang berbinar.
Suatu keraguan kemudian terbesit dalam benak mereka.
“Inikah....
“Benar-benar inikah sosok pembawa kehancuran untuk dunia?
“Apa yang kami lihat saat ini adalah....
“HARAPAN!”
Scarlet menangis. Menangis dengan derasnya. Ia pun langsung naik ke jendela lalu mengangkat kedua tangannya. “HA HA HA HA! LIHATLAH, FELINE!
“Lihatlah dengan mata kepalamu sendiri!
“Kelicikanmu selama ribuan tahun itu ....
“BERAKHIR HAMPA!
“Manusia ... akan bangkit dari keputusasaan dan membaliknya jadi sebuah harapan!
"Sejak dahulu kala, selalu seperti itu!!!
“Jika kaulihat ini dan masih menyangkalnya....
__ADS_1
“Aku bersedia mengorbankan cucuku agar tak perlu lagi mengotori tangannya!”
Alicia yang ada di ruang yang sama, merasakan kebahagiaan Scarlet yang dalam. Sementara Aria, ia turut senang dengan apa yang terjadi.
Hal yang sama turut terjadi pada Crescent Void. Dengan kepala-kepala mereka yang menyembul lewat jendela, mereka kagum dengan kesan mereka masing-masing, dengan mata yang berkilau.
“Cantiknya...,” batin Gerda.
“Inikah ... Zeeta...?” batin Mellynda.
“Tu... Tuan Putri Zeeta...,” batin Marcus.
“Sungguh ... hebat sekali... tak kusangka dia adalah Putri kerajaan... Zeeta...,” batin Colette.
[Sementara itu di Grandtopia....]
“He-hebat sekali! Sungguh hebat sekali!” Reina sampai terjatuh mengatakannya. Satu suara dengan Reina, Hugo pun tersenyum. Senyumnya lega, tidak menunjukkan adanya rasa khawatir sedikit pun.
Para Elf yang sudah sadarkan diri, kebingungan apa yang dimaksud Reina.
“Inikah hasil latihannya bersama Ozy si Raksasa...!?
“Zeeta ... tidak hanya dia bisa menggunakan Rune, dia pun mengendalikan secara penuh alamnya!”
“Me-mengendalikan alam, katamu?!” Lloyd begitu terkejut.
“Ya!
“Kuingat, dia pernah bercerita bagaimana dia tahu jika alam sedang tersakiti atau tidak—dan ketika alam ingin membantunya atau tidak—ketika dia berusia delapan tahun. Dia hanya bisa merasakannya ketika itu, tapi sekarang....
“Alam adalah sekutunya!”
Di dimensi dimana Zeeta membawa Marianna, adalah suatu tempat yang dipenuhi reruntuhan bangunan yang sudah diselimuti oleh lumut dan tumbuhan berakar. Langit senja menjadi penerangan mereka.
Zeeta melepas Rune Nauthiz-nya dengan tangan kiri yang meremas—disusul oleh remuknya bebatuan meteor.
“Lepaskanlah segala amarahmu yang tersimpan dua ratus tahun padaku, Mary! Aku akan meladenimu!” Zeeta lalu menulis Rune Wunjo pada hadapan Marianna, yang segera memberi efek padanya.
Setelah dituliskannya Rune tersebut, Marianna tampak semakin garang, ia jadi terus mengaum layaknya hewan buas. Rambutnya melawan gravitasi. Seperti seekor singa yang akan menerkam, Marianna berancang-ancang untuk mencabik Zeeta dengan tangan monsternya yang semakin memerah kehitaman.
__ADS_1
Zeeta menenangkan dirinya. “Kapanpun kau siap, Mary!” ia mengubah tongkatnya menjadi sabit, lalu langsung berkuda-kuda.