Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Kedatangan yang Tidak Diduga


__ADS_3

Terik....


Menyengat....


Udara yang panas....


Tiupan angin yang kencang, menghantam laut dan menjadikannya ombak....


.


.


.


.


“AH, DUH!


"PANAAAAS!”


Seorang Elf mengeluh dengan teriakannya yang dilampiaskan, yang tidak lain adalah Jourgan. Ia memakai pakaian renang berwarna biru terang, serta topi jerami.


“UGH!


“Ayo segera cari tempat berteduh, Kak Jour!”


Danny memberikan saran. Dirinya sekarang hanya memakai celana hawaii dan berkeringat di seluruh tubuh.


“Lagi pula!” balas Jourgan, “kenapa tidak ada orang yang mau mengunjungi pantai ini? Sebegini indah, segarnya air, namun dengan teriknya matahari ... kudengar pantai selalu ramai dikunjungi orang?!


"Walau ada Kraken, setidaknya jika tiada yang mengancam, tidak akan jadi masalah, bukan?!"


“Ayolah Kak Jour!


“Kalau berteriak-teriak begitu, nanti malah terasa semakin panas! Selain tidak ada tebing, bangunan, atau pepohonan di sekitar sini, kalau kita membuat sesuatu dari sihir hanya untuk berteduh, itu hanya memungkinkan kita menarik si Kraken....


“Setidaknya itulah yang kutahu saat menggali informasi di desa sebelumnya.”


......................


Kraken....


Seekor makhluk legendaris—atau lebih tepat jika disebut monster laut raksasa—yang diketahui memiliki tubuh gurita. Dalam legendanya, ia adalah makhluk jahat yang menghancurkan apapun yang mendekatinya. Begitu pula dengan apa yang telah didapatkan Danny sebelum menapaki kaki di pantai, berdasarkan kesaksian orang-orang desa setempat.


Tiada orang yang berani ke pantainya lagi sebab si Kraken, bahkan sampai ada palang berkarat yang menandakan, “HATI-HATI, KRAKEN GANAS! HARAP JANGAN MEMANCINGNYA DENGAN SIHIR!”


.


.


.


.


“Cih. Kraken, kah…?” Jourgan bertanya-tanya, “aku justru jadi ragu Kraken ini menjaga Batu Jiwa, lo, Dan!”


“Eh? Kenapa?” tanya Danny.


Jourgan mengepalkan kedua tangannya. “Entahlah. Insting saja.”


Danny kemudian menyeringai. “Kalau begitu, tidak perlu basa-basi lagi.”


Jourgan reflek menoleh pada Danny begitu mendengarnya, lalu menjawabnya dengan seringai yang senada. “Heh heh. Aku suka caramu!”


......................


Burung berkicau merdu di pepohonan sekitar. Ladang gandum terhembus angin dari arah selatan—dimana Jourgan dan Danny berada. Desa yang bertanggung jawab atas ladang tersebut tidak begitu banyak penduduknya—yang kebanyakan hanyalah pria dan wanita paruh baya dan beberapa anak kecil. Mereka semua berada di teras mereka, memantau ladang atau sekadar makan siang bersama. Sebuah hari yang damai, seperti biasanya.


Namun, beberapa saat kemudian, mereka semua disaat yang bersamaan, menyaksikannya.


.


.


.


.

__ADS_1


‘BWHAAAMMM!!’


Asap putih yang membumbung tinggi layaknya pohon raksasa dari arah pantai muncul dengan bunyi ledakan teramat dahsyat, disusul dengan angin super kencang, sampai bisa menghempaskan genting-genting rumah, atau mesin pembajak yang jatuh ke tanah dengan mudahnya.


Tidak ada yang tahu bahwa asap putih itu sebenarnya adalah air.


“A-apa... apa yang baru saja terjadi?!” orang-orang tua panik, anak-anak langsung merasa cemas.


“Kraken!” ujar salah seorang diantara mereka, sebut saja Pria A. “Sudah pasti ini Kraken!”


“Apa katamu?” tanya salah seorang yang panik, Pria B.


“Sebenarnya...,” balas Pria A, “ada seorang lelaki yang bertanya tentang pantai di sana dan aku menceritakan tentang Kraken itu, tapi ....


“dia sama sekali tidak ingin mengurungkan niatnya ke sana....”


Wajah-wajah di sana seakan-akan langsung pasrah, menganggap bahwa Si Lelaki—Danny—sudah tewas akibat "serangan Kraken" barusan.


Tetapi, hal yang mengejutkan bagi mereka tidak berhenti di situ saja.


Mereka dikejutkan oleh hujan rintik deras yang tiba-tiba turun, meski matahari masih menguasai Bumi dengan gagahnya—membuat beberapa diantara mereka yang terheran, mendongakkan kepala, kemudian....


Wajah tidak percaya, terbelalak, bahkan ada juga yang lari, terjadi begitu mereka melihat ke langit. “Lari! Awas tertimpaaa!” pekik mereka yang berlari.


Tidak lama kemudian....


‘BWOOAMMM!’


Sesuatu yang besar, mendampakkan debu lumayan banyak hingga membuat mereka yang di dekatnya terbatuk-batuk.


Setelah menunggu debunya hilang termakan waktu, penduduk desa kecil petani gandum itu teramat sangat kaget.


Sebuah kaki bertentakel raksasa, terpotong sempurna. Ukuran kaki itu saja sepuluh kali lipat ukuran mereka. Tidak aneh bila si Kraken ditakuti.


“Apa ini ... mimpi...?”


......................


“Huwaahh ... ha ha ha ha!” gelak tawa puas terdengar dari Jourgan. “Sudah kuduga, Dan! Kraken ini tidak mungkin menjaga Batu Jiwa-nya!” ia menyilangkan tangan di depan Kraken yang tergeletak lemas, selagi Danny memakai sihirnya untuk menghentikan pendarahan pada kaki Si Kraken yang terpotong. Ia bangga atas aksinya.


Tak menduga tindakan Danny yang sekarang mencoba menyembuhkan "mangsa" mereka, Jourgan berkata, “Hebat sekali kaubisa memiliki dua sifat yang saling bertabrakan itu, ya. Kulihat kau memiliki jiwa berburu yang sama denganku, tapi kau juga lembut seperti adikmu.”


“Hahahahah.... Kuanggap itu sebagai pujian.” Danny mengusaikan penyembuhannya.


“Baiklah.” Jourgan berdiri di hadapan Kraken. “Maafkan aku karena sudah kasar padamu, Kraken!”


Hening. Tak ada tanggapan dari Kraken.


“He... hei!” Jourgan menatap Danny panik.


Dengan lambaian tangan kirinya, Danny berusaha untuk tak terlibat.


“O-Oii! Jangan menghindar dari kesalahan! Kaulah yang memancingnya keluar dari air!”


Tetapi tiba-tiba saja....


“Dasar! Kalian ini orang tidak waras atau bagaimana, hah?!”


Suara gadis kecil terdengar menggema. Baik Danny dan Jourgan, berusaha mencari dari mana sumbernya.


“Apa kalian penduduk darat tidak mengerti tata krama ketika bertamu?


“Seenaknya memancing amarah, seenaknya melukai peliharaan orang!”


Suara yang terdengar semakin mendekat itu akhirnya bisa didapati wujudnya setelah keduanya berbalik badan.


“Eh?” Jourgan dan Danny-lah kini yang tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


“Dasar...!


“DASAR!


“Mohh!”


Si pemilik suara itu terus memukul-mukuli kaki Jourgan.


“A-Adik Kecil...? Bo-bolehkah kutahu siapa kamu…?” tanya Jourgan, yang dipaksa oleh situasi.

__ADS_1


“Adik Kecil...?!" si pemilik suara naik pitam. “Tidak sopan!


“Aku ini Putri Kedua dari Kerajaan Bawah Laut Orsfangr!


“Dan aku ini ... berusia seratus tujuh puluh tahun!”


“....”


“....”


Perlu waktu bagi Jourgan dan Danny mengolah ucapan gadis kecil berambut merah muda cerah panjang dengan semacam selendang mengapung di sekitar leher, hiasan-hiasan kerang di rambut, anting mutiara, juga pakaian yang cukup ... unik jika disebut dari keluarga kerajaan. Ia memakai semacam parka penguin yang mencakup seluruh tubuh. Malah itu mungkin sudah tergolong sebagai kostum.


“Hmph!” Si Gadis Cilik mengibas ke belakang rambutnya. “Walaupun kalian kasar, kuhargai permintaan maaf dan kesadaran kalian bahwa Kraken juga makhluk hidup, sekaligus sudah menutup sempurna lukanya.


“Hanya dari itu saja, mata ini bisa tahu kalian berbeda dari orang-orang tidak tahu diri lainnya yang memaksa masuk kerajaan kami demi benda yang sama.”


Keduanya dibuat kaget lagi.


“Aku tidak tahu kalian sengaja atau tidak, tapi akan kubiarkan bagian Kraken di desa itu. Lagi pula, besok kakinya akan tumbuh lagi seperti semula.”


Jourgan dan Danny masih mencoba mencerna baik-baik apa yang telah terjadi.


......................


Akhirnya, setelah memberanikan diri, Danny mencoba mengatakan sesuatu. “A-anu....”


“Hm?” Si Gadis Cilik mendongakkan kepala.


“Mohon maaf jika aku lancang, kami masih belum terlalu mengerti dengan situasinya, jadi... apakah kami boleh berunding terlebih dahulu secara pribadi dan memahami ini semua terlebih dahulu, Tuan Putri?”


“Umu. Silakan saja.”


Danny menarik Jourgan menjauh dari Si Gadis Cilik. Sementara mereka berbicara, walau disadari, Si Gadis Cilik tidak mencerminkan bagaimana sikap seorang yang berusia seratusan tahun. Ia menciprat-cipratkan air dengan kaki... terkadang juga dengan tangannya, lalu ia juga bermain-main pasir, sampai akhirnya ia berlari dengan ceria menghampiri Kraken lalu memukul-mukulnya pelan dengan telapaknya.


“Kak Jour,” bisik Danny, “apa kau memikirkan apa yang kupikirkan?”


“Gadis cilik itu benar-benar putri kerajaan dan merekalah penjaga sebenarnya?”


Danny mengangguk.


“Tapi... kalau mereka tahu tujuan kita, kenapa tidak menghalangi kita, namun justru menyambut?”


“Sepertinya kita tak memiliki cara lain.” Danny dan Jourgan telah berkeputusan, hendak menghampiri Si Putri Ketiga, tetapi mereka justru dibuat mendongakkan kepala, tak habis pikir apa yang dilakukannya.


“Yeaaayy! Yeaaayy!”


Dengan duduk diatas Kraken, Putri Ketiga Kerajaan Bawah Laut Orsfangr, bermain air dengan riangnya. “Aku senang kamu tidak merasa sakit, Gamma!


“Oh? Kamu juga berpikir kalau dua orang itu akan baik-baik saja?


“Sudah kuduga kita memang saling memahami!


“Ehehehe!”


Tanpa harus diberitahu sekalipun, Danny dan Jourgan tahu bahwa putri kerajaan di hadapan mereka bisa berbicara dengan Kraken walau terlihat seperti berbicara sendiri.


“Entah kenapa....” Danny memandangi pemandangannya dengan senyum dan tatapan pasrah. “Aku merasa dia mirip dengan Zeeta.”


“Ya,” balas Jourgan, yang berdiri di sebelahnya, “kau benar.”


“Tuan Putriii...!” Danny melambaikan tangannya.


Merasa dipanggil, Kraken berhenti menuruti majikannya, Si Gadis Cilik itu pun menolehkan kepala. “Oh? Sudah selesai?” ia lalu melompat lambung, mendarat dengan lembut di atas air. “Kalau begitu, beritahulah aku. Apa kesimpulan kalian?”


Sesaat setelahnya Putri Ketiga tak menyangka dengan yang dilakukan Jourgan dan Danny. Mereka berlutut di hadapannya.


“Jika Anda sudah tahu tujuan kami ke sini, Yang Mulia...,” ujar Danny, “tolong izinkanlah kami memastikan Batu Jiwa itu.”


“Ya, Yang Mulia,” tambah Jourgan, “misi ini sangat penting untuk keberlangsungan Galdurheim, jadi tolong izinkanlah kami!”


Si Putri Ketiga tersenyum, kemudian menepuk kepala mereka.


“Namaku adalah Cynthia Arseld Orsfangr.


“Kuterima dan sambut kalian sebagai tamu pribadiku.


“Aku akan membawa kalian memastikan Batu Jiwa itu.”

__ADS_1


__ADS_2