Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Ifrit vs. Ashley 2


__ADS_3

Malam yang pada awalnya terang benderang oleh cahaya bulan, semakin lama semakin gelap oleh awan berguntur yang datang dari arah tenggara. Kencangnya angin yang dibawa bersama sang awan bahkan membuat panik banyak Manusia di berbagai belahan dunia. Guntur dan petir yang menyambar, menambah rasa cemas dan takut mereka.


"Apa yang sebenarnya terjadi...?" orang-orang berlindung dari dalam rumah, memeluk orang-orang yang berharga bagi mereka, seperti keluarga, teman, atau kekasih sambil berharap tiada sesuatu buruk menimpa mereka. Angin kencang bahkan merobohkan sebuah pohon yang tampak berusia ratusan tahun, merusak rumah, hingga menerbangkan hewan ternak.


Sementara itu di kerajaan Aurora, para bangsawan utama kecuali Rey Emeria, Hellenia Cloxzar, dan Porte Ophenlis, juga ada Ratu dan Raja, disertai Lowèn, kali ini berada di ruang takhta istana. "Aku tidak suka angin ini," ujar Hazell, "angin seperti ini seolah pertanda hal yang semakin buruk akan terjadi." Tak ada jawaban dari orang lain, tanpa dibilang pun mereka merasa hal sama dengan Hazell. Dari jendelanya, mereka bisa melihat petir kuning yang sejak lima menit lalu terus menyambar Bumi.


Di bagian dunia yang lain, laut mulai menunjukkan ombaknya yang semakin tinggi dan garis pantai yang semakin terlihat. Penduduk lokal tampak berlarian ketakutan melarikan diri akan pertanda bencana besar berwujud air itu menuju ke tempat yang lebih tinggi.


Semua hal itu disebabkan oleh satu orang yang membuat kekacauan pada alam. Atribut sihirnya yang merupakan petir, merupakan suatu sihir yang pastinya tidak akan mudah dikendalikan, mengingat bahaya yang tidak kecil selalu menghantui. Fakta bahwa Ashley kini memanggil petir lebih banyak untuk menghadapi Ifrit adalah suatu bukti, bahwa hasil kekuatannya yang telah ia latih lebih jauh ini, hanya bisa dilakukan oleh dirinya sebagai Grand Duchess. Selain itu, Ifrit adalah lawan yang lebih kuat daripada terakhir kali ia melawan Lucy dulu.


Ashley kini berzirah petir full body dengan tiga warna. Putih kebiruan, kuning keemasan, dan ungu terang. Ketiga warna itu terus mengaliri seluruh zirah. Jubah dua helainya kini tidak tampak, mahkota petirnya pun tidak tampak. Ia hanya berzirah dengan sedikit kerah yang tinggi. Rambut pirangnya dibiarkan terurai, dari ujung kedua matanya terlihat garis tiga warna dari petirnya.


"Fuuuhh...." Hela napasnya bahkan mengalirkan listrik. "Lepaskanlah muridku lalu hadapilah aku, Roh Ifrit."


"Sudah kukatakan sebelumnya, Goddess of Thunder. Majulah dan kau akan menemukan jawaban yang kauharapkan itu." Rambut perak Zeeta tertiup angin kencang, yang tak lama kemudian diikuti dengan derasnya hujan. Dengan tetesan hujan sekalipun, tubuh berapi-api Ifrit tidak menunjukkan tandanya dapat dipadamkan.


"Maafkan aku, Alicia... Zeeta." Ashley mengangkat tangan kanannya, zirahnya berubah warna ke ungu secara keseluruhan.


'FWIP'


'JDUUMM!'


Petir hitam keunguan menyambar Ifrit yang juga berada di bongkahan reruntuhan dengan dayanya yang luar biasa besar hingga menimbulkan guntur yang amat keras. Asap tebal segera menyelimutinya, mengambigukan nasibnya.


Tak lama kemudian, lingkaran sihir muncul di kanan, kiri, bawah, dan atas berwarna merah pada Ashley. Lautan api segera menyulut dari sana.


"Ada apa, Roh Ifrit?" tanya Ashley, "aku ada di sini." Sumber suaranya ditemukan di samping Ifrit yang melayang di langit. Ifrit segera menggunakan kepalan kanan, juga dengan Ashley yang menggunakan kepalan yang sama.


'BWAM!'


Api dan petir saling beradu kekuatan, membuat sebuah tornado petir api yang perlahan menjalar ke segala arah, dengan ukuran mereka yang sedang, lalu perlahan menyebar akibat angin kencang.

__ADS_1


Bencana. Hanya itulah yang dapat digambarkan orang-orang yang melihat kejadian ini dari kejauhan. Sebuah tornado berbentuk api dan dilapisi petir tidak hanya satu, tapi banyak?


Anak-anak mulai menangis, hewan-hewan ketakutan, para orang dewasa mulai menjauh entah kemana mereka akan pergi.


Pukulan, tendangan, adu sihir, semua hal itu dilakukan Ifrit dan Ashley tanpa menyentuh tanah. Tanpa menyentuh tanah pun, bumi bergejolak seperti ini, apalagi jika mereka turun.


Kerajaan Aurora bahkan berlindung dengan bangsawan utama dan Crescent Void—mengecualikan Marcus dan Danny. Mereka menghantam tornado petir-api yang datang dari segala arah dengan sihir-sihir pamungkas mereka.


Tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di belahan dunia lain, anak-anak ketakutan disertai tangis kencangnya, sementara orang dewasa berusaha menenangkan mereka dengan segala upaya.


"Hei! Apa yang sebenarnya terjadi di sini...?!" tanya rakyat A.


"Mana aku tahu, dasar bodoh! Kita fokus saja untuk berlindung dan tidak terluka dari bencana ini! Kita sudah cukup beruntung memiliki mereka yang menjaga keselamatan kita, jika kita justru kehilangan nyawa disaat seperti ini...." balas rakyat B.


"Kenapa kita tidak mengungsi ke Labirin Cremlyn? Bukankah di sana jauh lebih aman?!" tanya rakyat C.


"Tidak, untuk saat ini itu tidak aman." Suara wanita datang menghampiri mereka.


"Bencana ini bukanlah bencana biasa. Kalau kalian masuk ke Cremlyn, tiada yang tahu apa yang terjadi dengan bawah tanah," ujar Claudia, "kejadian enam tahun lalu yang meruntuhkan Cremlyn, tidak boleh terulang lagi.


"Melindungi kalian di tempat terbuka adalah yang terbaik sekarang.


"Masuklah ke kediaman kalian masing-masing. Seperti yang pria itu katakan, keselamatan kalian adalah yang utama.


"Percayakan perlindungannya pada kami, tenangkanlah anak-anak kalian. Kami, bangsawan pasti akan melindungi kalian!"


"Nyonya Muda...."


Tidak lama kemudian, Edward dan Ella datang berlari menyusul. "Mamaaa!" teriak mereka memanggil.


"Persiapan sudah selesai!" seru Edward memberi hormat.

__ADS_1


Kapanpun bisa diluncurkan!" seru Ella, yang ikut memberi hormat.


"Baiklah! Posisikan kalian ke masing-masing tempat! Levant akan melindungi rakyat! Jangan biarkan jerih payah kakak sepupu kalian runtuh karena bencana ini!"


Sepasang lingkaran sihir merah muncul di bawah kaki Edward dan Ella. "Aye aye, Mom!" keduanya meluncur ke dua arah yang berbeda.


Ketiga rakyat saling menatap, lalu mereka mengangguk. "Baiklah, Nyonya Muda! Kami akan membantu kalian dengan apa yang kami bisa!" seru rakyat A.


"Heeiii! Masuklah ke rumah masing-masing! Berlindunglah dan percayakan apa yang terjadi di sini pada bangsawan!" jerit rakyat C.


"Mari lakukan apa yang bisa kita lakukaaan!" jerit rakyat B.


Melihat respon rakyatnya, Claudia tersenyum. "Percayalah pada kami, rakyat Aurora!"


.


.


.


.


Azure yang memandangi tak percaya sambil mengaktifkan sihir hitam bak lubang sebagai "atap", mencoba memulihkan Luna dengan segenap sihirnya. "Sejak kapan nyonya Ashley jadi segila ini...?! Lagi pula, dimana Lucy sekarang? Apa dia pergi tanpa sepengetahuanku lagi?!" gadis berambut hitam dan biru ini bertanya-tanya ditengah kepanikan. Tornado-tornado api-petir yang mendatanginya terserap oleh sihirnya. "Ghk!" tiba-tiba dia mengerang. "Sihir apa ini.... jika aku terus menyerapnya, aku hanya akan melukai diriku sendiri!


"Luna... apa yang terjadi padamu... apa yang harus kulakukan... apa Zeeta akan baik-baik saja...?"


......................


"Dia tangguh sekali... jika pertahanannya tidak sekuat ini, Roh Ifrit pasti bisa kukalahkan.... Aku tahu kalau kecepatan dan kekuatanku tidak kalah dengannya, tapi tiap kali kucoba menyerangnya dari jarak nol, dia selalu membaca pergerakanku dan menghindar dengan gerakan atau sihirnya....


"Waktuku dalam mode ini hanya tiga menit... hanya dua menit lagi sampai aku benar-benar tak bisa bergerak.... Zeeta... maafkan aku...."

__ADS_1


__ADS_2