Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Syarat


__ADS_3

Ini terjadi keesokan hari setelah Zeeta menginap di desa yang bergapura tentakel Kraken a.k.a Gamma—peliharaan Sang Penguasa Lautan, Cynthia Arseld Orsfangr, dia dan Luna segera menuju pantai. Di sana, sudah ada Cynthia dan ... dua orang yang seharusnya tidak berada di sana.


"Akhirnya kita bertemu kembali, Nona Zeeta!" sapa Cynthia dengan senyum hangatnya. Ia senang dengan pertemuan ini.


"Ya, aku juga." Balasan Zeeta singkat, namun ia membalas senyuman lawan bicaranya. Tak lama kemudian, ia segera mempertanyakan alasan mengapa dua orang di sampingnya itu ada di sana. "Lalu? Kenapa Benih Yggdrasil dari Seiryuu dan Roh-nya ada di sini? Bagaimana dengan kekaisarannya?"


Hitomi Reiko, tersenyum kecut. Ia merasa wajar diragukan begini. "Kakakku yang mengurus semuanya. Aku juga harus mengatakan beberapa hal denganmu, yang tentu berkaitan dengan Undine."


"Oh." Zeeta mengangguk-angguk.


"Ayo segera masuk sebelum penduduk desa melihat kita," saran Cynthia.


"Baik." Zeeta setuju, yang kemudian dilanjuti dengan munculnya tentakel Gamma ke daratan dan membiarkan mereka naik. Barulah setelah itu Cynthia "mengizinkan" dua tamu barunya ini bernapas di dalam air.


.


.


.


.


Ketika mereka semua sedang dalam perjalanan menuju Orsfangr, mereka segera membahas yang akan dilakukan.


"Kupastikan," celetuk Zeeta, "kita semua sudah tahu bahwa Rune yang membantu tertutupnya gerbang dua dunia itu sudah retak?"


Yang lain pada mengangguk.


"Kalau begitu, ada sesuatu yang harus kukatakan sebelum kegiatanku terfokuskan pada Undine." Zeeta menatap Xennaville dan Hitomi. "Aku punya permintaan egois pada kalian berdua."


"Egois?" tanya Hitomi.


"Apa itu?" tanya Xennaville.


"Bantulah lindungi Hutan Elf, di sana ada satu Raksasa yang harus hidup apapun yang terjadi."


Hitomi dan Xennaville segera mengerutkan dahi.


"Aku tahu kemampuannya," balas Xennaville, "tetapi ada nyawa yang lebih pantas dilindungi. Jangan salah, bukan berarti aku tidak ingin melindunginya, namun aku hanya ingin tetap ne—"


"Baiklah." Hitomi memotong.


"Hitomi?! Apa kau tidak ingat yang telah kauperintahkan padaku?!"


"Lupa? Tidak mungkin. Justru, aku tidak menyesalinya. Keputusanku saat itu mungkin dinilai kalian jahat dan lain sebagainya, namun pandanganku seperti ini.


"Jika dunia ini ingin adanya perubahan, maka pengorbanan pun diperlukan. Tidak peduli apakah itu ibu seorang anak, ayah sebuah keluarga, atau mungkin....


"Mimpi seorang gadis kecil."


Zeeta mendengarnya tersenyum kecut. "Tidak salah, bahkan karenamu, aku dipaksa untuk semakin berani. Disinilah aku sekarang, bersama seorang Benih Yggdrasil yang dulu adalah musuhku sendiri.


"Katakan padaku, Hitomi. Setelah melihatku dan diriku yang lain, apa kautakut?"


Kini giliran Hitomi yang tersenyum. "Takut? Aku ini Penyihir Bintang. Sudah sejak lama aku melihat kekuatanmu. Namun, tidak bisa kutepis pula jika bintang pernah meramalkan sesuatu yang sangat buruk padamu. Makanya, kuterima permintaan egoismu itu."


"Hahahaha!" Zeeta menggelak. "Dasar. Apa kautahu kekuatan 'Penyihir Bintang' itu dari siapa, hmm?"


"Kau ini bodoh atau apa? Tentu saja aku tahu! Seseorang dari tiga ribu tahun silam, bukan?"

__ADS_1


"Heh. Sialan. Benar sekali.


"Kalau begitu...."


Zeeta melemaskan leher dan pergelangan tangannya. "Ayo selesaikan masalah dunia sihir ini!"


......................


Begitu Gamma usai mengantarkan tamu-tamu Tuan Putrinya kembali ke istana, ia kembali ke lautan lepas dan bertemu rekan-rekan monster lautnya.


"Selamat datang, Wahai Penguasa Daratan, Tuan Putri Zeeta!" sapa Raja Orsfangr, Marshall, dengan senyum hangatnya.


"Tidak perlu segan terhadapku, Raja Marshall," balas Zeeta. "Aku sudah mengetahui semuanya dari Putri Cynthia dan Hitomi. Kudengar pangeran Juggernaut masih tidak bisa memaafkan setiap orang yang berkaitan dengan Naga, jadi, Anda pun tidak perlu bersikap seperti ini.


"Bisa kupahami alasan pangeran yang demikian. Siapapun di dunia ini, sulit terlepas oleh belenggu dendam."


Wajah senyum Marshall segera pupus dan menunjukkan amarahnya. Dengan tubuhnya yang berkali-kali lebih besar dari Zeeta, ia segera mencengkeram manusia daratan ini.


"Ayahanda, apa yang kaulakukan?!" jerit Cynthia.


"Ayahanda!" jerit Sugar, Putri Pertama.


"Jika saja... jika saja kau tidak datang sangat terlambat untuk membunuh Naga Tua itu...! Istriku ... istriku...!"


"I... itu benar.... Semuanya akan berbeda... jika aku datang... tepat waktu....


"Tapi ... jika aku datang saat itu....


"Dunia sudah hancur bahkan sebelum Ragnarok tiba, Raja...."


Marshall segera melemaskan cengkeramannya. "Apa maksudmu?"


"Haah...." Zeeta menyembuhkan tulang-tulangnya yang patah dengan sihir, kemudian mengatur napasnya. "Putri Cynthia, Hitomi, kuharap kalian menjelaskan SEMUANYA dengan rinci lain kali, oke?"


.


.


.


.


"Jadi, singkatnya," kata Zeeta, "musuhku dan musuh dunia ini adalah diriku sendiri. Jika bukan aku yang mengalahkannya, tidak ada yang bisa."


"Tidak bisa kupercaya... makhluk kecil sepertimu...." Marshall kehabisan kata-kata.


"Maka dari itu, ayo segera selesaikan ini. Dimana aku bisa bertemu dengan Undine?"


"Apa maksudmu?" sebuah suara terdengar jelas di kuping mereka.


"Aku selalu mendengarkan kalian bahkan sejak identitas Cynthia yang menyebarkan rumor di desa itu bisa dibongkar dengan mudahnya olehmu."


Sebuah kumpulan gelembung berkumpul di satu tempat yang kemudian perlahan-lahan berubah menjadi Roh Kuno Air, Undine.


"EH?" Cynthia kaget. "Kok bisa? Padahal penduduk desanya terlihat sangat percaya dan aku bahkan sangat membanggakannya!"


"Yah," sahut Undine, "kesampingkan soal Cynthia yang kikuk ini, yang harus kaulakukan agar bisa mendapatkan Rhongomyniad di tanganmu hanyalah satu, Zeeta."


"Apa itu?"

__ADS_1


"Kekuatan kami, para Roh Kuno."


Zeeta memejamkan matanya secara terpaksa dan menekan-nekan keningnya. "Apa itu berarti aku jadi semakin kuat?"


Undine menyeringai. "Ya, tapi hanya sementara. Bukanlah sesuatu yang buruk, bukan?"


"Bagaimana dengan kekuatanku dan Rune? Apa itu saja tidak cukup?"


"HAH?!" Undine tampak tersulut emosinya. "Apa-apaan penghinaan itu?!"


"Ma-maaf?"


"Dengar, ya, Ifrit itu mempersilakan Ars dikubur di sana agar dia mampu mengumpulkan mana alam dari tiga elemen dasar Bumi, untuk memusnahkan musuh dunia!


"Itu berarti, Ragnarok itu sendiri!


"Jika bicara Ragnarok, maka Raksasa dan Naga akan muncul di otak kecil itu, bukan? Maka kutanyakan ini padamu.


"Apa kau berniat mengalahkan Jormungand hanya dengan kekuatanmu sendiri?!"


"Ee...h...? Apa itu salah?"


"JADI KAU BENAR-BENAR MEMIKIRKANNYA?!


"Yggdrasil, apa yang kaupikirkan?! Kau sengaja ingin membiarkan anak ini mati konyol?!"


"Sengaja?!" Luna balik marah. "Kuingatkan padamu, ya, dasar Gumpalan Air, aku ini hanyalah SERPIHAN KECIL dari Yggdrasil, maka kau pun tahu kalau tidak semua yang ada di masa lalu bisa kuingat!"


"Apa katamu?! Gumpalan Air?!?!"


Kedalaman lautan jadi mimpi buruk bagi makhluk di sana dan diluarnya, hanya karena pertengkaran mulut dari dua Roh.


"Undine!" seru Cynthia.


"Luna!" seru Zeeta.


"Tanggapi ini dengan serius!" seru keduanya bersamaan.


Mimpi buruk di lautan segera larut setelahnya.


"HMPH!" dua Roh itu saling memalingkan wajah.


"Zeeta, kukatakan ini padamu sebelum kau menerima kekuatan dan izinku memakai Rhongomyniad," sambung Undine.


"U-uhm!" Zeeta memasang telinganya lebar-lebar.


"Setiap kekuatan yang besar, selalu ada celah dan kelemahannya. Maka dari itu, kelemahan Rhongomyniad adalah...."


Begitu Undine menjelaskannya, gerbang Jötunnheim dan Drékaheim terbuka dengan tanda-tanda raungan dan jeritan dari dua makhluk. Zeeta bergidik ngeri, pun dengan Cynthia dan Hitomi.


"Huuupp...." Zeeta mengambil napas dalam-dalam. "Haaah...." Ia menghelanya. "Aku siap, Undine."


.


.


.


.

__ADS_1


[Hutan Peri....]


"Jadi begitu. Kau tidak keberatan, ya, Zeeta? Kalau begitu, biar kubantu perlindungan harta karunmu—keluarga dan tempat kembalimu nanti." Nadéja, Ratu Peri yang baru, bersiaga di depan bola sihir besar yang ada di dalam hutan, bersama dengan Peri-Peri lainnya.


__ADS_2