Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Kemampuan Sihirnya Tak Terbatas


__ADS_3

Sebuah langit yang diselimuti oleh gemerlap ratusan bintang dan terangnya bulan purnama tertuang di dalam sebuah lukisan. Seseorang tengah memandangi lukisan itu. Di bawah langit lukisannya, terbentang luas hamparan rumput di sebuah bukit, ibarat tempat harta karun untuk momen ini. Di sana, terdapat keluarga kecil, ayah, ibu, dan dua anak kembar. Mereka berbaring sejajar dan tampak sangat menikmati momen sederhana ini. Malam ini tidaklah istimewa, mereka hanya menghabiskan waktu keluarga. Seperti mimpi yang selalu didambakan si ibu.


"Semoga kebahagiaan ini terus berlanjut," batin orang yang memandangi lukisan tersebut, Claudia, sambil memejamkan mata. Namun, ketika ia membuka mata, ia berada di sebuah pantai. Ia tampak lebih muda dari sebelumnya. Di sana, ia mendapati seorang wanita berambut violet sepanjang dada yang dikepang. Ia memakai topi jerami dan one-piece selutut berwarna biru dan berlengan pendek. Wanita itu terlihat tersenyum melihat deru laut yang kencang. Ia mendekati wanita itu dan duduk di sebelahnya.


"Sedang apa?" tanyanya.


"Hanya melamun," balas wanita itu tak melepas senyumnya.


"Tentang?"


"Betapa bahagianya Lowèn mendapatkan wanita sepertimu!" Wanita itu melempar senyum lebarnya. Ya, dia adalah Alicia.


Claudia merona. "E-eh?! A-apa maksudmu?"


"Lowèn itu adik yang sangat canggung, selalu berlebihan, dan terkadang dia sangat egois.


"Tapi, kami tahu jika dia memiliki rasa sayang yang sangat tinggi... bahkan jika aku harus jujur, rasa sayang itu sampai meluap keluar dari cangkirnya yang bahkan sedari awal sudah besar. Kau juga sadar akan hal itu, 'kan?"


Tanpa menghilangkan rona merahnya, Claudia mengangguk pelan.


"Kau adalah wanita yang cocok untuk berlayar bersamanya. Rasa sayangmu yang tak kalah darinya, kemampuan berpikir, serta ketegasanmu, menurutku adalah harta karun untuknya.


"Oleh karena itu, jagalah dirimu baik-baik, karena menjadi keluarga kerajaan takkan mudah. Bajakanlah hati dan pikiranmu agar tak jatuh. Kau pun tahu ramalan Ratu Peri untuk anakku, jadi kuharap ketika waktunya tiba, kaulah yang akan mewakiliku menjadi ibu yang penyayang untuknya!"


Mendengar kalimat itu, Claudia murung. "Soal itu, lakukanlah sendiri!" serunya tegas, "Kaulah yang harus menjaga dirimu sendiri dan membesarkan anakmu sendiri! Kenapa harus pesimis seperti itu?!"


"Moh ... kau ini... tidak perlu marah juga tidak apa, 'kan?


"Aku tidak pesimis, Chloe. Aku hanya mengkhawatirkan anakku. Ibuku sudah hilang selama dua tahun dan aku sudah menjadi Ratu. Aku tidak ingin anakku membawa beban yang berat. Aku ingin dia menikmati dan mewarnai masa kecilnya dengan tawa.


"Tapi... jauh dalam hatiku, aku sangat yakin, jika aku harus berpisah dengannya. Demi keselamatan, kebahagiaan, dan demi diri kami sendiri."


Ketika Chloe mengedipkan matanya lagi, ia berada di tempat yang berbeda. Kali ini berbeda dengan dua sebelumnya. Ia ada di dalam lautan api yang begitu besar. Saking besarnya api itu, ia tak lagi dapat memahami di mana ia berada.


"Lowèn...? Ed...? Ella...? Di mana ... di mana kalian?!" teriaknya bergemetar. Ia kemudian mengangkat tangannya untuk mengeluarkan sihir, namun tak bisa. "Kenapa?! Kenapa sihirku—"


Walau kebingungan dengan sihirnya yang tidak aktif, perhatiannya dialihkan oleh siluet yang diyakininya sebagai tiga orang keluarganya dari sisi lain api. Iapun bergegas mengejarnya. "Lowèn, Ed, Ella!" teriaknya. Ia mengangkat bibirnya ke kedua sisi—kanan dan kiri—ketika ia sedikit lagi bisa menyentuh mereka. Namun... ia justru berpindah ke tempat yang segalanya gelap... amat sangat gelap. Ia bahkan merasa dingin. Tubuhnya tidak mampu digerakkan.


"Ed...?! Ella...?!" teriaknya lagi. "Lowèn...!" Jantungnya berdegup sangat kencang, ia juga bermandikan peluh. Ia terus menerus mendelik ke sekelilingnya, berusaha mencari cahaya walau kedinginan


"Apa ini...? Apa sebenarnya yang terjadi?" ujarnya kemudian meringkuk. Dia mengingat-ingat lagi apa yang terjadi sebelumnya. "Ah! Apa karena ini karena sihirku yang gagal?!" Ia melihat kedua tangannya. "Tidak! Sihirku tidak mungkin gagal! Ini karena Feline melempar kembali kutukannya. Sial, ini semua karena aku terbawa emosi...."


"Kak Alice, apa yang harus kulakukan...? Aku tak bisa membuat keluargaku bahagia. Aku tak dapat melihat anak-anakku tumbuh.... Aku pun tak dapat memenuhi janjiku padamu...." Tangis mulai jatuh dengan deras.


"Edward dan Ella-ku yang tersayang... Lowèn yang kucintai, maafkan ak—"


Tiba-tiba dari suatu arah, sebuah cahaya biru muncul menyilaukan pandangan Chloe. Cahaya itu terus mendekatinya hingga benar-benar memaksanya menutup mata.


Sementara itu, di luar kamar Claudia berada, Ed, Ella, dan Lowèn sedang duduk bersama. Mereka saling peluk dan berharap Zeeta dapat menyelamatkan Claudia, seorang istri dan ibu tercinta mereka.


"Apa kak Zee bisa menyelamatkan ibu?" tanya Ella.


"Pasti bisa! Soalnya dia pernah mengalahkan makhluk mengerikan itu!" balas Edward.


"Tapi... kak Zee habis rapat dengan bangsawan bersama Papa, bukannya dia lelah?"


"Soal itu...." Edward murung.


Lowèn segera memeluk kedua buah hatinya. "Tak apa. Sepupu kalian itu kuat. Karena itu, yang bisa kita lakukan adalah percaya padanya dan berharap dia berhasil."

__ADS_1


"Uhm," balas si kembar bersamaan.


......................


Butiran hijau dan biru dari lingkaran sihir milik Zeeta meregenerasi kembali sel, darah, dan bagian penting tubuh lain, bahkan hingga rambut Claudia melalui tengkoraknya. Sedangkan bagian tengkorak lain yang sudah menjadi debu juga dapat terbentuk kembali.


Setelah sekian lama Zeeta berusaha dengan sihirnya, Claudia akhirnya bisa membuka mata. Ia mendapati langit-langit yang begitu familiar baginya. "Ahh... ahh...," ucapnya. Ia kehilangan kemampuan bicaranya setelah lama sekali tak berbicara.


"Oh, ya ampun! Maafkan aku!" Zeeta segera kembali memakai sihirnya, agar bisa memulihkan kemampuan yang sebenarnya bisa kembali seiring berjalannya waktu.


Claudiapun menengok ke arah Zeeta setelah ia selesai menyihirnya. "A... lice?" tanyanya. Matanya melihat Zeeta serupa dengan sang ibu.


"Alice?" Zeeta memiringkan kepala. "Ah, tunggu sebentar, ya." Zeeta segera berjalan ke pintu untuk memanggil paman dan sepupunya. "Paman, Ed, Ella! Bibi Chloe sudah sadar!" seru Zeeta dengan senyum sumringah. Claudia yang ada di belakang Zeeta segera terbelalak dan mengucurkan air matanya.


Dengan langkah kaki yang berlomba-lomba, Lowèn dan si kembar segera menyambut wanita berharga itu. Merasa reuni keluarga itu akan memakan waktu, Zeeta memilih meninggalkan ruangan dan beristirahat.


Ia melempar dirinya ke atas sofa panjang, kemudian melihat kedua tangannya yang bergemetar. "Wajar kekuatanku terkuras.... Agh, aku tak kuat untuk berdiri lagi!" selanjutnya, ia terlelap.


......................


Lima jam beranjak setelah Zeeta terjatuh dalam lelapnya. Ia dipindahkan ke atas kasur bekas kamar ayahnya, di lantai enam. Lowèn sengaja melakukan itu untuk membuat keponakannya merasa nyaman. Tangis haru pun terjatuh dari Karim dan Agatha saat melihat Lowèn menggendong Zeeta bersama Claudia yang menggendong Ella dan Edward. Ya, wanita itu sudah kuat untuk berjalan bahkan menggendong buah hatinya berkat sihir Zeeta.


Keluarga ini belum bisa bertanya ataupun berterima kasih pada Zeeta atas jasanya yang sangat besar. Namun, semua keluarga itu tahu sangat pasti bahwa kemampuan sihir Zeeta tak terbatas. Oleh karena itu, apapun yang terjadi, mereka harus melindungi Zeeta. Tidak hanya sebagai Tuan Putri, tapi juga sebagai keluarga.


Beberapa saat kemudian, Zeeta terbangun karena perutnya tergoda oleh aroma sedap dari minuman yang ia sukai serta makanan yang menggiurkan. Ia sempat terbawa rasa bingung di mana ia berada, sebelum ia mengingat dirinya masih di kediaman Levant. "Fueeeh... untung saja aku sudah berpamitan...." Ia sempat panik dengan omelan Ashley.


Zeeta segera beranjak dari kasur, tetapi ia terpaku pada sebuah bingkai foto yang bergambarkan Hazell Levant saat masih muda. Ia tersenyum. "Kuharap kalian baik-baik saja," katanya sebelum keluar dari kamar.


'Ceklek'


Ella yang mendengarnya segera berlari ke asal suara. Setelah melihat target, ia segera melompat dan memeluk Zeeta hingga terjatuh.


"Terima kasih!" Ella mengeratkan pelukannya. Zeeta tersenyum lalu mengelus kepala adik sepupunya ini.


"Ah, Ella, kau tidak adil!" Edward datang bertolak pinggang.


"Uehehehe, aku dapat elusan kepala dari Kak Zeeta!" Ella menjulurkan lidahnya.


"Cu... curang...!" Edward menggigit jari.


"Fufufu... kemarilah, dasar!" Zeeta menarik Edward dengan sihir, kemudian ikut mengelus kepalanya.


"Waaaah... jadi begini rasanya mengelus dan punya adik!" batin Zeeta kegirangan hingga dapat terlihat air liurnya hampir menetes.


"Hohoho, cucu-cucuku terlihat sangat akur!" Karim datang melihat. "Nah, sekarang beri Kakek tercinta kalian sebuah pelukan juga!"


"Ah, Kakek, selamat pagi!" sapa Zeeta.


"Kek Rim, pagi!" sapa si kembar.


Meski tak dipeluk, Karim segera membatu karena terlalu menerima serangan manis di hatinya.


"Ngomong-ngomong, aku mencium bau sedap. Siapa yang memasak?" tanya Zeeta kemudian mengajak sepupunya berdiri.


"Ibu dan nenek," balas mereka.


"Hei hei, buatkan kami daging panggang yang waktu itu, dong!" pinta Ella.


"Ohoo... kalian sudah terpana dengan masakanku?" Zeeta mengobrol bersama mereka sambil berjalan ke dapur.

__ADS_1


"Uhm! Karena masakan itu sangaaat enak!" balas Edward.


"Wajar saja, karena itu masakan nomor satu dan terfavorit di A n' Z, dan itu resep buatanku sendiri!"


"Buatan sendiri?! Wah, hebat!" rasa kagum mereka semakin tinggi. Sayang, obrolan seru mereka terpaksa harus berhenti setelah Zeeta menyapa Claudia dan Agatha.


Tanpa membalas sapa Zeeta, Claudia segera memeluk keponakannya. "Terima kasih saja takkan cukup bagiku atas jasamu untukku," tuturnya, "tapi aku sangat bersyukur kau baik-baik saja, seperti yang Alice harapkan."


"Alice? Apa maksud Bibi ... ibu?"


"Uhm. Dia sangat mirip denganmu."


"Ehehe, terima kasih." Kemudian sebuah suara yang mengundang tawa terdengar.


'Kruuukk'


Perut Zeeta sudah berontak ingin diberi makan. Wajahnya segera merah semerah tomat.


"Ahahah, wajar saja kamu lapar. Kamu sudah tidur seharian!" seru Agatha.


"Eh?! Seharian?!" karena saking terkejutnya, Zeeta melepas pelukannya. "Ahh bagaimana ini... aku punya jadwal penting... ah?! Pasti guru Ashley marah denganku... bagaimana ini...."


"Tenang saja, pamanmu sudah mengurusinya. Dia sudah menelepon kami. Katanya, kau diberi istirahat sampai makan siang," balas Agatha.


"Haaaahh... syukurlaaah...."


"Nah, kalau begitu, maukah kamu bantu Nenek menyiapkan sarapan? Aku juga sudah siapkan cokelat panas untukmu!"


"Hmph!" Zeeta menyeringai. "Masalah masak, serahkan padaku!" ia bertolak pinggang.


Kala itu, dalam hati dan mata mereka, Edward dan Ella mengukir dengan jelas betapa kerennya Zeeta saat mengucapkannya.


......................


Setelah selesai sarapan, Claudia, Agatha, sekaligus Edward dan Ella, serta Karim, diceritakan oleh Zeeta tentang kondisi Alicia dan Hazell dan rencananya pada istana.


"Roh Yggdrasil, Yggdrasil, dan bahkan Benih Yggdrasil... Nak, kamu tidak apa?" tanya Agatha.


"Tenang saja, Nek. Aku tidak akan membiarkan ramalan Ratu Peri jadi kenyataan. Aku juga sudah janji dengan Ozy si Raksasa kalau kami akan membuat dunia ini indah," balas Zeeta.


Tiba-tiba Claudia menangis setelah mendengar semua cerita panjang Zeeta.


"Ma-Mama?! Kenapa?" tanya Ella.


"Tidak... Mama tak apa. Hanya saja... Mama sangat bersyukur keluarga kita masih bisa utuh. Mama tak peduli dengan ramalan, Yggdrasil, dan hal lainnya. Jika keluargaku selamat, itulah yang utama!"


"Perasaan ini... akan terjadi sesuatu lagi...." batin Zeeta tiba-tiba. "Aku tahu kalian tidaklah menjadi bangsawan utama yang akan membantuku untuk melancarkan rencanaku. Tapi, karena kalian juga bagian dari keluarga kerajaan....


"Kuharapkan bantuan dari kalian." Zeeta berhormat bangsawan.


......................


Sementara itu, di ibu kota, di bengkel bernama "Axel's Workshop", wanita berambut putih berkacamata yang sebelumnya menghadiri undangan Tuan Putri, sedang mengistirahatkan kepalanya di atas meja.


"Heeeeeii! Untuk apa sebenarnya Tuan Putri menyuruh kita membuat alat-alat sihir ini? Apa kau tak merasa lelah?" tanya wanita itu bernada mengeluh.


"Ikuti saja. Dia sudah dipilih oleh Roh Yggdrasil dan kautahu itu," balas pria berbadan besar sambil memukul-mukul besi dengan palu yang dilapisi sihirnya.


"Dasar, Dwarf memang suka kerja keras, ya....?"

__ADS_1


__ADS_2