
Kerajaan Aurora—telah mendapat perubahan lagi setelah tiga tahun yang lalu kedatangan seorang rekan baru, yakni Suzy. Kerajaan tersebut tidak lagi diproteksi dengan sebuah kubah yang berfungsi sebagai pendeteksi mana asing dan pertahanan dari serangan luar.
Sekarang, kerajaan ini tampil seperti kerajaan pada umumnya, dengan tembok tinggi, lima gerbang pembatas Wilayah, dan sebuah gerbang utama, yang masing-masing diisi oleh prajurit kerajaan. Kendati demikian, bukan berarti kerajaan ini melemah. Hanya saja, metode pertahanannya yang berubah, dan seperti apa perubahan yang dimaksud, tidak ada yang mengetahuinya kecuali bangsawan utama, Zeeta, dan makhluk-makhluk sihir yang telah beraliansi. Para prajurit dan rakyat, hanya mengangguki apa perintah Ratunya.
Selama tiga tahun terakhir, Zeeta juga tidak pernah beranjak dari kerajaan, sebagaimana pesan terakhir leluhurnya. Kini, ia telah berusia tujuh belas tahun dan berhak menerima gelarnya sebagai Ratu, tetapi mengingat kondisinya, kedudukan Ratu tetap diisi oleh Alicia. Tidak ada yang berubah dari penampilannya selain rambut peraknya yang memanjang dan tubuhnya yang semakin dewasa.
Semakin lama Zeeta tumbuh, semakin banyak yang menggemarinya, baik dari pihak wanita dan pria, dari kalangan bangsawan atau rakyat jelata, hingga anak-anak maupun dewasa. Tidak hanya dari penampilannya saja yang mengikat mata, tetapi tindakan, caranya memperlakukan rakyat, juga tentu saja dari kekuatannya, membuatnya menjadi orang paling terkenal setelah Ratu.
Dalam jangka tiga tahun tersebut, Aurora telah berdamai dengan para Elf, dan fakta sebenarnya antara mereka, juga tentang sejarah sihir yang menyertakan keberadaan empat dimensi dunia, telah dibuka. Tentu saja, banyak konspirasi dan kekacauan dalam negeri setelah Alicia dan Hazell mengungkapnya pada publik, namun hasil akhirnya tidaklah pahit.
Walaupun kedamaian telah tiba antara Manusia dan Elf di Aurora, tetap ada rahasia yang tidak dibuka, yaitu kampung halaman Elf, Grandtopia. Selain untuk mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi lagi seperti sejarah yang lalu, ini juga dilakukan demi kebaikan kedua belah pihak, dan sekaligus tetap menjauhkan Hutan Sihir Agung dari sentuhan orang-orang yang berniat buruk. Sebagai gantinya, Zeeta, Alicia, Hazell, Scarlet, dan Hugo, membuat Hutan Elf baru—dimana letaknya berada jauh di barat laut Aurora.
Dengan kekuatan mereka, membuat hutan yang bisa dipercaya sebagai tempat tinggal Elf tidaklah sulit. Zeeta dan Alicia yang membuat hutannya, Hazell yang menyesuaikan suhu hutan seperti permintaan Hugo sebagai “kontraktor” agar hutan tersebut memiliki kekhasan dan membuatnya berbeda dari hutan yang lain. Sementara itu, Scarlet bertugas untuk mengubah beberapa pohon-pohon yang telah diciptakan diubah menjadi kediaman, juga menciptakan beberapa tumbuhan beraroma tersendiri dengan tujuan yang sama.
Tiga tahun itu juga menyibukkan semua rakyat Aurora. Bagaimana tidak, kerajaan-kerajaan yang berada di belahan dunia lain, sering mengunjunginya untuk alasan politik, setelah menurunnya kasus penyerangan Hollow dan Phantasmal ke Aurora setelah lenyapnya Marianna dari dunia. Baik itu politik untuk beraliansi atau pernikahan politik yang mau tidak mau melibatkan Zeeta dan Azure, semuanya membuahkan hasil yang asam bagi sang tamu.
Tidak ada dari pihak kerajaan tamu yang tidak terpikat oleh kecantikan, keanggunan, dan garis tubuh sang kedua Tuan Putri, bahkan ada yang sampai begitu memaksa hingga akhirnya menyebabkan mereka sendiri yang “hancur” setelah diberi “jamuan” sihir dari keduanya.
Kini, satu-satunya kerajaan yang beraliansi dengan Aurora hanyalah Nebula. Bahkan keduanya bisa segera bertemu dalam hitungan menit sebab alat transportasi instan di masing-masing pihak—suatu buah tangan dari Suzy—mantan Tuan Putrinya.
Setelah melewati ini dan itu, hal mudah dan sulit, sekarang, Aurora menghadapi masalah baru, yang baru mencuat ketika Suzy menemukan peta dari ruang bawah tanah istana Aurora yang menunjukkan lokasi dimana sembilan Batu Jiwa berada—yang jika dikumpulkan akan membuka Jötunnheim.
......................
Zeeta menemui Suzy bersama Azure, Ozy, dan Aria. Kedatangan mereka tidak disambut oleh berita baik, tetapi berita buruk.
“Kita harus bertindak cepat,” ujar Suzy, yang berwajah kusut.
“Apa yang terjadi?” tanya Aria.
“Lihatlah.” Suzy merentangkan lipatan peta dan menekannya dengan tumpukan buku-buku kuno. Ia menunjuk titik-titik berwarna yang diam pada tempat-tempatnya—yang berjumlah enam. Namun, tiga sisanya, berada di satu tempat yang sama, yang mengarah ke arah timur. “Ada orang yang telah mengumpulkannya,” sambungnya.
Azure segera mengernyit begitu melihat arah dimana titik-titik berwarna itu berkumpul. Zeeta juga mengernyit, tetapi dengan alasan yang berbeda. “Apa ini benar-benar peta?” tanyanya.
“Aku tahu apa yang kaupikirkan," balas Suzy, "seolah-olah memantau dimana kita berada dan apa yang terjadi pada Bumi. Lembah, jembatan, hutan, bahkan kerajaan ini sendiri terpampang seperti aslinya, dengan skala yang kecil saja. Kurasa kurang tepat jika ini disebut peta, tetapi tak ada waktu untuk memikirkannya."
“Aku ingat kenapa gunung ini memiliki lubang,” tambah Zeeta, yang menunjuk ke sebuah area spesifik. “Ini saat aku terkena serangan Mary. Tapi....” Zeeta menarik jarinya sedikit ke bawah kanannya. Apa yang ia tunjuk adalah suatu kehancuran desa. “Aku yakin aku tidak membawa pertarunganku sejauh ini.”
“Aku punya petunjuk apa yang mungkin terjadi,” ungkap Azure, “tapi sepertinya Ozy punya sesuatu yang harus ia katakan.”
__ADS_1
Seluruh mata menyadari jika Ozy berkeringat, padahal suhu di ruang ini tidaklah panas.
“Kautahu sesuatu, Ozy?” tanya Aria.
“Ini tidak mungkin!” seru Ozy.
“Eh?” keempat gadis di sana bingung.
“Kertas ini ... adalah kertas kuno yang hanya bisa diciptakan oleh ras kami,” tambah Ozy, “walau disebut kertas, tapi ini dibuat dengan rambut kami dan telah diubah dengan sebuah Rune.
“RA-RAMBUT?!” Azure begitu terkejut.
“Ya. Sama halnya dengan alasan kenapa ini tidak layak disebut sebagai peta, karena kertas ini juga telah dimodifikasi dengan cara yang sama.
"Praktik sihir juga bisa digunakan seperti itu. Dengan menggunakan barang tertentu, bisa tercipta suatu benda luar biasa seperti ini. Namun, di zaman ini, kurasa sudah tiada lagi hal semacam ini.”
“Memangnya kenapa?” tanya Aria.
“Kejam.
“Tidak jarang anggota-anggota tubuhlah yang dijadikan bahan.
“Setahuku, ras Naga dulu juga seperti itu. Tulang-tulang Manusia yang menjadi santapan mereka, diubah sebagai penguat sarang mereka.”
“Kak Azure, beritahu kami apa yang kauketahui,” kata Zeeta, yang dimata orang di sekitarnya seperti tak terganggu.
“U-uhm.” Azure mengangguk. Yang dilanjutkan dengannya bercerita tentang pelayan yang ia temui, dan menyebut namanya sebagai Asteria, serta asalnya yang berada di timur. “Ia bisa menciptakan dimensi layaknya ibu dan dirimu, Zeeta,” pungkasnya.
Zeeta diam memegangi dagunya sambil menatap peta di meja.
“Apa mau kuberitahu informasi sedikit lagi untuk menghilangkan keraguanmu?” suara Ifrit menggema di kepala Zeeta.
“Tidak. Biar kami periksa sendiri,” jawab Zeeta.
“Dilihat darimana pun,” ucap Zeeta, “negeri yang telah mengumpulkan tiga Batu Jiwa ini terlalu bahaya untuk dikunjungi. Entah seperti apa niatan mereka, fokus kita adalah menghalangi Jötunnheim tidak terbuka.”
“Kau benar,” timpal Ozy, “jika Jötunnheim terbuka, entah apa yang akan terjadi pada Galdurheim. Kami Raksasa yang bisa menggunakan Rune, pasti dengan mudah menguasai dunia ini.”
“Terbukanya Jötunnheim juga akan mengacaukan tumbuhnya Yggdrasil." Zeeta menambahkan.
__ADS_1
Mereka terdiam, memandangi satu sama lain. “Kau benar-benar akan menumbuhkan kembali Yggdrasil?” tanya Azure.
“Aku ... tidak tahu.” Zeeta menjawabnya dengan senyum pahitnya. Sebuah senyum yang jarang sekali dilukisnya. “Aku hanya ingin kalian, orang-orang yang berharga bagiku tidak terluka demi, untuk, atau karenaku.”
Azure mengernyit, sadar ada yang salah dengan adiknya. “Apa yang terjadi sebelum ini?”
“Eh? A-apa maksudmu?”
“Percuma saja kau menyembunyikan sesuatu dari Kakakmu ini, Zee,” timpal Aria, “karena hanya dia yang paling tahu tentangmu setelah orang tuamu.”
“Tidak,” jawab Zeeta tersenyum. “Tidak terjadi apa-apa.
“Yang lebih penting, Kak Suzy, beritahulah ini pada Klutzie. Kami butuh pendapatnya. Sementara itu,
kami akan mempersiapkan anggota untuk mencari tahu apa yang terjadi pada desa itu dan anggota untuk mengamankan Batu Jiwa.”
“Ba-baik, akan segera kulakukan.” Suzy bergegas keluar dan menuju alat transportasi instan yang berada di kediaman Alexandrita.
“Kalau begitu, kami juga akan bersiap,” kata Aria, “aku akan menghubungi Volten Sisters dan Lloyd.”
“Uhm. Terima kasih,” jawab Zeeta.
Kemudian Aria dan Ozy pergi meninggalkan Zeeta dan Azure sendirian.
“Crescent Void, 'kan?” tanya Azure yang langsung disambut kaget oleh adiknya.
“Moh... kenapa Kakak bisa tahu? Padahal aku sudah bersikap seperti biasa....”
“Astaga....” Azure memeluk Zeeta. “Semua akan baik-baik saja. Aku yakin itu. Kita semua berjuang bersamamu.”
“A-aku tahu....”
Azure merasa bahunya basah.
“Aku tahu itu, tapi aku seorang Tuan Putri yang dipercaya semua rakyatku. Aku tidak bisa terlihat lemah hanya karena ucapan bawahanku sendiri.”
Azure mengelus lembut rambut adiknya. “Tidak perlu kaukatakan lagi,” katanya, “aku tahu. Wajahmu mengatakannya padaku.
“Aku juga tahu, bahwa bawahanmu itu tak bermaksud membuatmu sedih.”
__ADS_1
“Eh...?”
Azure melepas pelukannya, kemudian.... “Novalius de Dormant! Aku tahu kau dibalik sana! Sekarang, bersikaplah seperti pria dan katakan apa maumu!”