
Pertarungan antara kegelapan dan cahaya demi memperebutkan nasib keberlangsungan dunia, telah berlangsung selama kurang lebih enam jam. Dalam waktu yang sebenarnya singkat itu, tak terhitung berapa jumlah korban jiwa, tidak terbatas untuk Manusia saja, tetapi juga pada Naga dan Raksasa.
Saat ini, dari sisi cahaya, Raksasa, Naga, dan Manusia bersatu untuk mengangkat kutukan Keenai yang mengekang kebebasan dan kekuatan mereka. Seorang Duyung sedang dipercayakan untuk men-detox kutukannya ke sebuah wadah, Nidhogg. Setelah kutukan tersebut terkumpul padanya, tentu Nidhogg takkan lagi menjadi dirinya sendiri. Disitulah peran terpenting yang berada di tangan Klutzie akan mengakhirinya. Dengan bantuan Roh Yggdrasil, Roh Kuno Undine, Ratu Peri, dan pemilik kekuatan kegelapan dari dunia, Marianna Aurora, Klutzie harus menebas Nidhogg dengan pedang yang sudah diperkuat dengan Rune dari Jeanne.
Walaupun tugasnya hanyalah untuk men-detox, hal tersebut sama sekali tidak mudah. Cynthia harus bisa memisahkan kutukan pada korbannya secara menyeluruh, dan bila ia tidak berhati-hati, maka kutukan itu akan balik menyerangnya. Jika demikian, maka pengorbanan Surtr dan Snjor menjadi sia-sia.
Sebuah gumpalan berwarna ungu, hitam, dan merah gelap terkumpul di tengah-tengah langit. Gumpalan tersebut adalah hasil detox dari Cynthia yang perlahan semakin membesar dan terus saja membesar, hingga ia sendiri tak mampu percaya dengan matanya sendiri. Besarnya berkali-kali lipat dari Raksasa, mungkin saja setara dengan Jormungand bila ia melingkarkan diri. Kedua tangan yang masing-masing berperan berbeda itu mulai bergemetar. Tangan kirinya digunakan untuk menyeimbangkan dan mengendalikan kutukan yang telah terkumpul, sementara tangan kanannya digunakan untuk mengambil dari korban.
Hal seperti ini mampu dilakukannya berkat bantuan Undine. Sebuah Tirta Amarta—fenomena dimana air akan menghidupkan, menyembuhkan, dan menyuburkan segalanya. Kendati demikian, sebuah pertanyaan timbul. Semua yang mengerahkan segalanya demi menyelamatkan penduduk Galdurheim saat ini tidaklah berafinitas cahaya layaknya Zeeta. Bila dipikir secara sihirnya, maka kutukan termasuk dalam afinitas kegelapan. Apakah mereka akan terkena imbasnya? Pertanyaan itu timbul dari sang Benih Yggdrasil, Klutzie. Setelah menanyakannya pada Siren, Nadéja, dan Marianna, inilah jawabannya.
"Tentu saja ada!" Marianna menjawab, "oleh sebab itu, kaulah peran utamanya."
"Hah?"
"Anggaplah Undine dan Duyung itu adalah alam. Kini, alam itu sedang berusaha menguraikan ampas dari Bumi. Ampas itu anggap saja seperti tulang belulang dan apapun yang tersisa dari makhluk hidup di Bumi. Dalam prosesnya, adakah kemungkinan bila alam tercemar karena ampas tersebut?
"Ya. Selalu ada. Oleh sebab itu, ada berbagai macam prosesnya—bahkan alam sendiri memiliki langkah demi langkah untuk melakukannya.
"Sekarang, anggaplah kutukan yang terkumpul itu adalah ampas yang terbuang di sungai. Ampas tersebut adalah mayat. Untuk menguraikannya dan tidak membuat air menjadi beracun, ada makhluk hidup lain yang memakan mayatnya, sementara air akan terus mengalir, hingga perlahan sungai akan bersih kembali.
"Nah, peranmu adalah makhluk hidup lain itu, sekaligus airnya."
Klutzie mulai memahami apa yang harus dilakukannya. "Caranya?"
"Ratu Peri dan aku akan membagikan mana kami agar bisa kaupakai dengan pedangmu. Cara ini pernah kaupakai saat mempertahankan Rhongomyniad dari genggaman Zeeta. Ingat?"
"Ah... ya. Tentu saja aku ingat."
"Ketahuilah, Benih Yggdrasil. Ini akan sangat berat. Sebuah pernyataan yang datang dari senior dan yang berpengalaman ini memperingatkanmu. Selalu ingatlah satu hal yang bisa membawamu terlepas dari kegelapan."
"....
"Baiklah."
.
.
.
.
Cynthia sudah berhasil mengumpulkan semua kutukan. Tidak hanya Surtr dan Snjor saja yang melindunginya dari serangan Diablo, tetapi Manusia dan Naga yang sudah mampu bergerak juga. Mengetahui apa yang hendak dilaksanakan Nidhogg a.k.a Saitou, penduduk Seiryuu, seperti Arata dan Riruko, juga tak peduli jika tubuh mereka terkena racun. Keduanya menangis sambil terus mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuh yang seakan memeras otot dari dalam. Mata mereka juga menangis darah, bahkan mulutnya juga. Mereka tidak ingin membiarkan guru bela diri mereka selama ini mengorbankan kehidupannya seorang diri. Naga atau bukan, Saitou tetaplah sosok yang tak tergantikan bagi mereka.
"Setidaknya, dengan kekuatan Naga ini aku bisa berguna!" jerit Arata, "takkan kubiarkan Guru Saitou sendirian lagi! Riruko, jangan paksakan dirimu!"
"Khh!" rintih Riruko, "jangan remehkan aku, Acchan. Meskipun tidak sekuat dirimu, aku masih bisa lanjut! Aku adalah penduduk Seiryuu yang mengagungkan Naga! Mana mungkin disaat Guru Saitou sedang berjuang seperti ini, aku tak melakukan apapun!"
__ADS_1
Melihat tindakan keduanya, hak tersebut menyulut semangat rakyat Seiryuu yang lain. Namun....
"Jangan paksakan diri kalian, dasar Manusia-Manusia bodoh!" seorang Raksasa wanita datang dengan lompat lambungnya.
'BWHAMM!'
Saat ia mendarat, tidak hanya menimbulkan getaran dahsyat pada tanah, tetapi ia juga meremas cukup banyak Diablo yang seakan lalat yang tak ada habisnya.
"Ka-kau...!" Surtr tahu siapa Raksasa itu. "Æsir...?!"
"Kalau terus dilanjutkan, kalian hanya akan meregang nyawa! Jika begitu, pengorbanan Nidhogg akan sia-sia!"
"Ta-tapi...!"
"Nidhogg, aku sudah selesai!" jerit Cynthia yang mengalihkan perhatian. "Apa kau sudah siap?!"
Nidhogg yang sudah dalam mode Naga-nya melingkarkan diri—memosisikan diri agar dirinya tak menimbulkan bahaya bila sesuatu yang tak diinginkan terjadi. "Ya! Kapanpun!"
"Aku mulai!" Cynthia memindahkan bola raksasa kutukan itu masuk ke dalam tubuh Nidhogg.
"Grgghh!!" Nidhogg menggeram menahan sakit.
[Sementara itu, dari Vanadust....]
Spirit Warble Klutzie bersinar paling terang. Layaknya melihat bintang di langit, rakyat Nebula yang masih selamat berbinar, mendambakan keberhasilannya. "Berjuanglah, Pangeran! Kau pasti bisa!" seruan satu demi satu dari rakyat, menambahkan kekuatan bagi seorang Klutzie. Ia tak boleh gagal, apapun yang terjadi.
Tubuhnya diselimuti oleh aura biru yang berputar secara spiral. Mata merahnya menyala, sementara pedangnya bersinar hitam. Huruf Rune-nya bersinar putih, demikian pula ujung dari bilahnya. Lelaki itu berkuda-kuda—kaki kiri di depan dan kanan di belakang. Tubuhnya tegap, sementara pedangnya ditarik ke sisi kanannya.
"Heh!" Benih Yggdrasil ini tersenyum kecut. "Aku jadi mengerti perasaan Zeeta. Beban seperti ini tentu terasa berat, namun...." Klutzie semakin mengeratkan genggamannya.
Semua yang ada di dekat Nidhogg, ataupun Klutzie sendiri, bisa melihat perubahan yang terjadi pada Naga Pengecut itu. Tubuhnya seakan menggelembung tak tentu arah. Seakan bom yang bisa meledak kapan saja. Tubuh itu perlahan mengeluarkan asap dan itulah saatnya bagi Klutzie.
Sebuah titik cahaya biru menukik lurus pada gumpalan asap yang perlahan menebal. Dari cahaya biru tersebut, muncul garis hitam dan putih memanjang ke belakang. Garis tersebut lalu berputar seratus enam puluh derajat.
'ZRANGG!!'
'KRAKK!'
'BWOOMM!!!'
Klutzie berhasil menebas Nidhogg. Pendaratannya yang mencolok, menjatuhkannya ke dalam lubang seperti mangkuk dengan tanah yang retak parah. Tebasannya bekerja efektif. Tubuh Nidhogg perlahan terbelah, namun Klutzie menyadari ada yang aneh. Pedangnya sekan ditekan mundur oleh sesuatu. Disaat yang sama, tiba-tiba ia mendengar jeritan, ratapan dan rintihan, yang mengguncang keberanian seterang bintangnya itu.
"Beraninya kau! Beraninya kau!"
"Terkutuklah kau, Pengkhianat!"
"Matilah saja, Pengecut!"
__ADS_1
"Kau tak pantas hidup di dunia ini!"
"Kenapa kau membunuhnya?!"
"Akan kubalas dendam ini!"
Suara-suara itu terdengar dari sekelilingnya. Ia bahkan melihat sesuatu yang sebenarnya tak terjadi padanya. Dia perlahan terlahap oleh ketakutan dan keputusasaan. Cahaya Spirit Warble-nya meredup, demikian pula pedangnya.
"Hahahaha!" suara gelak tawa pria mengalihkan kagetnya mereka yang menyaksikan Klutzie. "Mana mungkin kubiarkan hal semacam ini terjadi!"
"Kau...!?" Cynthia tahu pria itu. "L'arc Darnmite?!"
"Yang memiliki Roh Yggdrasil di sini bukanlah hanya kalian bertiga saja!!" L'arc mengangkat kedua tangannya. Tiba-tiba, tangan dan kaki semua Raksasa dan Naga terkekang oleh semacam rantai. Mereka yang sudah terbebas oleh kutukan, justru tertangkap lagi oleh hal seperti ini. Rantai tersebut menyerap kekuatan dua ras terkuat itu, hingga memaksa semua yang terkekang rantai, terkulai lemas.
"A-apa yang sudah kaulakukan?!" jerit Æsir, "siapa kau sebenarnya?!"
L'arc hanya menyeringai. "Riwayat hidup kalian akan segera tamat. Tak ada gunanya untuk menjawabnya."
[Di sisi lain....]
"Lihat, seperti yang kukatakan, bukan?"
Tiga orang yang terdiri dari dua pria dan satu wanita memandangi kejadian jauh di seberang mereka.
"Kaubisa melakukannya?"
"Kauyakin tentang ini, Elbrecht, Myra...? Jika begini, maka...."
"Heh." Myra dan Elbrecht tersenyum. "Kau sudah menepati janjimu. Kali ini, adalah giliran kami menepati janji pada orang tua kami."
"Begitu....
"Maka, aku harus menjawabnya."
"Terima kasih, Danny. Kami berhutang padamu."
"Jangan begitu. Kita sama-sama saling menolong. Tapi ... kupastikan takkan ada yang melupakan Naga Orsted, Naga Penempa Schrutz, dan anak-anaknya, Elbrecht dan Myra. Sejauh apapun generasi yang kita selamatkan ini berlanjut, kupastikan mereka akan mengingat kalian walaupun dalam legenda sekalipun."
"Ya. Terima kasih!"
"Dah... aku berangkat dulu!" Danny berkuda-kuda, lalu melontarkan diri.
Perlahan, kaki Elbrecht mulai bersinar dan menghilang. "Cih. Aku tak punya waktu untuk melihat Zeeta hingga akhirnya, kah...?"
Myra berusaha menahan tangisnya.
"Jangan menangis, Adikku. Aku jadi cemas meninggalkanmu."
__ADS_1
"U-uhm... maafkan aku, Kak...."
Elbrecht mengelus kepala Myra. "Berbahagialah demi kami, Myra!" bersama dengan senyum lebarnya yang sangat menghangatkan itu, Elbrecht menghilang layaknya butiran keemasan....