Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Datangnya Perubahan Dunia


__ADS_3

Di dalam Hutan Peri, terdapat sebuah bola besar berisi sesuatu yang bercahaya kuning keemasan bercahaya. Di sana, beberapa penduduknya sedang bertekuk lutut pada sosok Ratu mereka, Feline.


“Bagaimana dengan persiapannya, Morgan?” tanya Feline.


“Semua sudah siap," balas Morgan lugas.


Seringai terukir pada wajah Feline. “Kerja bagus.”


“Tapi, apa kauyakin tentang ini, Feline?”


“Apa yang ingin kaukatakan?”


“Dua gadis itu ... mereka benar-benar mewarisi kekuatan Bulan.”


“Mereka yang ada di istana juga begitu. Tidak ada bedanya. Apa yang kaucemaskan?”


“Cih....


“Kausungguh yakin ingin mengembalikan Manusia di sana menjadi bisa bersihir lagi? Mereka itu sudah sepantasnya menjadi makhluk rendahan!”


Seringai Feline lenyap. “Aku sudah memikirkannya sejak lama. Tanpa memainkan mereka, hidupku di Galdurheim yang semuanya damai ini ... sangat membuatku bosan. Tidakkah kalian berpikir begitu?


“Dengan memancing dua gadis itu bersihir, semuanya akan menjadi kacau seperti dulu lagi, dimana tujuanku hanya satu—mewujudkan ‘ucapan terakhir’ Yggdrasil pada kami—tentang kehancuran dunia oleh seorang Manusia itu.


“Aku akan memainkan kartuku, memantik semua emosi di dalam diri mereka, dan memandu mereka menuju kehancuran mereka sekali lagi.


“Aaahh~ betapa tak sabarnya aku melihat wajah putus asa mereka...!”


Morgan tersenyum. “Sungguh, berada di bawahmu tidak pernah membuatku bosan. Baiklah, aku akan membantumu sampai apa yang ingin kaucapai tertuntaskan!”


......................


[Beberapa malam kemudian]


“Haaah~ haaah~ haaaah~” keringat mengucur deras di sekujur tubuh Tellaura. Napasnya yang berat juga memberitahu kalau dia telah berusaha sekuat yang ia bisa.


Feline memejamkan matanya. “Bagus. Itu memiliki cukup dampak, tetapi lakukanlah sihir itu saat kau benar-benar terpojok saja. Kau sendiri yang paling tahu seberapa berbahayanya sihirmu ini.”


Tellaura berhasil melubangi dan meluapkan sebuah sungai. Besar lubang itu puluhan kali lipat dari tubuhnya, bahkan itu bisa berpotensi menjadi sebuah danau baru.


“Tapi ... kalau begini ... alam sama saja telah ... kurusak, ‘kan?” tanya Tellaura yang masih terengah.


Feline tersenyum. “Duduk saja. Aku akan memerlihatkanmu bagaimana Peri bersihir.”


“Benarkah? Kau selama ini tidak pernah mau menunjukkannya. Ada angin apa?”


“Anggap saja sebagai sebuah hadiah usainya latihan kita.”


“E-eh? Itu tadi pelajaran terakhirmu?”


“Kaupikir sudah berapa lama kau latihan?”


“Ti-tiga bulan... uhh... kurang lebih?”


“Sihir itu bukan sesuatu yang benar-benar harus kaupelajari dari orang lain, kaubisa menciptakannya sendiri—dengan syarat mana yang kaupakai tidaklah berlebihan—seperti yang sudah sering kukatakan.”


“Jika kaubilang begitu ... baiklah....”


“Tenang saja, kau dan aku pasti akan bertemu lagi. Kapanpun kaubutuh bantuan, datanglah ke hutan di seberang sungai desamu. Itu adalah Hutan Peri.”


“Hu-Hutan Peri? Apa kau bercanda? Dilihat darimana pun itu hanyalah hutan biasa!”


“Itu karena kau masih termasuk pada Manusia yang tidak kami izinkan melihatnya. Tapi sekarang, semuanya sudah berbeda. Ingatlah, datang kepada kami disaat kau BENAR-BENAR membutuhkan kami. Kau yang sekarang sudah memiliki kekuatan untuk melindungi dan apapun yang kauinginkan.”


“Baik. Aku mengerti. Terima kasih untuk semuanya, Feline!” sebagai bentuk hormat, Tellaura menundukkan kepalanya.


Setelah itu, Feline lantas memulai sihirnya. Kemudian, sambil memerhatikannya, Tellaura pun duduk. Sayap yang mengepakkan butiran mana berwarna merah muda itu berkepak lebih cepat—tetapi Feline tidak terbang lebih tinggi. Butiran mana yang terjatuh pada tanah serta sayap yang bersinar, seakan sinkron satu sama lain.


Saat butiran mananya menyentuh tanah dan sayapnya bersinar, tanahnya mulai naik, membawa keduanya ke permukaan.


“Waah, keren...!” mata merah Tellaura memantulkan sinar merah muda dari sayap Peri di hadapannya itu.


Tidak hanya tanahnya saja, tetapi butiran mana itu juga menumbuhkan rerumputan dan segala sesuatu yang sebelumnya pernah ada di lubangnya. Seperti bebatuan dan tumbuhan air lainnya. Membiarkan dirinya diterjang oleh air yang menjadi satu kesatuan—sungai lagi—Tellaura merasa sangat puas. Dia tersenyum sambil mendongakkan kepala dan memejamkan mata.


Beberapa saat kemudian, saat Feline bersiap ingin kembali, demikian pula dengan Tellaura, gadis bermata merah itu mengucapkan sesuatu. “Sungguh, aku berterima kasih sekali padamu, Feline.


“Kau membuat hidupku jadi berbeda.


“Kau mungkin tidak peduli pada apa yang pernah kualami, tetapi saat kau mengajariku banyak hal tentang sihir, itu membuatku membuka mata terhadap dunia yang selama ini kuanggap sangat kejam dan tak adil.


“Kurasa, bertemu denganmu adalah salah satu takdir untukku...?


“Pokoknya, aku sangat berterima kasih padamu.”


Feline tersenyum. “Ya. Aku juga merasa ini adalah takdir. Berhati-hatilah.” Kemudian dia segera mengepakkan delapan helai sayapnya kembali ke arah timur. Sementara itu, Tellaura tetap di tempat.


“Hidupku selalu dipenuhi oleh teriakan, amarah, dan tangis. Satu-satunya hal yang bisa membuatku tersenyum dan tetap merasa ingin hidup ... hanyalah adikku seorang. Jika dia tidak ada, sudah lama kuakhiri hidup yang sungguh menyiksaku ini.


“Sejak kami berada di kerajaan Flare dan dirinya nyaris dijadikan budak pribadi pangeran sinting itu... semuanya terasa begitu pedih. Orang-orang yang kuanggap sangat dekat dengan ayah dan ibuku pun ternyata tidak seperti itu.

__ADS_1


“Mereka semua rata-rata dibutakan oleh uang. Aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka juga, sebab Ratu Amanda yang tidak pernah melirik desa seperti Lazuli. Mereka semua butuh uang demi kehidupan masing-masing.


“Jika aku bisa mengubah desa itu ... mungkin saja mereka bisa menjadi lebih baik juga.


“....


“....


“Aku harus menyiapkan mental dan pikiranku agar benar-benar bisa mewujudkannya!”


......................


Dimulai dari keesokan harinya, Tellaura mulai menunjukkan kekuatannya pada penduduk desa. Pada mulanya banyak yang ketakutan, tetapi saat dia mulai menunjukkan kalau dia pun bisa menyembuhkan luka, banyak orang yang mulai berdatangan padanya. Tentu saja tidak ada yang memiliki pandangan sama terhadap dia yang bisa bersihir, dan tidak sedikit orang yang justru semakin menjauhinya, namun tidak berarti tidak ada yang berterima kasih secara tulus padanya.


Tellaura juga mulai membangun desa agar lebih makmur. Dengan sihirnya, dia mengubah jalanan tanah menjadi berpaving, menambahkan lampu-lampu jalan, dan memperbaiki rumah-rumah yang sudah usang. Perlahan-lahan, usahanya membuahkan hasil. Dia dan adiknya mulai disanjung, imej mereka juga berubah. Tetap ada orang-orang yang membenci mereka, namun mereka kalah suara.


Untuk menyeimbangi kakaknya, Clarissa juga melakukan semua yang ia bisa. Memasak, berladang, dan apapun selama dirinya mampu lakukan dan tidak membutuhkan kekuatan fisik berlebih. Dia cukup terkenal di kalangan ibu-ibu dan anak-anak. Sosoknya yang selalu tersenyum dan tidak pernah marah, mampu melelehkan hati keras dan kaku banyaknya orang.


Semuanya berjalan sangat lancar, hingga suatu hari....


Tellaura memberikan Clarissa sebuah cincin berhias berlian. “Setidaknya pakailah ini,” tuturnya.


“Apa gunanya ini?” tanya Clarissa.


“Anggap saja sebuah jimat perlindungan. Aku tidak ingin kejadian bertahun-tahun yang lalu itu terulang lagi padamu selagi aku tak ada.”


Clarissa tersenyum. “Terima kasih, tapi siapa di desa ini yang mau menyakitiku lagi?” dia juga memasang cincinnya di jari telunjuk kiri.


“Aku merasakan firasat buruk. Berhati-hatilah dan jangan lupa kunci pintunya!”


“Uhm. Baiklah!”


“Ingat, kalau kau ada dalam bahaya, panggillah saja Kakakmu ini, aku akan sege—“


“Moh~ iya-iya aku mengerti! Kau akan bertemu Ratu, ‘kan? Jangan nodai wajahmu dengan lumpur hanya karena kau terlambat!”


“A-ah! Kau benar!


“Baiklah, aku berangkat, Dik!”


“Uhm. Hati-hatilah di jalan, Kak!”


“Aku akan kembali tiga hari lagi, sampai saat itu, berhati-hatilah!” Tellaura akhirnya keluar dari kediamannya.


“Dasar....” Clarissa tersenyum kecil. “Khawatiran sekali kakakku itu....” Dia kembali mengerjakan pekerjaannya—yaitu merajut pakaian ukuran anak-anak.


Sementara itu di luar, di alun-alun desa yang sampai zaman Zeeta masih utuh—sebagai salah satu tempat yang menjadi titik bertemunya Zeeta dan Rowing—Tellaura memeriksa lagi barang-barang di kereta kudanya. Tapi, di belakangnya, terdapat seorang pria yang tersenyum lebar melihat kesiapannya pergi keluar desa. Sayang, dia tidak sadar kalau Tellaura menyadari keberadaannya.


Tidak lama setelah itu, Tellaura berangkat sendirian ke ibu kota kerajaan, untuk menghadap langsung pada ratu, setelah surat yang dikirimnya, mendapatkan balasan langsung dari sang ratu.


......................


Usai mengendarai kereta kuda selama enam jam, akhirnya Tellaura sampai di seberang istana, yang jalurnya terpisah layaknya antar pulau. Agar bisa memiliki akses masuk, terdapat sebuah jembatan lipat dengan teknologi katrol dan dijaga oleh beberapa penjaga istana. Dirinya kemudian memberikan bukti izin dan undangan dari ratu. Para penjaga juga mengecek barang-barang bawaan Tellaura. Setelah semua pengecekan dirasa aman, diapun diberikan jalan.


Berdecak kagum dengan kemegahan yang jauh berbeda dengan yang pernah disaksikan ataupun diingatnya, Tellaura tidak bisa melepaskan matanya dari istana, sampai dia mendapati seorang lelaki pirang bermata biru langit ... yang beranting bulan di telinga kanannya. “Lelaki yang aneh,” gumamnya, mengomentari antingnya.


Tanpa disadarinya, si lelaki pirang itu melihat kereta kuda masuk, yang dikusirkan oleh seorang gadis berambut merah. Dia yang sedang memandangi taman kerajaan bersama seorang pelayan, akhirnya bertanya. “Siapa orang itu tadi?”


“Sepertinya itu tamu pribadi Ratu, Yang Mulia.”


“Ibunda...?”


.


.


.


.


Di ruang takhta, Tellaura membawa dua peti berisi buah-buahan. Dia juga bertekuk lutut di hadapan Ratu dan Raja.


“Kuizinkan kauangkat kepalamu, rakyatku yang bernama Tellaura,” ujar Sang Ratu, dengan suara yang khas dan terasa berwibawa.


“Terima kasih, Paduka Ratu.”


Begitu Sang Ratu—Amanda—melihat mata Tellaura, dia segera berkomentar, “Kau benar-benar satu keturunan denganku, tampaknya kau tidak berbohong. Jika kau berani berbohong padaku, entah apa yang sudah kulakukan terhadap kepalamu itu.”


“Ma-maafkan kelancanganku karena telah mengirimkan surat yang berisikan hal-hal aneh itu, Paduka Ratu!”


“Tidak. Tidak apa.


“Sekarang, dari mana dan bagaimana caramu bisa tahu kalau kau satu keturunan denaganku?”


“Ceritanya cukup panjang... tetapi intinya, saat aku kecil dulu, aku dan adikku pernah diculik ke kerajaan Flare. Kami berhasil kabur, tetapi di tengah perjalanan, aku bertemu seseorang yang menyebut dirinya adalah Raksasa bernama Jeanne. Tapi, dilihat darimana pun, dia hanyalah manusia dewasa.


“Saat itu, dia bilang....”


.

__ADS_1


.


.


.


“Raksasa, Peri, dan Hutan Peri....


“Haaah....”


“Ama?” tanya Sang Raja, “kau tak apa?”


“Kau diamlah dulu, Gerard.” Amanda menekan-nekan pelipisnya. “Jujur saja, aku tidak bisa memercayai apa yang kaukatakan, tetapi aku tahu kau benar satu keturunan denganku, Tellaura.


“Mungkin agak sulit diterima olehmu, tapi firasatku sering benar. Itulah yang kurasakan setelah melihat matamu. Oleh karena itu, mendekatlah!”


“Ba-baik, Paduka Ratu!” saat Tellaura mendekat, Sang Ratu menyodorkan anting bulan yang dikenakan di telinga kirinya. “A-anting ini...? Jadi dia tadi itu Pangeran...?”


“Pakailah ini. Jika kau benar-benar bisa bersihir di dunia ini, maka seharusnya kau pun bisa melihat kebenaran yang ingin kaudapatkan dariku. Selama ini benda itu hanyalah hiasan, karena aku tidak pernah melihat apapun, kendati semua yang kuketahui tentangnya dari semua leluhur-leluhurku.”


“Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Paduka Ratu.” Saat Tellaura memakainya di telinga kanan, anting bulan tersebut segera bersinar—memaksa semua yang ada di sana menutup mata.


“A-apa yang—?!” seru Amanda.


Tidak seperti Tellaura yang seakan melihat sesuatu karena matanya terpaku pada satu titik, Amanda dan Gerard saling tatap—tak mengerti apa yang sedang terjadi. “Jangan-jangan, semua yang dikatakan leluhurku bukanlah hanya dongeng belaka?!” gumam Amanda.


Beberapa saat kemudian, sinar yang menyilaukan mata itu meredup, Tellaura segera terjatuh lemas.


“Hei! Apa yang terjadi?!” Sang Raja terpaksa membantu Tellaura bangun.


“Ma-maafkan aku, Paduka... maaf, tapi....


“Aku melihat pohon yang sangat ... sangat ... saaangat besar, Naga, Raksasa, juga ... Peri....”


Amanda mengernyit. “Segera bawa dia ke ruang kesehatan. Aku akan memanggil Levant.”


“Ba-baiklah!” Sang Raja segera berteriak meminta para penjaga pintu takhta untuk membantunya membawa Tellaura yang lemas.


“Cerita turun-temurun yang seharusnya hanya diketahui Levant dan beberapa keluarga kerajaan saja, dia juga...?


“Haaah....


“Oh, Ibu... apa yang sudah kuperbuat padamu sehingga kau memberikan cobaan Ratu seperti ini..


?!”


.


.


.


.


Seorang kepala keluarga Levant berambut pirang dan bermata hijau menghadap. Amanda segera menceritakan tentang Tellaura padanya.


“Bagaimana menurutmu, Wiseman?” tanya Amanda.


Pria yang sudah berusia lanjut itu singkat menjawab, “Bersiaplah untuk perubahan dunia.” Dia segera meninggalkan ruang takhta begitu saja.


“Pe-perubahan dunia?


“Apa maksudmu dengan itu?


“Hei, Wiseman!


“....


“Tsk. Kenapa namanya Wise disaat dia selalu pelit tentang hal seperti ini? Sialan!”


Tak lama kemudian, seorang penjaga pintu melapor kalau putranya, Leon Aurora IX, ingin menghadapnya.


“Biarkan dia masuk!” seru Amanda lantang.


Setelah putranya yang berambut pirang dan bermata biru tersebut memasuki ruang takhta, dia segera bertanya, “Apa Anda sudah bertemu dengan tamu pribadi Anda, Yang Mulia?”


“Apa maumu, Putraku?” tanya Amanda langsung ke intinya.


“Ya!” Sang Putra segera bertekuk lutut, “Izinkan saya untuk bertemu dengan tamu pribadi Anda itu.”


“Setelah bertemu, ingin apa? Dia hanyalah rakyat jelata dan datang dari desa terjauh sekerajaan ini.”


“Ini mungkin sepele untuk Anda, Yang Mulia, tetapi aku ingin lebih mengenal kerajaan ini.”


Amanda terdiam sebentar. “Kau benar, sudah waktunya kau mengenal lebih banyak tentang kerajaan ini. Baiklah, kuizinkan, tetapi ingatlah untuk selalu jaga kehormatanmu!”


“Terima kasih atas kebaikan Anda, Yang Mulia.


“Kalau begitu, izinkan aku untuk undur diri.”

__ADS_1


Tatkala putra tunggalnya angkat kaki, Amanda membatin, “Apakah ini sudah menjadi langkah yang tepat untuk kuambil...?” dia juga memasang wajah murung. “Apa ini juga karmaku karena hanya memedulikan area dalam kerajaan saja...?”


__ADS_2