
“Novalius de Dormant! Aku tahu kau dibalik sana! Sekarang, bersikaplah seperti pria dan katakan apa maumu!” Azure mengucapkannya secara lantang.
“Tu-Tuan Nova...?” Zeeta memutar badannya, setelah kakaknya melepas dekapan.
Tak lama kemudian, sosok yang dipanggil itu menampakkan wujudnya. Ia masuk ke dalam ruang dengan awkward-nya. “Se-selamat petang, Tuan Putri sekalian...,” sapa sang calon Count Wilayah Utara.
Zeeta mengusap tangisnya. “Ada perlu apa kau kemari, Tuan?” tanyanya. Ia berlagak seperti tak terjadi apa-apa.
Novalius menunduk. “A-aku hanya ....”
Kedua Tuan Putri di sana menunggu lanjutan ucapannya.
Namun, terlanjur kesal karena tak dilanjut-lanjut, Azure membentaknya dibarengi dengan hentakan kaki. “Cepatlah! Saat ini kita sedang berpacu dengan waktu! Segera katakan apa perlumu!”
“Y-ya, baiklah...,” jawab Novalius, “Tuan Putri Zeeta, tolong terimalah permintaan maaf dariku!” ia kemudian menyodorkan sebuket bunga anyelir padanya—yang telah ia sembunyikan di belakang punggung. Bahkan, untuk seorang Azure pun, ia tak menduganya.
“Aku...,” sambung Novalius, “aku sadar jika aku benar-benar egois, bodoh, tidak tahu diri, dan tidak memikirkan perasaanmu yang selalu mengutamakan kami, sampai mengatakan hal yang membuatmu tersakiti.
“Kau yang selalu berjuang hingga mempertaruhkan nyawa sejak kecil, hingga sekarang pun tetap tidak berubah. Sebagai bangsawan, aku malu terhadap perbuatanku.
“Aku sudah menerima tamparan hati maupun fisik dari rekan-rekanku, jadi ... aku telah menyesali perbuatanku dan tidak akan mengulanginya!”
“Dih ... ide dari siapa dia membawa bunga sebagai tanda permintaan maaf?!” batin Azure yang sedari tadi bolak-balik melirik bunga dan mata Zeeta, “Apa jangan-jangan lelaki ini...?!
“Tidak tidak tidak! Ini adalah kebangsawanan. Hanya sekadar bunga, tidak mungkin mewakili perasaan se-seperti ci-cin ...."
Wajah Azure merona merah tanpa disadari dua bangsawan lain.
“Ta-tapi!
“Tetap saja itu adalah bunga!
“Sekarang, apa jawabanmu, Zeeta?!”
Azure melirik Zeeta sambil menelan liurnya. Tak disangka, adiknya tersenyum, hingga akhirnya membuatnya terbelalak. Amat sangat terbelalak. “Baiklah,” kata Zeeta, “kuterima permintaan maafmu!”
Senyum sumringah langsung terpasang di wajah Novalius. Sedikit rona merah di pipi juga terlihat.
“Tapi, aku tidak akan menerima bunga itu,” sambung Zeeta, yang membuat Novalius seperti tersambar petir, sekaligus jatuh ke kedalaman jurang.
“Ji-jika aku boleh tahu, Tuan Putri...,” gagap Novalius, “kenapa...?”
“Kenapa...?” Zeeta dibuat mengernyit. Ia pun memiringkan kepala. “Bunga seperti ini ... aku pun bisa membuatnya. Memangnya bunganya harus kuapakan?” jawabannya memaksa Novalius semakin retak.
“Bwh—
“Bwahahahaha!”
Azure tertawa dengan puasnya. Lantang pula.
“Ka-Kak Azure?!" Zeeta kaget. "Kenapa tiba-tiba...?”
“Hahahaha, tidak tidak. Bukan apa-apa.” Ia kemudian melingkarkan lengan di leher Zeeta lalu menariknya keluar. “Aku hanya tersadar bahwa perjalananmu untuk menjadi peka MASIHLAH sangat panjang!” keduanya meninggalkan Novalius yang perlahan terbang setelah menjadi debu.
“Peka?
“Kasar sekali.
“Begini-begini aku peka, loh.
“Soalnya aku bisa merasakan mana orang dari kejauhan dengan tepat, bukankah itu disebut kepekaan?”
“Haaah....” Azure menghela napas panjang. “Aku harap kau terus seperti ini. Selalu ... dan kapanpun.”
“Mmmh?" Zeeta cemberut. "Kenapa aku merasa itu sebuah sindiran?
“Ah! Tuan Nova, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu sampai mematung begitu, tapi segeralah berkumpul di istana, ya!”
......................
Lima belas menit telah berlalu, orang-orang penting yang selalu terjun untuk menjalankan misi telah berkumpul. Selain Crescent Void dan bangsawan utama, ada juga makhluk sihir yang juga berkumpul di ruang takhta. Mereka adalah Sang Naga, Elbrecht, Si Raksasa, Ozy, para Elf yang diwakili oleh Aria, Volten Sisters, dan Lloyd. Sebagai tamu, juga hadir Klutzie bersama Siren.
Kecuali Elbrecht, Ozy, para Elf,, dan Siren, mereka berlutut di hadapan Ratu dan Raja Aurora. Tidak membedakan diri, Zeeta yang bersama Luna, termasuk Azure, juga melakukannya. Mereka hendak membahas apa yang baru saja mereka temukan.
Di sana, Hazell dan Alicia sedang membaca laporan Suzy mengenai informasi dan tujuan terbaru mereka sampai harus mengundang Klutzie. Tak membuang waktu lagi, Alicia segera menyatakan, “Kita akan mulai membahas apa yang akan kita lakukan. Namun pertama, kita harus mengumpulkan informasi mengenai negeri timur ini.
__ADS_1
"Pangeran Klutzie, melalui geografisnya, Nebula dan negeri timur ini dipisahkan dengan lautan. Apa kautahu nama negeri tersebut?”
“Ya, Yang Mulia,” jawab Klutzie, “sebelum menghadap Anda, aku sudah mencari informasinya.
“Negeri itu bernama kekaisaran Seiryuu, sebuah negeri yang kebudayaannya kental terhadap Naga.”
“Oh...?” Elbrecht tertarik mendengarnya.
“Kekaisaran itu dipimpin oleh Kaisar Zero Akihiro, Permaisuri-nya adalah Azusa Akihiro, Putra Mahkota-nya adalah Arata Akihiro, sementara adiknya adalah Hitomi Reiko.
“Selama ini, tidak terdengarnya informasi apapun mengenai kekaisaran tersebut, dikarenakan mereka sedang dalam percobaan menciptakan manusia terkuat sepanjang sejarah dengan menyatukan berbagai DNA dari makhluk sihir ke satu subjek.”
“Apa katamu?!" Alicia mengernyit. “Bagaimana bisa hal itu dilakukan?”
“Tentu saja bisa dilakukan, Ratu,” ujar Ashley, memotong Klutzie.
“Ashley? Kautahu sesuatu?”
“Pangeran, biarkan aku bicara," sahut Ashley sebelum kembali berucap, yang lantas mendapat anggukan Klutzie. "Suatu saat dalam masa mudaku, aku pernah belajar di sana. Apa yang kupelajari adalah pengendalian tenaga dalam yang disebut sebagai ‘ki’.
“Kalau informasi yang pernah kutemukan di sana masih berlaku, DNA yang dimaksud tidak seperti yang kita bayangkan.
“Sederhananya, kuberi contoh. Jika A memiliki kecocokan tertentu, A jadi bisa menggunakan kekuatan B. Caranya....
“Adalah dengan mengekstrak seluruh tenaga dari makhluk yang dimaksud ke subjek yang diinginkan.”
Semua yang mendengar terkejut.
“Lalu, apa bedanya dengan yang kaugunakan selama ini?” tanya Hazell.
“Secara garis besar, kurasa tidak ada bedanya, Rajaku. Namun, perlu dicatat, pengekstrakan itu dilakukan secara rahasia dan aku tidak pernah mengetahui seperti apa detailnya.
“Intinya, penduduk negeri timur tidaklah banyak yang menggunakan sihir, melainkan dengan tenaga dalam tersebut.
“Sebagai salah satu yang bisa menggunakan ki, daya kekuatannya tidaklah kalah dengan sihir.
“Apa perlu kuberi contoh?”
Alicia memegangi dagunya. Ia berpikir. Kemudian, dia melirik Zeeta. “Zeeta.” Satu ucapan darinya langsung dimengerti.
“Kusarankan kaukerahkan pertahananmu. Aku akan serius,” kata Ashley. Ia lalu berkuda-kuda.
Zeeta mengatur napasnya dan memposekan tangannya seperti huruf ‘X’.
Saat ia berkuda-kuda, kedua tangannya ditarik ke belakang. Aura merah kejinggaan melapisi Ashley tak lama kemudian. Setelah itu, aura itu terkumpul di kepalan kanannya.
‘SWWHSSH!’
Alicia dalam sekejap muncul di hadapan Zeeta, lalu....
‘BWUUMMM!’
Percikan merah kejinggaan tersebar ke belakang Zeeta setelah pukulan keras mendarat di tangannya. Zeeta dibuat terseret mundur dan dinding ruang hancur berantakan. Saksi matanya dibuat menganga, tak mampu mengucap sepatah katapun.
“Perlu kalian tahu, masih ada orang di kekaisaran Seiryuu yang lebih kuat dari ini,” pungkas Ashley, kembali ke sisi kanan, dimana bangsawan utama, Elbrecht, Ozy, dan Aria berbaris.
“Zee ... Zeeta dibuat terseret mundur...?” Danny tak percaya melihatnya.
“Adudududuh....” Zeeta mengibas-ibaskan kedua tangannya.
“Sekuat itukah, pukulannya?” tanya Luna pada Zeeta.
“Ya... aku sangat tak menduganya.” Zeeta kemudian pergi ke dinding yang hancur dan mengembalikannya seperti semula, lalu kembali berlutut.
Alicia menutup mata sesaat. Kemudian, “Jika ada yang ingin ditambahkan, katakanlah sekarang.”
Azure langsung bicara. “Yang Mulia.”
“Oh?”
“Jika dugaanku benar, Hitomi Reiko adalah Benih Yggdrasil yang ketiga.”
Semua yang mendengar mengernyit. Azure langsung menceritakan pengalamannya tiga tahun lalu saat bertemu pelayan klasik bernama Asteria.
“Menciptakan dimensi, katamu?!” Alicia sangat terkejut mendengarnya hingga berdiri tersentak. “Tapi, itu adalah sihir yang hanya sedikit orang bisa menguasainya! Bahkan ibuku pun tidak bisa menguasainya, dan kau melihat seorang pelayan mampu melakukannya?!”
__ADS_1
“Ya, Yang Mulia,” jawab Azure.
Zeeta dalam tunduknya merasa ada yang janggal.
“Cih....” Alicia kembali duduk. “Dinilai darimana pun, terlalu berbahaya untuk merebut tiga Batu Jiwa ini dari mereka. Terlebih, jika dilihat dari situasinya, tiga Batu Jiwa yang telah mereka dapat, sebelumnya pasti memiliki penjaganya sendiri.
“Kalau kita ikut melakukan tindakan layaknya Seiryuu, meski dengan alasan ingin melindunginya, sudah pasti kita terancam oleh ancaman yang tidak perlu.
“Tapi ... bagaimana kita bisa mengamankannya?”
“Tentu saja dengan Rune.”
“Rune.”
Zeeta dan Ozy menjawabnya bersamaan.
“A-apakah itu mungkin dilakukan?” tanya Hazell.
“Secara teori bisa,” balas Ozy. “Tetapi yang kita hadapi adalah negeri dengan kebudayaan Naga. Ada kemungkinan mereka memiliki cara tersembunyi untuk menangkal Rune.” Ozy melirik Elbrecht.
Zeeta bungkam dengan raut wajahnya yang masam.
“Bisakah kau menjelaskan apa maksudnya?” tanya Hazell.
“Rune adalah sihir kuno yang menjadi keahlian khusus Raksasa,” jawab Ozy, “tapi, sama seperti Raksasa, ras lain pun memiliki keahliannya sendiri, seperti yang pernah kausaksikan sendiri. Dwarf, Elf, bahkan Peri yang ahli dalam keisengannya.
“Bahkan kini, Manusia pun memiliki kekuatan lain selain mana. Itu tidaklah mengejutkan lagi.
“Sejak dahulu, Raksasa dan Naga sering bertempur, meski alasannya sepele. Tidak pernah ada korban jiwa, tetapi dampaknya amatlah besar. Kalian tahu sendiri kekuatan Rune seperti apa setelah Zeeta bisa memakainya, tetapi Naga ... harus kuakui bisa lebih kuat dari Rune itu sendiri. Karena pada dasarnya....”
“Naga adalah ras terkuat,” tukas Elbrecht.
Semuanya terdiam, tetapi kemudian seseorang berdiri dari berlututnya dan bertanya. Dia adalah Azure. “Terkuat? Lalu kenapa saat melawan Phantasmal dan Hollow yang menyerang Aurora sembilan tahun lalu, kau harus diselamatkan Manusia?”
“Aku tidak menyangkal jika kau benar," jawab Elbrecht, "tetapi sudah beratus-ratus tahun aku tak bertarung dan hidup dalam tubuh semu ini.”
“Sulit diterima untukmu,” timpal Ozy, “tapi jika Naga serius, Azure, mereka bisa dengan mudah menghancurkan sebuah benua. Bahkan tanah yang sekarang kauinjak ini juga sudah berubah karena pertarungan Raksasa dan Naga.
“Intinya, kita tidak boleh lengah saat berhadapan dengan negeri itu.”
Zeeta kemudian bertanya. “Anu... Yang Mulia?”
“Zeeta? Ada apa?” tanya Alicia.
“Izinkan aku bertanya pada Elbrecht.”
“Umu. Kuizinkan.”
Zeeta berdiri, mendekat ke arah Gerda, lalu membisikinya, “Kupinjam ini sebentar.” Ia langsung mendapat anggukan.
“Elbrecht,” sambung Zeeta, “bagaimana tanggapanmu jika mereka berhadapan dengan ini?”
Elbreht menyipit. “Aku tidak yakin sebelum melihat mereka sendiri, tetapi tak ada salahnya sebagai kartu AS.”
Senyum sumringah langsung terukir pada semua orang.
Zeeta bertolak pinggang di hadapan Crescent Void. “Bagaimana? Semua persiapan kalian itu jadi sangat berguna, bukan?” ia mengatakannya dengan seringai.
Crescent Void hanya bisa tertawa menanggapinya.
“Tapi!” suara menggelegar Elbrecht langsung membisukan seluruh tawa.“Ingatlah sumpah kalian pada adikku dan si penempa!”
“Baik!” jawab Crescent Void bersamaan.
Alicia langsung menguasai pembicaraan lagi. Ia segera memberi perintah. “Dengan ini, kuberikan kalian yang ada di sini misi!
“Bentuklah tim yang terdapat satu orang anggota Crescent Void. Masing-masing dari tim menuju titik dimana saja Batu Jiwa berada, dan jika kalian menghadapi hambatan dari Seiryuu, kuizinkan kalian menggunakan nama Aurora untuk melawan mereka!
“Setelah diamankan, segera hubungi Zeeta atau Ozy agar Batu Jiwa agar itu bisa dilindungi dengan Rune, bila perlu.
“Karena ini akan menjadi misi ekspedisi, ingatlah untuk selalu memberi situasi terbaru kalian setiap tiga hari.
“Albert, Ashley, kuserahkan pembagian tim pada kalian.
“Sekian dan segera laksanakan!”
__ADS_1
“Dimengerti, Yang Mulia!” jawab mereka semua bersamaan.