
"Hidup adalah hal yang sakral. Itu tidak bisa dipandang sebagai hitam dan putih saja, Hugo."
Hugo terbelalak. Dia sangat kenal suara ini. Suara yang begitu dirindukan dan amat dicintainya.
"Ap... Ap...." Jewel pun tak mampu mengeluarkan kata-katanya. Perasaannya pada suara yang didengar serupa dengan adiknya.
"Hidupmu setelah waktu yang kelam itu ... tawa, tangis, juga marahmu ... berarti kau hidup demiku, Lucy, dan Jewel.
"Karena aku, sebagai ibumu, sangatlah bersyukur bahwa kau masih hidup!"
Kedatangan Lucy alias Marianna, mengejutkan kedua Elf tersebut. Mana yang sama sekali tak bisa dirasakan, ataupun suara langkah kaki, juga ikut didalam rasa kejutnya.
“I-I... Ibu...?” Jewel untuk yang kesekiannya meneteskan air mata. “Benarkah ini dirimu ... Ibu...?”
“Zeeta sudah memberitahukannya padamu, ‘kan, soal aku? Kau juga telah mendengarnya dari adikmu,” balas Marianna.
“Ta-tapi bagaimana...? I… Ibu kan hanyalah....” Jewel tak menghabiskan ucapannya.
“Jika dibicarakan akan panjang, jadi aku akan menunjukkannya pada kalian. Lihatlah mataku!”
Kala keduanya melihat mata Marianna, mereka melihat suatu ingatan yang dimilikinya.
......................
Sebuah pandangan memperlihatkan seorang wanita berambut merah keriting yang menyerupai “bor” dan seorang berambut emas panjang yang terurai melihat ke bawah. Di sekeliling dua wanita itu terdapat pula ratusan orang yang melihat secara melingkar. Kedua wanita dan ratusan orang tersebut memandangi satu orang yang tak mampu bergerak, Marianna. Tampaknya, mereka sedang berada di tempat eksekusi. Pandangan itu dilihat oleh Jewel dan Hugo, yang berasal dari ingatan sang ibu.
Seorang pria tua datang ke area eksekusi. Ia hendak mendakwa Marianna. "Marianna Aurora!" serunya, "para bangsawan, bangsawan utama, termasuk Ratu Julia Aurora XIII telah memutuskan.
"Bahwasannya, tindakan Anda adalah tindakan tak berharga diri sebagai seorang bangsawan kerajaan, juga termasuk sebagai bentuk pengkhianatan terhadap negeri, karena Anda selalu bungkam tentang hal tabu yang telah dilakukan. Apapun alasan Anda, Peri adalah makhluk yang telah memberikan leluhur Anda, Clarissa Aurora IX, kekuatan sihir.
"Memiliki keturunan dengan Peri yang telah memberikan kita, Manusia, kekuatan agung seperti saat ini ... tidakkah Anda sadar betapa memalukannya Anda sebagai bangsawan kerajaan?!”
“Hei, hei... dia adalah ayah Putri Mary, Tuan Elhart Braze, ‘kan? Apa dia serius ingin mendakwa putrinya sendiri?” tanya rakyat A.
“Apa kau bodoh? Kalau tidak seperti ini, mana bisa kita percaya lagi pada mereka! Justru bagus kalau dia tidak segan pada anaknya sendiri!” balas rakyat B.
“Tapi ... apa Putri Mary yang kita kenal pemalu, pendiam, tetapi selalu ingin tahu itu berani melakukan hal tabu ini...?” tanya rakyat C.
“Tidakkah kau dengar apa kata Tuan Elhart? Apapun alasannya, dia bersalah!” balas rakyat B.
“Dengan ini...,” Elhart menyambung dakwanya, “kerajaan Aurora telah memutuskan hukuman pada Anda. Sebagai hukuman telah bungkam terhadap masalah ini, Marianna Aurora, mulai saat ini, status Anda sebagai Tuan Putri kerajaan akan dicabut, dan kerajaan akan menandaimu sebagai orang paling tabu dan memalukan sekerajaan!
“Lalu, sebagai hukuman pada hal tabu yang telah Anda lakukan....
"Kerajaan telah memutuskan, untuk memberikan hukuman eksekusi waktu.”
“Eh? Eksekusi waktu...? Apa-apaan itu?” para rakyat tidak mengerti.
“Ratu Julia Aurora XIII bersama Nona Audrey Alexandrita X, telah membuat sihir hukuman ini. Sihir ini adalah sihir yang akan menyita, menyandera, serta menyiksa waktu yang dimiliki terdakwa.
“Waktu adalah hal yang berharga untuk tiap makhluk. Waktu adalah harta karun. Terdakwa akan masuk ke dunia dimana waktu tidaklah berarti. Tidak ada yang bisa menemukan, bicara, atau menghabiskan waktu denganmu. Anda juga tidak akan mampu keluar darinya.
“Dengan kata lain, waktu yang dimiliki tubuh, jiwa, dan mental Anda akan dikurung dalam sihir itu untuk waktu yang tidak terbatas.”
“Begitu, ya, jadi Put—tidak, maksudku Mary, hukumannya sama saja dengan hukuman mati. Keberadaannya tidak lagi ada di dunia ini!” ujar rakyat B.
Sementara itu, Marianna yang sedang didakwa sama sekali tidak berkutik. Dengan borgol rantai yang diikat pada kaki dan tangannya, dia tak berkutik, ataupun protes, meskipun ayahnya sendiri yang mendakwa. Tidak hanya tak berkutik saja, dia justru tersenyum.
“Syukurlah. Mereka bertiga tidak disangkutpautkan pada masalah ini. Aku tak peduli pada apa yang terjadi padaku, atau apapun yang dikatakan mereka, meski itu keluargaku sendiri. Aku tahu akhir ini akan terjadi padaku. Setidaknya Audrey... kuharap kaubisa menepati janjimu padaku, bahwa suatu saat nanti....
“Elf benar-benar akan menjadi sekutu Aurora dan membantu mengubah nasib dunia, meskipun hanya sedikit kemungkinannya....
“Selamat tinggal, Lucy, Jewel, Hugo…. Ibu … mencintai kalian!”
Marianna benar-benar sudah siap berpisah dengan orang-orang yang dicintainya, sampai suatu ketika....
......................
“Haaah ... haah... haah....” Tiga anak kecil berlari sekencang yang mereka mampu. Walau mereka tak beralas kaki, itu tak mengubah kecepatan dan betapa takutnya wajah mereka. Marianna tiba-tiba melihat pemandangan ini.
“Anak-anak…?! Kenapa mereka di luar Hutan Sihir Agung?”
“Kak Lucy ... kenapa Manusia-Manusia itu mengejar kita?” tanya Jewel yang menggandeng Lucy dan Hugo. Ia berlari di sebelah kiri.
“Ap... apa kita melakukan kesalahan...?” tanya Hugo yang berlari di sebelah kanan.
“A-aku juga tidak tahu! Tapi pokoknya, kita harus pulang ke hutan dan temui Maisie!”
“U-uhm!” balas keduanya.
Namun, tiba-tiba....
‘BLARR!’
Sebuah ledakan terjadi di belakang ketiganya, menyebabkan mereka terpental hingga menggelinding dan terpisah dari pegangan tangan satu sama lain.
“Jewel! Hugo!” jerit Lucy yang segera bangun meski lecet di seluruh tubuh, mengecek kondisi adik-adiknya.
“Kak Lucy....” Keduanya berusaha bangun.
“Oi oi.... Apa benar kalian adalah alat yang akan berguna untuk kerajaan? Seonggok anak kecil?” suara seorang pemuda terdengar. Ketiganya menengok ke sumber suara.
Seorang lelaki berkuda dan berjubah dengan emblem daun maple—emblem milik Alexandrita—bersama dengan puluhan pasukan berkuda di belakangnya mengejutkan Jewel, Hugo, dan Lucy. Pasukannya mengacungkan senjata menyerupai senapan pada ketiganya.
Wajah takut segera melukis Jewel dan Hugo. “Ka... Kak Lucy...!” jerit keduanya. Lucy menanggapi teriakan itu lalu berlari menghampiri keduanya. Ia merangkul mereka di lengan setelahnya.
__ADS_1
“Ke-kenapa kalian mengincar kami...?” Lucy menatap pemuda berjubah itu dengan mengernyit dan sedikit air mata.
“HAAHHH?!” suara pemuda itu membuat Jewel dan Hugo takut.
“Tenanglah kalian berdua, aku pasti akan melindungi kalian!” Lucy berusaha menangkan adiknya.
“Apa-apaan tatapan itu, dasar makhluk aneh?! Kalian ini hanyalah alat, dan aku adalah BANGSAWAN yang dipercaya Nona Audrey sebagai komandan pasukannya untuk menjemput kalian! Aku tak suka tatapan itu dan kalian tidak menunjukkan sopan santun pada BANGSAWAN sepertiku!
“Ah ... sekarang aku mengerti maksud Nona Audrey. Alasannya memerintahku ‘menjemput’ kalian pasti maksudnya ‘menjemput kalian pada ajal’!
"Ya, sudah pasti itu!”
Lucy segera merasa bahaya yang mengancam ketiganya, kemudian langsung memaksa kedua adiknya berdiri. “Larilah, kalian berdua! Apapun yang terjadi, larilah!”
Jewel dan Hugo mulai menangis tersedu-sedu, kemudian berlari meninggalkan Lucy sendiri. Sementara itu, sebagai seorang kakak yang memegang janji pada ibunya, Lucy membajakan diri dan menatap marah Manusia di hadapannya, sebelum akhirnya menyusul adik-adiknya.
“Kalian pikir kalian bisa pergi begitu saja setelah menghinaku dengan tatapan itu, hah?!” pemuda itu mewujudkan lingkaran sihir di belakangnya. Ukurannya membuat para pasukan tak percaya.
“Tu-Tuan Bors! Mereka hanya anak kecil, haruskah Anda menyia-nyiakan sihir Anda sebanyak ini?” tanya salah satu pasukannya.
“Mereka adalah alat yang dihasilkan Putri Marianna. Siapa yang tahu yang bisa dilakukan mereka? Nona Audrey bilang mereka akan menjadi rekan baik untuk kerajaan, tapi dia pasti salah!
"Rekan Aurora yang Agung tak boleh memiliki kehendak untuk melawan seperti anak itu!”
Para prajurit hanya bisa bungkam dan mengalihkan pandangan mereka, sementara ketiga Elf kecil terus berlari.
“Rasakan ini, dasar makhluk hina!” Bors melancarkan serangan bola sihir petir pada ketiganya.
Lucy tidak tinggal diam begitu bola sihirnya mendekati mereka. Ia mendorong tangan kedua adiknya ke depan agar terdorong, membalik tubuhnya ke belakang, kemudian membalikkan bola sihir itu pada tuannya, lalu kembali menarik tangan kedua adiknya untuk terus lari.
“Sudah kuduga! Pasukan, kejar tiga makhluk itu dan jangan beri mereka ampun! Begitu kalian temukan mereka, segera tembak!” perintah Bors.
“Baik!” pasukan berkuda itu segera berpencar.
Tembakan demi tembakan, ledakan demi ledakan, terus menghantui pelarian ketiga Elf cilik. Lucy yang terus melindungi kedua adiknya kini sudah bersimbah darah. Kening, kaki, terutama tangan yang selalu digunakan untuk menangkis, begitu banyak darahnya. Mereka terus lari dan terus berlari, hingga sekarang mereka berlindung dibalik sebuah pohon raksasa.
“Kak Lucy... kau berdarah banyak sekali....” Hugo menangis.
“Ak... aku juga akan ikut melawan!” seru Jewel.
“Tidak! Tidak boleh!” tukas Lucy. Kening yang berdarah dan memaksa Lucy memejamkan sebelah matanya itu sempat menakuti Jewel. “Kita sudah sampai! Di sana sudah menjadi wilayah Astray Land. Mereka takkan bisa mendekat lagi jika kita berhasil masuk!
“Jangan sia-siakan sihirmu pada mereka atau mereka akan mempelajari sihir itu untuk membalas!”
“Ke-kenapa mereka akan membalas?! Mereka yang memulai semua ini dan lagi pula kita sama sekali tidak salah!”
“Pokoknya dengarkan aku dan turuti kataku, Jewel, Hugo!
“Aku sudah berjanji pada ibu untuk melindungi kalian! Apapun yang terjadi aku akan melindungi kalian! Meskipun aku kehilangan tangan, kaki, ataupun nyawa... aku... kakakmu akan melindungi kalian, karena aku sudah berjanji!
“Apa yang selalu ibu katakan padaku, kakak haruslah melindungi adiknya. Ibu juga bilang, adik harus menerima perlindungan itu dan bahagia demi kakaknya.
“Berjanjilah padaku, adik-adikku. Hiduplah demi kebahagiaan kalian, karena itu juga akan membuatku bahagia....
“Urk….” Lucy mengerang sakit.
“Kak Lucy....” Jewel dan Hugo tidak berhenti menangis. Namun tangis itu tak diizinkan berlanjut lebih lama.
“Itu mereka!” para pasukan berkuda menemukan mereka. Ketiga Elf segera berdiri dan bersiap untuk berlari.
“Apa-apaan pohon ini?” Bors datang belakangan. Ia mencoba melihat ujung pohon, namun usahanya sia-sia. “Kenapa pohon sebesar ini tidak terlihat dari luar? Ah, masa bodoh dengan itu! Apa yang kalian lakukan? Segera tembak mati mereka!”
“Baik!”
‘PEW! PEW! PEW!’
Tembakan demi tembakan dari senapan, bersama dengan tembakan dari sihir, dilancarkan oleh para pasukan.
“Ayo, Kak Lucy!” Jewel menarik tangan Lucy, namun Lucy malah membatu. “Kak Lucy?”
“Jewel, aku berubah pikiran. Jika begini terus, kurasa ini takkan ada akhirnya. Bila kita masuk ke Astray Land, masih ada kemungkinan Manusia bernama Bors itu sadar tentang keanehannya.
“Pergilah bersama Hugo, aku akan menghabisi mereka.”
Keduanya terkejut. Mereka terbelalak akan tatapan serius Lucy.
“Tidak! Sebentar lagi kita bisa selamat bertiga! Kamu tidak harus melakukannya, Kak Lucy!”
“Sudah kubilang, aku akan melindungi kalian. Aku tak berniat untuk meninggalkan kalian, tenang saja.”
“....”
“Baiklah!”
“Ka-Kak Jewel?!” Hugo tidak menyangka kakak keduanya justru satu suara.
“Tapi pastikan kamu kembali! Jika kamu tidak kembali dalam lima menit, aku akan menyusulmu!”
Lucy diam. Ia menundukkan kepala. “Larilah, Jewel! Sekarang! Larilah dan jangan lihat ke belakang!”
“Ayo, Hugo!” Jewel menarik tangan Hugo.
“Cih, pohon yang keras kepala sekali! Sihir kuat pun tak menggoresnya!” geram Bors.
“Itu mereka! Mereka lari! Kejar! Kejar! Kejar!” salah seorang pasukan mendapati Hugo dan Jewel lari bergandengan tangan.
__ADS_1
“Selamat... ya...?” gumam Lucy, “aku juga menginginkannya....
“Aku tak menduga sihirnya sekuat ini... rasanya aku ingin menangis sekuat tenaga. Tanganku sakit sekali. Kakiku seperti ditusuk, kepalaku pun pusing....
“Maaf, ya, Ibu....
“Maaf, ya, Hugo, Jewel.... Kita akan berpisah.” Tak lama kemudian, Lucy terjatuh begitu saja dalam posisi telungkup.
Sekali lagi Elf-Elf itu dikejar dan dihantui tembakan dan ledakan. Mereka terus berlari hingga akhrinya….
‘BWUMM!’
“Aaaaah!” keduanya terlempar oleh ledakan sihir dari belakang dan berakhir terbanting di sebuah pohon Chronos. Jewel melindungi Hugo dengan punggungnya. Dari posisi mereka sekarang, mereka dapat melihat puluhan pasukan berkuda itu masih mengejar mereka.
“Kak Jewel....” Hugo mendekap Jewel.
“Tenanglah, aku pasti melindungimu, sama seperti yang Kak Lucy lakukan.” Jewel ikut mendekap Hugo.
Tak lama kemudian....
“U-uwaaah!”
Keduanya terjungkal ke belakang. Mereka masuk ke dalam pohon Chronos.
“A-apa yang terjadi?!” Jewel mencoba menyentuh sekelilingnya. “Po-pohon?” kemudian keduanya bisa melihat apa yang terjadi dari dalam, yang segera membuat mata mereka terbelalak.
“Ka... Kak Lu... cy...?” gumam Jewel. Sementara itu Hugo bergetar ketakutan dan terbelalak dengan tangisnya.
“Cih! Mereka berhasil lolos, kah?!” kata Bors, “yah, biarlah. Yang penting kita sudah mendapatkan anak hina satu ini. Ayo kembali, dan tunjukkan hasil kemenangan ini pada Nona Audrey!”
Jewel dan Hugo melihat Lucy terkapar lemas dengan posisi telungkup di atas kuda milik Bors. Ia tak menunjukkan tanda-tanda gerak.
“Mereka....” Tatapan Jewel berubah. Benci. Tatapannya kini dipenuhi kebencian. “Mereka telah membunuhnya! Kkkhh... sialan... Manusia sialan!
“Hugo! Tetaplah di sini! Aku akan membalas perbuatan mereka!”
Jewel yang hendak keluar berusaha menekan pohon, namun tidak bisa. “A-apa?!” ia mencobanya sekali lagi. “Cih... biarkan aku pergi, pohon! Aku tidak bisa membiarkan mereka pergi tanpa membalasnya!” Jewel terus menekan, namun pohon itu tidak berkutik.
“LUCY ADALAH KAKAKKU! MANA BISA AKU TINGGAL DIAM!” bentak Jewel hingga mengejutkan Hugo pula.
Kemudian perlahan, pohon itu membuka diri, membiarkan Jewel pergi, lalu menutupnya lagi—menyembunyikan Hugo. Sementara Hugo yang melihat kakak keduanya ini, terdiam seribu bahasa.
Begitu dirinya keluar, Jewel segera memunculkan bola-bola bermacam warna seperti merah, hijau, biru, kuning, dan hitam dengan kilaunya. Bola itu seukuran genggaman tangan yang berada di belakang punggungnya. Ia mengambil bola berwarna hijau ke depan, kemudian….
‘ZRSHT!’
Puluhan tanah runcing menusuk para pasukan termasuk Bors. Darah membasahi kuda dan seketika membuat mereka ketakutan dan meninggalkan penunggangnya jatuh, tertusuk, atau tetap terbawa di atas punggung. Bors adalah salah satu diantara mereka yang jatuh. Lucy pun juga jatuh.
“Anak kurang ajar...!” berbeda dengan pasukannya yang tertusuk hingga tewas, Bors masih hidup dengan darah yang mengalir dari mulutnya. Ia membentuk telunjuk dan ibu jari kirinya menyerupai pistol. Melihat apa yang hendak dilakukan Bors, Jewel berlari kembali ke pohon, namun....
‘DOR!’
Seketika, Jewel terjatuh dengan luka tembak di perut sebelah kiri.
“KAK JEWEL!” Hugo memukul-mukul pohonnya dari dalam.
Mendengar suara Hugo, Bors terbelalak. “Jadi di situ kalian bersembunyi, hah?! Sudah bagus kalian bersembunyi tapi kalian justru bersedia dibunuh?!
“Baiklah, dengan senang hati kulakukan! Takkan kubiarkan diriku yang hebat ini tewas karena anak kecil kurang ajar seperti kalian!”
‘DOR DOR DOR!’
Hugo yang juga terdengar oleh Jewel, terus menyuruhnya untuk lari. “Larilah, Hugo... lari—“ mendadak tak mendengar suaranya setelah tembakan mengenai pohon, ia terbelalak. Dengan sekuat tenaga yang ia mampu, Jewel membalik wajah.
Tangis kesal Jewel membuat Bors terbahak-bahak. “HAHAHAHA! Wajah itu! Wajah itulah yang pantas ditunjukkan oleh alat!”
Tak lama kemudian, tanpa bisa membalas, Jewelpun menutup mata.
“HAHAHA aku menang! Aku menang! Nona Audrey, kemenangan ini kusembahkan untuk—“
‘KRAAKK’
Kepala Bors terputar 360 derajat. Maisie tak lama datang setelahnya. “Sialan! Aku terlambat! Sangat terlambat! Mary... aku....”
......................
“Laksanakan hukumannya!” perintah Julia.
Melalui Buku Sihir yang muncul dari podium tempat Elhart berdiri, sihir waktu muncul untuk mengeksekusi Marianna. Namun, disaat-saat itulah....
Tanah bergemuruh, langit berguntur. Rakyat mendadak panik, Elhart, Audrey dan Julia terbelalak.
"JULIAA!
"AUDREEYY!
"TAKKAN KUMAAFKAN KALIAN!
"Aku pasti akan membalaskan dendam ini!
"Aku akan mengubah dunia yang sudah rusak ini dengan tanganku sendiri!”
Pandangan Marianna perlahan meredup oleh sesuatu yang menutupi.
"CAMKAN kata-kataku ini untuk kalian juga, Feline, Morgan! Ketika aku kembali, aku pasti akan MEMBINASAKAN semua Peri yang ada di sana!
__ADS_1
"PASTI!"