
"Tombak Suci ... Rhongomyniad...?" Zeeta bertanya dalam tercengangnya. "Apa itu ada hubungannya dengan desa Rhongomyniad?"
"Haha, duh, tentu saja ada," balas Ratu Peri yang baru, Nadéja, "di situlah kau akan mengambil dan mengakhiri semuanya—sesuai ramalannya."
Mendengar kata-kata "sesuai ramalan"—memaksa Zeeta untuk mau tidak mau mengingat kembali penglihatan masa depan dari salah satu kekuatan Rune-nya. Rune tersebut memerlihatkan bahwa kelak, di desa itu, ia akan "dikhianati" oleh banyak orang, termasuk teman-temanya. Mereka semua mengacungkan sihir mereka padanya, kendati semua yang sudah dituntaskannya.
Namun, itu hanyalah serpihan ingatan semata. Zeeta sudah tidak lagi gentar. Sebab sebelum ke sini, ia sudah mendapatkan banyak kekuatan meski itu hanyalah kata-kata, bukan suatu tindakan. Tapi ... itu saja sudah cukup untuknya. Iapun mengatur napas hingga ia merasa bisa lebih leluasa untuk mengutarakan apa yang ada di benaknya.
"Nadéja, apa yang harus kulakukan dengan Rhongomyniad itu?"
"Menghancurkan Drékaheim dan Jötunnheim."
Zeeta mengerutkan dahi. "Menghancurkan...? Maksudnya ... membunuh mereka?"
"Soal itu, bukan aku yang bisa menjawabnya."
"Eh? Apa maksudmu?"
"Peranku yang berdiri saat ini di depanmu dan bicara hanyalah untuk membantumu menuntaskannya."
"Jadi ... katakanlah aku sudah menuntaskannya, setelah itu, apa Ratu Peri yang lain akan menggantikanmu?"
Nadéja tersenyum. "Kita lihat saja nanti."
"Lalu...." Zeeta memandangi bola mana yang ada di belakang Nadéja. "Apa aku boleh tahu untuk apa mana di belakangmu itu?"
"Ah, ini?" Nadéja yang berbicara tatap-tatapan, memutar kaki tiga ratus enam puluh derajat bak seorang penari. "Ini adalah peninggalan Feline untuk kalian para Benih Yggdrasil."
Zeeta mengernyit. Ia lagi-lagi dibuat sesat arah jawaban.
"Kau sudah tahu tentang Vanadust yang membutuhkan banyak sekali mana dari berbagai ras, bukan?" Nadéja memastikan.
Zeeta mengangguk.
"Maka seharusnya kau sudah bisa paham apa guna dari mana ini. Itulah sebabnya, meskipun Feline dan rekan-rekannya selalu membuat Manusia sial, ia selalu menuntaskan perannya kepada Yggdrasil."
Zeeta memandangi lagi sesaat bola mana-nya. Ia memikirkan lagi, apa yang sebenarnya dimaksud Nadéja ... hingga akhirnya ia tersenyum. "Hei, katakanlah Nadéja.... Aku akan memberitahumu apa yang hendak kulakukan setelah Yggdrasil kembali tumbuh. Setelah mendengarnya, aku ingin tahu apakah kau masih mau membantuku?"
Nadéja merasa akan ada pembicaraan serius dari Manusia satu ini....
[Beberapa puluh menit kemudian....]
"Hoaaaammm...." Zeeta meregangkan tubuhnya yang kaku seraya berjalan keluar Hutan Peri dengan santai. Langit sudah menjingga, orang-orang dari desa Lazuli tampak berkumpul di seberang sungai.
"Astaga...." Zeeta tersenyum kecil melihat teman-teman dan para rakyatnya yang menunggu kepulangannya. Tatkala Gerda, sebagai salah satu yang ada di kerumunan melihatnya berjalan santai, ia segera berteriak.
"Zee... taaa...!" pekik Gerda sambil melingkarkan mulutnya dengan kedua telapak tangan agar mengencangkan suaranya. "Apa kau baik-baik sajaaa?" ia kemudian melambaikan tangannya.
"Ya, aku baik!" balas Zeeta yang sama-sama menjerit. Ia kemudian memakai sihir teleportasinya untuk segera muncul di hadapan Gerda. "Maaf membuat kalian khawatir," sambungnya, sembari memegang kedua bahu Gerda.
"Apa Anda benar-benar baik-baik saja, Tuan Putri? para rakyatnya cemas. "Apa Ratu Peri baru itu tidak melakukan apapun pada Anda?"
"Lho? Dari siapa kalian—ah!
"Luna!"
"Apa boleh buat, 'kan?" Luna membela diri, "kedainya hancur setengah, tentu saja semua orang penasaran. Kau bahkan meninggalkan sihirnya di tempat."
"Oh! Begitu, ya. Tenang saja, Ratu Peri ini tidak sekuat Feline—Ratu Peri sebelumnya. Kami hanya saling mempererat hubungan. Kupastikan takkan ada kejadian seperti saat aku kecil lagi."
"Tuan Putri...." Rakyatnya merasa tersentuh.
"Ngomong-ngomong, aku lapar, nih! Ada seseorang yang bersedia memasak untukku?"
"Ya! Tentu saja!"
Gerda dan yang lain, termasuk Arthur, diam saja kala Zeeta pergi bersama rakyatnya untuk memasak. Mereka teringat kembali pada apa yang dikatakan Luna saat menceritakan Nadéja.
"Zeeta sudah jauh semakin kuat," ujar Luna, "terutama tepat setelah ia bertemu dengan dirinya yang lain.
"Anak panah ini ditembakkan dengan serius, juga dengan kekuatan penuh. Walau ia adalah Ratu Peri yang baru saja lahir, kekuatannya diluar nalar, dan dia masih bisa lebih kuat daripada Feline dalam waktu singkat."
Gerda mencengkeram tangannya. Ia ingin mengatakan sesuatu dan sempat ragu, tapi pada akhirnya ia mengucapkannya. "Aku ... melihatnya!" suaranya memancing semua mata padanya.
"Ia yang paling pertama menyadari ada yang janggal—dan aku tahu mungkin itu dari Rune-nya, tapi....
"Zeeta menghentikan anak panah ini dengan satu tangan dan meminimalisir kehancuran dengan membuat medan penghalang untuk melindungi kita. Semuanya begitu cepat, tapi ... aku memang tidak tahu kenapa ... tapi aku bisa melihatnya!"
Luna memejamkan matanya. "Itu wajar, Nak Gerda."
"Eh?"
"Itu berarti Vanadust memang memengaruhi semua penduduk di Galdurheim dan juga merupakan kesempatan bagimu untuk menjadi lebih kuat lagi—untuk membantu Zeeta. Tidak hanya dirimu, tapi semua orang, tidak terkecuali."
__ADS_1
"Hellenia!" seru Arthur.
"I-iya?" Hellenia tersentak.
"Tolong latih aku untuk lebih bisa bersihir!"
Hellenia menatap wajah Arthur. Ia terlihat sudah membulatkan tekadnya.
"Sudah pasti. Tapi, apa kauyakin tidak ingin bersamanya? Dia sekarang—"
"Tidak apa. Zeeta bukanlah seorang yang cengeng dan penakut.
"Zeeta....
"Putriku hanya terlalu menanggung beban yang terlalu besar dan tidak ingin membuat orang-orang di sekitarnya merasa ikut terbebani. Sudah sejak dulu seperti itu."
Bulan tengah purnama, semua orang sudah terlelap di tempat masing-masing. Ada yang menggelar tikar dan saling berbagi selimut, mendirikan tenda, dan lain sebagainya. Tentu, Zeeta sudah mengizinkan rakyatnya untuk pulang, tapi ia tidak bisa menolak permintaan mereka yang ingin menghabiskan malam bersama. Mereka kebanyakan adalah penduduk desa sekitar Lazuli, kota di sekitar kediaman Rey Emeria, dan beberapa dari ibu kota.
Kendati rakyatnya rata-rata sudah dalam lelap, Zeeta sendirian di bangunan tua berlumut—reruntuhan rumah milik Tellaura dan Clarissa dahulu. Ia berdiri bermandikan sinar bulan, menatapnya dengan kosong. Angin kencang serasa bukan menjadi halangannya untuk tetap seperti itu, sampai seorang lelaki menghampirinya.
"Zeeta."
Merasa dipanggil, sang Tuan Putri menoleh. "Oh, hai Danny." Zeeta kembali menatap bulan. "Malam ini aku jadi Manusia biasa. Maaf tidak bisa menyadari kedatanganmu."
"Tidak apa." Ia berdiri di sebelah Zeeta.
"Ada apa?"
Danny tampak ragu untuk mengucapkannya, tetapi ia selalu curi-curi pandang pada Zeeta.
"Hmm?" Zeeta memiringkan kepala. "Kaulihat apa di wajahku?"
"A-ah, tidak.... Aku hanya ... memikirkan banyak hal...." Danny menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Hehe, kita sama." Walau tertawa, Zeeta kembali menatap bulan.
Danny bingung dan bolak-balik memandangi bulan dan wajah Zeeta. Ia tidak mengerti.
"Tenang saja, Dan, aku hanya berpikir dunia ini indah. Lihatlah, betapa cantiknya bulan saat ini."
Danny dibuat terpana oleh mata berbinar Zeeta, ditambah terpaan angin yang meniup rambut peraknya. Ia benar-benar bak bidadari dari kayangan.
"Menurutku kaulah yang lebih cantik, Zee."
"Eh?!" Zeeta terkesiap, melotot ke arah Danny karena terkejut, dan merona merah.
"A-ah, yah... maksudku...." Danny juga sama dibuat memerah, tak sadar ia mengatakannya dengan lantang. "Uhm. Begitulah." Ia memutuskan untuk berani.
"Be... begitu...." Zeeta mendadak merasa canggung. "Terima kasih pujiannya."
"Y-ya...."
Danny tak sanggup dengan diam diantara mereka. Ia mengatur napasnya. "Zee... Zeeta!"
"I-iya?!"
"A-aku tahu kau sedang memikirkan banyak hal, tapi malam ini... khusus malam ini saja, maukah kau mendengarkanku?!"
Wajah merona Danny menyihir Zeeta untuk mematung dan menggagalkan otaknya untuk berpikir jernih. "Bo-boleh. A-apa memangnya?"
"A-aku.... Aku....!"
Suara jantung dari mereka berdua yang sama sekali tidak karuan, membuat suasana tiba-tiba aneh begitu saja.
"Selama ini aku selalu membulatkan tekad untuk menjadi kuat agar bisa selalu melindungi dan membantumu!
"Tapi.... Segiat apapun aku melatih sihirku, aku hanya bisa selalu ada di belakangmu dan pada akhirnya ragu untuk terus bisa mengejar.
"Namun, kau selalu mematahkan keraguanku itu dengan sosokmu yang pantang menyerah apapun situasinya!
"Setelah pertemuanmu dengan Ozy... usai pertarungan pertamamu dengan Hollow... dan bahkan setelah mengalahkan leluhurmu sendiri, kau tetap terlihat berusaha untuk kuat.
"Sebagai lelaki, kalau aku terlihat lebih lemah, itu sangat memalukan. Padahal, aku selalu ingin terlihat keren di matamu...."
Zeeta terkesiap dengan kalimat akhirnya.
Danny memberanikan jantungnya. Ia memegang kedua tangan Zeeta. "E-eeeeh....?" Zeeta bingung dengan apa yang harus dilakukannya.
"A-aku....
"Aku tahu aku jauh lebih lemah dalam bersihir, tapi aku tahu dari semua orang, kaulah yang selalu berjuang! Setiap kali kudengar kau menyembunyikan sesuatu supaya kami tidak khawatir, itu hanya memberi efek sebaliknya!
"Di dunia yang kaudambakan nanti.... Jika semuanya sudah selesai....
__ADS_1
"Zeeta ... a-a.... aku ingin....!"
"Cu-cu-cu-cukup, Dan! Cukuuuupp!" Zeeta mengayun-ayunkan tangannya—berusaha melepaskan diri.
"E-eh...? Ka-kau menola—"
"Bu-bukan begitu! Biarkan aku bicara juga, duh! Kau itu selalu saja!"
"O-ohh.... Ba-baiklah. Maaf...."
Danny melepaskan genggamannya, hingga akhirnya Zeeta bisa mengembalikan napasnya.
"Ehem...." Zeeta berdeham. "Pertama-tama, sejak kapan...?" Zeeta tak sanggup menatap Danny.
"Aku menyadarinya sejak kau menjadi Tuan Putri. Awalnya, aku hanya menganggapmu seperti adik yang harus kulindungi, tapi... saat kau semakin jauh dan terus menjauh, hatiku tak sanggup."
"Hu-hummm.... Su-sudah cukup lama juga, ya.... Tapi, Danny...."
Danny kaget melihat Zeeta yang tiba-tiba berlinang air mata.
"Zee ... Zeeta?!"
"Aku sungguh senang.... Dari lubuk hatiku, aku sungguh senang.
"Kau dan Gerda... sejak sebelum menjadi Tuan Putri, selalu ada di sisiku.
"Danny....
"Aku ... sejujurnya ingin lebih merasakan kebebasan dalam hidupku. Memilih pakaian kesukaanku bersama kak Azure, berlibur bersama sepupuku, berduel dengan Mellynda, menghabiskan waktuku dengan kalian, memasak, dan bahkan jatuh cinta juga.
"Berkatmu, salah satu keinginanku terwujudkan. Aku sebenarnya tadi hanya berpikir satu hal.
"'Sebelum Ragnarok terjadi, setidaknya aku ingin tahu seperti apa rasanya dicintai—seperti apa rasanya menjadi wanita layaknya nona Hellenia yang sudah jatuh cinta dengan ayah Arthur sejak mereka masih sekolah.'
"Tapi Danny....
"Dunia tidak mengizinkanku."
Danny tersambar petir saat itu juga. "Hah...? A... apa maksudmu...?"
"Bisakah kaurahasiakan ini dari yang lain? Ini cukup merepotkan."
"Tergantung dari bahasannya."
"Kalau begitu takkan kuberitahu."
"ZEETA!"
"Tapi, kuberitahu satu hal ini, oh sahabatku Danny. Kapanpun dan dimanapun, aku akan selalu ada—"
Danny segera memeluk Zeeta erat. Ia tak peduli dengan degup jantung atau apapun lagi. Ia sama sekali tidak sanggup melihat wajah yang sedang menahan derita walau saat ini masih menangis.
"Bagikanlah bebanmu itu pada kami, dasar bodoh! Apa kau ...." Danny mengencangkan pelukannya. "Apa kau tidak ingin bersama kami...? Apa kau ingin berpisah dari kami?"
Zeeta menggertak gigi. "Tentu saja tidak ingin, dasar! Aku ini menyayangi kalian semua!
"Tapi....
"Hanya aku di dunia ini yang bisa melakukannya, Danny. Tentang Ragnarok ... tentang semuanya."
"Itu pun tak berarti kau harus melakukannya sendirian! Katakanlah apapun yang harus kami lakukan, kami pasti—"
"Kalau begitu, tersenyumlah. Demi aku."
Danny bergemetar. Ia meneteskan air matanya. Ia tak menyangka momen berharganya—momen mengutarakan perasaannya pada Zeeta—justru berakhir seperti ini.
"Itulah yang selalu KUBENCI darimu, Zeeta!"
Sepasang Manusia itu menoleh ke sumber suara. "Gerda...?" mereka sama-sama melihat pipinya bernasib sama. Ia ternyata ada di dekat mereka selama ini.
"Kau itu cengeng, penakut, tak pernah mau percaya teman-temanmu sendiri, dan selalu tuli pada apa yang telah disampaikan mereka!" Gerda menarik Zeeta dari dekapan Danny.
"Lihatlah ini, dasar gadis bodoh!" Gerda membuka paksa liontin yang sedang dipakainya. Zeeta segera terbelalak dengan foto yang ada di dalamnya.
"Kita semua selalu berjuang untuk mempertahankan senyuman seperti ini, bukan?!" Ia kemudian menarik tangan kakaknya. "Ayo berjuanglah bersama!" Gerda memeluk keduanya erat. Ia menangis yang paling deras diantara ketiganya. "Sejak awal, apapun status kita, kita adalah keluarga yang tumbuh di desa yang sama! Walau jalan akhir itu adalah ketiadaan, setidaknya kita bisa bersama! Itulah yang terpenting!
"Jika kita bisa melindungi senyuman polos, bahagia, dan damai seperti kita pada saat itu, semua sudah cukup sebagai imbalannya, 'kan...?"
Zeeta menghirup air hidungnya kuat. "ITU BENAR SEKALIIII!"
"Ragnarok atau apapun, majulah sini, sialan!!!" seru Danny berapi-api.
"Puh... Bwhahahaha!" ketiganya akhirnya bisa tergelak bersama-sama. Tiada yang menghalangi tawa itu, semuanya melepaskan tawa itu begitu saja, seakan ketiganya baru pertama kali tertawa....
__ADS_1