Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Terbukanya Dua Gerbang


__ADS_3

Myra ... adalah salah seorang keturunan Naga Penempa, Schrutz, dan Naga Perang, Orsted. Kemampuannya yang telah disaksikan banyak orang adalah menempa, serupa seperti yang dilakukan Axel. Tanpa bantuan darinya, senjata suci milik Crescent Void takkan pernah bisa terwujud. Selain itu, ia juga memiliki banyak pengetahuan tentang kehidupan ratusan tahun sebelum Alicia lahir. Luna juga pernah bilang, ia merupakan saksi hidup ketika Aurora kembali bisa memakai sihir di zaman Tellaura dan Clarissa.


Jika demikian, tidaklah aneh bila disebut Myra kenal dengan Raksasa Teladan, Jeanne. Namun, sebenarnya apa hubungan mereka berdua?


.


.


.


.


Setelah Malam Neraka, banyak jiwa-jiwa mati yang dibawa oleh Flakka ke Lembah Kematian. Mereka yang belum tereinkarnasi sejak insiden peperangan antara Manusia dengan makhluk sihir saat menyebrangi Lembahnya, sudah membuat antrian yang begitu panjang, yang melebihi sepuluh kilometer. Kini, berkat kejadian Malam Neraka, itu hanya memperparahnya hingga memaksa para penjaga Tanah Kematian, Edouard dan Belle, harus mengerahkan tenaga ekstra untuk menjaga jiwa-jiwa tersebut agar tidak dapat ditarik paksa ke daratan, atau keluar secara sendiri, dan hal-hal yang tidak diinginkan lainnya.


Sementara mereka sedang melakukan kewajibannya, Jeanne tiba-tiba menyala Belle dengan tawanya, yang kemudian memintanya menghubungi Myra.


......................


"Mari kita lewatkan bagian bagaimana aku bisa bicara denganmu begini," kata Jeanne, yang berbicara pada Myra sambil memegang bahu Belle yang sedang mengakses Bengkel Axel di salah satu "danau pengawas" di Tanah Kematian. Untuk mengaksesnya, Belle membutuhkan tongkat milik leluhurnya.


"Sepertinya ini penting sekali?" tanya Myra.


"Tentu saja, dasar bodoh. Aku akan mengatakannya sekali, jadi dengarkan baik-baik."


Myra meneguk liurnya karena gugup. "Ba-baiklah."


"Sesuaikan kembali senjata milik Klutzie Nebula agar bisa kuberikan Rune milikku."


Baik Belle dan Myra, keduanya mau tak mau kaget.


"Katakan dulu Rune apa yang ingin kautuliskan."


"Hanya dua. Algiz dan Jera."



...(Bisa disebut Algiz)...



Myra jadi mengernyit. "Bukankah seharusnya kaugunakan itu pada Zeeta?"


"Zeeta? Kautahu kalau dia sedang sibuk sekarang."


"Bagaimana dengan Hitomi Reiko?"


"HAH? APA KAU BODOH? Kauingin aku melindungi mereka yang sudah membunuhku?!"


"Ah. Oh iya, aku lupa."


"Kau ini ... sengaja, bukan?! Sialan!


"Pokoknya, kuserahkan padamu. Tenggat waktunya adalah hmm... jika menghitung perbedaan waktu di sini dan di sana, berarti ... besok."


"BESOK?! KAU SUDAH GILA?!


"Mana mungkin aku bisa menyelesaikannya—"


"Hei. Pergilah saja ke Grandtopia. Tidak ada masalah, 'kan?"


"Tsk. Sungguh, apa yang sebenarnya kaulihat?"


"Mimpi buruk.


"Alter menghancurkan tebing itu."

__ADS_1


"APA?!?!" Belle dan Myra membuat telinga Myra berdengung.


"Ba-bagaimana bisa...?" tanya Myra.


"Dia memang benar-benar adalah muridnya seorang Raksasa. Dia menggunakan Bind Rune yang teramat sangat kuat, yang mengerucutkan fungsinya pada kehancuran."


"Apa kau melihat Rune apa saja yang dia pakai?"


"Yap. Fehu, Uruz, Thurisaz, Raidho, dan Hagalaz."


"Uwah. Gadis itu bukanlah lagi seorang Manusia!"


"Mungkin saja, karena bagaimana pun, dia datang dari dunianya yang sudah dihancurkan, 'kan?"


"Baiklah. Akan kuusahakan senjata itu tepat waktu. Sementara itu, apa yang akan kaulakukan? Kembali mengantri?"


Jeannne tersenyum. "Mengantri? Tentu saja. Tapi sambil duduk diam? Oh, tidak bisa. Kuserahkan senjata itu padamu, Myra."


Myra tersenyum kecut. "Jangan sampai dunia menolak reinkarnasimu."


......................


"Jadi?" Belle bertolak pinggang. "Apa lagi yang harus kulakukan, tentu saja selain memberitahu Klutzie tentang senjatanya."


"Aku yakin Gadis itu mampu melihat apa yang terjadi dengan Rune Kaunaz-nya, sama denganku. Namun, sebanyak apa yang ia lihat, itu diluar pengetahuanku.


"Yang pasti....


"Rhongomyniad tidak boleh jatuh di tangannya. Dan untuk mencegah yang tidak diinginkan, aku butuh kekuatan bulanmu dan pekerjaanmu sebagai penjaga Tanah Kematian."


Belle menyeringai. "Jika itu bisa kutambahkan dengan pembalasanku, maka aku tak segan membantumu."


Jeanne mengernyit. "Maksudmu?"


"Memang, saat dia menyerang Aurora dengan pasukan Hollow-nya, aku bisa menepuk habis mereka dengan mudah, tetapi dia tidak menerima efeknya.


"Aku ingin dia tersakiti."


Jeanne terdiam sesaat.


.


.


.


.


"Tidak bisa."


"Hah...?"


"Kekuatanmu bukan untuk hal seperti itu, Wahai Keturunan Galkrie. Akan kuberitahu mengapa kau tidak bisa melakukannya."


Kemudian, usai Jeanne menjelaskan maksudnya, Belle mencengkeram tangannya.


"Kau ... serius...?"


"Ya. Mereka takkan bisa mengatakan hal seperti ini gamblang padanya, bukankah begitu?"


"Cih.... Kalau begitu, sebagai gantinya beritahu aku sesuatu."


"Apa?"


"Kala itu, meskipun kautahu Xennaville yang mengubah bentuk dan memakai kekuatan Naga, mengapa kau tidak—"

__ADS_1


Jeanne tersenyum dan segera menjawab, "Ini sudah waktuku saja. Sesederhana itu. Walau banyak yang tidak menerima kematianku dan efek domino setelahnya begitu memberi dampak pada desa yang kupimpin, namun mereka yang selamat bisa menjadi lebih kuat dan mampu memberi harapan dan cahaya yang baru bagi dunia.


"Mungkin, tidak hanya aku yang menyadari alasanku ini, seperti seseorang yang sengaja repot-repot menemui putriku hanya untuk memberitahunya tidak ikut pertempuran Ragnarok."


"Kau tidak keberatan putrimu membalas dendam pada Yggdrasil?"


"Lambat laun dia akan mengetahuinya."


"Begitu?


"Dasar. Pola pikir kalian orang-orang yang superpower terkadang tidak bisa kupahami."


Setelahnya, Klutzie dihubungi sosok yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Ia dijelaskan harus apa saja, hingga dirinya berseteru dengan Alter dan rekan-rekannya.


......................


Tepat setelah Klutzie pergi dari desa Rhongomyniad, Siren menjelaskan tentang desa itu.


"Jadi ... sihir kuno Rune itu benar-benar kuat, bahkan mampu menghancurkan tebingnya?" tanya Klutzie.


"Menurutku, selain karena itu adalah Rune, juga ada faktor dari kekuatan Alter."


"Apa menurutmu kita bisa menang dengan semua yang terjadi ini?"


"Kita AKAN memenangkannya."


Klutzie memandangi pedangnya yang sudah ditempa ulang oleh Myra. Di bilahnya, terdapat goresan Rune Algiz dan Jera, padahal sebelumnya, ketika ia menerimanya dari Myra, goresan itu tidak ada. Itu berarti, sosok Jeanne yang membantunya walau ia sudah mati, adalah suatu fakta tak terbantahkan."


Sehingga, kemudian Klutzie menyadari sesuatu setelah memandanginya. "Siren!" pekiknya.


"A-apa?!"


"Gawat, kalau begini ceritanya, gerbangnya—"


Siren terbelalak, bersamaan dengan suara pecah yang menggema, lalu diikuti oleh raungan yang saling sahut menyahut, dan suara teriakan amarah yang begitu lantang. Teriakan dan raungan tersebut membuat Galdurheim terguncang, baik dari sisi alam atau sisi manusia.


"Oh, Zeeta...," gumam Siren, "kenapa kau seperti ini...?"


"Bukan waktunya untuk tercengang!" seru Klutzie, "ayo segera lakukan ini!"


.


.


.


.


Sementara itu, Zeeta asli yang kini sudah di istana Orsfangr, merasakannya. Ia terbelalak, namun segera mengatur napasnya.


"Oh?" Undine tampak tertegun. "Kau sudah siap, Zeeta?"


"Uhm. Mohon bantuannya, Undine!" Zeeta mengangguk mantap.


"Serahkan bala bantuannya padaku," timpal Sang Penguasa Lautan, Cynthia. "Fokuslah saja pada tujuanmu saat ini."


"Terima kasih, Nona Cynthia." Zeeta tersenyum. "Walau kita saling mengenali hanya dalam waktu yang singkat, aku bersyukur. Kuharap ke depannya kita punya waktu untuk menghabisi waktu bersama."


"Maka kita harus pulang dan selamat, Putri Zeeta! Tidak hanya aku, teman, dan keluargamu, tapi juga untukmu sendiri!"


"Ya, aku mengerti!"


"Kalau begitu...." Undine mengarahkan tangannya pada Zeeta. Ia lalu besinar biru, dilanjuti dengan beberapa gelembung kecil yang memutar-mutari tubuhnya. "Akan kukirim kau ke tempat Zephyr."


"Terima kasih."

__ADS_1


__ADS_2