Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Segel yang Dilepas Setelah Sekian Lama


__ADS_3

Bunyi martil yang dipukul pada metal yang sudah dipanaskan pada api hijau dan biru dapat terdengar hingga seluruh dunia dimensi bawah tanah. Pasukan Crescent Void pun memandangi proses penempaan itu dengan saksama. Tetapi, Danny jadi penasaran atas suatu hal saat melihat proses tersebut, sehingga dia memutuskan untuk bertanya pada Half Elf di dekatnya.


"Anu, maaf...," kata Danny.


"Huhh?!" Half Elf pria itu tidak menyambut baik Danny. "Jangan dekat-dekat dengan kami, Manusia Bajingan!" Danny terkejut mendengarnya, begitu juga dengan anggota lain. "Jangan anggap hanya karena kami akan menempakan senjata bagi kalian, kami akan melupakan apa yang telah kalian lakukan pada kami selama ini!"


Luna mengernyit. Demikian pula dengan Danny.


"Apa maksudmu? Apa yang telah KAMI lakukan pada kalian?" tanya Danny.


"Kalian Manusia tidak pernah berhenti untuk mengeksploitasi hutan, membunuh, dan memulai peperangan tak berarti yang menimbulkan tumpukan mayat. Baik kami para Half Elf atau ras murni Elf, tersiksa dengan keberadaan kali—"


"Kutanyakan sekali lagi! Apa yang sudah KAMI lakukan pada kalian?!


"Apa kau berotak udang?


"Apa kauingin berkata jika kalian harus dielu-elukan setelah apa yang terjadi di masa lalu kalian?


"Jangan bodoh ketika kautahu bahwa tidak semua Manusia sama. Tidakkah terlintas sesuatu di otak udangmu saat melihat siapa dua makhluk ini bersama kami?"


Half Elf itu melihat Luna dan Siren. Luna masih dalam tatapan tak senangnya, sementara Siren tak berkutik.


"Si-siapa memangnya mereka?" jawaban darinya membuat Danny semakin membludak. Dia menarik kerah si Half Elf.


"Bajingan!" cela Danny, "kau tidak tahu siapa mereka?! Kalau begitu kau tidak pantas berbicara seolah kalian yang selalu jadi korban!


"Agh, aku tak punya waktu untuk perdebatan tak berarti ini. Kalau begini, apa yang hendak kutanyakan jadi tak berguna di hadapanmu!" Danny melepas kerahnya lalu menjauh dari Half Elf itu. Half Elf lain yang ada di tempat sama segera menghampiri dan menyalahkannya. "Kau...! Kenapa kau tidak tahu siapa mereka berdua...?! Makanya jangan asal bicara, dasar tidak peka...!" bisik mereka.


Tak lama kemudian, Danny merasakan tatapan tajam dari Minos. Ketika dia menengok ke arahnya, Danny mendapati Minos yang tampak menahan emosinya, dengan napas yang berat dan mata yang menatap tajam.


"Tenanglah, kalian semua!" seru Axel. "Ini bukan saatnya untuk berdebat tentang suatu hal seperti ini! Terlepas seperti apa dendam yang kalian miliki, ingatlah tanah tempat kalian hidup saat ini dilindungi oleh siapa!


"Aku dan Myra hanya makhluk sihir yang mampu mendukung dari belakang, sementara tugas mereka adalah maju yang paling depan. Jika mereka dan semua yang sedang melindungi Aurora mati, maka nasib itu juga akan menimpa kalian.


"Jangan mengkandaskan kesempatan hidup yang telah kalian dapatkan!"


Minos menenangkan dirinya, sementara para Half Elf bercermin diri.


"Bocah! Aku tahu kau penasaran kenapa kami hanya menempa metal tanpa campuran bahan lain yang sekiranya dapat meningkatkan kualitas senjata, bukan?" tanya Axel yang sudah bermandikan keringat, sambil tetap mengerjakan tugasnya.

__ADS_1


"Y-ya, itu benar," jawab Danny.


"Karena itu tak ada gunanya!"


"E-eh?"


"Api hijau dan biru di perapian ini adalah api pemberian Naga Penempa Schrutz, ibu Myra, yang tidak pernah padam. Kekuatannya hanya akan aktif bila beberapa kondisi telah terpenuhi.


"Kulihat dari tanganmu ... kau seorang pemburu, 'kan?"


"Ya, memangnya kenapa?"


"Pikirkanlah dalam keseharianmu memburu. Jika kau memberi sihir racun pada senjatamu, apa sihir itu akan lenyap dari tubuh mangsamu?


"Tentu saja tidak," jawab Danny, "tetapi kau masih bisa memakannya setelah membelah bagian yang terkena racun."


"Kau benar! Contoh mudahnya seperti itu. Menempa tidak semudah yang kaukira. Kami harus mengukur, menilai, dan memastikan secara akurat senjata yang kami kerjakan benar-benar berguna pada penggunanya, sekaligus digunakan dengan cara yang seharusnya!


"Senjata ini nantinya akan memiliki kekuatan dari Roh yang Agung Luna dan Siren. Karena itulah aku butuh kekuatan dari Naga Penempa Myra, dan ibunya Schrutz. Api hijau dan biru ini mampu mengekstrak mana menjadi kekal pada senjata, dan kekuatan itu akan tumbuh bersama dengan penggunanya.


"Menggunakan bahan lain selain yang sudah kusebutkan sudah pasti akan mengacaukan hasilnya!


"Oleh sebab itu, aku, dan semua makhluk yang ada di sini, akan mengutuk kalian semua bila kalian menyalahgunakan senjata ini. Camkan itu baik-baik!"


"Y-ya! Kami mengerti!" jawab Crescent Void bersamaan.


"Bagus!"


Myra tersenyum dari balik rumah. Ia cinta sisi Axel yang keras namun mendidik itu.


......................


Pertarungan antara Eclipse dan Grimm masih sengit. Meski darah demi darah sudah bercucuran dari masing-masing, mereka masih bisa menyembuhkannya dengan sihir. Tetapi, pertarungan seperti ini, waktu yang akan menentukan hasilnya. Eclipse yang khawatir dengan dirinya yang akan kalah, berbeda dengan Grimm yang tetap percaya diri bahwa dirinya pasti menang.


Selama pertarungannya, Eclipse bisa merasakan sebuah kekuatan yang dikenalnya membumbung tinggi. Disaat itulah, kondisinya berbalik....


Eclipse dan Grimm saling memberi jarak. Grimm menyuguhkan seringainya, sementara Eclipse berwajah serius.


"Katakan padaku, Hollow!" seru Eclipse, "katakan padaku siapa namamu."

__ADS_1


"Nama?" tanya Grimm, "untuk apa aku harus memberitahumu? Lagi pula kau akan kalah ditanganku!


"Yah, karena kau sudah memberikan pertarungan yang sangat sengit, aku akan berbaik hati. Namaku adalah Grimm. Meskipun kau akan segera mati, camkan itu di kepalamu!" Grimm segera meluncur ke Eclipse, tetapi segera terhenti. Ia merasa ada yang aneh dengan gelagat lawannya.


"Begitu, ya. Kalau begitu, aku juga akan memberitahumu."


'BWOOOMMM!'


Angin menghempaskan Grimm beberapa meter. Ia kemudian menyilangkan tangan agar tidak terlempar lebih jauh lagi. Ia pun melihat apa yang terjadi pada Eclipse.


"Aku, Elbrecht, adalah kebanggan Orsted dan Schrutz! Bersama dengan nama mereka, aku bersumpah akan menyinari dunia menjadi tempat yang damai dan menghapus segala kegelapan di bumi!"


Tubuh Eclipse—Elbrecht, berubah menghitam dan terdapat garis-garis hitam di sekujur tubuhnya, kornea matanya hilang namun kini bercahaya. Rambutnya pun tumbuh dua tanduk cahaya.


"Aku mulai, Grimm!" seru Elbrecht.


Grimm terkejut ketika tiba-tiba lawannya menghilang dengan menanggalkan percikan cahaya.


"Sialan! Dia lebih cepat dari sebelumnya!" batin Grimm, "dimana dia?!" Grimm masih mengandalkan matanya untuk mencari Elbrecht.


"Ayo akhiri ini saja, Grimm."


Grimm segera mendongak ke sumber suara, mendapati Eclipse bersilang tangan.


"Jangan sombong!" Grimm memakai panah apinya dan menembaknya beruntun. Ia kemudian menggunakan pedang dari tangan kanan bawah untuk jadi anak panahnya, yang ketika ditarik di busurnya, pedang itu berselimutkan api.


Elbrecht dapat menghindari rentetan panah api itu dengan mudahnya, ketika akan berhadapan dengan pedang apinya, ia menarik tangan kanannya ke belakang, menarik napas dalam-dalam dan....


"HAAAAH!"


Elbrecht meninju pedang api itu. Tangannya tidak terbakar, melainkan pedang itu yang retak dari ujungnya, kemudian hancur lebur.


"Lagi-lagi...?!" emosi Grimm memuncak. "Lagi-lagi api-ku tak berguna?!


"JANGAN BERCANDAAA!!"


Grimm menembakkan bola api besar berkali-kali dari tangan kanannya,menembakkan panah apinya yang kemudian membesar layaknya laser api, lalu menerjang setelah membuat kembali pedang berselimutkan api di tangan kanan bawahnya


Dikala ia menerjang itulah, ia melihat percikan cahaya yang menghindari semua serangannya dengan mudah, lalu ia mendapati dirinya sudah jatuh begitu melihat Elbrecht muncul tiba-tiba di hadapannya.

__ADS_1


"Sudah kukatakan Grimm, akhiri saja ini."


"Sialan... takkan kumaafkan kau! Aku pasti akan membunuhmu!"


__ADS_2