
Sang surya telah menghangatkan butala. Meski begitu, bahkan dengan cahayanya sekarang, Zeeta bak dalam kegelapan petang ketika menempuh hutan yang disebut-sebut akan selalu menyesatkan siapapun karena tinggi pepohonannya. Pepohonan itu memiliki tinggi sekitar seratus dua puluh meter—bahkan lebih tinggi dari rata-rata ras Raksasa yang hanya sekitar 60-80 meter saja. Pohon-pohon berkulit kasar itu berwarna merah daging salmon dengan dedaunan yang tumbuh tanpa cabang dan dahan—mereka tumbuh mengikuti batangnya yang menjulang tinggi ke langit.
Para Elf menyebut hutan ini sebagai Astray Land, atau terkadang disebut Grace Land, sebab hutan ini melindungi mereka dari banyaknya jumlah manusia yang “terlalu ingin tahu” dengan tempat tinggal mereka, juga karena alasan yang akan menimbulkan pertumpahan darah. Mereka yang mengetahui lokasi mereka, tidak jarang dari kalangan bangsawan yang tersimpang oleh bisikan Peri. Dengan adanya pepohonan ini, Manusia atau makhluk sihir lain, pasti akan tersesat. Dan kini, Zeeta harus keluar dari sini, tanpa memakai sihirnya.
“Ugh...,” sambat Zeeta, “ada benarnya Aria bilang aku tidak boleh memakai sihirku setelah hasil latihanku berbuah manis, tapi hutan ini ... dengan berbagai arti mengerikan!" Zeeta memulai perjalanannya sambil terus berbicara pada dirinya sendiri. “Pantas saja ini disebut Astray Land! Hutan ini beresonansi dengan Hutan Sihir Agung. Salah satu kemampuan hutan itu adalah bisa membedakan niat semua makhluk yang ada di dekat atau yang dikehendakinya. Dengan begini, siapapun yang tinggal di sana, akan terlindungi. Awalnya, aku hanya menganggap hutan itu menakutkan, tapi kalau dipikirkan secara baik-baik, kedua hutan ini sudah ada sejak lama sekali. Kalau kata Ozy, dua hutan ini adalah bagian dari Bumi, dan bukan ciptaan ras manapun.
“Namun, bukan berarti kedua hutan ini memiliki pertahanan mutlak. Mirip dengan rencanaku mengantisipasi serangan Peri dengan membuat dua lapis medan pelindung, jika ada makhluk yang dianggap dua hutan ini sebagai “pengunjung tetap”, siapapun orang yang dibawanya, tidak akan dicurigai.
“Artinya, jika sebuah makhluk, sebut saja Peri, selalu mengunjungi Hutan Sihir Agung secara rutin, otomatis Peri itu mendapatkan kepercayaan oleh Astray Land, sebab Hutan Sihir Agung sudah menganggapnya sebagai “pengunjung tetap”. Jika kuharus jujur, ini konyol. Karena itulah Elf selalu menderita....
"Tapi... mungkin beginilah hukum alam bekerja. Mereka tidak memihak pada siapapun. Bila dua kelompok makhluk berperang lalu mati, bahkan dengan memakai kekuatan alam, maka itulah yang terjadi. Aku jadi terkesan dengan Maisie dan Reina. Mereka mampu mengendalikan alam dengan batas tertentu....
“LAH! DARIPADA MEMIKIRKAN MEREKA, SEJAK TADI AKU HANYA BERJALAN MEMUTARI SATU POHON YANG SAMA?! Kapan aku keluar kalau seperti ini teruuusss?!”
Tak lama kemudian....
‘SRETT SRETT SRETT’
‘PEW!’
Begitu mendengar bunyi daun yang tersentuh bagian tubuh, Zeeta langsung melempar semacam koin berlapis mana biru. “Siapa di sana?!” Zeeta menunjukkan wajah seramnya. Benda semacam koin itu menancap di tanah di dekat kaki—tidak—cakar seekor burung.
“Tenanglah, ini aku!” pekik Si Pemilik Cakar.
Zeeta melihat dari ujung cakar hingga ujung kepala. “Ma-Maisie?”
“Yaahh, kukira aku bisa mengejutkanmu, tapi justru aku yang terkejut. Kau sudah tumbuh kuat, ya, kuu kuu!”
“Halah! Tidak usah bohong! Aku tahu kauingin mengetes seberapa jauh perkembanganku, ‘kan?”
“Oh?” Maisie menyeringai.
“Begini-begini aku sudah mempelajari dua belas Rune, jangan remehkan aku!”
“Dua belas? Bukannya Rune ada dua puluh empat?”
“Kkhh.... Kaupikir Rune itu mudah, hah?! Aku berjuang enam setengah tahun dan ini yang—“
“Hahaha, tenanglah, Nak, aku hanya bercanda! Lagi pula, alasan Hugo memberi keluangan enam bulan latihan lebih awal dari tenggang waktu Lucy, dalam waktu dekat kau akan mengetahuinya.”
“Haaah~” Zeeta menghela napas panjang. “Bisakah kita lupakan tentang itu dulu?” Zeeta berwajah masam. “Aku letih selalu mengingat hal itu kapanpun aku latihan. Aku ingin segera melepas penat dan bertemu keluargaku.
"Ngomong-ngomong, apa yang kaulakukan di sini?”
“Hmm? Bukankah kaubisa menebak apa yang kupikirkan? Oh? Apakah tadi kau hanya menggertakku saja?”
Zeeta tak percaya ia lagi-lagi digoda oleh Dryad ini. “Kalau begitu ... kuterima bantuanmu dengan rendah hati. Tolong bantu aku keluar dari Astray Land dan antarkan aku pulang, Maisie....” Zeeta sedikit merona.
“Hahahah, meskipun sudah enam setengah tahun, ada bagian yang tidak pernah berubah, ya? Baiklah, ayo ikuti aku!"
__ADS_1
“Mohon bimbingannya....”
Ketika mereka mulai berjalan, Maisie menjalankan sebuah rencana yang baru saja dipikirkannya. “Aku tak percaya ini.... Serangan itu tadi ... itu bukanlah sihir! Itu murni Rune! Kapan dia menulis hurufnya? Belum lagi ... dia bisa mengetahui apa yang kupikirkan... hebat sekali!” batin Maisie. Sambil memunggungi Zeeta, ia menyeringai.
“He-hentikan itu, Maisie! Aku mendengarnya bukan karena keinginanku!” rona merah Zeeta semakin tampak.
“Huh? Apa maksudmu?”
“Kautahu? Ketika masih latihan, Ozy bilang Rune Kaunaz akan memudahkanku melawan Lucy, jadi aku mengikuti arahannya. Tapi, aku sama sekali tak menyangka akan mendengar apapun yang seseorang di dekatku pikirkan!
“Rune ini kutuliskan pada tubuhku sendiri. Ada saat ketika aku tak bisa mendengarnya, hanya jika aku benar-benar tak menginginkannya, atau ada lebih dari lima orang di dekatku.
"Aku bisa mendengarnya, tapi ucapan di dalam pikiran mereka itu mustahil kudengar diwaktu yang sama.
“Rune ini juga terkadang memberitahuku apa yang harus kulakukan dengan sihirku secara tepat, baik ketika dalam pertarungan atau kehidupanku sehari-hari.
“Lalu, serangan tadi, itu hanyalah koin biasa dengan Rune Raido. Kalau akurasiku membaik, kau pasti sudah berdarah!”
Maisie tersenyum. “Begitu ya,” ujarnya, “kalau begitu kau telah berjuang dengan baik, Nak! Kau benar.... Sejauh ini aku hanya mengetesmu dan memastikan apakah kau jatuh ke masa itu atau tidak. Aku sempat ragu saat melihat rambutmu seperti itu, tapi sekarang, keraguan itu sudah hilang!
“Teruslah menjadi orang yang seperti ini, Nak. Kupercaya, apapun rintangannya, kau yang sekarang mampu mengunggulinya!”
Zeeta ikut tersenyum. Senyum itu lebar, memperjelas ketetapan hatinya yang sudah matang. “Tentu saja, dong! Aku ‘kan Zeeta Aurora XXI!”
......................
Sementara itu di Aurora, tidak ada satupun diantara mereka, bahkan sang Ratu, Alicia, sekalipun, mengetahui anak sekaligus tuan putrinya sedang dalam perjalanan pulang. Ketika itu, para Crescent Void sedang mengikuti sebuah festival yang sudah saatnya diselenggarakan lagi—sebuah festival setiap tiga bulan sekali—Evergreen. Dimomen Ratu dan Rajanya hadir, dengan kondisi kerajaan yang stabil, festival ini lebih meriah. Salah satu acara terbaru mereka adalah menyajikan berbagai macam daging panggang untuk diambil sepuasnya.
Saat ini, dua orang Crescent Void, Novalius dan Colette, tidak hadir di festival ini sebab misi yang mengharuskan mereka mengitari sekitar kerajaan, hingga ke bibir hutan, yang berada tiga puluhan kilometer dari kerajaan, seperti biasanya. Mereka akan berganti shift saat mentari berada di puncaknya. Novalius berada di bagian timur, sementara Colette di bagian barat. Begitu mereka sudah mengitari hingga ke utara dan selatan, mereka akan kembali ke dalam dan berganti giliran dengan Mellynda dan Marcus. Ketika malam tiba, mereka akan berganti dengan Danny dan Gerda.
Bentuk patroli ini sudah berjalan enam tahun, dan mereka berhasil menghentikan banyaknya serangan diam-diam makhluk sihir yang salah paham dengan pertempuran mereka dengan para Phantasmal dan Hollow. Pertempuran kala itu dapat dikatakan menggemparkan seluruh dunia dengan banyaknya korban jatuh bahkan sebelum semuanya dimulai.
.
.
.
.
“Haaahh~ aku senang hari ini damai lagi, tapi...,” gumam Novalius yang hinggap di sebuah batang pohon untuk merehatkan kakinya yang sudah bergerak sejak mentari baru saja terbit. Kini Novalius hendak menginjak usianya yang dua puluh satu. Tentunya, dia sudah menjadi pria yang kuat layaknya ayah dan kakeknya dengan tubuh tak terlalu berotot, namun kuat. Rambut hitamnya ia biarkan memanjang, mengikuti cara kakeknya. “Tak enak jika ada orang yang mendengarnya, tapi aku ingin ada sesuatu yang bisa membuatku mengetahui seberapa jauh aku sudah tumbuh. Luna tidak pernah mau lagi mengajari kami karena ini sudah diluar tanggung jawabnya... haaah.... Bosan.”
“Hmm?” Novalius mendapati seorang gadis berambut perak berpakaian mencolok keluar dari hutan. “Siapa dia? Tapi ... aku tak bisa merasakan mana apapun darinya....
"Aneh, dari pakaiannya dia mungkin bangsawan. Tapi, tidak semua Manusia bahkan bangsawan di dunia ini yang punya mana yang tinggi....
"Benar! Pasti dia adalah bangsawan yang tersesat dan terpisah dari pengawal-pengawalnya yang kuat!”
Novalius melihat gadis jauh di depannya tersenyum lebar begitu melihat Aurora yang sedang “berpesta meriah" itu.
__ADS_1
“Ah. Jadi benar.... Tatapan mata itu... dia tidak pernah melihat festival seperti ini!" secara sepihak, ia menganggap gadis itu sesuai dugaannya. “Sebaiknya kubantu dia!”
Zeeta melihat sesuatu akan mendarat dari sudut kiri atas matanya. Begitu melihatnya....
“Waaaahh!” Zeeta berpura-pura menjerit sembari menutup matanya rapat-rapat.
‘BWM!!’
Novalius mendarat di depan Zeeta. “Ah, maaf membuatmu terkejut, Nona. Namaku Novalius. Novalius de Dormant XVIII. Aku anggota Crescent Void dan sedang berpatroli.”
Zeeta tak mengetahui apapun tentang Crescent Void. “Cre... scent? Ada apa dengan bulan sabitnya?”
“A-ah... daripada itu, apa kau berasal dari kerajaan lain dan tersesat? Kulihat kau tiba-tiba saja keluar dari hutan....”
“Eh? Kau melihatku?”
“Ya, dari sana.” Novalius menunjuk betapa jauhnya ia melihat Zeeta—empat puluh meter dari tempat mereka berdiri sekarang.
“U-uwooh, hebat sekali!
"Kau benar! Aku tersesat di hutan itu! Kupikir dengan mentari saja, sudah cukup untuk membimbingku keluar, tapi aku salah besar....”
“Apa kau juga baru melihat festival Evergreen?”
“Evergreen? Jadi itu nama festivalnya?”
“Ya. Demi membuat rakyatnya merasa tenteram dan aman di kerajaan ini, ratu kebanggaan kami, Ratu Alicia Aurora XX selalu mengadakannya setiap tiga bulan sekali. Apa kauingin mengunjunginya?”
“Hmmmm...." Zeeta berpikir agak lama. "Yah, baiklah. Tak ada salahnya jika bersantai dulu. Tolong bantuannya, Novalius!”
“Serahkan padaku. Anu... apa kuboleh tahu siapa dirimu?”
“Aku? Fufufu... bergetarlah dan ukir namaku baik-baik di hatimu! Namaku adalah ... Penyihir Harapan!”
.
.
.
.
“Pe-Penyihir Harapan? Apa kauyakin...?” Novalius sempat kehabisan kata-kata.
Merona malu Zeeta karenanya. “He-hei! Tidak sopan! Ini adalah nama berharga untukku yang telah diberikan oleh nenekku yang sangat kuhormati!”
“A-ah! Ma-maafkan aku!”
“Umu. Kumaafkan. Ayo, aku tidak sabar ingin melihat festivalnya!”
__ADS_1
“Sesuai permintaanmu, Penyihir Harapan!”
Maisie yang masih mengawasinya dari kedalaman hutan tersenyum. “Anak itu... bisa-bisanya dia semudah ini membuat orang tertipu sekaligus memercayainya. Penyihir Harapan ... adalah arti namamu, ‘kan, Zeeta....”